Belantara

Belantara
PRIA GAGAH ITU PERGI (PART 5)


__ADS_3

Dalam waktu yang singkat


aku sudah mengurus semua untuk proses pemakaman Ayah, rumah yang luas ini


menjadi sangat sesak karena dipenuhi oleh Orang-orang yang tak ku kenali. Dalam


waktu yang sangat singkat ini pula banyak orang yang menangis atas kepergian Ayahku.


            Aku sangat ingin menyuruh mereka semua untuk menghentikan


tangisnya, karena hati ayahku pasti akan sangat sakit melihat banyak orang yang


menangisi kepergiannya. Namun aku tau bahwa itu mustahil, karena air mataku pun


terus mengalir tanpa ku harapkan.


            Aku melihat sekelilingku, biasanya ada bidadariku


disampingku, namun kali ini dimana dia? Kemana kau pergi Zulfa? Disaat aku tak


berdaya aku sangat membutuhkan pundaknya untuk bersandar, aku butuh belaian


halusnya yang membuatku nyaman, namun aku sendiri juga tak tahu dia ada dimana.


            Sesaat aku sadar bahwa Ibuku tadi pingsan, dia pasti


sangat rapuh saat ini, aku harus ada disisinya. Aku berjalan kedalam rumah


dengan mendorong pelan Orang-orang yang mengahalngi jalanku.


Minggir kalian, aku harus


cepat, Ibu pasti sangat membutuhkan aku saat ini, ucapku dalam hati sambil


berjalan.


            Aku mencarinya didalam rumah, aku masuk kedalam kamar


dimana dia tidur bersama Ayah semalam, aku melihat Rudy adikku memeluk Ibu


dengan erat sambil meneteskan air matanya yang tak mungkin bisa dia bendung


lagi. Ibu menjerit penuh perih, dia sudah sadar dari pingsannya, namun hatiku


sangat sakit melihat dia yang seperti ini. Aku berlari memeluk dia dengan erat,


aku pun juga memeluk adikku.


            Mereka adalah warisan paling berharga yang ditinggalkan Ayah


kepadaku, tak akan ku biarkan mereka menangis penuh perih seperti ini. Aku


memeluk mereka berdua dengan tegar dan gagah sambil berusaha memeberhentikan


air mataku yang mengalir tanpa henti.


            Aku melihat sekelilingku yang sedang melihatku


menenangkan kedua warisan Ayahku ini, aku melihat Papa yang sedang memeluk Mama


dan Zulfa, dia menatapku penuh rasa bangga. Pertama kalinya juga aku melihat


dia mengeluarkan air matanya.


            Lama kami terlarut dalam haru pikuk yang mebelenggu kami


diruangan ini, hingga Ibuku berhenti menjerit dan adikku berhenti menangis.


Mereka memelukku dengan erat, Ibu mengusap air mata yang mengalir dipipiku. Dan


dia berusaha tersenyum menatapku, dan mengelus kepalaku dan Adikku.


            Lalu dia berdiri dengan tegar, dan mengelus punggungku


dan Rudy yang sedang duduk menatapnya dengan kagum. Baru saja tadi dia menjerit


penuh keperihan dan tak perlu memakan waktu banyak, kini dia mampu kembali


menjadi wanita yang tangguh seperi biasa.


“Ayo nak, kita harus


mengurus jenazah Ayahmu, dia pasti ingin segera ditidurkan di rumah barunya.”


“Kita harus segera


memandikannya, agar kau bisa menshalatkan Ayahmu dengan ribuan manusia yang


hadir,” ucapnya kepadaku.


            Kami berdua pun mengangguk.


Meskipun


aku tak mengetahui maksud dari perkataan Ibu mengatakan ada ribuan yang hadir, aku


tetap memakluminya saja. Diluar sana memang banyak sekali orang yang


berdatangan, bahkan semua kerabat Ayah bisa hadir dalam waktu yang singkat,


meskipun mereka berasal dari luar kota, bahkan luar pulan Sumatera ini. Dan


pasti masih ada lagi yang dijalan menuju kesini.


