Belantara

Belantara
Kehidupan Tanpamu


__ADS_3

“Aku buru-buru sayang,”


“Kika kau tidak memakan


sarapan yang ku siapkan, jangan harap malam ini kau bisa tidur bersamaku,”


balasnya mengancam.


“Ya sudah aku makan,”


            Aku pun duduk dikursi meja makanku.


“Oh baguslah, ku fikir


kau hanya takut kepada Dewi saja,” balasnya kesal.


            Aku menatap dirinya.


“Kau cemburu?” tanyaku


menggoda.


“Makan saja sarapanmu.”


            Aku menghembuskan nafasku dengan berat.


“Aku bukan takut


kepadanya, aku hanya tak enak jika Drian menunggu lama dikantorku,” jelasku


kepadanya sambil memakan sarapanku.


“Siapa suruh kau


menghajarku semalaman, kesiangan sendirikan,” kesalnya lagi.


“Ya mau bagaimana lagi,


kau sangat menggoda sayang,” balasku dengan nada menggoda dan senyum penuh


nafsu.


“Dasar mengerikan,”


ketusnya lalu cemberut.


            Aku hanya tertawa melihat ekspresi imutnya itu.


            Aku sudah mendapatkan apa yang selama ini aku inginkan


darinya, setelah sampai dari Sibolga kemarin, malamnya aku menghajarnya Habis-habisan


tanpa ampun, seakan semua hasratku untuk mencicipi tubuh indahnya itu


terpuaskan. Namun aku tak akan sampai disitu saja, aku akan membiarkan dia


beberapa hari ini dulu untuk menghilangkan rasa sakit yang dia rasakan


sekarang, setelah itu aku akan menghajarnya lagi.


            Wajar saja dia kesakitan, dia masih perawan sedangkan


adikku yang besar ini memaksakan diri untuk masuk kedalamnya tanpa henti.


“Aku berangkat ya sayang,”


ucapku sambil mencium keningnya.


            Dia hanya mengangguk dengan tak menghilangkan wajah


cemberutnya itu.


“Jangan cemberut dong,


aku jadi tak tahan,” bisikkku ketelinganya.


“Iihhhh Nugy, nanti kau


terlambat,” pekiknya pelan dengan raut wajah yang memerah.


“Hahahahah,” aku tertawa


puas.


            Lalu aku pergi meninggalkannya, dia tak bisa


mengatarkanku kedepan, karena masih terasa sakit dibagian kewanitaannya, jadi


dia tak bisa terlalu banyak berjalan.


            Aku mengemudikan mobilku untuk pergi kekantor, disana


sudah ada Drian teman bisnisku yang sudah meminjamkan pesawatnya itu padaku.


Aku tahu dia pasti ingin bertemu untuk membahas bisnis kami yang baru. Awalnya


ku kira begitu.!


            Lagi-lagi macet di kota ini membuatku kesal untuk


kesekian kalinya, bukan hanya macet, tetapi lampu merahnya juga sangat lama.


Inilah yang membuatku semakin tak menyukai Hutan Belantara ini, tetapi mau bagamana


lagi, aku tetap harus tinggal disini karena memang pekerjaan ku disini, dan


juga aku tak dapat memungkiri bahwa kota inilah yang mempertemukanku dengan


Zulfa yang kini menjadi istriku.


            Setelah


lampu hijau, aku kembali fokus mengemudikan mobilku dengan sedikit cepat,


hingga akhirnya aku sampai dikantorku ini.


            Aku turun dari mobilku dan langsung berjalan cepat menuju


ruanganku. Ketika aku hendak masuk, lagi-lagi aku bertemu dengan monster yang


mengerikan. Tapi untungnya dia tidak memarahiku dengan kata-kata yang


menyebalkan, dia hanya menatapku sinis. Lalu kami berdua pun masuk.


“Maaf Drian,” ucapku


pelan sambil tersenyum lebar kearahnya.


