
“Aku buru-buru sayang,”
“Kika kau tidak memakan
sarapan yang ku siapkan, jangan harap malam ini kau bisa tidur bersamaku,”
balasnya mengancam.
“Ya sudah aku makan,”
Aku pun duduk dikursi meja makanku.
“Oh baguslah, ku fikir
kau hanya takut kepada Dewi saja,” balasnya kesal.
Aku menatap dirinya.
“Kau cemburu?” tanyaku
menggoda.
“Makan saja sarapanmu.”
Aku menghembuskan nafasku dengan berat.
“Aku bukan takut
kepadanya, aku hanya tak enak jika Drian menunggu lama dikantorku,” jelasku
kepadanya sambil memakan sarapanku.
“Siapa suruh kau
menghajarku semalaman, kesiangan sendirikan,” kesalnya lagi.
“Ya mau bagaimana lagi,
kau sangat menggoda sayang,” balasku dengan nada menggoda dan senyum penuh
nafsu.
“Dasar mengerikan,”
ketusnya lalu cemberut.
Aku hanya tertawa melihat ekspresi imutnya itu.
Aku sudah mendapatkan apa yang selama ini aku inginkan
darinya, setelah sampai dari Sibolga kemarin, malamnya aku menghajarnya Habis-habisan
tanpa ampun, seakan semua hasratku untuk mencicipi tubuh indahnya itu
terpuaskan. Namun aku tak akan sampai disitu saja, aku akan membiarkan dia
beberapa hari ini dulu untuk menghilangkan rasa sakit yang dia rasakan
sekarang, setelah itu aku akan menghajarnya lagi.
Wajar saja dia kesakitan, dia masih perawan sedangkan
adikku yang besar ini memaksakan diri untuk masuk kedalamnya tanpa henti.
“Aku berangkat ya sayang,”
ucapku sambil mencium keningnya.
Dia hanya mengangguk dengan tak menghilangkan wajah
cemberutnya itu.
“Jangan cemberut dong,
aku jadi tak tahan,” bisikkku ketelinganya.
“Iihhhh Nugy, nanti kau
terlambat,” pekiknya pelan dengan raut wajah yang memerah.
“Hahahahah,” aku tertawa
puas.
Lalu aku pergi meninggalkannya, dia tak bisa
mengatarkanku kedepan, karena masih terasa sakit dibagian kewanitaannya, jadi
dia tak bisa terlalu banyak berjalan.
Aku mengemudikan mobilku untuk pergi kekantor, disana
sudah ada Drian teman bisnisku yang sudah meminjamkan pesawatnya itu padaku.
Aku tahu dia pasti ingin bertemu untuk membahas bisnis kami yang baru. Awalnya
ku kira begitu.!
Lagi-lagi macet di kota ini membuatku kesal untuk
kesekian kalinya, bukan hanya macet, tetapi lampu merahnya juga sangat lama.
Inilah yang membuatku semakin tak menyukai Hutan Belantara ini, tetapi mau bagamana
lagi, aku tetap harus tinggal disini karena memang pekerjaan ku disini, dan
juga aku tak dapat memungkiri bahwa kota inilah yang mempertemukanku dengan
Zulfa yang kini menjadi istriku.
Setelah
lampu hijau, aku kembali fokus mengemudikan mobilku dengan sedikit cepat,
hingga akhirnya aku sampai dikantorku ini.
Aku turun dari mobilku dan langsung berjalan cepat menuju
ruanganku. Ketika aku hendak masuk, lagi-lagi aku bertemu dengan monster yang
mengerikan. Tapi untungnya dia tidak memarahiku dengan kata-kata yang
menyebalkan, dia hanya menatapku sinis. Lalu kami berdua pun masuk.
“Maaf Drian,” ucapku
pelan sambil tersenyum lebar kearahnya.
Dia hanya tersenyum menatapku.
