
Kami
sudah berada dirumah Ibu saat ini, aku memarkirkan mobilku dengan rapih
dihalaman rumah ini. Lalu kami pun turun dari mobil dan aku mengajak Zulfa
untuk berjalan memasuki rumah. Tapi dia justru sibuk melihat sekeliling rumah
ini, tampaknya dia sedang takjub dengan betapa luasnya rumah ini.
“Akhirnya kalian sampai
juga,” pekik Ibu menyambut kami.
“Ibu,” Zulfa menyapa ibu
sambil langsung memeluk Ibuku.
“Akhirnya kau bisa datang
kerumahku,” ucap Ibu sambil mengelus kepada Zulfa.
“Rumah Ibu sangat bagus,
dan luas,” balas Zulfa.
Aku hanya menggelengkan kepala saja, lalu kucium tangang
Ibu. dan kami bertiga masuk kedalam.
“Ibu sama siapa?” tanya
ku.
“Sendiri saja” jawab Ibu.
“Oh ya? bagaimana cara Ibu
bisa bertahan sendirian dirumah sebesar ini?” tanya Zulfa.
Aku dan ibu langsung menatapnya kaget. tetapi Ibu
langsung bisa mengubah ekspresinya dengan cepat, agar Zulfa tak tahu tentang
masalah keluarga kami.
“Ibu tidak sendirian kok,
yang lain hanya sedang pergi sebentar,” jawab Ibu sambil tersenyum.
“Iya sedang pergi, dengan
urusannya Masing-masing masing” ketusku tanpa melihat mereka.
“Nugyyy” tegur Ibu
lembut.
“Aku ingin kekamarku
sebentar,” ucapku lalu pergi meninggalkan mereka berdua.
Aku tak peduli dengan Zulfa tahu atau tidak tentang masalah
rumah tangga ini, kalau memang Ibu mengharapkan dia untuk menjadi pendampingku
toh dia juga harus wajib tahu dari sekarang. Itu pun kalau memang aku bisa
mendapatkan dia yang sudah dimiliki oleh orang lain.
“Ah, kenapa dihidupku
selalu tak pernah berhenti berfikir” ucapku kesal
Aku membaringkan tubuhku dikasur yang ada dikamarku.
Kamar yang membuatku nyaman saat aku tinggal disini dulu. Aku sangat merindukan
masa-masa hangat dirumah ini., masa dimana Ayah sering tidur bersamaku dikasur
ku ini. Masa dimana aku selalu dimarahi Ibu, dan Ayah mencobah menengahi tetapi
justru ikut dimarahi oleh Ibu. Sekarang semua sudah berubah semenjak Ayahku
mejadi Monster Elite Politik di Hutan Belantara ini. Aku tak tahu apa penyebab
dia bisa berubah, aku tak yakin uang dan jabatan bisa membuat dia berubah
menjadi seorang monster, aku selalu yakin sekali bahwa ada yang disembunyikan
dariku.
“Kau rindu dengan kamar
ini nak?” tanya Ibu yang Tiba-tiba datang dan duduk dikasurku.
Aku menatapnya dengan tubuhku yang masih berbaring, lalu
menghirup nafas yang dalam lalu ku hembuskan dengan berat. Ku ubah posisiku
menjadi duduk disampingnya.
“Aku bukan hanya
merindukan kamarku, aku merindukan kehangatan yang pernah terjadi dirumah ini,”
jawabku.
“Kita masih tetap seperti
itu nak, Ayahmu juga bekerja untuk kita, dan Adik mu belajar setiap hari, tidak
ada salahnya dia pergi bermain dihari libur seperti ini,” ucap Ibu.
“Ibu selalu saja membela
mereka,” balasku.
“Ibu juga membelamu nak.”
“Untuk apa ibu membela
mereka? mereka saja seperti tak peduli dengan Ibu,” ucapku mulai kesal.
“Apa hanya aku yang
memikirkan mu Bu?” sambungku.
“Tidak, semuanya juga memikirkan
Ibu,” jawabnya.
“Ikutlah tinggal
bersamaku bu,” pintaku kepada Ibu.
“Ibu tidak bisa nak, ini
rumah kita, kemana pun kalian pergi Ibu yakin kalian akan tetap pulang kesini.”
“Buktinya Ibu selalu
sendiri disini.”
“Aku yang lebih mengetahui
diriku nak, apa kau merasa keberatan harus jauh-jauh mengunjungiku kesini?”
“Bukan begitu Bu, aku
hanya khawatir denganmu, jujurlah apa sebenarnya yang terjadi dengan keluarga
ini?” tanyaku lembut.
