Belantara

Belantara
PRIA GAGAH ITU PERGI (PART 2)


__ADS_3

Bandara


Soekarno Hatta pagi ini dipenuhi banyak nya orang yagn akan berangkat maupun


yagn baru sampai ditujuan, kami yang dijadwalkan akan berangkat pagi ini pun


sedang berjalan mengitari bandara menuju pesawat yang akan membawa kami


ketujuan, kami berangkat dengan menggunakan pesawat pribadi milik partner


kerjaku yang bersedia meminjamkannya kepadaku, mungkin karena dia sudah banyak


berhutang budi atas bisnisnya yang sudah banyak ku bantu.


Tentu


saja dia sudah tau dengan kondisi ayahku, oleh sebab itu dia menawarkan bantuan


kepadaku, tanpa aku harus epot-repot mempersiapkannya dan tanpa aku mebayarnya


sepeserpun. Sungguh aku bersyukur dikelilingi oleh orang-orang yang baik


kepadaku dan keluargaku.


Aku


membawa ayah dengan menggunakan kursi rodanya, aku hanya mampu melihatnya


dengan heran, dia bisa sekuat ini menahan sakitnya, bahkan disaat alat-alat


medis itu dilepas. Sebenarnya kami tak ingin melepasnya, namun ayah yang


memintanya karena dia tak ingin terlihat sekarat dihadapan banyak orang.


Aku


menyandarkannya dikursi pesawat yang sangat nyaman untuknya, karena dia bisa sambil


tidur dalam perjalanan. Lalu Ibu duduk disebelahnya. Rudi bersebelahan dengan Patricia


di samping Ayah dan Ibuk, aku dan Zulfa duduk dikursi yang ada dihadapan


mereka, sedangkan pria yang selalu bersama Ayah itu duduk dikursi paling


belakang sendirian.


Aku


tak menghiraukan aba-aba yang diberikan, aku hanya cukup memasang sabukku saja,


selebihnya aku tak peduli dengan suara itu, hingga pesawat kami pun berangkat.


Didalam


perjalanan aku melihat Ibu sedang menggenggam tangan Ayah yang sedang tidur.


Aku sudah lama tak melihat mereka seperti itu dan ini membuatku senang sesaat


sebelum aku paham dengan takdir yang sebentar lagi akan merubah keadaan ini.


Tiba-tiba


Zulfa menggam tanganku erat, aku pun melihatnya, dia sedang tersenyum kepadaku,


aku pun membalas senyuman itu.


“Kau sangat cantik,”


pujiku padanya.


“Kau juga sangat tampan,”


balasnya memujiku.


            Aku tersenyum bangga, karena ini pertama kalinya dia


memujiku. Aku menggenggam erat tangannya seakan aku tak akan pernah


melepaskannya sampai kapan pun. Yahh sampai kapan pun.


            Perjalanan dari Jakarta kemedan memakan waktu 2 jam, ini adalah


sekian kalinya aku pergi ketanah kelahiran Ayahku. Ayah sering mengajak kami


pulang ketanah kelahirannya saat aku dan adikku masih kecil, hingga terakhir


saat aku duduk dibangku kuliah. Disana Ayah mengajak kami kedaerah-daerah yang


sangat cantik meurutku, dan diantarnya yang paling aku senangi adalah kota Sibolga.


Salah satu kota terkecil diindonesia yang terdapat di Provinsi Sumatera Utara.


Sebenarnya


kota itulah tempat kelahiran Ayah dan tempat itu pula yang akan kami datangi,


namun kebiasaan orang Sumatera Utara jika ditanya dari mana pasti jawabannya


adalah Kota Medan.


Sekarang


akan aku luruskan cerita ini, kami akan pergi kekota Sibolga tempat kelahiran Ayah


dan jarak tempuhnya sama saja yaitu 2 jam jika meggunakan pesawat.