“Gak apa-apa, lu udah
biasa kok,” balasnya sambil tersenyum menyindir.
“Jadi apa yang harus kita
bicarakan?” tanyaku sambil duduk dikursi tamu diruanganku.
“Gua cuma mau lu bayar
semua sewa pesawat gua yang lu pakai sama dengan awaknya.” jawabnya tegas.
“HAH?”
Aku
dan dewi pun terkejut serentak, dan dia hanya mentap kami seakan puas mengejutkan
kami.
“Lu bilang ama gua ikhlas
tanpa biaya apapun,” ucapku heran sambil memastikannya.
“Iya, lu memang benar,”
jawabnya santai.
“Terus?”
“Gua sakit hati ama lu,”
ketusnya kesal
“Lah gua salah apa?”
tanyaku lagi semakin heran.
Dia menatapku kesal.
“Lu masih nanya salah lu
apa?” tanyanya kembali.
Aku hanya mengangguk heran.
“Bisa-bisanya lu ga ngabarin
gua sama sekali atas kematian Bokap lu, dan lu masih nanya apa salah lu?”
Aku terdiam mati kutu, aku benar-benar lupa untuk yang
satu ini.
“Gua heran. lu anggap apa
gua ini, gua nganggap lu lebih dari sekedar rekan bisnis Gy, gua udah anggap
keluarga lu itu adalah keluarga gua. Sedangkan lu anggap gua apa? Gak ada!!!”
“Apa gua gak penting bagi
lu? makanya ga ngabarin gua sama sekali,” tanyanya yang mulai kesal.
Aku masih terdiam, aku tak tahu harus menjawab apa, aku
sangat sibuk saat itu, jadi aku benar-benar lupa, tapi tak mungkin aku bilang
sama dia bahwa aku lupa, Bisa-bisa dia semakin marah.
“Maafkan aku drian,
sungguh aku minta maaf. Aku tak melupakanmu sama sekali.”
Dia diam dengan menatapku sinis.
“Aku sangat sibuk disana
bahkan aku tak bisa berfikir jernih untuk mengingat dimana ku letak ponselku…”
“Percayalah drian,
sebagai mana kau menganggapku seperti itu pula aku menganggapmu. Aku khilaf,
maafkan aku ya sobat,” ucapku dengan nada memelas seakan menggoda agar hatinya
luluh.
Dia masih diam tak merespon, jadi aku langsung mengkode Dewi
untuk membantuku.
“I—ya Pak, disana sangat
__ADS_1
ramai dan membuat kami sangat kerepotan…”
“Bahkan tak ada satu pun
diantara kami yang sempat untuk memegang ponsel saat itu,” sambung Dewi lagi.
“PRETTTT.”
Kami berdua diam menatapnya.
“Ini nih kebiasaan lu
pada, kalau salah aja lu pandai menjilat, sok formal manggil Pak lagi lu. Sok
pakai aku kamu lah. Tapi kalau lagi apa aja lu pada lupa ama gua,” sambungnya
kesal.
“Hahaha enggak mungkinlah
kita lupa ama lu,” balasku meyakinkannya.
“Maafin gua lah,”
sambungku menggodanya.
“Kampret lu,” balasnya
kesal
Dia diam seakan berfikir, lalu aku melihatnya tersenyum
jahil, dan hal itu membuat perasaan ku menjadi tak enak, biasanya kalau dia
udah gini nih, bakal ada pertanda bahaya.
“Gua bakalan maafin lu.
Tapi kalau lu bolehin gua sama selingkuhan gua tidur dirumah lu,” ucapnya.
Aku diam sesaat seakan tak menangka dengan tebakanku.
“Gak, lebih bagus gua
bayar sewa pesawat lu,” jawabku yang mulai kesal.
“BERAPA TUH SEWA? BIAR
GUA BAYAR SEKARANG JUGA.”
“SAMA AWAKNYA.”