            Dia hanya tersenyum menatapku.


“Gak apa-apa, lu udah


biasa kok,” balasnya sambil tersenyum menyindir.


“Jadi apa yang harus kita


bicarakan?” tanyaku sambil duduk dikursi tamu diruanganku.


“Gua cuma mau lu bayar


semua sewa pesawat gua yang lu pakai sama dengan awaknya.” jawabnya tegas.


“HAH?”


Aku


dan dewi pun terkejut serentak, dan dia hanya mentap kami seakan puas mengejutkan


kami.


“Lu bilang ama gua ikhlas


tanpa biaya apapun,” ucapku heran sambil memastikannya.


“Iya, lu memang benar,”


jawabnya santai.


“Terus?”


“Gua sakit hati ama lu,”


ketusnya kesal


“Lah gua salah apa?”


tanyaku lagi semakin heran.


            Dia menatapku kesal.


“Lu masih nanya salah lu


apa?” tanyanya kembali.


            Aku hanya mengangguk heran.


“Bisa-bisanya lu ga ngabarin


gua sama sekali atas kematian Bokap lu, dan lu masih nanya apa salah lu?”


            Aku terdiam mati kutu, aku benar-benar lupa untuk yang


satu ini.


“Gua heran. lu anggap apa


gua ini, gua nganggap lu lebih dari sekedar rekan bisnis Gy, gua udah anggap


keluarga lu itu adalah keluarga gua. Sedangkan lu anggap gua apa? Gak ada!!!”


“Apa gua gak penting bagi


lu? makanya ga ngabarin gua sama sekali,” tanyanya yang mulai kesal.


            Aku masih terdiam, aku tak tahu harus menjawab apa, aku


sangat sibuk saat itu, jadi aku benar-benar lupa, tapi tak mungkin aku bilang


sama dia bahwa aku lupa, Bisa-bisa dia semakin marah.


“Maafkan aku drian,


sungguh aku minta maaf. Aku tak melupakanmu sama sekali.”


            Dia diam dengan menatapku sinis.


“Aku sangat sibuk disana


bahkan aku tak bisa berfikir jernih untuk mengingat dimana ku letak ponselku…”


“Percayalah drian,


sebagai mana kau menganggapku seperti itu pula aku menganggapmu. Aku khilaf,


maafkan aku ya sobat,” ucapku dengan nada memelas seakan menggoda agar hatinya


luluh.


            Dia masih diam tak merespon, jadi aku langsung mengkode Dewi


untuk membantuku.


“I—ya Pak, disana sangat

__ADS_1


ramai dan membuat kami sangat kerepotan…”


“Bahkan tak ada satu pun


diantara kami yang sempat untuk memegang ponsel saat itu,” sambung Dewi lagi.


“PRETTTT.”


            Kami berdua diam menatapnya.


“Ini nih kebiasaan lu


pada, kalau salah aja lu pandai menjilat, sok formal manggil Pak lagi lu. Sok


pakai aku kamu lah. Tapi kalau lagi apa aja lu pada lupa ama gua,” sambungnya


kesal.


“Hahaha enggak mungkinlah


kita lupa ama lu,” balasku meyakinkannya.


“Maafin gua lah,”


sambungku menggodanya.


“Kampret lu,” balasnya


kesal


            Dia diam seakan berfikir, lalu aku melihatnya tersenyum


jahil, dan hal itu membuat perasaan ku menjadi tak enak, biasanya kalau dia


udah gini nih, bakal ada pertanda bahaya.


“Gua bakalan maafin lu.


Tapi kalau lu bolehin gua sama selingkuhan gua tidur dirumah lu,” ucapnya.


            Aku diam sesaat seakan tak menangka dengan tebakanku.


“Gak, lebih bagus gua


bayar sewa pesawat lu,” jawabku yang mulai kesal.


“BERAPA TUH SEWA? BIAR


GUA BAYAR SEKARANG JUGA.”


