
“Apa yang kau lakukan
terhadap anakku?”
Aku terdiam.
“Ini ulahmu kan?”
Aku masih terdiam.
“Jawab aku Nugy, jawab,”
ucapnya sambil menarik-narik bajuku.
Aku hanya terdiam pasrah.
Zulfa mencoba menenangkan Tante Delia dan mengajaknya
untuk duduk.
Siang ini Tante Delia bersama Ibu datang kerumahku,
sebelum kerumahku Tante Delia menemui Ibuku sambil marah-marah, dan oleh sebab
itu Ibu mengajaknya untuk menemui ku kesini, sekaligus memnita penjelasan
kepadaku.
“Jelasakan apa yang
sebenarnya terjadi Nak.”
Aku menatap Ibuku lama.
Aku pun duduk dan menjelaskan semuanya kepada mereka
berdua, aku merasa bodoh dihadapan mereka, aku benar-benar tidak tahu jika
Burhan ada disana, dan aku benar-benar tak memiliki niat untuk menjebak Andre
sama sekali.
Ibu menatapku dengna tatapan lembutnya, sedangkan Tante
Delia tak henti-henti memaki ku sepuas hatinya, aku hanya pasrah menerima itu,
dan aku pun merasa berhak dimaki seperti itu.
Aku benar-benar bodoh, tidak bisa memperkirakan ini
semua, seharusnya aku lebih sabar untuk melancarakan aksiku, dan seharusnya aku
tidak perlu melibatkan Andre untuk membantuku.
Aku hanya tertunduk rapuh dan tak tahu harus melakukan
apa, aku tak bisa menemui Andre karena beberapa orang melarangku. Aku sangat
buntu saat ini, Tante Delia berdiri lalu kembali memakiku sambil menunjukku,
lalu memarahi Ibu dan istriku, kemudian dia pergi meninggalkan kami bertiga.
Aku masih tertunduk tak berani menatap kedua wanita yang
sangat aku cintai, aku sangat malu, aku gagal, aku sudah mengorbankan semuanya,
tetapi justru aku membuat mereka berdua merasa malu terhadapku.
“Angkat kepala mu nak,”
ucap Ibu sambil mengangkat kepalaku.
Aku hanya terdiam menatapnya.
“Ibu tidak mau melihatmu
tertunduk terus.”
Seketika air mataku mengali dengan tatapan yang tak
pernah kulepaskan kepadanya.
“M-maafkan aku Bu, aku
sudah gagal…”
“Aku sudah mengecewakan
Ibu…”
“Aku sangat sombong Bu…
“Aku benar-benar masih
bodoh, aku tak bisa memperkirakan semua ini.”
“Aku sangat naif Bu…”
“A-aku—.”
Ucapanku terhenti saat Ibu memelukku erat, air mataku
ksemakin mengalir dengan deras, tangisku kembali pecah tak berdaya, Ibu
mengelus lembut kepalaku, Zulfa juga berusaha menenangkanku dengan mengelus
pundakku dengan lembut.
Lama mereka membiarkan ku menangis hingg aku berhenti.
“Tak ada satu pun dari
kami yang menyalahkan mu nak…”
“Andre juga pasti tak
menyalahkanmu…”
“Sahabat-sahabatmu juga
tak akan menyalahkanmu…”
Dia berhenti sejenak menatapku sambil tersenyum.
“Lakukanlah sesuatu Nak…”
“Kami semua percaya kau
bisa mengatasi ini. semua pasti akan mendukungmu…”
“Jangan menyimpan
semuanya sendiri lagi mulai sekarang…”
“Kau harus berbagi…”
“Kau harus percaya kepada
orang yang berada disekelilingmu…”
“Mereka siap melindungi
punggungmu, mereka juga mempercayakan masa depan mereka kepadamu…”
Dia terhenti lagi sejenak.
“Tapi. Kau juga harus
mempercayakan punggungmu kepada mereka Nak.”
Aku terhanyut dalam setiap bait perkataan Ibu, aku
memeluknya, aku mencium tangannya, aku juga memeluk Zulfa istriku, aku memeluk
mereka berdua.
Aku benar-benar sudah merasa sombong bisa melakukan
semuanya sendiri, aku sangat egois dengan menyuruh mereka untuk percaya
kepadaku, tetapi aku tak pernah mempercayakan punggungku kepada mereka.
Aku benar-benar khilaf atas semua ini, aku yakin Ayah
sangat kecewa kepadaku saat ini. tetapi hal yang bisa kulakukan saat ini
hanyalah memperbaiki semuanya, aku harus membantu Andre segera, dan aku juga
harus tetap melakukan seusatu untuk perusahaanku, bersama mereka yang
memeprcayaiku.
