Belantara

Belantara
KEBENARAN #3


__ADS_3

Kami


sudah berada dirumah Ibu saat ini, aku memarkirkan mobilku dengan rapih


dihalaman rumah ini. Lalu kami pun turun dari mobil dan aku mengajak Zulfa


untuk berjalan memasuki rumah. Tapi dia justru sibuk melihat sekeliling rumah


ini, tampaknya dia sedang takjub dengan betapa luasnya rumah ini.


“Akhirnya kalian sampai


juga,” pekik Ibu menyambut kami.


“Ibu,” Zulfa menyapa ibu


sambil langsung memeluk Ibuku.


“Akhirnya kau bisa datang


kerumahku,” ucap Ibu sambil mengelus kepada Zulfa.


“Rumah Ibu sangat bagus,


dan luas,” balas Zulfa.


            Aku hanya menggelengkan kepala saja, lalu kucium tangang


Ibu. dan kami bertiga masuk kedalam.


“Ibu sama siapa?” tanya


ku.


“Sendiri saja” jawab Ibu.


“Oh ya? bagaimana cara Ibu


bisa bertahan sendirian dirumah sebesar ini?” tanya Zulfa.


            Aku dan ibu langsung menatapnya kaget. tetapi Ibu


langsung bisa mengubah ekspresinya dengan cepat, agar Zulfa tak tahu tentang


masalah keluarga kami.


“Ibu tidak sendirian kok,


yang lain hanya sedang pergi sebentar,” jawab Ibu sambil tersenyum.


“Iya sedang pergi, dengan


urusannya Masing-masing masing” ketusku tanpa melihat mereka.


“Nugyyy” tegur Ibu


lembut.


“Aku ingin kekamarku


sebentar,” ucapku lalu pergi meninggalkan mereka berdua.


            Aku tak peduli dengan Zulfa tahu atau tidak tentang masalah


rumah tangga ini, kalau memang Ibu mengharapkan dia untuk menjadi pendampingku


toh dia juga harus wajib tahu dari sekarang. Itu pun kalau memang aku bisa


mendapatkan dia yang sudah dimiliki oleh orang lain.


“Ah, kenapa dihidupku


selalu tak pernah berhenti berfikir” ucapku kesal


            Aku membaringkan tubuhku dikasur yang ada dikamarku.


Kamar yang membuatku nyaman saat aku tinggal disini dulu. Aku sangat merindukan


masa-masa hangat dirumah ini., masa dimana Ayah sering tidur bersamaku dikasur


ku ini. Masa dimana aku selalu dimarahi Ibu, dan Ayah mencobah menengahi tetapi


justru ikut dimarahi oleh Ibu. Sekarang semua sudah berubah semenjak Ayahku


mejadi Monster Elite Politik di Hutan Belantara ini. Aku tak tahu apa penyebab


dia bisa berubah, aku tak yakin uang dan jabatan bisa membuat dia berubah


menjadi seorang monster, aku selalu yakin sekali bahwa ada yang disembunyikan


dariku.


“Kau rindu dengan kamar


ini nak?” tanya Ibu yang Tiba-tiba datang dan duduk dikasurku.


            Aku menatapnya dengan tubuhku yang masih berbaring, lalu


menghirup nafas yang dalam lalu ku hembuskan dengan berat. Ku ubah posisiku


menjadi duduk disampingnya.


“Aku bukan hanya


merindukan kamarku, aku merindukan kehangatan yang pernah terjadi dirumah ini,”


jawabku.


“Kita masih tetap seperti


itu nak, Ayahmu juga bekerja untuk kita, dan Adik mu belajar setiap hari, tidak


ada salahnya dia pergi bermain dihari libur seperti ini,” ucap Ibu.


“Ibu selalu saja membela


mereka,” balasku.


“Ibu juga membelamu nak.”


“Untuk apa ibu membela


mereka? mereka saja seperti tak peduli dengan Ibu,” ucapku mulai kesal.


“Apa hanya aku yang


memikirkan mu Bu?” sambungku.


“Tidak, semuanya juga memikirkan


Ibu,” jawabnya.


“Ikutlah tinggal


bersamaku bu,” pintaku kepada Ibu.


“Ibu tidak bisa nak, ini


rumah kita, kemana pun kalian pergi Ibu yakin kalian akan tetap pulang kesini.”


“Buktinya Ibu selalu


sendiri disini.”


“Aku yang lebih mengetahui


diriku nak, apa kau merasa keberatan harus jauh-jauh mengunjungiku kesini?”