Kakekku


dan nenekku adalah asli orang Kota Sibolga, daerah kecil yang dikelilingi oleh Pulau-pulau


yang indah. Ayahku adalah anak paling bungsu dari 4 bersaudara dengan dua


Perempuan dan dua Laki-laki. Mereka memiliki perbedaan umur yang tidak terlalu


jauh. Yang Pertama adalah Tante Yuni, Tante Ida, Om Sapri dan Ayahku. Di saat Ayah


berumur satu tahun, Kakekku pindah kerja ke Kota Medan dan disanalah Ayah


bersama beberapa saudara nya besar dan tumbuh. Kakekku adalah seorang pedagang


Ikan di Sibolga, namun dia memutuskan untuk pindah menjadi penampung ikan segar


di Kota Medan yang disupply dari Kota Sibolga langsung.


            Setelah Ayah lulus Sma barulah ia memutuskan untuk pergi


merantau ke Jakarta ikut dengan Abangnya. Aku memanggilnya dengan sebutan Om Sapri,


dia adalah seorang pengusaha, dia memiliki sawit yang tersebar di dua Pulau


terbesar di Nusantara, tepatnya di Sumatera dan Kalimantan. Namun dia sudah


meninggal saat aku masih kuliah karena penyakit gula akut yag dideritanya. Kini


anaknya lah yang meneruskan usaha itu. Kebetulan dia anak tunggal dan satu


tahun lebih tua diatasku namanya adalah Andre. Aku tak terlalu dekat dengannya,


namun Rudy adikku dekat dengannya. Karena saat kecil adikku pernah tinggal


bersama keluarga Om Sapri disaat keluarga kami masih dalam kondisi sulit secara


ekonomi karena tertipu oleh rekan bisnis Ayah yang tak kukenali. Mungkin jika


aku kenal bakalan aku hajar dia sampai dia merasakan sakit yang lebih dari yang


Orang tuaku rasakan pada saat itu.


            Disaat Ayah sakit, tak ada satupun Saudara-saudaranya


yang menjenguknya, karena Ibu berkata padaku bahwa Ayah tak mau semuanya tau


tentang kondisinya saat ini, lagi pula saudara Ayah kebanyakan tinggal di Sibolga,


jadi dia tak mau merepotkan mereka untuk datang Jauh-jauh menjenguknya. Lagian


ketika kami sampai nanti mereka akan tau sendiri.


            Oh ya aku lupa menjelaskannya, Tante Yuni adalah istri


dari seorang Elite Politik yang ada di Kota Medan, dia memiliki 2 anak yang kebetulan


Perempuan semuanya, namanya adalah Siska, dan Tiffany. Mereka berdua sudah


menikah, umurnya berbeda jauh diatasku karena Tante Yuni menikah muda dengan


suaminya.


Dan


satu lagi Tante Ida, dia adalah seorang janda, namun memiliki beberapa usaha Protperti


yang ada di Kota Medan, dan dia juga memiliki rumah makan yang terkenal di Kota


Sibolga, dia memiliki satu anak namanya Adrian yang sekarang sedang kuliah S2


di Australia.


            Aku jarang bertemu dengan semua Sepupu-sepupuku, oleh


karena itu aku tidak terlalu dekat dengan mereka kecuali Adrian. Jadi aku tak


tertarik membahas mereka dalam cerita ini.


            Setelah 2 jam dalam perjalanan, kami pun sampai di Bandara


Pinang Sori, Satu-satunya Bandara yang ada di kota kecil ini. Disini kami sudah


ditunggu oleh dua oang yang tak kukenali. Mereka menuntun kami untuk masuk kemobil


yang sudah menunggu diloby Bandara.


Ada


dua mobil. Ayah, Ibu, Rudi, Patricia dan pria itu, sebut saja ajudan Ayah ada


dimobil depan karena mobil itu lebih besar. Sedangkan aku dan Zulfa ada dimobil


belakang yang ukurannya lebih kecil.


            Kami pun berjalan menuju rumah keluarga besar Ayah yaitu


rumah Kakek yang ditempati oleh Tante Ida, jaraknya agak jauh dari bandara dan


membutuhkan waktu kurang lebih setengah jam.


