
Bandara
Soekarno Hatta pagi ini dipenuhi banyak nya orang yagn akan berangkat maupun
yagn baru sampai ditujuan, kami yang dijadwalkan akan berangkat pagi ini pun
sedang berjalan mengitari bandara menuju pesawat yang akan membawa kami
ketujuan, kami berangkat dengan menggunakan pesawat pribadi milik partner
kerjaku yang bersedia meminjamkannya kepadaku, mungkin karena dia sudah banyak
berhutang budi atas bisnisnya yang sudah banyak ku bantu.
Tentu
saja dia sudah tau dengan kondisi ayahku, oleh sebab itu dia menawarkan bantuan
kepadaku, tanpa aku harus epot-repot mempersiapkannya dan tanpa aku mebayarnya
sepeserpun. Sungguh aku bersyukur dikelilingi oleh orang-orang yang baik
kepadaku dan keluargaku.
Aku
membawa ayah dengan menggunakan kursi rodanya, aku hanya mampu melihatnya
dengan heran, dia bisa sekuat ini menahan sakitnya, bahkan disaat alat-alat
medis itu dilepas. Sebenarnya kami tak ingin melepasnya, namun ayah yang
memintanya karena dia tak ingin terlihat sekarat dihadapan banyak orang.
Aku
menyandarkannya dikursi pesawat yang sangat nyaman untuknya, karena dia bisa sambil
tidur dalam perjalanan. Lalu Ibu duduk disebelahnya. Rudi bersebelahan dengan Patricia
di samping Ayah dan Ibuk, aku dan Zulfa duduk dikursi yang ada dihadapan
mereka, sedangkan pria yang selalu bersama Ayah itu duduk dikursi paling
belakang sendirian.
Aku
tak menghiraukan aba-aba yang diberikan, aku hanya cukup memasang sabukku saja,
selebihnya aku tak peduli dengan suara itu, hingga pesawat kami pun berangkat.
Didalam
perjalanan aku melihat Ibu sedang menggenggam tangan Ayah yang sedang tidur.
Aku sudah lama tak melihat mereka seperti itu dan ini membuatku senang sesaat
sebelum aku paham dengan takdir yang sebentar lagi akan merubah keadaan ini.
Tiba-tiba
Zulfa menggam tanganku erat, aku pun melihatnya, dia sedang tersenyum kepadaku,
aku pun membalas senyuman itu.
“Kau sangat cantik,”
pujiku padanya.
“Kau juga sangat tampan,”
balasnya memujiku.
Aku tersenyum bangga, karena ini pertama kalinya dia
memujiku. Aku menggenggam erat tangannya seakan aku tak akan pernah
melepaskannya sampai kapan pun. Yahh sampai kapan pun.
Perjalanan dari Jakarta kemedan memakan waktu 2 jam, ini adalah
sekian kalinya aku pergi ketanah kelahiran Ayahku. Ayah sering mengajak kami
pulang ketanah kelahirannya saat aku dan adikku masih kecil, hingga terakhir
saat aku duduk dibangku kuliah. Disana Ayah mengajak kami kedaerah-daerah yang
sangat cantik meurutku, dan diantarnya yang paling aku senangi adalah kota Sibolga.
Salah satu kota terkecil diindonesia yang terdapat di Provinsi Sumatera Utara.
Sebenarnya
kota itulah tempat kelahiran Ayah dan tempat itu pula yang akan kami datangi,
namun kebiasaan orang Sumatera Utara jika ditanya dari mana pasti jawabannya
adalah Kota Medan.
Sekarang
akan aku luruskan cerita ini, kami akan pergi kekota Sibolga tempat kelahiran Ayah
dan jarak tempuhnya sama saja yaitu 2 jam jika meggunakan pesawat.