“Tak ada yang terjadi Nugy.”
“Jangan bohong Bu, aku
selalu kasihan melihatmu memendam semuanya sendiri,” ucapku.
“Berhenti kau mengasihani
Ibu, Sejak kapan kau berfikir bahwa dirimu lebih kuat dari ku, sampai kau harus
mengasihani ku Nugy.” marahnya padaku.
“Yah, beginilah Ibu. Ibu
hanya berani seperti ini kepada ku saja, jika kepada anakmu yang satu lagi Ibu tak
pernah memarahinya, sedangkan pria yang satu lagi itu Ibu terlalu
membebaskannya, kenapa Ibu selalu menumpahkannya sama ku Bu,” ucapku kesal
kepada Ibu.
“PLAKK” Ibu justru
menamparku dan pergi meninggalkanku.
Beginilah
Ibuku, dia berani bertingkah seperti ini hanya kepadaku, dia selalu menumpahkan
kesedihan, dan kekesalannya padaku. Dan ini sudah sering terjadi, aku hanya
perlu menunggu Ibu berhenti marah. Aku tak tahu apa yang dilakukan Ibu dikamarnya
setelah dia marah kepadaku.
Aku duduk dikamarku dengan kesedihan yang sangat sakit
kurasakan, kenapa selalu aku yang menjadi sasaran oleh Ibu, bukankah anak nya
ada dua, apakah dia tidak bisa berbagi adil kepadaku dan adikku? Ntahlah, Ibuku
selalu membuatku menjadi pria yang selalu menundukkan kepala. Seperti sekarang
aku yang tengah duduk menunduk dengan segenap kepedihan dihatiku atas masalah
yang selalu hadir dalam hidupku.
“Ibumu pasti sangat
menyayangi mu Nugy,” ucap Zulfa yang tiba-tiba datang kekamarku.
__ADS_1
Tak
ada waktu untukku terkejut atas kedatangannya, aku tetap menundukkan kepalaku. kurasa
dia juga melihat pertengkaranku dengan Ibu barusan.
“Maaf. Aku tidak sengaja
mendengar percakapanmu. Tadi aku sedang mencari toilet tapi aku justru tesasar
didepan kamarmu,” sambungya dengan nada memohon.
“Tidak apa-apa,” balasku
lembut.
Lalu dia duduk disampingku.
“Aku tak tahu apa yang
terjadi sebenarnya didalam keluargamu, tetapi sekarang aku tahu bahwa kau dan Ibumu
sama-sama merasakan beban yang terjadi dirumah ini,”
“Dia hanya berani
memarahiku, dia tidak pernah memarahi Adikku, bahkan Ayahku”
“Ibumu menyimpan sesuatu
yang tidak bisa kamu ketahui Nugy.”
“Dia memang selalu
begitu, dia selalu menganggapku seperti Anak-anak, bahkan untuk masalahnya saja
dia tak pernah menceritakannya padaku.”
“Dia pasti memiliki
alasan untuk menyembunyikannya darimu, dan Aku yakin dia sangat bangga kepadamu,”
ucapnya lagi sambil memegang telapak tanganku
“Ibumu hanya tak mau
membuatmu khawatir,” sambungnya.
Aku masih terdiam dengan kepala ku yang tertunduk.
“Kau pria yang nekat
bukan? kau harusnya tahu harus melakukan apa, jika ingin mengetahui hal apa
yang disembunyikan oleh keluargamu darimu.”
Kini aku mengangkat kepalaku dan menatapnya, aku tahu
maksud dari perkataannya, aku pasti tidak akan tahu jika menanyakannya langsung
kepada Ibu, tapi aku pasti bisa mencari tahunya dengan caraku.
“Aku akan membantumu,”
sambungnya sambil menggenggam erat tanganku yang dipegangnya dari tadi.
Aku
menatapnya dengan penuh kehangatan. Untuk pertama kali aku melihat sesuatu
darinya yang tak bisa kusebutkan dengan Kata-kata. Dan untuk pertama kalinya
dia bisa menenangkan hatiku yang sedang merasa kacau.
Aku
melihat wajahnya yang memancarkan keikhlasan kepadaku, wajah yang seakan sedang
bersimpati terhadapku, tetapi aku tak merasa tersinggung sama sekali. Refleks aku
mendekatkan wajahku kepadanya, aku merasakan dorongan dalam diriku untuk
menciumnya. Aku semakin dekat dengan wajahnya aku tak melihat penolakan apapun
darinya, lalu aku mencium bibirnya untuk pertama kalinya.