Setelah kami menyudahi drama ini, kau meminta izin untuk
berangkat kekantorku dan menyuruh seluruh pegawai ku untuk melakukan rapat
dadakan saat ini. Aku menghubungi Taufik untuk menjemputku lalu pergi menuju
kantorku.
Saat ini yang bisa aku lakukan hanyalah menjelaskan semua
rencanaku yang sudah di ujung kegagalan.
Aku langsung menelusuri kantorku, dan memasuki ruangan
rapat, mereka semua berdiri menyambut kedatanganku, aku tersenyum lalu menyuruh
mereka untuk duduk kembali ditempatnya masing-masing.
Aku menyuru Dewi untuk menyalakan proyektor untuk memulai
pembahasan ini, dan yang paling utama adalah kasus tertangkapnya Andre. Semua
mata tertuju kelaya proyektor itu dengna penuh tanya.
“Kurasa kalian sudah tahu
kasus ini.”
Mereka semua mengangguk.
“Beliau adalah sepupuku.”
Ruangan mulai riuh karena terkejut dengan apa yang aku
ucapkan, aku membiarkan suasana hingga kembali kondusif.
“Beberapa waktu lalu, aku
menjual aset Perkebunan kita kepada beliau…”
“Dan hal itu booming
hingga membuat namanya naik, dan menimbulkan perselisihan diantara kita…”
“Namun disini aku
memiliki kewajiban untuk meluruskan semua ini.”
Mereka semua diam memperhatikanku.
__ADS_1
“Tapi sebelum itu, aku
ingin mengundang seseorang.”
Dewi langsung bangkit dan menyuruh seseorang untuk masuk
dan duduk disampingku. Dia adalah Bonar.
Ruangan kembali riuh melihat kedatangannya kembali, aku
mengajaknya berjabat tangan lalu tersenyum kepadanya, dan dia pun membalasnya.
Kemudian aku mulai menjelaskan inti dari rapat ini, aku
menjelaskan secara rinci dari awal hingga akhir. Semua penjelasanku membuat
mereka terpana seakan tak menyangka. Aku berhenti sejenak lalu menatap mereka
semua.
“Saat ini aku ingin kita
menyelesaikan khasus ini,” ucapku mengarah kepada layar proyektor.
Semua menatapku seakan jengkel, aku pun berdiri sambil memperbaiki
jasku, lalu menatap mereka dengan serius.
“Aku baru memimpin
perusahaan ini, dan sudah sangat lancang melangkahi kalian yang sudah lebih
lama bekerja disini…”
“Aku memberi kalian
tekanan, aku tak menghargai kalian sama sekali, aku berbohong, aku juga sudah
tidak sopan terhadap kalian yang lebih senior, aku juga sudah mengorbankan
seseorang hanya demi ego ku…”
“Oleh sebab itu aku ingin
memperbaiki semuanya. Aku ingin membantu sepupuku yang terjerumus atas egoku.
Aku juga ingin membersihkan nama Ibuku dia hadapan keluargaku. Aku juga ingin
membayaar rasa kekecewaan Ayahku. Aku ingin menghancurkan Wicjaksana yang sudah
banyak merugikan orang lain. Aku ingin memperbaiki semua ini, aku tak ingin
melihat apapun menderita lagi…
“Tetapi aku tak memiliki kekuatan.
Untuk itu aku memohon bantuan kalian semuanya…”
“Aku benar-benar menyesal
atas semua yang ku lakukan...”
“Tolong maafkanlah aku,”
sambungku lalu menundukkan kepala ku menghadap mereka semua.
Mereka semua terpelongo menatapku, semua pegawai senior
dan jajaran petinggi serta Papa yang ikut andil dalam rapat. Bonar yang berada
disampingku berdiri.
“Angkat kepalamu Pak,”
ucapnya.
Aku pun mengangkat kepalaku lalu menoleh kearahnya.
“Tak sepatutnya seorang
pemimpin menundukkan kepala dihadapan bawahannya…”
“Sebagai seorang yang
masih berumur jagung, kau sangat tidak sopan dalam mengontrol kami. Kau selalu
memberikan kebijakan yang tak masuk akal hanya krena ego kekanak-kanakanmu
Pak…”
Dia perhenti sejenak lalu menatapku dalam.