            Didalam perjalanan aku melihat kiri dan kanan pemandangan


yang sangat indah, dikanan bukit, sedangkan dikiri ada Laut biru yang


membentang luas. Aku melihat Zulfa yang sedari tadi melihat kearah laut dari


jendela mobil dengan perasaan riang.


“Mau sampai kapan kau


terus begitu?” ucapku.


“Kenapa?” tanyanya.


“Kau seperti anak kecil.”


“Biar saja, aku baru


pertama kali melihat pemandangan seindah ini,” balasnya senang.


“Inilah kampungku,” ucapku


bangga.


“Kampungmu sangat indah Nugy,


aku senang.”


            Aku hanya tersenyum bangga mendengarnya.


“Tapi sayang Papa dan Mama


tak ikut bersama kita,” sambungnya


            Papa dan Mama tidak bisa ikut karena Papa sedang ada

__ADS_1


urusan di Bandung dan aku tak tau itu apa, karena aku pun tak tau pekerjaan Papa.


Aku segan untuk menanyakannya.


“Aku janji akan mengajak


mu kesini lagi, bersama Papa dan Mama,” ucapku meyakinkannya.


“Janji?” tanyanya penuh


harap.


            Aku hanya mengangguk dan tersenyum kearahnya, disaat


seperti ini bidadariku keluar sifat manjanya, namun aku senang.


            Kami pun asik berbincang, hingga kami pun sampai kerumah


itu, rumah dimana titik awal kehidupan keluarga ini berdiri. Rumah besar namun


tentunya tak sebebesar rumah Ayah. Terdapat banyak mobil dirumah ini, aku heran


siapa saja yang ada didalam, namun aku sebaiknya memastikan sendiri saja nanti.


            Setelah sopir menghentikan mobil tepat didepan pintu


rumah ini, aku dan Zulfa pun turun, dan berjalan kearah mobil dimana Ayah dan Ibu


berada. Aku dan ajudan Ayah mengankat Ayah turun dari mobil kekursi rodanya.


            Tante Ida, Tante Yuni dan beserta Sepupu-sepupuku keluar


dari rumah untuk menyambut kami, namun mereka justru dikejutkan dengan kondisi Ayah


yang duduk dikursi roda, dengan kondisi tubuh kurus kering, dan kepalanya yagn


sudah botak. Aku memakluminya saya, karena yang mereka tau adik bungsunya ini


adalah orang yang gagah dan tampan, dan sekarang kondisinya justru sangat jauh


berbeda.


“Ada apa ini?” tanya Tante


Yuni panik.


“Sudah, tak apa, aku


hanya mengubah gayaku,” jawab Ayah yang sudah bisa berbicara lancar kembali.


            Pria ini selalu saja berusaha membuat orang untuk tak


menaruh rasa iba kepadanya. Tapi aku senang sekarang Ayah sudah bisa berbicara


lancar tanpa terbata-bata seperti kemarin.


“Mari kita masuk,” ajak Ayah


kepada kami semua.


            Kami semua pun masuk, ajudan Ayah membawa Ayah dengan


menggunakan kursi rodanya, Ibu sedang berpelukan sambil berjalan bersama Tante Yuni


dan Tante Ida, wajar saja mereka sudah lama tak bertemu. Dan kami mengikuti


mereka dari belakang.


            Kami mengantar Ayah kekamarnya terlebih dahulu, karena


dia harus istirhat setelah lelah berjam-jam dalam perjalanan, lalu kami semua


duduk diruang tamu yang luas ini. Ibu duduk disamping Tante Yuni dan Tante Ida,


Rudi adikku duduk disamping Patricia, sedangkan aku duduk disamping bidadariku


yang sejak tadi tak melepaskan tanganku. Sepertinya dia sedang malu dan


canggung, wajar saja karena ini pertama kalinya dia bertemu dengan keluarga


besarku.


“Ini Nugy?” tanya tante


ida seakan kaget melihatku.