“KALAU PERLU GUA BAYAR
HOTEL BUAT LU ***** SAMA TUH CEWEK.” sambungku dengan kesal membentaknya.
Aku
jadi sangat kesal, aku sudah memohan maaf kepadanya, tapi justru sekarang dia
sok-sok memanfaatkan ku. Tak akan ku biarkan siapapun yang memegang kendali
atas diriku.
Aku melihat Drian dan Dewi pun terdiam takut karena amarahku
yang baru saja keluar,
“Katakan Drian, berapa
semuanya, biar kita akhiri pembicaraan ini, karena gua harus sibuk hari ini,” ucapku
yang sudah mulai muak dengan situasi ini.
“Yahh, kok lu jadi marah
sih Gy,” ucapnya mulai merayu aku.
Aku mentapnya sinis.
“Gua bercanda kok.
Beneran gua bercanda Gy.”
“Gua beneran ikhlas kok,
gua cuma ngerasa kaya gak lu anggap aja dalam hidup lu,” sambungnya pelan.
“Gua kan udah jelasin,
dan gua udah minta maaf, tapi lu malah manfaatin gua. lu kan tau gua gimana,”
balasku.
“Gini deh, biar kita gak berantem,
dan hati gua gak sakit lagi karena gak lu anggep. Gua mau ngajak lu dinner ntar malem. Gua mau
pamer cewek baru gua ama lu, biar lu panas aja sih karena ga dapet-dapet cewek,
Hahahaa,” ucapnya sambil menertawakanku.
“Brengsek lu, oke dimana?
jam berapa?” tanyaku.
“Dicafe lu aja biar
gratis, jam 8,” jawabnya sambil berlalu pergi meninggalkan kami.
Aku hanya menggelengkan kepala melihat tingkahnya yang
menurutku seperti anak-anak. Dewi pun menunjukkan respon yang sama sepertiku.
ama lu,” ucap Dewi padaku.
Aku diam tak meresponnya.
“Eh tapi semuanya juga
takut sih ama lu sekarang,” sindirnya.
“Kopi Wi,” suruhku seakan
malas merespon perkataannya.
Dia pun mengangguk lalu pergi.
Ada
saja yang membuatku kesal pagi-pagi begini, aku sudah mengorbankan waktuku dengan
Zulfa untuk segera kesini, tapi dia justru membuatku jadi emosi.
Drian brengsek, pekikku
dalam hati.
Aku menghisap rokokku, dan Dewi datang membawahkan kopi
lalu meletakkannya dimeja ku. Ntah kenapa aku jadi sesuka hatiku saja mau
ngrokok dimana pun. Dewi pun tak berani memarahiku seperti biasanya, dan ketika
aku telat tadi pun dia hanya menatapku sinis saja.
Aku
mulai mencerna perkataan Dewi tadi, Semenjak kejadian ku dengan Burhan waktu
itu, aku memang jadi sedikit sensian, dan orang-orang disekitarku jadi takut
samaku.
Lamunanku terpecah saat ponsel ku berbunyi menggangguku, dengna
kondisi hatiku yang masih tidak baik dan tanpa aku melihat siapa yang menelfon
aku langsung saja mngangkatnya lalu memakinya.
“APA LAGI,”
“kau kenapa?”
Aku
kaget dan langsung melihat kelayar ponsel ku. Ternyata istriku yang menelfonku.
Aku benar-benar berada dalam bahaya sekarang.
Mati aku!!!, ucapku dalam
hati sambil menepuk keningku.
“JAWAB AKU.”
“Mm—maaf sayang, aku
fikir tadi—”
“SIAPA KAU FIKIR?”
Suaranya sangat besar, sampai Dewi pun mendengarnya, lalu
dia malah menertawai aku.
“En—enggak, bukan siapa-siapa
kok,” jawabku yang menjadi salah tingkah karena merasa bersalah sudah
membentaknya.