“SAMA AWAKNYA.”


“KALAU PERLU GUA BAYAR


HOTEL BUAT LU ***** SAMA TUH CEWEK.” sambungku dengan kesal membentaknya.


Aku


jadi sangat kesal, aku sudah memohan maaf kepadanya, tapi justru sekarang dia


sok-sok memanfaatkan ku. Tak akan ku biarkan siapapun yang memegang kendali


atas diriku.


            Aku melihat Drian dan Dewi pun terdiam takut karena amarahku


yang baru saja keluar,


“Katakan Drian, berapa


semuanya, biar kita akhiri pembicaraan ini, karena gua harus sibuk hari ini,” ucapku


yang sudah mulai muak dengan situasi ini.


“Yahh, kok lu jadi marah


sih Gy,” ucapnya mulai merayu aku.


            Aku mentapnya sinis.


“Gua bercanda kok.


Beneran gua bercanda Gy.”


“Gua beneran ikhlas kok,


gua cuma ngerasa kaya gak lu anggap aja dalam hidup lu,” sambungnya pelan.


“Gua kan udah jelasin,


dan gua udah minta maaf, tapi lu malah manfaatin gua. lu kan tau gua gimana,”


balasku.


“Gini deh, biar kita gak berantem,


dan hati gua gak sakit lagi karena gak lu anggep.  Gua mau ngajak lu dinner ntar malem. Gua mau


pamer cewek baru gua ama lu, biar lu panas aja sih karena ga dapet-dapet cewek,


Hahahaa,” ucapnya sambil menertawakanku.


“Brengsek lu, oke dimana?


jam berapa?” tanyaku.


“Dicafe lu aja biar


gratis, jam 8,” jawabnya sambil berlalu pergi meninggalkan kami.


            Aku hanya menggelengkan kepala melihat tingkahnya yang


menurutku seperti anak-anak. Dewi pun menunjukkan respon yang sama sepertiku.


ama lu,” ucap Dewi padaku.


            Aku diam tak meresponnya.


“Eh tapi semuanya juga


takut sih ama lu sekarang,” sindirnya.


“Kopi Wi,” suruhku seakan


malas merespon perkataannya.


            Dia pun mengangguk lalu pergi.


Ada


saja yang membuatku kesal pagi-pagi begini, aku sudah mengorbankan waktuku dengan


Zulfa untuk segera kesini, tapi dia justru membuatku jadi emosi.


Drian brengsek, pekikku


dalam hati.


            Aku menghisap rokokku, dan Dewi datang membawahkan kopi


lalu meletakkannya dimeja ku. Ntah kenapa aku jadi sesuka hatiku saja mau


ngrokok dimana pun. Dewi pun tak berani memarahiku seperti biasanya, dan ketika


aku telat tadi pun dia hanya menatapku sinis saja.


Aku


mulai mencerna perkataan Dewi tadi, Semenjak kejadian ku dengan Burhan waktu


itu, aku memang jadi sedikit sensian, dan orang-orang disekitarku jadi takut


samaku.


            Lamunanku terpecah saat ponsel ku berbunyi menggangguku, dengna


kondisi hatiku yang masih tidak baik dan tanpa aku melihat siapa yang menelfon


aku langsung saja mngangkatnya lalu memakinya.


“APA LAGI,”


“kau kenapa?”


Aku


kaget dan langsung melihat kelayar ponsel ku. Ternyata istriku yang menelfonku.


Aku benar-benar berada dalam bahaya sekarang.


Mati aku!!!, ucapku dalam


hati sambil menepuk keningku.


“JAWAB AKU.”


“Mm—maaf sayang, aku


fikir tadi—”


“SIAPA KAU FIKIR?”


            Suaranya sangat besar, sampai Dewi pun mendengarnya, lalu


dia malah menertawai aku.


“En—enggak, bukan siapa-siapa


kok,” jawabku yang menjadi salah tingkah karena merasa bersalah sudah


membentaknya.