Kakekku
dan nenekku adalah asli orang Kota Sibolga, daerah kecil yang dikelilingi oleh Pulau-pulau
yang indah. Ayahku adalah anak paling bungsu dari 4 bersaudara dengan dua
Perempuan dan dua Laki-laki. Mereka memiliki perbedaan umur yang tidak terlalu
jauh. Yang Pertama adalah Tante Yuni, Tante Ida, Om Sapri dan Ayahku. Di saat Ayah
berumur satu tahun, Kakekku pindah kerja ke Kota Medan dan disanalah Ayah
bersama beberapa saudara nya besar dan tumbuh. Kakekku adalah seorang pedagang
Ikan di Sibolga, namun dia memutuskan untuk pindah menjadi penampung ikan segar
di Kota Medan yang disupply dari Kota Sibolga langsung.
Setelah Ayah lulus Sma barulah ia memutuskan untuk pergi
merantau ke Jakarta ikut dengan Abangnya. Aku memanggilnya dengan sebutan Om Sapri,
dia adalah seorang pengusaha, dia memiliki sawit yang tersebar di dua Pulau
terbesar di Nusantara, tepatnya di Sumatera dan Kalimantan. Namun dia sudah
meninggal saat aku masih kuliah karena penyakit gula akut yag dideritanya. Kini
anaknya lah yang meneruskan usaha itu. Kebetulan dia anak tunggal dan satu
tahun lebih tua diatasku namanya adalah Andre. Aku tak terlalu dekat dengannya,
namun Rudy adikku dekat dengannya. Karena saat kecil adikku pernah tinggal
bersama keluarga Om Sapri disaat keluarga kami masih dalam kondisi sulit secara
ekonomi karena tertipu oleh rekan bisnis Ayah yang tak kukenali. Mungkin jika
aku kenal bakalan aku hajar dia sampai dia merasakan sakit yang lebih dari yang
Orang tuaku rasakan pada saat itu.
Disaat Ayah sakit, tak ada satupun Saudara-saudaranya
yang menjenguknya, karena Ibu berkata padaku bahwa Ayah tak mau semuanya tau
tentang kondisinya saat ini, lagi pula saudara Ayah kebanyakan tinggal di Sibolga,
jadi dia tak mau merepotkan mereka untuk datang Jauh-jauh menjenguknya. Lagian
ketika kami sampai nanti mereka akan tau sendiri.
Oh ya aku lupa menjelaskannya, Tante Yuni adalah istri
dari seorang Elite Politik yang ada di Kota Medan, dia memiliki 2 anak yang kebetulan
Perempuan semuanya, namanya adalah Siska, dan Tiffany. Mereka berdua sudah
menikah, umurnya berbeda jauh diatasku karena Tante Yuni menikah muda dengan
suaminya.
Dan
satu lagi Tante Ida, dia adalah seorang janda, namun memiliki beberapa usaha Protperti
yang ada di Kota Medan, dan dia juga memiliki rumah makan yang terkenal di Kota
Sibolga, dia memiliki satu anak namanya Adrian yang sekarang sedang kuliah S2
di Australia.
Aku jarang bertemu dengan semua Sepupu-sepupuku, oleh
karena itu aku tidak terlalu dekat dengan mereka kecuali Adrian. Jadi aku tak
tertarik membahas mereka dalam cerita ini.
Setelah 2 jam dalam perjalanan, kami pun sampai di Bandara
Pinang Sori, Satu-satunya Bandara yang ada di kota kecil ini. Disini kami sudah
ditunggu oleh dua oang yang tak kukenali. Mereka menuntun kami untuk masuk kemobil
yang sudah menunggu diloby Bandara.
Ada
dua mobil. Ayah, Ibu, Rudi, Patricia dan pria itu, sebut saja ajudan Ayah ada
dimobil depan karena mobil itu lebih besar. Sedangkan aku dan Zulfa ada dimobil
belakang yang ukurannya lebih kecil.
Kami pun berjalan menuju rumah keluarga besar Ayah yaitu
rumah Kakek yang ditempati oleh Tante Ida, jaraknya agak jauh dari bandara dan
membutuhkan waktu kurang lebih setengah jam.
