Belantara

Belantara
KEPERCAYAAN ITU PENTING


__ADS_3

“Apa yang kau lakukan


terhadap anakku?”


            Aku terdiam.


“Ini ulahmu kan?”


            Aku masih terdiam.


“Jawab aku Nugy, jawab,”


ucapnya sambil menarik-narik bajuku.


            Aku hanya terdiam pasrah.


            Zulfa mencoba menenangkan Tante Delia dan mengajaknya


untuk duduk.


            Siang ini Tante Delia bersama Ibu datang kerumahku,


sebelum kerumahku Tante Delia menemui Ibuku sambil marah-marah, dan oleh sebab


itu Ibu mengajaknya untuk menemui ku kesini, sekaligus memnita penjelasan


kepadaku.


“Jelasakan apa yang


sebenarnya terjadi Nak.”


            Aku menatap Ibuku lama.


            Aku pun duduk dan menjelaskan semuanya kepada mereka


berdua, aku merasa bodoh dihadapan mereka, aku benar-benar tidak tahu jika


Burhan ada disana, dan aku benar-benar tak memiliki niat untuk menjebak Andre


sama sekali.


            Ibu menatapku dengna tatapan lembutnya, sedangkan Tante


Delia tak henti-henti memaki ku sepuas hatinya, aku hanya pasrah menerima itu,


dan aku pun merasa berhak dimaki seperti itu.


            Aku benar-benar bodoh, tidak bisa memperkirakan ini


semua, seharusnya aku lebih sabar untuk melancarakan aksiku, dan seharusnya aku


tidak perlu melibatkan Andre untuk membantuku.


            Aku hanya tertunduk rapuh dan tak tahu harus melakukan


apa, aku tak bisa menemui Andre karena beberapa orang melarangku. Aku sangat


buntu saat ini, Tante Delia berdiri lalu kembali memakiku sambil menunjukku,


lalu memarahi Ibu dan istriku, kemudian dia pergi meninggalkan kami bertiga.


            Aku masih tertunduk tak berani menatap kedua wanita yang


sangat aku cintai, aku sangat malu, aku gagal, aku sudah mengorbankan semuanya,


tetapi justru aku membuat mereka berdua merasa malu terhadapku.


“Angkat kepala mu nak,”


ucap Ibu sambil mengangkat kepalaku.


            Aku hanya terdiam menatapnya.


“Ibu tidak mau melihatmu


tertunduk terus.”


            Seketika air mataku mengali dengan tatapan yang tak


pernah kulepaskan kepadanya.


“M-maafkan aku Bu, aku


sudah gagal…”


“Aku sudah mengecewakan


Ibu…”


“Aku sangat sombong Bu…


“Aku benar-benar masih


bodoh, aku tak bisa memperkirakan semua ini.”


“Aku sangat naif Bu…”


“A-aku—.”


            Ucapanku terhenti saat Ibu memelukku erat, air mataku


ksemakin mengalir dengan deras, tangisku kembali pecah tak berdaya, Ibu


mengelus lembut kepalaku, Zulfa juga berusaha menenangkanku dengan mengelus


pundakku dengan lembut.


            Lama mereka membiarkan ku menangis hingg aku berhenti.


“Tak ada satu pun dari


kami yang menyalahkan mu nak…”


“Andre juga pasti tak


menyalahkanmu…”


“Sahabat-sahabatmu juga


tak akan menyalahkanmu…”


            Dia berhenti sejenak menatapku sambil tersenyum.


“Lakukanlah sesuatu Nak…”


“Kami semua percaya kau


bisa mengatasi ini. semua pasti akan mendukungmu…”


“Jangan menyimpan


semuanya sendiri lagi mulai sekarang…”


“Kau harus berbagi…”


“Kau harus percaya kepada


orang yang berada disekelilingmu…”


“Mereka siap melindungi


punggungmu, mereka juga mempercayakan masa depan mereka kepadamu…”


            Dia terhenti lagi sejenak.


“Tapi. Kau juga harus


mempercayakan punggungmu kepada mereka Nak.”


            Aku terhanyut dalam setiap bait perkataan Ibu, aku


memeluknya, aku mencium tangannya, aku juga memeluk Zulfa istriku, aku memeluk


mereka berdua.


            Aku benar-benar sudah merasa sombong bisa melakukan


semuanya sendiri, aku sangat egois dengan menyuruh mereka untuk percaya


kepadaku, tetapi aku tak pernah mempercayakan punggungku kepada mereka.