“Apa kabar Tante?”


jawabku sopan sambil tersenyum


            Dia pun mendekat kearahku lalu memelukku, dan aku hanya


memakluminya saja, karena diantara saudara Ayah, Tante Ida yang dekat denganku,


setelah sekian lama ini kami berjumpa lagi.


“Kau sudah besar dan


gagah,” ucapnya bangga.


            Aku hanya tersenyum


“Lalu ini siapa?” tanyanya


menunjuk kearah Zulfa.


“Dia istriku,” jawabku


bangga.


“Kapan kalian menikah?”


tanyanya kesal sambil melihat kearah kami semua


            Kami pun hanya terdiam, tak ada yang bisa menjawabnya.


“Ada apa sebenarnya? Apa


yang kalian sembunyikan,” sambungnya bernada marah.


            Aku melihat kesemuanya, mereka hanya terdiam dan tak ada


“Dia Zulfa istriku, kami


menikah dalam waktu yang singkat dan hanya beberapa orang yang hadir karena itu


sangat mendadak, kami menikah di Apartemen milik Ayah…”


“Ayah ingin melihatku


menikah dengannya, dimana saat aku baru mengetahui bahwa Ayahku sedang sekarat


melawan penyakitnya. Aku menikahinya karena tak berdaya menolak apapun


dihadapan Ayah yang tengah menunggu ajalnya. Aku tau itu adalah kesalahan


terbesar dalam hidupku sebagai anaknya, karena sudah mencoreng prinsip hidupnya


yang tak suka dengan apapun yang menaruh rasa iba kepadanya. Tapi justru


anaknya sendiri yang merusaknya. Tapi…”


            Aku sedikit terhenti seraya menahan rasa sedih ku


kembali.


“Tapi aku tak memiliki


maksud untuk itu,” kataku tengan tegas.


“Dan kami kesini hanya


untuk menuruti permintaan Ayah. Dia hanya ingin berkumpul dengan semua yang dia


cintai sebelum dia bertemu dengan Kakek dialam sana…”


            Aku terdiam sejenak lalu mengambil nafas yang dalam


kemudian ku hembuskan.


“Sebentar lagi Ayahku


akan pergi meninggalkan kita semua karena kanker brengsek yang menyerang tubuh


gagahnya itu.”


            Aku tak sanggup menjelaskannya lagi, aku bisa-bisa


menangis jika terus berbicara, aku melihat Ibu yang sudah tak kuasa menahan air


matanya, Rudi dan Patricia pun begitu, sedangkan Tante Ida, Tante Yuni dan sepupu-sepupuku


terkejut setengah mati dan tak sadar mengeluarkan air mata mereka, saat mereka


tahu bahwa pria gagah yang mereka kenal selama ini akan pergi meninggalkan kami


semua.


            Aku berdiri dan beranjak dari tempat dudukku dan


meninggalkan mereka semua, aku pergi kehalaman rumah, disana ada pendopo yang


lumayan besar, aku pun duduk disitu dan menghisap rokokku, aku melihat Zulfa


keluar dari rumah itu dan menyusulku lalu duduk disampingku.


“Kenapa kau kesini?”


tanyaku.


“Aku hanya ingin


didekatmu,” jawabnya lirih.


            Aku melihatnya dengan penuh rasa iba.


Bidadariku. Kenapa kau


selalu berusaha memaksakan dirimu untuk mengawatirkan ku, ucapku dalam hati.


“Bisakah kau bersikap


biasa saja, tak perlu memaksakan dirimu,” ucapku cuek.


“Apa maksudmu?” tanyanya


heran.


“Tak perlu memaksakan


dirimu untuk mengkhawatirkan aku, aku ini pria, aku tak perlu belas kasihan


dari siapapun, meskipun kau istriku, tapi aku tak akan membiarkanmu menaruh


rasa iba terhadapku karena aku memiliki harg—”


PLAKK.


            Belum selesai aku bicara dia sudah menamparku sangat


keras, pertama kali dia bisa menamparku, dan percayalah, itu sangat keras dan


berbeda rasanya.


“Apa yang kau lakukan,”


ucapku kesal dengan nada keras.