Didalam perjalanan aku melihat kiri dan kanan pemandangan
yang sangat indah, dikanan bukit, sedangkan dikiri ada Laut biru yang
membentang luas. Aku melihat Zulfa yang sedari tadi melihat kearah laut dari
jendela mobil dengan perasaan riang.
“Mau sampai kapan kau
terus begitu?” ucapku.
“Kenapa?” tanyanya.
“Kau seperti anak kecil.”
“Biar saja, aku baru
pertama kali melihat pemandangan seindah ini,” balasnya senang.
“Inilah kampungku,” ucapku
bangga.
“Kampungmu sangat indah Nugy,
aku senang.”
Aku hanya tersenyum bangga mendengarnya.
“Tapi sayang Papa dan Mama
tak ikut bersama kita,” sambungnya
Papa dan Mama tidak bisa ikut karena Papa sedang ada
__ADS_1
urusan di Bandung dan aku tak tau itu apa, karena aku pun tak tau pekerjaan Papa.
Aku segan untuk menanyakannya.
“Aku janji akan mengajak
mu kesini lagi, bersama Papa dan Mama,” ucapku meyakinkannya.
“Janji?” tanyanya penuh
harap.
Aku hanya mengangguk dan tersenyum kearahnya, disaat
seperti ini bidadariku keluar sifat manjanya, namun aku senang.
Kami pun asik berbincang, hingga kami pun sampai kerumah
itu, rumah dimana titik awal kehidupan keluarga ini berdiri. Rumah besar namun
tentunya tak sebebesar rumah Ayah. Terdapat banyak mobil dirumah ini, aku heran
siapa saja yang ada didalam, namun aku sebaiknya memastikan sendiri saja nanti.
Setelah sopir menghentikan mobil tepat didepan pintu
rumah ini, aku dan Zulfa pun turun, dan berjalan kearah mobil dimana Ayah dan Ibu
berada. Aku dan ajudan Ayah mengankat Ayah turun dari mobil kekursi rodanya.
Tante Ida, Tante Yuni dan beserta Sepupu-sepupuku keluar
dari rumah untuk menyambut kami, namun mereka justru dikejutkan dengan kondisi Ayah
yang duduk dikursi roda, dengan kondisi tubuh kurus kering, dan kepalanya yagn
sudah botak. Aku memakluminya saya, karena yang mereka tau adik bungsunya ini
adalah orang yang gagah dan tampan, dan sekarang kondisinya justru sangat jauh
berbeda.
“Ada apa ini?” tanya Tante
Yuni panik.
“Sudah, tak apa, aku
hanya mengubah gayaku,” jawab Ayah yang sudah bisa berbicara lancar kembali.
Pria ini selalu saja berusaha membuat orang untuk tak
menaruh rasa iba kepadanya. Tapi aku senang sekarang Ayah sudah bisa berbicara
lancar tanpa terbata-bata seperti kemarin.
“Mari kita masuk,” ajak Ayah
kepada kami semua.
Kami semua pun masuk, ajudan Ayah membawa Ayah dengan
menggunakan kursi rodanya, Ibu sedang berpelukan sambil berjalan bersama Tante Yuni
dan Tante Ida, wajar saja mereka sudah lama tak bertemu. Dan kami mengikuti
mereka dari belakang.
Kami mengantar Ayah kekamarnya terlebih dahulu, karena
dia harus istirhat setelah lelah berjam-jam dalam perjalanan, lalu kami semua
duduk diruang tamu yang luas ini. Ibu duduk disamping Tante Yuni dan Tante Ida,
Rudi adikku duduk disamping Patricia, sedangkan aku duduk disamping bidadariku
yang sejak tadi tak melepaskan tanganku. Sepertinya dia sedang malu dan
canggung, wajar saja karena ini pertama kalinya dia bertemu dengan keluarga
besarku.
“Ini Nugy?” tanya tante
ida seakan kaget melihatku.
“Apa kabar Tante?”
jawabku sopan sambil tersenyum
Dia pun mendekat kearahku lalu memelukku, dan aku hanya
memakluminya saja, karena diantara saudara Ayah, Tante Ida yang dekat denganku,
setelah sekian lama ini kami berjumpa lagi.