            Aku benar-benar khilaf atas semua ini, aku yakin Ayah


sangat kecewa kepadaku saat ini. tetapi hal yang bisa kulakukan saat ini


hanyalah memperbaiki semuanya, aku harus membantu Andre segera, dan aku juga


harus tetap melakukan seusatu untuk perusahaanku, bersama mereka yang


memeprcayaiku.


            Setelah kami menyudahi drama ini, kau meminta izin untuk


berangkat kekantorku dan menyuruh seluruh pegawai ku untuk melakukan rapat


dadakan saat ini. Aku menghubungi Taufik untuk menjemputku lalu pergi menuju


kantorku.


            Saat ini yang bisa aku lakukan hanyalah menjelaskan semua


rencanaku yang sudah di ujung kegagalan.


            Aku langsung menelusuri kantorku, dan memasuki ruangan


rapat, mereka semua berdiri menyambut kedatanganku, aku tersenyum lalu menyuruh


mereka untuk duduk kembali ditempatnya masing-masing.


            Aku menyuru Dewi untuk menyalakan proyektor untuk memulai


pembahasan ini, dan yang paling utama adalah kasus tertangkapnya Andre. Semua


mata tertuju kelaya proyektor itu dengna penuh tanya.


“Kurasa kalian sudah tahu


kasus ini.”


            Mereka semua mengangguk.


“Beliau adalah sepupuku.”


            Ruangan mulai riuh karena terkejut dengan apa yang aku


ucapkan, aku membiarkan suasana hingga kembali kondusif.


“Beberapa waktu lalu, aku


menjual aset Perkebunan kita kepada beliau…”


“Dan hal itu booming


hingga membuat namanya naik, dan menimbulkan perselisihan diantara kita…”


“Namun disini aku


memiliki kewajiban untuk meluruskan semua ini.”


            Mereka semua diam memperhatikanku.

__ADS_1


“Tapi sebelum itu, aku


ingin mengundang seseorang.”


            Dewi langsung bangkit dan menyuruh seseorang untuk masuk


dan duduk disampingku. Dia adalah Bonar.


            Ruangan kembali riuh melihat kedatangannya kembali, aku


mengajaknya berjabat tangan lalu tersenyum kepadanya, dan dia pun membalasnya.


            Kemudian aku mulai menjelaskan inti dari rapat ini, aku


menjelaskan secara rinci dari awal hingga akhir. Semua penjelasanku membuat


mereka terpana seakan tak menyangka. Aku berhenti sejenak lalu menatap mereka


semua.


“Saat ini aku ingin kita


menyelesaikan khasus ini,” ucapku mengarah kepada layar proyektor.


            Semua menatapku seakan jengkel, aku pun berdiri sambil memperbaiki


jasku, lalu menatap mereka dengan serius.


“Aku baru memimpin


perusahaan ini, dan sudah sangat lancang melangkahi kalian yang sudah lebih


lama bekerja disini…”


“Aku memberi kalian


tekanan, aku tak menghargai kalian sama sekali, aku berbohong, aku juga sudah


tidak sopan terhadap kalian yang lebih senior, aku juga sudah mengorbankan


seseorang hanya demi ego ku…”


“Oleh sebab itu aku ingin


memperbaiki semuanya. Aku ingin membantu sepupuku yang terjerumus atas egoku.


Aku juga ingin membersihkan nama Ibuku dia hadapan keluargaku. Aku juga ingin


membayaar rasa kekecewaan Ayahku. Aku ingin menghancurkan Wicjaksana yang sudah


banyak merugikan orang lain. Aku ingin memperbaiki semua ini, aku tak ingin


melihat apapun menderita lagi…


“Tetapi aku tak memiliki kekuatan.


Untuk itu aku memohon bantuan kalian semuanya…”


“Aku benar-benar menyesal


atas semua yang ku lakukan...”


“Tolong maafkanlah aku,”


sambungku lalu menundukkan kepala ku menghadap mereka semua.


            Mereka semua terpelongo menatapku, semua pegawai senior


dan jajaran petinggi serta Papa yang ikut andil dalam rapat. Bonar yang berada


disampingku berdiri.


“Angkat kepalamu Pak,”


ucapnya.


            Aku pun mengangkat kepalaku lalu menoleh kearahnya.


“Tak sepatutnya seorang


pemimpin menundukkan kepala dihadapan bawahannya…”


“Sebagai seorang yang


masih berumur jagung, kau sangat tidak sopan dalam mengontrol kami. Kau selalu


memberikan kebijakan yang tak masuk akal hanya krena ego kekanak-kanakanmu


Pak…”


            Dia perhenti sejenak lalu menatapku dalam.