“Tapi, kau adalah warisan
dari beliau (Ayah)…”
“Kami selalu
mempercayaimu, kami menggantungkan semuanya kepadamu. Mungkin itu membuatmu
merasa terbebani dengan persoalan ini, hingga membuat sepupumu terjerumus
dipenjara saat ini…”
Dia berhenti lagi, lalu menatapku dengan yakin. Tak hanya
itu, seluruh hadirin diruang rapat pun ikut berdiri menatapku.
“Muali saat ini.
percayakanlah punggungmu kepada kami Pak,” ucap Bonar.
mengangguk yakin kepadaku.
“Tunjukkanlah kepada kami
masa depan, dan kami akan menjaga punggungmu.”
Aku terdiam terpaku, hatiku sangat senang, air mataku
ingin mengalir, tetapi Papa langsung menghampiriku lalu memelukku.
“Pemimpin tak boleh
menangis nak,” bisiknya kepadaku.
Ruangan pun kembali riuh dengan diiringa tepuk tangan
oleh semuanya.
…
Malam ini aku beserta seluruh jajaran petinggi kantor
meramaikan rumahku. Aku mengundang mereka untuk makan malam bersama sambil
membahas sebuah rencana yang akan kami lakukan selanjutnya.
Ibu yang masih dirumah, membantu Zulfa, Dewi dan juga
Mbok untuk mempersiapkan acara makan bersama ini, dan kini kami sedang sibuk
menyantap hidangan kami masing-masing hingga selesai.
Kami memulai diskusi kami dengan rokok kami masing-masing
kecuali Dewi, dan Raisa, sedangkan Ibu dan Zulfa pergi keruangan tamu
meninggalkan kesibukan kami.
Sambil menghisap rokokku, aku menyuruh Dewi dan Raisa
untuk membagikan beberapa dokumen yang sudah aku persiapkan, setelah itu aku
membiarkan mereka membacanya terlebih dahulu.
“Jadi apa rencananya
sekarang Pak?”
“Oke, karena ini bukan
dikantor, jadi tidak perlu memanggilku dengan sebutan itu.”
Mereka semua pun mengangguk.
“Pertama yang harus kita
lakukan adalah mengambil alih Divisi perkebunan…”
“Dan untuk sementara aku
mentiadakan Divisi Ekspor&impor karena kondisi kita saat ini. Jadi Michel
akan menjadi wakil direktur utama dibawah bimbingan Om Ali.”
Mereka semua pun mengangguk setuju.
“Lalu bagaimana cara kita
mengambil alih perkebunan itu?”
Aku tesenyum nakal menatap Bonar.
“Kita akan melakukannya
secara paksa.”
Mereka semua terdiam kaget kepadaku.
“Wicjaksana memiliki
bisnis yang sangat banyak dan luas. Tetapi apa kah kalian tahu nyawa dari
bisnis miliknya itu?”
“Properti? Minyak?
Tambang? Perkebunan?” tanya Tonny berkali-kali.
Aku menggelengkan kepalaku.
“Lalu apa?” tanya nya
kembali.
“Bank,” ucapku yakin.
Mereka menatapku dengan penuh tanya, kecuali Papa yang
tentu memahami maksud dari perkataan ku. Aku pun tersenyum lalu melanjutkannya.
“Itu adalah data kas Bank
WJ yang berhasil ku dapatkan melalui seesorang kepercayaanku.”
Mereka kembali melihat dokumen itu.
“Aku sudah menabung 500 M
__ADS_1
di bank itu, dan itu sudah melebihi jauh diatas kas yang mereka miliki.”
“Hubungannya?” tanya
Bonar.
“Aku bisa memaklumi
beberapa orang disini tidak memahami maksudku dari perkataanku. Tetapi aku rasa
seorang Bankir pasti mengetahui tujuanku,” ucapku menoleh kearah Papa.
Mereka semua pun menoleh Keara Papa dengan ekspresi
bingung.
“Kau ingin melakukan
rush?”
Aku mengangguk tersenyum kepadanya. Mereka semua pun
mulai mmengangguk paham akan maksudku.
“Bagaimana cara kita
melakukannya?” tanya Om Ali.
“Kita tambahkan 100 M
lagi kedalam tabungan kita sebelumnya, dan sebulan kemudian kita ambil seluruh
uang itu…”
“Dan kalian tau apa yang
akan terjadi?” tanyaku sambil tersenyum nakal kepada mereka.
Mereka semua mengangguk mulai memahami maksud dariku.