Tak ada balasan lagi darinya, dia sudah mematikan telfon.
Aku hanya menepuk keningku. Dia pasti menunggu ku dengan marah dirumah.
“Rasain lu,” sewot Dewi
mengataiku.
Aku tak meresponnya.
“Emosi doang sih yang ada
diotak lu, tidur diluar deh lu, kasihan,” ledeknya lagi sambil tertawa.
Aku hanya terdiam dan heran dengan diriku sendiri.
“Gua kenapa ya Wi? kok
gampang emosi yak.”
“Ya mana gua tau.”
“Gua serius Wi.”
“Hahaha, kayanya bener
deh kata bini lu, lu harus pergi liburan sama kita-kita.”
“Yee, itu sih enak di lu,”
balasku.
__ADS_1
“Gua serius Gy. udah
terlalu banyak beban yang numpuk diotak lu kayanya, makanya lu jadi sensian dan
gak seru. Kalau memang lu keberatan ngajak kita-kita, gak apa-apa kok lu pergi
ama bini lu doang. Asal lu kembali kaya biasa lagi,” ucapnya dengan tulus
meyakinkan aku.
Aku jadi memikirkan kata-katanya, Dewi benar, aku sudah
banyak memikirkan beban dalam otakku, aku harus pergi liburan. Tapi aku sudah
janji sama Zulfa untuk mengajak mereka bertiga, tetapi aku merasa tak keberatan
juga, lagian udah lama juga kami tidak liburan bareng.
“Yaudah. ntar gua kabarin
lu lagi,” ucapku sambil beranjak dari kursiku lalu pergi.
“Mau kemana lu?” tananya
heran.
“Lu lupa? Gua udah ada
bini brooooo, jadi gua mau makan siang dulu ama dia, sekalian mau bujuk dia gara-gara
yang tadi,” jawabku dengan ekspresi meremehkan Dewi.
“Taik, bucin lu,”
ledeknya padaku.
“Yeee, JOMBLO,” pekikku
kepadanya sambil tertawa lalu meniggalkannya.
Aku pun membawa mobilku untuk pergi pulang, karena hari
sudah pukul jam 12 siang. Aku kekantor tadi jam 10 pagi, aku benar-benar
kesiangan, dan dewi sudah mengatakan kepadaku kemarin saat dibandara, bahwa aku
tak ada schedule hari ini. Jadi aku memutuskan untuk dirumah saja hari ini
bersama istriku, tapi Drian brengsek itu tiba-tiba menelfonku ingin
membicarakan hal penting, namun justru membuatku emosi.
Didala perjalanan pulang aku harus memikirkan alasan apa
yang harus ku katakan kepada istriku atas kebodohanku yang tak sengaja
membentaknya tadi. Aku melihat sekeliling jalan yang ku lalui, untuk menemukan
solusi yang tepat untuk meluluhkan hatinya nanti. Tetapi aku tak tahu apa
kesukaan dia, aku lupa bahwa tak pernah menanyakan apa kesukaan dia.
Hingga mobilku sudah dekat dengan rumah aku juga tak
menemukan solusinya, namun sesaat aku hendak berbelok memasuki simpang yang
dekat dengan rumahku, aku melihat ada yang jualan somay. Jadi kuputuskan untuk
membeli itu saja, karena aku pernah melihat istriku makan somay saat makan
siang bersamaku dulu dan dia menghabiskannya dengan lahap.
Aku memesan 4 bungkus somay, untukku, istriku, si Mbok,
dan Kang Dayat satpam rumahku. Aku sudah biasa membawakan untuk mereka berdua,
tapi sekarang karena sudah ada seorang istri dirumahku, tentu aku membawakan
juga untuknya, meskipun sebenarnya ini memang ku beli untuknya sih.