Bibir
tipis manisnya yang hanya bisa kulihat ketika menatap wajahnya, kini aku sudah
merasakannya, bahkan ********** tanpa ampun. Dan dia pun membalas ciuman ku
dengan lembut. Kami melakukannya dengan hangat hingga aku pun memutuskan untuk
melepaskannya.
Kami
terdiam dan saling menahan rasa yang sangat sulit dijelaskan, aku tak berani
menatapnya, aku baru pertama kali melakukan ini. aku melakukannya tanpa sadar.
Sungguh.
“Kayanya kita harus
“Eh—h iya sepertinya
begitu,” balasnya.
Kami pun pergi berjalan keluar kamar, aku menyuruh Zulfa
untuk menunggu saja di meja makan terlebih dahulu, biar aku saja yang menemui Ibu,
sekaligus aku ingin meminta maaf kepadanya. Zulfa pun menuruti perkataanku.
Lalu
aku berjalan kekamar Ibuku, aku mengetuk pintu kamar Ibu dengan pelan sambil
tak lupa mengucapkan salam.
“Masuklah nak” ucap Ibu
dari dalam.
Aku membuka pintu kamar Ibuku, dan mendekat kearahnya.
kini posisinya sedang mebelakangiku.
“Buk, maafkan aku,”
ucapku lembut.
Ibuku tak menjawab, bahkan dia masih saja membelakangiku.
Tampaknya dia Benar-benar marah padaku kali ini.
“Aku hanya sangat kesal
karena merasa ada sesuatu yang disembunyikan dariku. Tapi aku sekarang paham,
dan aku tak akan menanyakannya lagi padamu Bu,” kataku lembut
Dia pun menoleh kearahku dan langsung memelukku.
Aku
melihat matanya yang sedang habis menangis, hatiku bergetar melihat mata ibu
ku. Seperti sedang menahan sesuatu yang sangat menyedihkan didalam hatinya. Aku
memeluknya erat, aku sudah salah besar membuat hati nya sakit.
Lama
aku memeluknya hingga ibu melepaskan pelukannya.
“Kau turunlah duluan,
temani Zulfa, dia pasti sudah menunggu kita dari tadi,” ucap Ibu menyuruhku.
Aku hanya tersenyum lalu mengangguk kepada ibu.
Aku berjalan menemui Zulfa yang sudah menunggu di ruang
tamu. Aku melihat dia yang sedang berdiri melihat foto-foto kami yang
terpampang didinding ruang tamu rumah ini.
“Kau sedang melihat apa?”
tanyaku.
“Dia Adikkmu?” tanyanya
lagi sambil menunjuk pada suatu foto dimana aku sedang berdua dengan adikku.
“Iyaa.”
“Kenapa kau tak pernah
tersenyum jika berfoto dengan Adikmu?”
“Aku sengaja.”
“Kenapa?”
“Adikku tidak terlalu
tampan sepertiku, jadi agar keberadaannya tidak tertutupi olehku, aku memutuskan
untuk tidak tersenyum jika berfoto dengannya.”
“Hahaha kau menghina Adikmu
sendiri.”
“Aku tak menghina, aku
hanya berbicara fakta.”
“Tapi aku justru melihat
bahwa adikmu lebih tampan darimu.”
__ADS_1
“Baguslah kalau kau
mengakui ku tampan.”
“Bukan itu maksudku.”
“Hahaha, sekarang kau
justru Malu-malu mengakuinya,” ucapku menggodanya.
Dia tak menjawab dan hanya menatap tajam kepadaku.
“Wajahmu memerah Zulfa,”
godaku lagi.
“Hentikan itu Nugy,
jangan meledekku.”
“Hahahahaha,” aku tertawa
melihat ekspresi wajahnya yang semakin merah.
Aku pun makin asik meledeknya, hingga Ibu datang mengajak
kami makan.
“Maaf Zulfa Ibu
meninggalkanmu, Ibu mandi sebentar tadi,” ucap Ibu.
“Iya, tak apa Bu,”
balasnya.
Kami pun makan bersama, meskipun hanya bertiga tapi aku
sangat senang melihat Ibu yang selalu tersenyum, kurasa dengan ini dia bisa
melupakan kesdihannya atas sikap ku yang tadi.
Setelah
makan kami pun berbicara ditaman belakang rumah, itu adalah tempat favorit Ibu
semenjak rumah ini pertama kali berdiri. Pekarangan yang luas dan penuh bunga
yang dipelihara oleh Ibu.
