
Dalam waktu yang singkat
aku sudah mengurus semua untuk proses pemakaman Ayah, rumah yang luas ini
menjadi sangat sesak karena dipenuhi oleh Orang-orang yang tak ku kenali. Dalam
waktu yang sangat singkat ini pula banyak orang yang menangis atas kepergian Ayahku.
Aku sangat ingin menyuruh mereka semua untuk menghentikan
tangisnya, karena hati ayahku pasti akan sangat sakit melihat banyak orang yang
menangisi kepergiannya. Namun aku tau bahwa itu mustahil, karena air mataku pun
terus mengalir tanpa ku harapkan.
Aku melihat sekelilingku, biasanya ada bidadariku
disampingku, namun kali ini dimana dia? Kemana kau pergi Zulfa? Disaat aku tak
berdaya aku sangat membutuhkan pundaknya untuk bersandar, aku butuh belaian
halusnya yang membuatku nyaman, namun aku sendiri juga tak tahu dia ada dimana.
Sesaat aku sadar bahwa Ibuku tadi pingsan, dia pasti
sangat rapuh saat ini, aku harus ada disisinya. Aku berjalan kedalam rumah
dengan mendorong pelan Orang-orang yang mengahalngi jalanku.
Minggir kalian, aku harus
cepat, Ibu pasti sangat membutuhkan aku saat ini, ucapku dalam hati sambil
berjalan.
Aku mencarinya didalam rumah, aku masuk kedalam kamar
dimana dia tidur bersama Ayah semalam, aku melihat Rudy adikku memeluk Ibu
dengan erat sambil meneteskan air matanya yang tak mungkin bisa dia bendung
lagi. Ibu menjerit penuh perih, dia sudah sadar dari pingsannya, namun hatiku
sangat sakit melihat dia yang seperti ini. Aku berlari memeluk dia dengan erat,
aku pun juga memeluk adikku.
Mereka adalah warisan paling berharga yang ditinggalkan Ayah
kepadaku, tak akan ku biarkan mereka menangis penuh perih seperti ini. Aku
memeluk mereka berdua dengan tegar dan gagah sambil berusaha memeberhentikan
air mataku yang mengalir tanpa henti.
Aku melihat sekelilingku yang sedang melihatku
menenangkan kedua warisan Ayahku ini, aku melihat Papa yang sedang memeluk Mama
dan Zulfa, dia menatapku penuh rasa bangga. Pertama kalinya juga aku melihat
dia mengeluarkan air matanya.
Lama kami terlarut dalam haru pikuk yang mebelenggu kami
diruangan ini, hingga Ibuku berhenti menjerit dan adikku berhenti menangis.
Mereka memelukku dengan erat, Ibu mengusap air mata yang mengalir dipipiku. Dan
dia berusaha tersenyum menatapku, dan mengelus kepalaku dan Adikku.
Lalu dia berdiri dengan tegar, dan mengelus punggungku
dan Rudy yang sedang duduk menatapnya dengan kagum. Baru saja tadi dia menjerit
penuh keperihan dan tak perlu memakan waktu banyak, kini dia mampu kembali
menjadi wanita yang tangguh seperi biasa.
“Ayo nak, kita harus
mengurus jenazah Ayahmu, dia pasti ingin segera ditidurkan di rumah barunya.”
“Kita harus segera
memandikannya, agar kau bisa menshalatkan Ayahmu dengan ribuan manusia yang
hadir,” ucapnya kepadaku.
Kami berdua pun mengangguk.
Meskipun
aku tak mengetahui maksud dari perkataan Ibu mengatakan ada ribuan yang hadir, aku
tetap memakluminya saja. Diluar sana memang banyak sekali orang yang
berdatangan, bahkan semua kerabat Ayah bisa hadir dalam waktu yang singkat,
meskipun mereka berasal dari luar kota, bahkan luar pulan Sumatera ini. Dan
pasti masih ada lagi yang dijalan menuju kesini.