“Kau sudah besar dan
gagah,” ucapnya bangga.
Aku hanya tersenyum
“Lalu ini siapa?” tanyanya
menunjuk kearah Zulfa.
“Dia istriku,” jawabku
bangga.
“Kapan kalian menikah?”
tanyanya kesal sambil melihat kearah kami semua
Kami pun hanya terdiam, tak ada yang bisa menjawabnya.
“Ada apa sebenarnya? Apa
yang kalian sembunyikan,” sambungnya bernada marah.
Aku melihat kesemuanya, mereka hanya terdiam dan tak ada
“Dia Zulfa istriku, kami
menikah dalam waktu yang singkat dan hanya beberapa orang yang hadir karena itu
sangat mendadak, kami menikah di Apartemen milik Ayah…”
“Ayah ingin melihatku
menikah dengannya, dimana saat aku baru mengetahui bahwa Ayahku sedang sekarat
melawan penyakitnya. Aku menikahinya karena tak berdaya menolak apapun
dihadapan Ayah yang tengah menunggu ajalnya. Aku tau itu adalah kesalahan
terbesar dalam hidupku sebagai anaknya, karena sudah mencoreng prinsip hidupnya
yang tak suka dengan apapun yang menaruh rasa iba kepadanya. Tapi justru
anaknya sendiri yang merusaknya. Tapi…”
Aku sedikit terhenti seraya menahan rasa sedih ku
kembali.
“Tapi aku tak memiliki
maksud untuk itu,” kataku tengan tegas.
“Dan kami kesini hanya
untuk menuruti permintaan Ayah. Dia hanya ingin berkumpul dengan semua yang dia
cintai sebelum dia bertemu dengan Kakek dialam sana…”
Aku terdiam sejenak lalu mengambil nafas yang dalam
kemudian ku hembuskan.
“Sebentar lagi Ayahku
akan pergi meninggalkan kita semua karena kanker brengsek yang menyerang tubuh
gagahnya itu.”
Aku tak sanggup menjelaskannya lagi, aku bisa-bisa
menangis jika terus berbicara, aku melihat Ibu yang sudah tak kuasa menahan air
matanya, Rudi dan Patricia pun begitu, sedangkan Tante Ida, Tante Yuni dan sepupu-sepupuku
terkejut setengah mati dan tak sadar mengeluarkan air mata mereka, saat mereka
tahu bahwa pria gagah yang mereka kenal selama ini akan pergi meninggalkan kami
semua.
Aku berdiri dan beranjak dari tempat dudukku dan
meninggalkan mereka semua, aku pergi kehalaman rumah, disana ada pendopo yang
lumayan besar, aku pun duduk disitu dan menghisap rokokku, aku melihat Zulfa
keluar dari rumah itu dan menyusulku lalu duduk disampingku.
“Kenapa kau kesini?”
tanyaku.
“Aku hanya ingin
didekatmu,” jawabnya lirih.
Aku melihatnya dengan penuh rasa iba.
Bidadariku. Kenapa kau
selalu berusaha memaksakan dirimu untuk mengawatirkan ku, ucapku dalam hati.
“Bisakah kau bersikap
biasa saja, tak perlu memaksakan dirimu,” ucapku cuek.
“Apa maksudmu?” tanyanya
heran.
“Tak perlu memaksakan
dirimu untuk mengkhawatirkan aku, aku ini pria, aku tak perlu belas kasihan
dari siapapun, meskipun kau istriku, tapi aku tak akan membiarkanmu menaruh
rasa iba terhadapku karena aku memiliki harg—”
PLAKK.
Belum selesai aku bicara dia sudah menamparku sangat
keras, pertama kali dia bisa menamparku, dan percayalah, itu sangat keras dan
berbeda rasanya.
“Apa yang kau lakukan,”
ucapku kesal dengan nada keras.