“Tapi, kau adalah warisan


dari beliau (Ayah)…”


“Kami selalu


mempercayaimu, kami menggantungkan semuanya kepadamu. Mungkin itu membuatmu


merasa terbebani dengan persoalan ini, hingga membuat sepupumu terjerumus


dipenjara saat ini…”


            Dia berhenti lagi, lalu menatapku dengan yakin. Tak hanya


itu, seluruh hadirin diruang rapat pun ikut berdiri menatapku.


“Muali saat ini.


percayakanlah punggungmu kepada kami Pak,” ucap Bonar.


mengangguk yakin kepadaku.


“Tunjukkanlah kepada kami


masa depan, dan kami akan menjaga punggungmu.”


            Aku terdiam terpaku, hatiku sangat senang, air mataku


ingin mengalir, tetapi Papa langsung menghampiriku lalu memelukku.


“Pemimpin tak boleh


menangis nak,” bisiknya kepadaku.


            Ruangan pun kembali riuh dengan diiringa tepuk tangan


oleh semuanya.


 



            Malam ini aku beserta seluruh jajaran petinggi kantor


meramaikan rumahku. Aku mengundang mereka untuk makan malam bersama sambil


membahas sebuah rencana yang akan kami lakukan selanjutnya.


            Ibu yang masih dirumah, membantu Zulfa, Dewi dan juga


Mbok untuk mempersiapkan acara makan bersama ini, dan kini kami sedang sibuk


menyantap hidangan kami masing-masing hingga selesai.


            Kami memulai diskusi kami dengan rokok kami masing-masing


kecuali Dewi, dan Raisa, sedangkan Ibu dan Zulfa pergi keruangan tamu


meninggalkan kesibukan kami.


            Sambil menghisap rokokku, aku menyuruh Dewi dan Raisa


untuk membagikan beberapa dokumen yang sudah aku persiapkan, setelah itu aku


membiarkan mereka membacanya terlebih dahulu.


“Jadi apa rencananya


sekarang Pak?”


“Oke, karena ini bukan


dikantor, jadi tidak perlu memanggilku dengan sebutan itu.”


            Mereka semua pun mengangguk.


“Pertama yang harus kita


lakukan adalah mengambil alih Divisi perkebunan…”


“Dan untuk sementara aku


mentiadakan Divisi Ekspor&impor karena kondisi kita saat ini. Jadi Michel


akan menjadi wakil direktur utama dibawah bimbingan Om Ali.”


            Mereka semua pun mengangguk setuju.


“Lalu bagaimana cara kita


mengambil alih perkebunan itu?”


            Aku tesenyum nakal menatap Bonar.


“Kita akan melakukannya


secara paksa.”


            Mereka semua terdiam kaget kepadaku.


“Wicjaksana memiliki


bisnis yang sangat banyak dan luas. Tetapi apa kah kalian tahu nyawa dari


bisnis miliknya itu?”


“Properti? Minyak?


Tambang? Perkebunan?” tanya Tonny berkali-kali.


            Aku menggelengkan kepalaku.


“Lalu apa?” tanya nya


kembali.


“Bank,” ucapku yakin.


            Mereka menatapku dengan penuh tanya, kecuali Papa yang


tentu memahami maksud dari perkataan ku. Aku pun tersenyum lalu melanjutkannya.


“Itu adalah data kas Bank


WJ yang berhasil ku dapatkan melalui seesorang kepercayaanku.”


            Mereka kembali melihat dokumen itu.


“Aku sudah menabung 500 M

__ADS_1


di bank itu, dan itu sudah melebihi jauh diatas kas yang mereka miliki.”


“Hubungannya?” tanya


Bonar.


“Aku bisa memaklumi


beberapa orang disini tidak memahami maksudku dari perkataanku. Tetapi aku rasa


seorang Bankir pasti mengetahui tujuanku,” ucapku menoleh kearah Papa.


            Mereka semua pun menoleh Keara Papa dengan ekspresi


bingung.


“Kau ingin melakukan


rush?”


            Aku mengangguk tersenyum kepadanya. Mereka semua pun


mulai mmengangguk paham akan maksudku.


“Bagaimana cara kita


melakukannya?” tanya Om Ali.


“Kita tambahkan 100 M


lagi kedalam tabungan kita sebelumnya, dan sebulan kemudian kita ambil seluruh


uang itu…”


“Dan kalian tau apa yang


akan terjadi?” tanyaku sambil tersenyum nakal kepada mereka.


            Mereka semua mengangguk mulai memahami maksud dariku.