“Bukan begitu Bu, aku


hanya khawatir denganmu, jujurlah apa sebenarnya yang terjadi dengan keluarga


ini?” tanyaku lembut.


“Tak ada yang terjadi Nugy.”


“Jangan bohong Bu, aku


selalu kasihan melihatmu memendam semuanya sendiri,” ucapku.


“Berhenti kau mengasihani


Ibu, Sejak kapan kau berfikir bahwa dirimu lebih kuat dari ku, sampai kau harus


mengasihani ku Nugy.” marahnya padaku.


“Yah, beginilah Ibu. Ibu


hanya berani seperti ini kepada ku saja, jika kepada anakmu yang satu lagi Ibu tak


pernah memarahinya, sedangkan pria yang satu lagi itu Ibu terlalu


membebaskannya, kenapa Ibu selalu menumpahkannya sama ku Bu,” ucapku kesal


kepada Ibu.


“PLAKK” Ibu justru


menamparku dan pergi meninggalkanku.


Beginilah


Ibuku, dia berani bertingkah seperti ini hanya kepadaku, dia selalu menumpahkan


kesedihan, dan kekesalannya padaku. Dan ini sudah sering terjadi, aku hanya


perlu menunggu Ibu berhenti marah. Aku tak tahu apa yang dilakukan Ibu dikamarnya


setelah dia marah kepadaku.


            Aku duduk dikamarku dengan kesedihan yang sangat sakit


kurasakan, kenapa selalu aku yang menjadi sasaran oleh Ibu, bukankah anak nya


ada dua, apakah dia tidak bisa berbagi adil kepadaku dan adikku? Ntahlah, Ibuku


selalu membuatku menjadi pria yang selalu menundukkan kepala. Seperti sekarang


aku yang tengah duduk menunduk dengan segenap kepedihan dihatiku atas masalah


yang selalu hadir dalam hidupku.


“Ibumu pasti sangat


menyayangi mu Nugy,” ucap Zulfa yang tiba-tiba datang kekamarku.

__ADS_1


Tak


ada waktu untukku terkejut atas kedatangannya, aku tetap menundukkan kepalaku. kurasa


dia juga melihat pertengkaranku dengan Ibu barusan.


“Maaf. Aku tidak sengaja


mendengar percakapanmu. Tadi aku sedang mencari toilet tapi aku justru tesasar


didepan kamarmu,” sambungya dengan nada memohon.


“Tidak apa-apa,” balasku


lembut.


            Lalu dia duduk disampingku.


“Aku tak tahu apa yang


terjadi sebenarnya didalam keluargamu, tetapi sekarang aku tahu bahwa kau dan Ibumu


sama-sama merasakan beban yang terjadi dirumah ini,”


“Dia hanya berani


memarahiku, dia tidak pernah memarahi Adikku, bahkan Ayahku”


“Ibumu menyimpan sesuatu


yang tidak bisa kamu ketahui Nugy.”


“Dia memang selalu


begitu, dia selalu menganggapku seperti Anak-anak, bahkan untuk masalahnya saja


dia tak pernah menceritakannya padaku.”


“Dia pasti memiliki


alasan untuk menyembunyikannya darimu, dan Aku yakin dia sangat bangga kepadamu,”


ucapnya lagi sambil memegang telapak tanganku


“Ibumu hanya tak mau


membuatmu khawatir,” sambungnya.


            Aku masih terdiam dengan kepala ku yang tertunduk.


“Kau pria yang nekat


bukan? kau harusnya tahu harus melakukan apa, jika ingin mengetahui hal apa


yang disembunyikan oleh keluargamu darimu.”


            Kini aku mengangkat kepalaku dan menatapnya, aku tahu


maksud dari perkataannya, aku pasti tidak akan tahu jika menanyakannya langsung


kepada Ibu, tapi aku pasti bisa mencari tahunya dengan caraku.


“Aku akan membantumu,”


sambungnya sambil menggenggam erat tanganku yang dipegangnya dari tadi.


Aku


menatapnya dengan penuh kehangatan. Untuk pertama kali aku melihat sesuatu


darinya yang tak bisa kusebutkan dengan Kata-kata. Dan untuk pertama kalinya


dia bisa menenangkan hatiku yang sedang merasa kacau.


Aku


melihat wajahnya yang memancarkan keikhlasan kepadaku, wajah yang seakan sedang


bersimpati terhadapku, tetapi aku tak merasa tersinggung sama sekali. Refleks aku


mendekatkan wajahku kepadanya, aku merasakan dorongan dalam diriku untuk


menciumnya. Aku semakin dekat dengan wajahnya aku tak melihat penolakan apapun


darinya, lalu aku mencium bibirnya untuk pertama kalinya.