Aku berdiri terlebih dahulu, dan membantu Rudy untuk
berdiri tegak, sambil mengelus kepalanya, aku lupa kapan terakhir melakukan
tugas ku sebagai abang untuknya, namun kali ini aku merasa sangat hangat dan memeluk
Adikku.
“Maafkan aku Rudy” ucapku
lirih.
Dia hanya terdiam menyandarkan kepalanya dibahuku.
Aku melihat seisi ruangan itu tersenyum melihat kami, danIbu
yang paling senang melihat kami berdua.
“Ayo, kita antar dia
dengan gagah,” ajakku kepadanya.
Dia pun mengangguk dan mengusap air matanya
Kami pun berjalan keluar kamar, bidadariku kali ini
datang kearahku dan memelukku dari samping. Aku pun tersenyum menatapnya dan
mengusap air matanya yang sudah banyak keluar.
Kami semua pergi menuju Masjid Agung yang ada di kota
ini, masjid yang besar dan cantik, namun tetap tak sanggup menampung seluruh
manusia yang hadir, aku takjub melihat semua yang hadir, mereka ini siapa? Apa
yang sudah Ayahku lakukan kepada mereka? Kenapa mereka rela hadir untuk
kematian Ayahku, mereka rela berpanas-panas dan penuh sesak karena tak cukup
masjid ini menampung semuanya, mereka pun terpaksa diluar dengan terpal yang
dikembangkan.
Dan aku melihat banyak orang memakai baju putih dengan
tersenyum kearahku. Kenapa kalian memakai baju putih? Sedangkan semua orang
memakai baju hitam, kataku dalam hati.
__ADS_1
Setelah
Papa menepati janjinya kepada Ayah untuk memandikan jenazahnya. Lalu jenazah Ayah
pun dikafani dengan kain putih bersih dan suci seperti senyum Ayahku yang tak hilang
dari wajahnya sejak dia mengehembuskan nafas terakhirnya didermaga tadi.
Sebelum
Sholat Jenazah, kami pun Sholat Dzuhur terlebih dahulu dengan dipimpin oleh
Imam Besar masjid ini hingga selesai.
Jenazah
Ayah dipindahkan kedepan imam untuk dishalatkan, kali ini aku yang akan menjadi
imamnya, karena itu sudah janji kami dari sewaktu aku lulus dari Pondok Pesantren.
Ayah, dan Ibu akan sangat senang jika aku yang menjadi imam ketika mensholatkan
jenazah mereka.
Sebelum
itu, aku berbicara terlebih dahulu menggunakan mic yang ada dimesjid itu, aku
mengucapkan sepatah kata dan membahas tentang adakah utang piutang yang
ditinggalkan oleh almarhum Ayahku. Jika ada kita bisa menyelesaikannya setelah
pemakaman nanti.
Jemaah
sangat ramai, dan aku harap kami semua bisa sholat dengan khusyuk. Setelah
memastikan semuanya kondusif, aku memulai sholat sesuai dengan tata cara yang
diajarkan oleh Agamaku.
Setelah
semua selesai, dan jenazah sudah disholatkan, kami semua membawa jenazah Ayah
menuju tempat peristirahatan terakhirnya yaitu disamping Ayah dan Ibundanya
tercinta. Didesa yang indah dan damai itu.
Didalam perjaanan aku tak berbicara sama sekali, aku
terpaku diam hening dengan Zulfa yang selalu memelukku dari disampingku.
Sesampainya didesa itu kami dikejutkan dengan warga yang
sudah menunggu kami dengan tangis pilu. Ramai sekali, mereka sangat antusias
sekali dengan Ayahku. Aku tak tahu apa yang sudah dilakukan oleh Ayahku, kenapa
banyak sekali yang rela menemani Ayahku untuk mengantar ke tempa peristirahatan
terakhirnya.