“Tempat ini sangat bagus
Bu,” ucap Zulfa dengan senang.
“Tentu, ini adalah tempat
yang paling Ibu gemari Zulfa,” balas Ibu bangga.
“Aku jadi ingin memiliki
tempat seperti ini dirumahku nanti,” ucap Zulfa dengan riang.
“Ibu rasa Nugy akan
membuatkan tempat seperti ini untukmu,” balas Ibu sambil tersenyum kearahku.
“Bahkan aku bisa
membuatnya lebih indah dari pada ini, tapi aku tak mau membuatnya untukmu,” ucapku
dengan memanas-manasi Zulfa.
“Kau dari tadi sibuk
Memanas-manasiku Nugy,” balasnya sambil melemparkan batu kecil kearahku.
“Hahaha Sudah-sudah” Ibu
menengahi kami.
“Lagian sejak kapan gaya
berbicaramu menjadi seperti kami?” tanya Ibu kepada Zulfa.
Aku menatap zulfa, aku juga baru ingat dengan hal ini.
pertama kali kami bertemu dari selalu menggunakan Bahasa Ala-ala anak Jakarta,
tapi sekarang dia justru berbicara dengan Bahasa baku seperti yang sering keluarga
kami lakukan. Tapi apa alasan zulfa jadi ikut-ikutan berbicara seperti kami?
Aku jadi penasaran dengan jawabannya.
“Itu karena dia Bu” ucap
Zulfa menunjukku.
“Lho kenapa bisa?” tanya
Ibu.
Aku pun terdiam heran.
“Sejak dia datang ketoko
ku pertama kali Bu, dia memberikan kesan yang buruk atas kunjungannya itu,
makanya aku jadi Ikut-ikutan berbicara seperti ini,” jawab Zulfa menunjukkan
ekspresi mengancam kearahku.
“Apa yang kau lakukan
Nugy?” tanya Ibu yang tampaknya mulai marah padaku.
Aku masih terdiam heran dan tak menjawab. Aku menatap Zulfa
tajam, dia justru tak takut.
“Bahkan perjalanan kesini
dia membuatku menangis tadi,” ucap Zulfa yang semakin memanas-manasi Ibu.
“Kamu memang Benar-benar
pria yang memalukan,” ucap Ibu dan langsung mengambil sapu untuk memukulku.
Aku menatap Zulfa lagi dengan tatapan mengancam. Dia
justru membalasku dengan tatapan remehnya.
Kampret, ucapku dalam
hati.
Ibu pun mengejarku tanpa henti, aku tak mungkin lari, aku
kasihan dengan Ibu jika terus mengejarku, jadi aku pasrah saja dipukul olehnya.
Toh tidak terasa sakit juga.
Tawa
dan canda menghiasi pertemuan kami hari ini. Setelah kejadian yang membuat Ibu
sedih tadi aku jadi merasa legah bisa melihat Ibu tertawa lepas begini.
Namun hari sudah sore, aku harus pulang kembali
kerumahku, aku juga harus mengantarkan Zulfa sebelum larut malam, aku takut Papanya
akan benar-benar marah padaku jika aku terlalu malam membawanya pergi.
“Bu kita pulang dulu ya,”
ucapku.
“Kalian harus janji untuk
main kesini lagi,” balas Ibu.
“Pasti Bu, aku akan
sangat senang jika Nugy mengajakku kesini lagi.”
Lalu kami pun menyalam tangan Ibu, ketika kami berjalan
kemobil dia mengatakan kepadaku.
“Terima kasih nak,” itu
ucapnya.
Aku
tersenyum kepadanya dan langsung memeluknya.
“Hati-hati ya dijalan,
antar dia langsung kerumahnya,” perintah Ibu.
“Iya tenang saja bu,
paling aku cuma khilaf dikit,” ucapku menggoda Zulfa.
“Fikiranmu jorok Nugy,”
balasnya ketus.
Aku pun hanya tertawa melihat ekspresinya yang dengan
cepat merah jika ku goda.
Lalu
kami pun pergi pulang meninggalkan ibu sendirian dirumah yang kini sudah tak
sehangat dulu. Rumah ini penuh dengan misteri yang belum aku ketahui. Aku yakin
dengan aku mengetahui itu, aku bisa memperbaiki nya dan mengembalikan
kehangatan itu lagi dirumah ini.
Aku akan segera
__ADS_1
mencari tahu sesuatau yang disembunyikan oleh Ibu kepadaku, ucapku dalam hati.