Bibir


tipis manisnya yang hanya bisa kulihat ketika menatap wajahnya, kini aku sudah


merasakannya, bahkan ********** tanpa ampun. Dan dia pun membalas ciuman ku


dengan lembut. Kami melakukannya dengan hangat hingga aku pun memutuskan untuk


melepaskannya.


Kami


terdiam dan saling menahan rasa yang sangat sulit dijelaskan, aku tak berani


menatapnya, aku baru pertama kali melakukan ini. aku melakukannya tanpa sadar.


Sungguh.


“Kayanya kita harus


“Eh—h iya sepertinya


begitu,” balasnya.


            Kami pun pergi berjalan keluar kamar, aku menyuruh Zulfa


untuk menunggu saja di meja makan terlebih dahulu, biar aku saja yang menemui Ibu,


sekaligus aku ingin meminta maaf kepadanya. Zulfa pun menuruti perkataanku.


Lalu


aku berjalan kekamar Ibuku, aku mengetuk pintu kamar Ibu dengan pelan sambil


tak lupa mengucapkan salam.


“Masuklah nak” ucap Ibu


dari dalam.


            Aku membuka pintu kamar Ibuku, dan mendekat kearahnya.


kini posisinya sedang mebelakangiku.


“Buk, maafkan aku,”


ucapku lembut.


            Ibuku tak menjawab, bahkan dia masih saja membelakangiku.


Tampaknya dia Benar-benar marah padaku kali ini.


“Aku hanya sangat kesal


karena merasa ada sesuatu yang disembunyikan dariku. Tapi aku sekarang paham,


dan aku tak akan menanyakannya lagi padamu Bu,” kataku lembut


            Dia pun menoleh kearahku dan langsung memelukku.


Aku


melihat matanya yang sedang habis menangis, hatiku bergetar melihat mata ibu


ku. Seperti sedang menahan sesuatu yang sangat menyedihkan didalam hatinya. Aku


memeluknya erat, aku sudah salah besar membuat hati nya sakit.


Lama


aku memeluknya hingga ibu melepaskan pelukannya.


“Kau turunlah duluan,


temani Zulfa, dia pasti sudah menunggu kita dari tadi,” ucap Ibu menyuruhku.


            Aku hanya tersenyum lalu mengangguk kepada ibu.


            Aku berjalan menemui Zulfa yang sudah menunggu di ruang


tamu. Aku melihat dia yang sedang berdiri melihat foto-foto kami yang


terpampang didinding ruang tamu rumah ini.


“Kau sedang melihat apa?”


tanyaku.


“Dia Adikkmu?” tanyanya


lagi sambil menunjuk pada suatu foto dimana aku sedang berdua dengan adikku.


“Iyaa.”


“Kenapa kau tak pernah


tersenyum jika berfoto dengan Adikmu?”


“Aku sengaja.”


“Kenapa?”


“Adikku tidak terlalu


tampan sepertiku, jadi agar keberadaannya tidak tertutupi olehku, aku memutuskan


untuk tidak tersenyum jika berfoto dengannya.”


“Hahaha kau menghina Adikmu


sendiri.”


“Aku tak menghina, aku


hanya berbicara fakta.”


“Tapi aku justru melihat


bahwa adikmu lebih tampan darimu.”

__ADS_1


“Baguslah kalau kau


mengakui ku tampan.”


“Bukan itu maksudku.”


“Hahaha, sekarang kau


justru Malu-malu mengakuinya,” ucapku menggodanya.


            Dia tak menjawab dan hanya menatap tajam kepadaku.


“Wajahmu memerah Zulfa,”


godaku lagi.


“Hentikan itu Nugy,


jangan meledekku.”


“Hahahahaha,” aku tertawa


melihat ekspresi wajahnya yang semakin merah.


            Aku pun makin asik meledeknya, hingga Ibu datang mengajak


kami makan.


“Maaf Zulfa Ibu


meninggalkanmu, Ibu mandi sebentar tadi,” ucap Ibu.


“Iya, tak apa Bu,”


balasnya.


            Kami pun makan bersama, meskipun hanya bertiga tapi aku


sangat senang melihat Ibu yang selalu tersenyum, kurasa dengan ini dia bisa


melupakan kesdihannya atas sikap ku yang tadi.


Setelah


makan kami pun berbicara ditaman belakang rumah, itu adalah tempat favorit Ibu


semenjak rumah ini pertama kali berdiri. Pekarangan yang luas dan penuh bunga


yang dipelihara oleh Ibu.