            Aku berdiri terlebih dahulu, dan membantu Rudy untuk


berdiri tegak, sambil mengelus kepalanya, aku lupa kapan terakhir melakukan


tugas ku sebagai abang untuknya, namun kali ini aku merasa sangat hangat dan memeluk


Adikku.


“Maafkan aku Rudy” ucapku


lirih.


            Dia hanya terdiam menyandarkan kepalanya dibahuku.


            Aku melihat seisi ruangan itu tersenyum melihat kami, danIbu


yang paling senang melihat kami berdua.


“Ayo, kita antar dia


dengan gagah,” ajakku kepadanya.


            Dia pun mengangguk dan mengusap air matanya


            Kami pun berjalan keluar kamar, bidadariku kali ini


datang kearahku dan memelukku dari samping. Aku pun tersenyum menatapnya dan


mengusap air matanya yang sudah banyak keluar.


            Kami semua pergi menuju Masjid Agung yang ada di kota


ini, masjid yang besar dan cantik, namun tetap tak sanggup menampung seluruh


manusia yang hadir, aku takjub melihat semua yang hadir, mereka ini siapa? Apa


yang sudah Ayahku lakukan kepada mereka? Kenapa mereka rela hadir untuk


kematian Ayahku, mereka rela berpanas-panas dan penuh sesak karena tak cukup


masjid ini menampung semuanya, mereka pun terpaksa diluar dengan terpal yang


dikembangkan.


            Dan aku melihat banyak orang memakai baju putih dengan


tersenyum kearahku. Kenapa kalian memakai baju putih? Sedangkan semua orang


memakai baju hitam, kataku dalam hati.

__ADS_1


Setelah


Papa menepati janjinya kepada Ayah untuk memandikan jenazahnya. Lalu jenazah Ayah


pun dikafani dengan kain putih bersih dan suci seperti senyum Ayahku yang tak hilang


dari wajahnya sejak dia mengehembuskan nafas terakhirnya didermaga tadi.


Sebelum


Sholat Jenazah, kami pun Sholat Dzuhur terlebih dahulu dengan dipimpin oleh


Imam Besar masjid ini hingga selesai.


Jenazah


Ayah dipindahkan kedepan imam untuk dishalatkan, kali ini aku yang akan menjadi


imamnya, karena itu sudah janji kami dari sewaktu aku lulus dari Pondok Pesantren.


Ayah, dan Ibu akan sangat senang jika aku yang menjadi imam ketika mensholatkan


jenazah mereka.


Sebelum


itu, aku berbicara terlebih dahulu menggunakan mic yang ada dimesjid itu, aku


mengucapkan sepatah kata dan membahas tentang adakah utang piutang yang


ditinggalkan oleh almarhum Ayahku. Jika ada kita bisa menyelesaikannya setelah


pemakaman nanti.


Jemaah


sangat ramai, dan aku harap kami semua bisa sholat dengan khusyuk. Setelah


memastikan semuanya kondusif, aku memulai sholat sesuai dengan tata cara yang


diajarkan oleh Agamaku.


Setelah


semua selesai, dan jenazah sudah disholatkan, kami semua membawa jenazah Ayah


menuju tempat peristirahatan terakhirnya yaitu disamping Ayah dan Ibundanya


tercinta. Didesa yang indah dan damai itu.


            Didalam perjaanan aku tak berbicara sama sekali, aku


terpaku diam hening dengan Zulfa yang selalu memelukku dari disampingku.


            Sesampainya didesa itu kami dikejutkan dengan warga yang


sudah menunggu kami dengan tangis pilu. Ramai sekali, mereka sangat antusias


sekali dengan Ayahku. Aku tak tahu apa yang sudah dilakukan oleh Ayahku, kenapa


banyak sekali yang rela menemani Ayahku untuk mengantar ke tempa peristirahatan


terakhirnya.