“Aku akan terus
menamparmu Nugy,” jawabnya keras lalu pergi meninggalkanku.
Aku melihat air mata yang mengalir dipipinya, dan aku
hanya mampu terdiam dengan pipi yang terasa panas.
Aku ingin mengejarnya namun pipiku terasa sakit sekali, dia
menamparku sangat keras sekali, bahkan lebih keras dari tamparan Ibu kepadaku.
Jadi kuputuskan untuk duduk lagi saja dan menghisap rokokku sambil aku memegang
__ADS_1
pipiku.
Tak lama Zulfa meninggalkanku aku melihat Tante Ida
keluar dari rumah dan berjalan kearahku. Lalu duduk disampingku.
“Kau sudah merokok
sekarang ya nak,” ucapnya lembut kepadaku.
Aku hanya diam saja tak meresponnya, pipiku masih terasa
sakit, sepertinya akan berbekas kali ini.
“Istrimu sangat cantik Nugy,
kenapa kau membuatnya menangis?” tanyanya kepadaku.
“Aku tak suka dia menaruh
rasa iba terhadapku,” jawabku datar.
“Hahaha, kau memang
seperti Ayahmu,” ucapnya sambil tertawa
Aku kesal setiap orang yang selalu menyamakan aku dengan Ayah
“Aku sangat terkejut
dengan kenyataan atas adikku, dan aku sangat kesal baru mengetahui kau sudah
menikah tanpa mengabariku, tapi aku sudah memahami itu semua Nugy…”
“Aku tau kau mencintai
gadismu, aku juga tau kau sangat kesal kepada dirimu atas apa yang kau lakukan
kepada Ayah dan gadismu itu…”
“Tapi. Apa kau hanya akan
kesal terus menerus Nugy?” tanyanya.
Aku hanya diam sambil memahami maksud dari perkataannya.
“Kurasa dia memang
terkejut dengan pernikahan kalian, aku juga merasa bahwa dia tak siap untuk
menikah dengan mu, tapi aku bisa melihat bahwa dia sedang belajar ikhlas
untukmu Nugy, dia juga belajar memahamimu meski kau tak bisa memahaminya…”
“Aku bisa melihat bahwa
dia memang sungguh khawatir padamu, untuk wanita yang jauh lebih muda darimu, sepertinya
harus ku akui bahwa dia lebih dewasa darimu…”
Aku hanya terdiam.
“Nugy,” Sapanya lebut
sambil memegang tanganku dan menatapku.
Aku membalas tatapannya.
“Dia benar-benar peduli
padamu, karena dia sudah mulai merasakan cinta kepadamu.” sambungnya.
Dan itu berhasil membuatku terpatung, apakah benar
bidadariku mencintaiku? Sekilas aku mengigat semua perlakuannya terhadapku, dia
selalu mendampingiku, mengkhawatirkan ku, dan dia selalu disisiku. Aku sangat
buta dengan semua perlakuannya, aku tak perlu mengetahui dia cinta atau tidak
padaku. Aku hanya harus membuatnya bahagia, bukan justru membuatnya menangis.
Maafkan aku sayang,
ucapku dalam hati.
Aku pun berdiri, aku ingin menemuinya sekarang, aku
berjalan kedalam rumah bersama Tante Ida yang ada disampingku. Aku melihat
tidak ada bidadariku disini.
“Dimana dia?” tanyaku
kepada semua yang ada diruang tamu.
“Dikamar atas bersama Ibu”
jawab Rudy.
Aku pun langsung berjalan cepat kelantai atas, aku
membuka semua pintu kamar yang ada diatas, dan aku menemukan salah satu kamar
yang tak tertutup rapat pintunya, aku memutuskan untuk mendekat. Aku melihat
bidadariku yang sedang menangis dipelukan Ibu. Aku mendengar percakapan mereka.
“Aku hanya khawatir
padanya Bu, tapi dia justru merasa kalau aku menaruh rasa iba kepadanya …”
“Aku belajar memahami
dirinya, namun dia justru merasa kurendahkan. Aku tau dia tak suka dikasihani,
tetapi aku benar-benar melakukan itu karena aku peduli dengannya,” ucapnya
lirih.