“Aku akan terus


menamparmu Nugy,” jawabnya keras lalu pergi meninggalkanku.


            Aku melihat air mata yang mengalir dipipinya, dan aku


hanya mampu terdiam dengan pipi yang terasa panas.


            Aku ingin mengejarnya namun pipiku terasa sakit sekali, dia


menamparku sangat keras sekali, bahkan lebih keras dari tamparan Ibu kepadaku.


Jadi kuputuskan untuk duduk lagi saja dan menghisap rokokku sambil aku memegang

__ADS_1


pipiku.


            Tak lama Zulfa meninggalkanku aku melihat Tante Ida


keluar dari rumah dan berjalan kearahku. Lalu duduk disampingku.


“Kau sudah merokok


sekarang ya nak,” ucapnya lembut kepadaku.


            Aku hanya diam saja tak meresponnya, pipiku masih terasa


sakit, sepertinya akan berbekas kali ini.


“Istrimu sangat cantik Nugy,


kenapa kau membuatnya menangis?” tanyanya kepadaku.


“Aku tak suka dia menaruh


rasa iba terhadapku,” jawabku datar.


“Hahaha, kau memang


seperti Ayahmu,” ucapnya sambil tertawa


            Aku kesal setiap orang yang selalu menyamakan aku dengan Ayah


“Aku sangat terkejut


dengan kenyataan atas adikku, dan aku sangat kesal baru mengetahui kau sudah


menikah tanpa mengabariku, tapi aku sudah memahami itu semua Nugy…”


“Aku tau kau mencintai


gadismu, aku juga tau kau sangat kesal kepada dirimu atas apa yang kau lakukan


kepada Ayah dan gadismu itu…”


“Tapi. Apa kau hanya akan


kesal terus menerus Nugy?” tanyanya.


            Aku hanya diam sambil memahami maksud dari perkataannya.


“Kurasa dia memang


terkejut dengan pernikahan kalian, aku juga merasa bahwa dia tak siap untuk


menikah dengan mu, tapi aku bisa melihat bahwa dia sedang belajar ikhlas


untukmu Nugy, dia juga belajar memahamimu meski kau tak bisa memahaminya…”


“Aku bisa melihat bahwa


dia memang sungguh khawatir padamu, untuk wanita yang jauh lebih muda darimu, sepertinya


harus ku akui bahwa dia lebih dewasa darimu…”


            Aku hanya terdiam.


“Nugy,” Sapanya lebut


sambil memegang tanganku dan menatapku.


            Aku membalas tatapannya.


“Dia benar-benar peduli


padamu, karena dia sudah mulai merasakan cinta kepadamu.” sambungnya.


            Dan itu berhasil membuatku terpatung, apakah benar


bidadariku mencintaiku? Sekilas aku mengigat semua perlakuannya terhadapku, dia


selalu mendampingiku, mengkhawatirkan ku, dan dia selalu disisiku. Aku sangat


buta dengan semua perlakuannya, aku tak perlu mengetahui dia cinta atau tidak


padaku. Aku hanya harus membuatnya bahagia, bukan justru membuatnya menangis.


Maafkan aku sayang,


ucapku dalam hati.


            Aku pun berdiri, aku ingin menemuinya sekarang, aku


berjalan kedalam rumah bersama Tante Ida yang ada disampingku. Aku melihat


tidak ada bidadariku disini.


“Dimana dia?” tanyaku


kepada semua yang ada diruang tamu.


“Dikamar atas bersama Ibu”


jawab Rudy.


            Aku pun langsung berjalan cepat kelantai atas, aku


membuka semua pintu kamar yang ada diatas, dan aku menemukan salah satu kamar


yang tak tertutup rapat pintunya, aku memutuskan untuk mendekat. Aku melihat


bidadariku yang sedang menangis dipelukan Ibu. Aku mendengar percakapan mereka.


“Aku hanya khawatir


padanya Bu, tapi dia justru merasa kalau aku menaruh rasa iba kepadanya …”


“Aku belajar memahami


dirinya, namun dia justru merasa kurendahkan. Aku tau dia tak suka dikasihani,


tetapi aku benar-benar melakukan itu karena aku peduli dengannya,” ucapnya


lirih.