Aku
pun melihat orang-orang yang berbaju putih itu lagi, mereka bisa sampai duluan
kesini, tentu aku heran. Tapi aku tak terlalu menghiraukannya.
Kami berjalan menggotong Keranda Jenazah Ayahku menuju
kuburannya. Aku, Rudy, Papa, dan ajudan Ayah turun untuk meletakkan jenazah Ayah
kerumahnya yang baru, lalu menutup nya dengan papan satu per satu. Dan kami
naik kepermukan. Zulfa memberi kami sapu tangang untuk membersihkan tangan kami
Beberapa petugas mulai menimbun tanah untuk mengubur
jenazah Ayahku. Sambil memeluk Ibu dan Rudy, kami melihat jenazah Ayah yang
sudah mulai tertutup oleh tanah. Aku merasakan tubuh Ibu mulai bergetar karena
tangisnya keluar lagi, Rudy pun begitu. Aku hanya mengelus pundak mereka berdua.
Kini raga Ayahku pun sudah tertimbun dengan tanah suci yang akan menghangatkannya.
Selesai sudah pemakaman Ayah. Agak lama kami di tempat
peristirahatan terakhir Ayah. Hingga satu persatu Orang-orang pun bubar dan
kami pun memutuskan untuk berjalan kembali pulang kerumah.
Sesampainya dirumah kami mempersiapkan semuanya untuk Ta’ziah
pertama malam ini. Aku melihat beberapa kerabat Ayah lainnya mulai berdatangan
tak terkecuali Om Ali sahabat karib Ayah ku yang setia bersama istrinya. mereka
baru sampai dari perjalanan mereka dari Jakarta kesini. Mereka menemui ku lalu
pergi menemui Ibu yang sedang duduk disofa tamu bersama Rudy dan yang lainnya.
Aku menghisap rokokkku dipendopo bersama Zulfa yang terus
menemaniku. Aku sangat beruntung memiliki bidadari yang selalu menemaniku.
Sekitar setengah jam kami disini, Tiba-tiba aku melihat
beberapa orang yang ku kenal berjalan menuju kerah kami. Mereka adalah sahabat-sahabatku
Rojali, Dewi dan Ayu yang juga sudah menjadi bagian dari kami sekarang.
“Maaf kami terlambat,”
ucap Rojali kepadaku.
“Gak apa-apa, gua udah
seneng banget liat lu semua pada datang,” balasku santai sambil tersenyum.
Kami pun saling bersalaman satu sama lain, tak biasanya
aku saling bersalaman dengan sahabat-sahabatku ini, tapi tak apalah karena
memang kondisinya memungkinkan. Zulfa dan Ayu pun berpelukan. Tentu saja karena
Zulfa sudah lama sekali tak bertemu Ayu dan dia juga sudah lama tak pergi
kebutiknya karena sibuk mendampingiku.
Kami pun saling bercerita, aku juga menceritakan saat-saat
terakhir Ayahku sebelum dia meninggal, kepada mereka bertiga. Hal itu membuat Dewi
dan Ayu menangis mendengarkannya, sedangkan manusia ajaib satu itu hanya
tertunduk menahan tangisnya sambil memegang bahuku, lalu meminta satu batang
rokokku.
“Aku lupa beli, aku minta
satulah,” pintanya padaku.
“Ga malu apa manager café
Minta-minta,” balasku sambil memberikan rokokku padanya.
“Yeee. Gak apa-apa kali Manager
minta sama pemiliknya,” kata Dewi yang justru sewot.
__ADS_1
“Pas itu, tumben kali kau
belain aku,” sambung Rojali.
“Gua kasaian sama lu,
dibully mulu,” balas Dewi sambil tertawa.
Aku pun ikut tertawa, Sahabat-sahabatku memang sangat
pandai mengendalikan suasana.
“Yang lu maksud pemilik
café itu siapa Wi?” tanya Zulfa heran.