Hati ku benar-benar sakit ketika melihat bidadariku
menangis karena diriku.
“Kau gadis yang baik nak,
dia hanya sedang kesal terhadap dirinya. Dia merasa bersalah karena sudah
mengorbankan dirimu demi Ayahnya. Ibu juga meminta maaf kepadamu nak…”
“Tapi ada satu hal yang
ingin ku tanyakan…”
Aku tau Ibu ingin menanyakan apa, aku pun semakin
mendekatkan telingaku ke arah bibir pintu.
“Apa kah kau mencintai
anakku? Apakah kau terbebani oleh pernikahan kalian?” tanya Ibu.
Aku melihat Zulfa menegakkan kepalanya, aku bersabar
menunggu jawabannya
“Aku tak tau Bu, tapi aku
selalu senang ketika bertemu dengannya. dan selalu merindukan dia disaat kami
berpisah…”
“Dan aku takut disaat
dimana aku menerima pernikahan itu Bu, aku terpaksa awalnya, namun makin kesini
aku semakin tak ingin berpisah darinya…”
“Maafkan aku Bu, dia
anakmu yang paling bodoh, aku takut dia akan meninggalkanku hanya karena dia
merasa aku mengasihaninya…”
Lalu dia terdiam sejenak, seakan tak sanggup melanjutkan
perkataannya.
“Aku merasa sudah
mencintainya Bu,” ucapnya.
Lalu
tangisnya semakin pecah kemudian memeluk Ibu.
Tentu saja ini membuatku bergetar, apa yang aku lakukan
selama ini kepadanya, harusnya aku lebih peka atas sikapnya. Aku merasa
bersalah atas diriku sendiri yang selalu bersikap dingin dan kasar kepadanya. Aku
benar-benar merasa bodoh kali ini.
Aku pun tak ingin mengganggu mereka, aku putuskan untuk
turun dengan perasaan sakit atas apa yang ku lakukan kepada istriku. Aku
memasuki kamar Ayahku, aku duduk disampingnya.
Aku menatap Ayahku dengan lama, sambil berkata dalam hati
ku. “Sepertinya aku sudah tak perlu mengkhawatirkan harga dirimu Ayah, karena
sekarang aku sudah mengetahui bahwa bidadariku mencintaiku, dan aku pun tentu sangat
mencintainya. Aku senang Ayah, aku sangat senang. Aku berjanji padamu bahwa aku
tak akan membuatmu malu lagi. Aku akan menjaga permata baru kita yang hadir
dikeluarga ini sebagai istriku dan menantu mu.”
Lalu aku pun tertidur menyandarkan kepalaku
kekasur dengan tubuhku yang masih duduk disamping Ayah.
Aku terbangun saat Ibu membangunkanku, aku melihat Ayah
dihadapanku, dia menatapku tersenyum.
“Istirahatlah dikamarmu
nak, kau sangat lelah sepertinya,” ucap Ayah kepadaku.
Aku melihat Ibu yang juga sedang tersenyum kepadaku.
“I—ya, Ayah ingin kemana
setelah ini, biar aku temani?” tanyaku.
“Ayah hanya ingin di
temani jika kau sudah bangun tidur nanti,” jawabnya meyakinkanku.
“Tidurlah dulu nak, Istrimu
juga kasihan sendiri dikamar,” ucap Ibuk menyuruhku.
Aku pun mengangguk, dan mencium kening Ayah dan Ibu, lalu
pergi meninggalkan mereka berdua.
Aku berjalan menuju kamarku diatas, aku membuka pintu
kamar, dan melihat Zulfa yang sedang tertidur pulas, dia terlihat sangat lelah.
Aku pun berbaring disebelahnya dan memeluknya.
Dia wangi sekali,
tampaknya dia baru habis mandi. Aku pun tertidur sambil memeluk bidadariku.
__ADS_1