“Tempat ini sangat bagus


Bu,” ucap Zulfa dengan senang.


“Tentu, ini adalah tempat


yang paling Ibu gemari Zulfa,” balas Ibu bangga.


“Aku jadi ingin memiliki


tempat seperti ini dirumahku nanti,” ucap Zulfa dengan riang.


“Ibu rasa Nugy akan


membuatkan tempat seperti ini untukmu,” balas Ibu sambil tersenyum kearahku.


“Bahkan aku bisa


membuatnya lebih indah dari pada ini, tapi aku tak mau membuatnya untukmu,” ucapku


dengan memanas-manasi Zulfa.


“Kau dari tadi sibuk


Memanas-manasiku Nugy,” balasnya sambil melemparkan batu kecil kearahku.


“Hahaha Sudah-sudah” Ibu


menengahi kami.


“Lagian sejak kapan gaya


berbicaramu menjadi seperti kami?” tanya Ibu kepada Zulfa.


            Aku menatap zulfa, aku juga baru ingat dengan hal ini.


pertama kali kami bertemu dari selalu menggunakan Bahasa Ala-ala anak Jakarta,


tapi sekarang dia justru berbicara dengan Bahasa baku seperti yang sering keluarga


kami lakukan. Tapi apa alasan zulfa jadi ikut-ikutan berbicara seperti kami?


Aku jadi penasaran dengan jawabannya.


“Itu karena dia Bu” ucap


Zulfa menunjukku.


“Lho kenapa bisa?” tanya


Ibu.


            Aku pun terdiam heran.


“Sejak dia datang ketoko


ku pertama kali Bu, dia memberikan kesan yang buruk atas kunjungannya itu,


makanya aku jadi Ikut-ikutan berbicara seperti ini,” jawab Zulfa menunjukkan


ekspresi mengancam kearahku.


“Apa yang kau lakukan


Nugy?” tanya Ibu yang tampaknya mulai marah padaku.


            Aku masih terdiam heran dan tak menjawab. Aku menatap Zulfa


tajam, dia justru tak takut.


“Bahkan perjalanan kesini


dia membuatku menangis tadi,” ucap Zulfa yang semakin memanas-manasi Ibu.


“Kamu memang Benar-benar


pria yang memalukan,” ucap Ibu dan langsung mengambil sapu untuk memukulku.


            Aku menatap Zulfa lagi dengan tatapan mengancam. Dia


justru membalasku dengan tatapan remehnya.


Kampret, ucapku dalam


hati.


            Ibu pun mengejarku tanpa henti, aku tak mungkin lari, aku


kasihan dengan Ibu jika terus mengejarku, jadi aku pasrah saja dipukul olehnya.


Toh tidak terasa sakit juga.


Tawa


dan canda menghiasi pertemuan kami hari ini. Setelah kejadian yang membuat Ibu


sedih tadi aku jadi merasa legah bisa melihat Ibu tertawa lepas begini.


 Namun hari sudah sore, aku harus pulang kembali


kerumahku, aku juga harus mengantarkan Zulfa sebelum larut malam, aku takut Papanya


akan benar-benar marah padaku jika aku terlalu malam membawanya pergi.


“Bu kita pulang dulu ya,”


ucapku.


“Kalian harus janji untuk


main kesini lagi,” balas Ibu.


“Pasti Bu, aku akan


sangat senang jika Nugy mengajakku kesini lagi.”


            Lalu kami pun menyalam tangan Ibu, ketika kami berjalan


kemobil dia mengatakan kepadaku.


“Terima kasih nak,” itu


ucapnya.


Aku


tersenyum kepadanya dan langsung memeluknya.


“Hati-hati ya dijalan,


antar dia langsung kerumahnya,” perintah Ibu.


“Iya tenang saja bu,


paling aku cuma khilaf dikit,” ucapku menggoda Zulfa.


“Fikiranmu jorok Nugy,”


balasnya ketus.


            Aku pun hanya tertawa melihat ekspresinya yang dengan


cepat merah jika ku goda.


Lalu


kami pun pergi pulang meninggalkan ibu sendirian dirumah yang kini sudah tak


sehangat dulu. Rumah ini penuh dengan misteri yang belum aku ketahui. Aku yakin


dengan aku mengetahui itu, aku bisa memperbaiki nya dan mengembalikan


kehangatan itu lagi dirumah ini.


Aku akan segera

__ADS_1


mencari tahu sesuatau yang disembunyikan oleh Ibu kepadaku, ucapku dalam hati.


__ADS_2