            Tak ada balasan lagi darinya, dia sudah mematikan telfon.


Aku hanya menepuk keningku. Dia pasti menunggu ku dengan marah dirumah.


“Rasain lu,” sewot Dewi


mengataiku.


            Aku tak meresponnya.


“Emosi doang sih yang ada


diotak lu, tidur diluar deh lu, kasihan,” ledeknya lagi sambil tertawa.


            Aku hanya terdiam dan heran dengan diriku sendiri.


“Gua kenapa ya Wi? kok


gampang emosi yak.”


“Ya mana gua tau.”


“Gua serius Wi.”


“Hahaha, kayanya bener


deh kata bini lu, lu harus pergi liburan sama kita-kita.”


“Yee, itu sih enak di lu,”


balasku.

__ADS_1


“Gua serius Gy. udah


terlalu banyak beban yang numpuk diotak lu kayanya, makanya lu jadi sensian dan


gak seru. Kalau memang lu keberatan ngajak kita-kita, gak apa-apa kok lu pergi


ama bini lu doang. Asal lu kembali kaya biasa lagi,” ucapnya dengan tulus


meyakinkan aku.


            Aku jadi memikirkan kata-katanya, Dewi benar, aku sudah


banyak memikirkan beban dalam otakku, aku harus pergi liburan. Tapi aku sudah


janji sama Zulfa untuk mengajak mereka bertiga, tetapi aku merasa tak keberatan


juga, lagian udah lama juga kami tidak liburan bareng.


“Yaudah. ntar gua kabarin


lu lagi,” ucapku sambil beranjak dari kursiku lalu pergi.


“Mau kemana lu?” tananya


heran.


“Lu lupa? Gua udah ada


bini brooooo, jadi gua mau makan siang dulu ama dia, sekalian mau bujuk dia gara-gara


yang tadi,” jawabku dengan ekspresi meremehkan Dewi.


“Taik, bucin lu,”


ledeknya padaku.


“Yeee, JOMBLO,” pekikku


kepadanya sambil tertawa lalu meniggalkannya.


            Aku pun membawa mobilku untuk pergi pulang, karena hari


sudah pukul jam 12 siang. Aku kekantor tadi jam 10 pagi, aku benar-benar


kesiangan, dan dewi sudah mengatakan kepadaku kemarin saat dibandara, bahwa aku


tak ada schedule hari ini. Jadi aku memutuskan untuk dirumah saja hari ini


bersama istriku, tapi Drian brengsek itu tiba-tiba menelfonku ingin


membicarakan hal penting, namun justru membuatku emosi.


            Didala perjalanan pulang aku harus memikirkan alasan apa


yang harus ku katakan kepada istriku atas kebodohanku yang tak sengaja


membentaknya tadi. Aku melihat sekeliling jalan yang ku lalui, untuk menemukan


solusi yang tepat untuk meluluhkan hatinya nanti. Tetapi aku tak tahu apa


kesukaan dia, aku lupa bahwa tak pernah menanyakan apa kesukaan dia.


            Hingga mobilku sudah dekat dengan rumah aku juga tak


menemukan solusinya, namun sesaat aku hendak berbelok memasuki simpang yang


dekat dengan rumahku, aku melihat ada yang jualan somay. Jadi kuputuskan untuk


membeli itu saja, karena aku pernah melihat istriku makan somay saat makan


siang bersamaku dulu dan dia menghabiskannya dengan lahap.


            Aku memesan 4 bungkus somay, untukku, istriku, si Mbok,


dan Kang Dayat satpam rumahku. Aku sudah biasa membawakan untuk mereka berdua,


tapi sekarang karena sudah ada seorang istri dirumahku, tentu aku membawakan


juga untuknya, meskipun sebenarnya ini memang ku beli untuknya sih.