Aku memarkirkan mobilku digarasi, dan turun dari mobilku
lalu memberikan somay untuk Kang Dayat, setelah itu aku masuk kerumah, ketika
aku masuk kerumah, aku melihat bidadariku lagi menonton TV sendirian, aku pun
langsung mendekatinya lalu ingin mencium keningnya, yang langsung di tolak
olehnya.
“Maafkan aku sayang,” ucapku
mencoba meluluhkan hatinya.
“Apaan sayang-sayang,”
balasnya cuek.
“Ya kau kan memang
sayangku.”
“Kau membentakku dengan
sangat keras Nugy, memangnya apa salahku?” tanyanya kesal dengan menatapku
sinis.
Aku menatapnya gemas.
“Aku sangat kesal dengan
si Drian itu, dia membohongiku. katanya ada yang penting untuk dibicarakan tapi
justru membuatku emosi ujungnya. Jadi aku terbawa suasana. Ketika hati ku lagi
panas, tiba-tiba ponselku berbunyi kuat sekali. Tentu aku jadi semakin kesal,
sampai sampai tak melihat layar ponselku. Ternyata kamu yang nelfon. Hehehe,” ucapku
menjelaskan semua yang terjadi dengan wajah yang memohon.
“Lalu setelah kau tahu
bahwa aku yang menelfonmu, masih mau membentakku juga?”
“Ya enggak dong, aku
merasa bersalah, justru aku menyusulmu pulang kerumah.”
“Biar apa menyusulku?”
“Biar kau tak marahlah
sayang, aku juga membawakan ini untuk mu,” jawabku sambil menunjukkan somay
yang ku bawa tadi.
Dia pun melhat somay yang ku berikan, lalu menatapku.
“Baguslah, padahal aku
berencana ingin mengunci pintu kamar malam ini jika kau tak segera menyusulku,”
balasnya.
Dia pun berdiri mengambil piring untuk kami berdua, lalu
menuangkannya dan memberikannya padaku. Dan dia menuangkan utnuknya juga. Kami
makan berdua didepan TV.
Akhirnya posisi tidur ku
aman malam ini, ucapku dalam hati.
Setelah menghabiskan somay, kami bercerita sebentar
membahas tentang liburan yang akan kami lakukan bersama dengan 3 orang aneh
itu, Zulfa selalu bisa memahami pekerjaanku, dia tak mau jika harus membuatku
tak masuk kekantor, jadi kami hanya liburan yang dekat-dekat saja.
Setelah
sudah kami putuskan, aku pun mulai merasa mengantuk, dan mengajak Zulfa istriku
untuk tidur saiang, dan dia pun mau.
Aku mengganti bajuku yang sudah dipersiapkannya, dia sendiri
sudah rebahan duluan, aku pun mendekatinya. Tapi dia langsung mengatisipasinya.
“Jangan lakukan itu dulu
Nugy,” pintanya dengan lembut.
“Masih sakit?”
“Ya sakitlah, berjalan
saja perih.”
Aku jadi kasihan dengan Istriku ini, jadi aku memeluk dia
saja tapi dia masih saja protes.
“Nugyyyy.”
“Apa lagi,” balasku mulai
kesal.
“Jauhkan adikmu dariku,
kamu sengaja menempelkannya padaku,” balasnya merengek.
“Hahaha, memangnya
kenapa? Kau bahkan sudah merasakannya semalam, kenapa kau masih saja malu-malu
sayang,” belaku sambil mencium pipinya.
“Ya ta—”
“Sudah jangan protes, aku
ngantuk dan ingin tidur,” tegasku kepadanya sambil tidur memejamkan mataku
dengan memeluknya.
Dia pun hanya menurut.
Meskipun aku selalu
mendengarkannya, bukan berarti istriku tak menghargai aku, dia selalu
mendengarkan apapun yang ku katakan padanya, dan dia selalu menurut apapun
perintahku. Kami hanya saling menghargai satu sama lain, bukan saling takut
antara satu sama lain.
__ADS_1