Aku hanya terdiam melihat istriku. Aku baru ingat bahwa
aku belum pernah memberitahunya tentang café itu.
“Yaa suami lu lah Fa,
gimana sih itu aja gak tahu,” jawab Dewi santai.
Aku langsung menatap sinis kepada dewi, lalu menatap Zulfa
yang mendekat kepadaku dengan tatapan mengancam.
“Apa lagi yang kau
sembunyikan dariku?” tanyanya kesal kepadaku.
“Hahaha Dewi, kau goblok
kali memang,” ucap Rojali tertawa.
Dan Dewi hanya diam dengan heran.
“Ayolah Zulfa, jangan
marah padaku saat seperti ini,” kataku memohon kepadanya.
“Oke aku tak akan marah.
Tapi…
Dia memotong perkataannya, aku pun heran dan menunggu
kelanjutannya.
“Setelah aku tau suamiku
seorang Pengusaha Ulung, aku mau kau membawa kami liburan setelah kita pulang
ke Jakarta,” sambungnya sambil tersenyum sinis.
“Nah, ide bagus itu, udah
lama aku ga liburan, di rodi terus aku sama dia ini” Rojali menimpali.
Aku
justru menatapnya jadi jengkel.
Aku tentu saja tak keberatan jika berlibur bersama Zulfa,
namun tidak untuk mereka bertiga, dua orang ini pasti akan merusak suasana
liburan ku nanti, dan Ayu juga pasti memiliki karakter sifat yang sama dengan
mereka berdua.
“Zulf—”
“Aku akan marah jika kau
tak menurutinya,” potong Zulfa mengancamku sambil memalingkan wajahnya.
Sungguh aku tak tahan jika melihat istriku bersikap
seperti ini, jadi ku ikuti saja maunya.
“Oke, baiklah,” jawabku
kesal.
“Hahaha gitu dong,”
balasnya sambil menyenggol badanku.
“Tapi Fa, kalau liburan,
kita pulang harus bawa Oleh-oleh kan, itu gimana tuh?” tanya dewi
Aku tau maksud dari pertanyaannya itu.
“Ya, kenapa kita harus
mengeluarkan uang dihadapan pria kaya ini,” ucap Zulfa menggodaku.
“Asiiiiiikkk,” jawab
mereka bertiga kompak.
“Terus kita bertiga tidur
dimana dong malam ini?” tanya Ayu ikut-ikutan.
Aku menatapnya tak menyangka, aku sudah memiliki firasat
bahwa dia pasti memiliki karakter yang sama dengan dua orang aneh ini.
“Lu ga liat? Halaman ini
kan luas, ntar gua kasih tiker deh,” jawabku santai.
“Nugyyyyyyy” tegur Zulfa
mengancam.
“Hehehe, iyaaa.”
Mereka bertiga pun hanya menertawakan ku.
“Ntar lu bawa mereka ke
hotel aja, lu bawa uangnya kan?” Tanyaku pada Rojali
“Ya ku bawalah,” jawabnya
senang dengan senyumannya yang menjijikkan.
“Bayar pakai itu, dan
hentikan senyuman menjijikanmu itu,” balasku kesal.
Dan mereka semua pun tertawa.
Setelah kehadiran mereka berhasil mengobati sedikit lara
dihatiku, aku pun mulai bercerita bersama Rojali dan Dewi tentang bagaimana pekerjaan
disana, sedangkan Zulfa bercerita berdua dengan Ayu. Dan bidadariku sedang
kerepotan sendiri menjelaskan semua antara aku dan dia keapada sahabatnya itu.
Setelah berbicara kami semua pun
makan siang dirumah ini meskipun sebenarnya hari sudah sore, lalu mereka kembali
kehotel mereka Masing-masing, begitu juga dengan sahabat-sahabatku yang ikut
pergi untuk mencari hotel tempat mereka menginap beberapa hari.
__ADS_1