“Karena khas yang mereka


punya jauh lebih kecil dari uang yang kita tabung, maka mereka akan kesulitan


untuk mengembalikan uang kita…”


“Dan saat itulah kita menggiring


isu bahwa WJ tidak mampu mengembalikan uang kita yang tertabung di bank milik


mereka…”


“Kalian pasti akan tahu


apa yang akan terjadi selanjutnya.”


            Mereka mengangguk seakan merinding akan rencana ini.


“Mereka akan kehilangan


kepercayaan nasabahnya, dan nasabah itu akan berbondong-bondong mengambil


uangnya. Saat itu lah rush terjadi…”


“Karena kepercayaan itu


hilang, maka itu juga akan mempengaruhi bisnisnya yang lain…”


            Aku berhenti sejenak.


“Sebelumnya aku sudah


menjual perusahaan ku yang lama beserta aset dan juga proyek yang sedang


berjalan. Dan uang itu sudah ku gunakan untuk menjamin pekerja ku yang ku suruh


berhenti bekerja disana…”


“Saat ini internal WJ


sedang terjadi kemelut karena batas pengerjaan proyek itu sudah diambang batas


waktu. Karena mereka kehilangan pekerja-pekerja potensial itu…”


“Ditambah dengan kasus


rush ini, pasti akan membuat WJ semakin merugi.”


            Aku tersenyum licik kepada mereka yang sedari tadi


mentapku dengan adrenalin yang membuat mereka merasa merinding.


 “Lalu bagaimana dengan misi kita untuk


meloloskan sepupumu? Dan bagaimana cara kita mendapatkan Perkebunan itu lagi?”


tanya Bonar.


“Biarkan aku


menyelesaikan sisanya,” ucapku sambil tersenyum licik.


            Mereka pun tersenyum bangga kepadaku.


“Besok seseorang akan mendatangi


mu Pa untuk mengambil uang sisanya, agar dia bisa langsung menabungkan kembali


uang itu.”


“Baiklah.”


            Aku pun mengangguk.


“Untuk Pak Nurdin dan Pak


Joni, tetap dikantor menjalani tugasnya, karena bagaimana pun perusahaan kita


harus tetap kondusif.”


Mereka


berdua pun mengangguk siap kepadaku.


“Begitu juga dengan Pak


Rahmad, tetap awasi Divisi Properti dengan baik, dan mulai sekarang tinjaulah


lahan potensial milik WJ.”


            Dia pun mengangguk.


“Tonny dan Papa, buatlah


iklan untuk menarik nasabah dengan penawaran yang menarik dan fasilitas yang


membuat mereka nyaman.”


Mereka


berdua juga mengangguk.


“Sedangkan Bonar, pihak


WJ pasti sangat membutuhkan keahlianmu karena kau adalah orang lama


diperkebunan itu. Aku ingin kau bisa masuk bergabung bersama mereka. Katakan


saja bahwa kau sudah dipecat. Bangun opini yang menjelekkan kami dihadapan


mereka.”


            Dia pun mengangguk siap.


“Aku memiliki urusan yang


membuatku tak bisa berada dikantor hingga waktu yang sudah kita tentukan. Jadi


untuk sementara Om Ali kembali menggantikanku dengan Michel yang akan


menggantikan posisi Om…”


“Dewi dan Raisa akan


langsung memenuhi infentaris yang kalian butuhkan. Dan laporkan segera kepada


Dewi jika memang ada informasi yang menurut kalian penting bagi perusahaan.”


            Mereka semua mengangguk paham sambil tersenyum senang


kepadaku, aku pun membalasnya.


“Untuk saat ini kurasa


sudah cukup. Aku akan menghubungi kalian jika ada orang baru dalam misi kita


ini.”


            Mereka pun mengangguk.


            Setelah itu kami semua saling berjabat tangan, lalu mereka


semua memutuskan untuk kembali kerumahnya masing-masing. Papa dengan Dewi


memilih bergabung bersamaku sebentar, Ibu, dan juga Zulfa, setelah itu mereka


memutuskan untuk pulang.


“Bagaimana?”


“Apanya?”


“Apa sudah ada solusi


untuk Andre?”


“Aku justru punya solusi


untuk membuatmu hamil,” godaku.


 “Kau menyeramkan.”


“Ayolah sayang.”


“Aku masih kuliah Nugy,


tunggulah aku lulus setelah itu aku tak akan melarangmu lagi.”


“Kau janji?”


            Zulfa mengagguk.


“Oke baiklah, aku akan


sabar.”


            Dia pun tersenyum lalu mencium pipiku.


            Kami saling melemparkan canda dan


tawa hingga kami memutuskan untuk tidur pulas malam ini.

__ADS_1


__ADS_2