“Karena khas yang mereka
punya jauh lebih kecil dari uang yang kita tabung, maka mereka akan kesulitan
untuk mengembalikan uang kita…”
“Dan saat itulah kita menggiring
isu bahwa WJ tidak mampu mengembalikan uang kita yang tertabung di bank milik
mereka…”
“Kalian pasti akan tahu
apa yang akan terjadi selanjutnya.”
Mereka mengangguk seakan merinding akan rencana ini.
“Mereka akan kehilangan
kepercayaan nasabahnya, dan nasabah itu akan berbondong-bondong mengambil
uangnya. Saat itu lah rush terjadi…”
“Karena kepercayaan itu
hilang, maka itu juga akan mempengaruhi bisnisnya yang lain…”
Aku berhenti sejenak.
“Sebelumnya aku sudah
menjual perusahaan ku yang lama beserta aset dan juga proyek yang sedang
berjalan. Dan uang itu sudah ku gunakan untuk menjamin pekerja ku yang ku suruh
berhenti bekerja disana…”
“Saat ini internal WJ
sedang terjadi kemelut karena batas pengerjaan proyek itu sudah diambang batas
waktu. Karena mereka kehilangan pekerja-pekerja potensial itu…”
“Ditambah dengan kasus
rush ini, pasti akan membuat WJ semakin merugi.”
Aku tersenyum licik kepada mereka yang sedari tadi
mentapku dengan adrenalin yang membuat mereka merasa merinding.
“Lalu bagaimana dengan misi kita untuk
meloloskan sepupumu? Dan bagaimana cara kita mendapatkan Perkebunan itu lagi?”
tanya Bonar.
“Biarkan aku
menyelesaikan sisanya,” ucapku sambil tersenyum licik.
Mereka pun tersenyum bangga kepadaku.
“Besok seseorang akan mendatangi
mu Pa untuk mengambil uang sisanya, agar dia bisa langsung menabungkan kembali
uang itu.”
“Baiklah.”
Aku pun mengangguk.
“Untuk Pak Nurdin dan Pak
Joni, tetap dikantor menjalani tugasnya, karena bagaimana pun perusahaan kita
harus tetap kondusif.”
Mereka
berdua pun mengangguk siap kepadaku.
“Begitu juga dengan Pak
Rahmad, tetap awasi Divisi Properti dengan baik, dan mulai sekarang tinjaulah
lahan potensial milik WJ.”
Dia pun mengangguk.
“Tonny dan Papa, buatlah
iklan untuk menarik nasabah dengan penawaran yang menarik dan fasilitas yang
membuat mereka nyaman.”
Mereka
berdua juga mengangguk.
“Sedangkan Bonar, pihak
WJ pasti sangat membutuhkan keahlianmu karena kau adalah orang lama
diperkebunan itu. Aku ingin kau bisa masuk bergabung bersama mereka. Katakan
saja bahwa kau sudah dipecat. Bangun opini yang menjelekkan kami dihadapan
mereka.”
Dia pun mengangguk siap.
“Aku memiliki urusan yang
membuatku tak bisa berada dikantor hingga waktu yang sudah kita tentukan. Jadi
untuk sementara Om Ali kembali menggantikanku dengan Michel yang akan
menggantikan posisi Om…”
“Dewi dan Raisa akan
langsung memenuhi infentaris yang kalian butuhkan. Dan laporkan segera kepada
Dewi jika memang ada informasi yang menurut kalian penting bagi perusahaan.”
Mereka semua mengangguk paham sambil tersenyum senang
kepadaku, aku pun membalasnya.
“Untuk saat ini kurasa
sudah cukup. Aku akan menghubungi kalian jika ada orang baru dalam misi kita
ini.”
Mereka pun mengangguk.
Setelah itu kami semua saling berjabat tangan, lalu mereka
semua memutuskan untuk kembali kerumahnya masing-masing. Papa dengan Dewi
memilih bergabung bersamaku sebentar, Ibu, dan juga Zulfa, setelah itu mereka
memutuskan untuk pulang.
“Bagaimana?”
“Apanya?”
“Apa sudah ada solusi
untuk Andre?”
“Aku justru punya solusi
untuk membuatmu hamil,” godaku.
“Kau menyeramkan.”
“Ayolah sayang.”
“Aku masih kuliah Nugy,
tunggulah aku lulus setelah itu aku tak akan melarangmu lagi.”
“Kau janji?”
Zulfa mengagguk.
“Oke baiklah, aku akan
sabar.”
Dia pun tersenyum lalu mencium pipiku.
Kami saling melemparkan canda dan
tawa hingga kami memutuskan untuk tidur pulas malam ini.
__ADS_1