Aku


pun melihat orang-orang yang berbaju putih itu lagi, mereka bisa sampai duluan


kesini, tentu aku heran. Tapi aku tak terlalu menghiraukannya.


            Kami berjalan menggotong Keranda Jenazah Ayahku menuju


kuburannya. Aku, Rudy, Papa, dan ajudan Ayah turun untuk meletakkan jenazah Ayah


kerumahnya yang baru, lalu menutup nya dengan papan satu per satu. Dan kami


naik kepermukan. Zulfa memberi kami sapu tangang untuk membersihkan tangan kami


            Beberapa petugas mulai menimbun tanah untuk mengubur


jenazah Ayahku. Sambil memeluk Ibu dan Rudy, kami melihat jenazah Ayah yang


sudah mulai tertutup oleh tanah. Aku merasakan tubuh Ibu mulai bergetar karena


tangisnya keluar lagi, Rudy pun begitu. Aku hanya mengelus pundak mereka berdua.


Kini raga Ayahku pun sudah tertimbun dengan tanah suci yang akan menghangatkannya.


            Selesai sudah pemakaman Ayah. Agak lama kami di tempat


peristirahatan terakhir Ayah. Hingga satu persatu Orang-orang pun bubar dan


kami pun memutuskan untuk berjalan kembali pulang kerumah.


            Sesampainya dirumah kami mempersiapkan semuanya untuk Ta’ziah


pertama malam ini. Aku melihat beberapa kerabat Ayah lainnya mulai berdatangan


tak terkecuali Om Ali sahabat karib Ayah ku yang setia bersama istrinya. mereka


baru sampai dari perjalanan mereka dari Jakarta kesini. Mereka menemui ku lalu


pergi menemui Ibu yang sedang duduk disofa tamu bersama Rudy dan yang lainnya.


            Aku menghisap rokokkku dipendopo bersama Zulfa yang terus


menemaniku. Aku sangat beruntung memiliki bidadari yang selalu menemaniku.


            Sekitar setengah jam kami disini, Tiba-tiba aku melihat


beberapa orang yang ku kenal berjalan menuju kerah kami. Mereka adalah sahabat-sahabatku


Rojali, Dewi dan Ayu yang juga sudah menjadi bagian dari kami sekarang.


“Maaf kami terlambat,”


ucap Rojali kepadaku.


“Gak apa-apa, gua udah


seneng banget liat lu semua pada datang,” balasku santai sambil tersenyum.


            Kami pun saling bersalaman satu sama lain, tak biasanya


aku saling bersalaman dengan sahabat-sahabatku ini, tapi tak apalah karena


memang kondisinya memungkinkan. Zulfa dan Ayu pun berpelukan. Tentu saja karena


Zulfa sudah lama sekali tak bertemu Ayu dan dia juga sudah lama tak pergi


kebutiknya karena sibuk mendampingiku.


            Kami pun saling bercerita, aku juga menceritakan saat-saat


terakhir Ayahku sebelum dia meninggal, kepada mereka bertiga. Hal itu membuat Dewi


dan Ayu menangis mendengarkannya, sedangkan manusia ajaib satu itu hanya


tertunduk menahan tangisnya sambil memegang bahuku, lalu meminta satu batang


rokokku.


“Aku lupa beli, aku minta


satulah,” pintanya padaku.


“Ga malu apa manager café


Minta-minta,” balasku sambil memberikan rokokku padanya.


“Yeee. Gak apa-apa kali Manager


minta sama pemiliknya,” kata Dewi yang justru sewot.

__ADS_1


“Pas itu, tumben kali kau


belain aku,” sambung Rojali.


“Gua kasaian sama lu,


dibully mulu,” balas Dewi sambil tertawa.


            Aku pun ikut tertawa, Sahabat-sahabatku memang sangat


pandai mengendalikan suasana.


“Yang lu maksud pemilik


café itu siapa Wi?” tanya Zulfa heran.