            Aku memarkirkan mobilku digarasi, dan turun dari mobilku


lalu memberikan somay untuk Kang Dayat, setelah itu aku masuk kerumah, ketika


aku masuk kerumah, aku melihat bidadariku lagi menonton TV sendirian, aku pun


langsung mendekatinya lalu ingin mencium keningnya, yang langsung di tolak


olehnya.


“Maafkan aku sayang,” ucapku


mencoba meluluhkan hatinya.


“Apaan sayang-sayang,”


balasnya cuek.


“Ya kau kan memang


sayangku.”


“Kau membentakku dengan


sangat keras Nugy, memangnya apa salahku?” tanyanya kesal dengan menatapku


sinis.


            Aku menatapnya gemas.


“Aku sangat kesal dengan


si Drian itu, dia membohongiku. katanya ada yang penting untuk dibicarakan tapi


justru membuatku emosi ujungnya. Jadi aku terbawa suasana. Ketika hati ku lagi


panas, tiba-tiba ponselku berbunyi kuat sekali. Tentu aku jadi semakin kesal,


sampai sampai tak melihat layar ponselku. Ternyata kamu yang nelfon. Hehehe,” ucapku


menjelaskan semua yang terjadi dengan wajah yang memohon.


“Lalu setelah kau tahu


bahwa aku yang menelfonmu, masih mau membentakku juga?”


“Ya enggak dong, aku


merasa bersalah, justru aku menyusulmu pulang kerumah.”


“Biar apa menyusulku?”


“Biar kau tak marahlah


sayang, aku juga membawakan ini untuk mu,” jawabku sambil menunjukkan somay


yang ku bawa tadi.


            Dia pun melhat somay yang ku berikan, lalu menatapku.


“Baguslah, padahal aku


berencana ingin mengunci pintu kamar malam ini jika kau tak segera menyusulku,”


balasnya.


            Dia pun berdiri mengambil piring untuk kami berdua, lalu


menuangkannya dan memberikannya padaku. Dan dia menuangkan utnuknya juga. Kami


makan berdua didepan TV.


Akhirnya posisi tidur ku


aman malam ini, ucapku dalam hati.


            Setelah menghabiskan somay, kami bercerita sebentar


membahas tentang liburan yang akan kami lakukan bersama dengan 3 orang aneh


itu, Zulfa selalu bisa memahami pekerjaanku, dia tak mau jika harus membuatku


tak masuk kekantor, jadi kami hanya liburan yang dekat-dekat saja.


Setelah


sudah kami putuskan, aku pun mulai merasa mengantuk, dan mengajak Zulfa istriku


untuk tidur saiang, dan dia pun mau.


            Aku mengganti bajuku yang sudah dipersiapkannya, dia sendiri


sudah rebahan duluan, aku pun mendekatinya. Tapi dia langsung mengatisipasinya.


“Jangan lakukan itu dulu


Nugy,” pintanya dengan lembut.


“Masih sakit?”


“Ya sakitlah, berjalan


saja perih.”


            Aku jadi kasihan dengan Istriku ini, jadi aku memeluk dia


saja tapi dia masih saja protes.


“Nugyyyy.”


“Apa lagi,” balasku mulai


kesal.


“Jauhkan adikmu dariku,


kamu sengaja menempelkannya padaku,” balasnya merengek.


“Hahaha, memangnya


kenapa? Kau bahkan sudah merasakannya semalam, kenapa kau masih saja malu-malu


sayang,” belaku sambil mencium pipinya.


“Ya ta—”


“Sudah jangan protes, aku


ngantuk dan ingin tidur,” tegasku kepadanya sambil tidur memejamkan mataku


dengan memeluknya.


            Dia pun hanya menurut.


Meskipun aku selalu


mendengarkannya, bukan berarti istriku tak menghargai aku, dia selalu


mendengarkan apapun yang ku katakan padanya, dan dia selalu menurut apapun


perintahku. Kami hanya saling menghargai satu sama lain, bukan saling takut


antara satu sama lain.

__ADS_1


__ADS_2