            Hati ku benar-benar sakit ketika melihat bidadariku


menangis karena diriku.


“Kau gadis yang baik nak,


dia hanya sedang kesal terhadap dirinya. Dia merasa bersalah karena sudah


mengorbankan dirimu demi Ayahnya. Ibu juga meminta maaf kepadamu nak…”


“Tapi ada satu hal yang


ingin ku tanyakan…”


            Aku tau Ibu ingin menanyakan apa, aku pun semakin


mendekatkan telingaku ke arah bibir pintu.


“Apa kah kau mencintai


anakku? Apakah kau terbebani oleh pernikahan kalian?” tanya Ibu.


            Aku melihat Zulfa menegakkan kepalanya, aku bersabar


menunggu jawabannya


“Aku tak tau Bu, tapi aku


selalu senang ketika bertemu dengannya. dan selalu merindukan dia disaat kami


berpisah…”


“Dan aku takut disaat


dimana aku menerima pernikahan itu Bu, aku terpaksa awalnya, namun makin kesini


aku semakin tak ingin berpisah darinya…”


“Maafkan aku Bu, dia


anakmu yang paling bodoh, aku takut dia akan meninggalkanku hanya karena dia


merasa aku mengasihaninya…”


            Lalu dia terdiam sejenak, seakan tak sanggup melanjutkan


perkataannya.


“Aku merasa sudah


mencintainya Bu,” ucapnya.


Lalu


tangisnya semakin pecah kemudian memeluk Ibu.


            Tentu saja ini membuatku bergetar, apa yang aku lakukan


selama ini kepadanya, harusnya aku lebih peka atas sikapnya. Aku merasa


bersalah atas diriku sendiri yang selalu bersikap dingin dan kasar kepadanya. Aku


benar-benar merasa bodoh kali ini.


            Aku pun tak ingin mengganggu mereka, aku putuskan untuk


turun dengan perasaan sakit atas apa yang ku lakukan kepada istriku. Aku


memasuki kamar Ayahku, aku duduk disampingnya.


            Aku menatap Ayahku dengan lama, sambil berkata dalam hati


ku. “Sepertinya aku sudah tak perlu mengkhawatirkan harga dirimu Ayah, karena


sekarang aku sudah mengetahui bahwa bidadariku mencintaiku, dan aku pun tentu sangat


mencintainya. Aku senang Ayah, aku sangat senang. Aku berjanji padamu bahwa aku


tak akan membuatmu malu lagi. Aku akan menjaga permata baru kita yang hadir


dikeluarga ini sebagai istriku dan menantu mu.”


 Lalu aku pun tertidur menyandarkan kepalaku


kekasur dengan tubuhku yang masih duduk disamping Ayah.


            Aku terbangun saat Ibu membangunkanku, aku melihat Ayah


dihadapanku, dia menatapku tersenyum.


“Istirahatlah dikamarmu


nak, kau sangat lelah sepertinya,” ucap Ayah kepadaku.


            Aku melihat Ibu yang juga sedang tersenyum kepadaku.


“I—ya, Ayah ingin kemana


setelah ini, biar aku temani?” tanyaku.


“Ayah hanya ingin di


temani jika kau sudah bangun tidur nanti,” jawabnya meyakinkanku.


“Tidurlah dulu nak, Istrimu


juga kasihan sendiri dikamar,” ucap Ibuk menyuruhku.


            Aku pun mengangguk, dan mencium kening Ayah dan Ibu, lalu


pergi meninggalkan mereka berdua.


            Aku berjalan menuju kamarku diatas, aku membuka pintu


kamar, dan melihat Zulfa yang sedang tertidur pulas, dia terlihat sangat lelah.


Aku pun berbaring disebelahnya dan memeluknya.


Dia wangi sekali,


tampaknya dia baru habis mandi. Aku pun tertidur sambil memeluk bidadariku.

__ADS_1


__ADS_2