            Aku hanya terdiam melihat istriku. Aku baru ingat bahwa


aku belum pernah memberitahunya tentang café itu.


“Yaa suami lu lah Fa,


gimana sih itu aja gak tahu,” jawab Dewi santai.


            Aku langsung menatap sinis kepada dewi, lalu menatap Zulfa


yang mendekat kepadaku dengan tatapan mengancam.


“Apa lagi yang kau


sembunyikan dariku?” tanyanya kesal kepadaku.


“Hahaha Dewi, kau goblok


kali memang,” ucap Rojali tertawa.


            Dan Dewi hanya diam dengan heran.


“Ayolah Zulfa, jangan


marah padaku saat seperti ini,” kataku memohon kepadanya.


“Oke aku tak akan marah.


Tapi…


            Dia memotong perkataannya, aku pun heran dan menunggu


kelanjutannya.


“Setelah aku tau suamiku


seorang Pengusaha Ulung, aku mau kau membawa kami liburan setelah kita pulang


ke Jakarta,” sambungnya sambil tersenyum sinis.


“Nah, ide bagus itu, udah


lama aku ga liburan, di rodi terus aku sama dia ini” Rojali menimpali.


Aku


justru menatapnya jadi jengkel.


            Aku tentu saja tak keberatan jika berlibur bersama Zulfa,


namun tidak untuk mereka bertiga, dua orang ini pasti akan merusak suasana


liburan ku nanti, dan Ayu juga pasti memiliki karakter sifat yang sama dengan


mereka berdua.


“Zulf—”


“Aku akan marah jika kau


tak menurutinya,” potong Zulfa mengancamku sambil memalingkan wajahnya.


            Sungguh aku tak tahan jika melihat istriku bersikap


seperti ini, jadi ku ikuti saja maunya.


“Oke, baiklah,” jawabku


kesal.


“Hahaha gitu dong,”


balasnya sambil menyenggol badanku.


“Tapi Fa, kalau liburan,


kita pulang harus bawa Oleh-oleh kan, itu gimana tuh?” tanya dewi


            Aku tau maksud dari pertanyaannya itu.


“Ya, kenapa kita harus


mengeluarkan uang dihadapan pria kaya ini,” ucap Zulfa menggodaku.


“Asiiiiiikkk,” jawab


mereka bertiga kompak.


“Terus kita bertiga tidur


dimana dong malam ini?” tanya Ayu ikut-ikutan.


            Aku menatapnya tak menyangka, aku sudah memiliki firasat


bahwa dia pasti memiliki karakter yang sama dengan dua orang aneh ini.


“Lu ga liat? Halaman ini


kan luas, ntar gua kasih tiker deh,” jawabku santai.


“Nugyyyyyyy” tegur Zulfa


mengancam.


“Hehehe, iyaaa.”


            Mereka bertiga pun hanya menertawakan ku.


“Ntar lu bawa mereka ke


hotel aja, lu bawa uangnya kan?” Tanyaku pada Rojali


“Ya ku bawalah,” jawabnya


senang dengan senyumannya yang menjijikkan.


“Bayar pakai itu, dan


hentikan senyuman menjijikanmu itu,” balasku kesal.


            Dan mereka semua pun tertawa.


            Setelah kehadiran mereka berhasil mengobati sedikit lara


dihatiku, aku pun mulai bercerita bersama Rojali dan Dewi tentang bagaimana pekerjaan


disana, sedangkan Zulfa bercerita berdua dengan Ayu. Dan bidadariku sedang


kerepotan sendiri menjelaskan semua antara aku dan dia keapada sahabatnya itu.


            Setelah berbicara kami semua pun


makan siang dirumah ini meskipun sebenarnya hari sudah sore, lalu mereka kembali


kehotel mereka Masing-masing, begitu juga dengan sahabat-sahabatku yang ikut


pergi untuk mencari hotel tempat mereka menginap beberapa hari.

__ADS_1


__ADS_2