
Didalam mobil aku masih
memikirkan semua yang terjadi barusan, mereka sengaja mengerjaiku, mereka ingin
mengetesku, kenapa bisa aku tak sadar? Bahkan aku mengatakan sesuatu yang bodoh
dihadapan mereka. Apa itu tujuan mereka? Aku sangat kesal.
“Brengsek,” ucapku kesal.
Zulfa menatapku kaget.
“Kenapa?” tanyanya.
“Kau sengaja kan.”
“Sengaja apa?”
“Kau sengaja menyuruhku
untuk menjemputmu agar kalian bisa mempermainkan aku seperti tadi.”
“Aku benar-benar gak tahu
Gy.”
“Jangan sok berakting
didepanku.”
“Aku tidak sedang akting,
aku benar-benar gak tahu.”
“Sebenarnya apa maksdumu
menyuruh ku datang menjemputmu?” tanya ku tegas.
“Setiap hari minggu aku
tak boleh keluar rumah. Karena itu adalah waktu kami mengumpul sekali seminggu.
Aku menyuruhmu menjemputku karena aku yakin kau bisa membuat Ayahku
mengizinkanku pergi,” jawabnya pelan.
“Lalu kenapa kau memaksa
dirimu untuk ikut?” tanyaku lagi.
“Aku ingi—”
“Aku tahu, kau pasti
memanfaatkanku kan? Agar kau bisa keluar dari rumahmu. Lalu memintaku untuk mengantarkanmu
ditempat kekasihmu yang sedang menunggumu sekarang,” ucapku kesal kepadanya.
Aku benar-benar marah kali ini.
“Buk—”
“Sudah, jangan Membuang-buang
waktuku. Aku ingin segera ketempat Ibuku. biar ku katakan saja kau tak bisa
ikut karena harus bersama keluargamu,”
“Nug—”
“Tak usah kau berbicara,
sekarang katakan dimana kekasihmu menunggumu? Akan ku antar kau kesana,” aku
sangat emosi dan tak ingin membiarkan dia bicara.
Dia hanya diam tak menjawabku, kenapa dia malah menunduk.
Aku tak menyangka kali ini Benar-benar ada wanita yang mempermainkan aku, dan
wanita itu adalah dia yang ku cintai. Aku semakin emosi dibuatnya.
“Cepat katakan dimana dia
menu—”
Ucapanku terpotong ketika aku melihatnya sedang menatapku
dengan air mata yang mengalir dipipinya. Aku menghentikan mobilku dipinggir
jalan.
Kenapa dia malah menangis? Padahal aku yang harusnya
merasakan sakit saat ini. aku sudah dipermainkan oleh Papanya hanya untuk
menjadikanku sebagai alasan agar dia bisa pergi dengan kekasihnya itu.
“Sudah puas kau marah?”
tanyanya lirih.
“Kalau kau belum puas,
silahkan kau lanjutkan lagi Nugy. Biarkan aku terbiasa dengan sikapmu yang
seperti ini kepadaku,” sambungnya.
Aku menatapnya dengan perasaan yang membingungkan, aku
__ADS_1
memang sangat emosi kepadanya tapi ntah kenapa saat aku melihat dia meneteskan
air mata, hatiku menjadi perih.
“Aku Benar-benar tak
mengetahui Skenario Papaku Gy, sungguh,” ucapnya lirih.
“Dan aku tak pernah ada
niat untuk memanfaatkanmu,” sambungnya.
Hatiku mulai sakit melihatnya yang terus menangis.
“Aku menyuruhmu
menjemputku agar aku bisa keluar, aku hanya ingi—”
Air matanya semakin banyak keluar sampai dia tak bisa
melanjutkan ucapannya
“Aku hanya ingin keluar
bersamamu Gy,” ucapnya pelan. Tangisnya semakin pecah.
Seketika diriku hanya bisa mematung bagaikan tertancap dengan
gagahnya didasar bumi, aku tak sanggup menggerakkan diriku, aku benar-benar
terpatung mendegar ucapannya.
Apa yang sudah kulakukan terhadap dirinya? Aku sudah
membuatnya menagis hari ini. Aku tak sanggup melihatnya menangis seperti ini.
tanpa sadar aku memeluk tubuhnya dan menyandarkan wajahnya dibahuku.
“Maafkan aku,” ucapku
pelan.
“Jangan nangis,”
sambungku.
Tapi dia justru semakin menangis dipelukanku, aku
merasakan bajuku basah dibanjiri oleh air matanya. Hatiku Benar-benar sakit
sekali melihat dia seperti ini, tetapi aku hanya mampu membiarkan dia puas
dengan tangisannya dahulu. Aku hanya diam memeluknya tanpa bicara sepatah kata
pun.
Lama dia menangis dipelukanku, disetiap air mata nya yang
marah, dan sakit hati dalam diriku seakan menghilang, aku sungguh tak tahan
melihat dia seperti ini. Kini aku sadar bahwa aku memang tak bisa berhenti
untuk mencintainya.
Maafkan aku Zulfa, ucapku
dalam hati.
Sekian lama dia menangis dipelukanku, akhirnya kini dia
sudah berhenti dari tangisnya, aku mengelus kepalanya lembut, dan mencoba
mengangkat wajahnya pelan, aku menatap matanya halus.
“Kau sungguh ingin
bersamaku?” tanyaku pelan.
Dia hanya mengangguk pelan dengan matanya yang sedikit
membengkak karena menangis sangat lama.
“Kalau begitu berhentilah
menangis. Aku akan mengajakmu pergi bersamaku.”
Dia pun mengangguk lagi, dan mengusap matanya dengan
tisu.
“Kau sudah baikan?”
tanyaku memastikan.
“Sedikit,” jawabnya.
“Aku harus bagaimana?
Agar kau bisa Benar-benar membaik”
“Aku tak tahu, kau kan Laki-laki.
Seharusnya kau tahu bagaimana caranya meluluhkan hati wanita.”
Aku jadi terdiam bingung. Aku benar-benar tak tahu
caranya.
“Maaf, aku benar-benar
__ADS_1
tak tahu.”
Dia tak menjawab, dia justru memalingkan wajahnya dariku.
“Maafkan aku,” ucapku
lagi.
“Mau sampai kapan kau
akan terus meminta maaf?”
“Sampai kau Benar-benar
membaik.”
Dia terdiam lagi, aku juga ikut diam dan tak tahu harus
melakukan apa.
“Hahahah kamu memang pria
yang kaku Nugy”
Aku jadi semakin heran melihat dia yang tiba-tiba
tertawa.
Kenapa sekarang dia malah
tertawa, ucapku dalam hati.
“Sekarang aku percaya
bahwa kau memang tak terbiasa dengan wanita, hahahaha,” ucapnya
Aku masih terdiam menatapnya bingung, dan dia juga
menatapku.
“Yasudah, kurasa Ibumu
sudah menunggu kita dari tadi. Jalanlah.” sambungnya.
Ah mati aku, aku baru sadar, Ibu pasti sudah menunggu
kami dari tadi. Dia pasti akan banyak tanya nanti, aku harus mempersiapkan Jawaban-jawaban
atas apa yang akan Ibu tanyakan nanti. Aku melajukan mobilku dengan cepat.
“Hahahahah.”
“Kenapa kau tertawa?”
tanyaku.
“Aku selalu tertawa
melihatmu yang seperti ini, hahaha.”
“Tak ada yang lucu dariku.”
“Kau lucu sekali jika
sedang ketakutan karena Ibumu begini.”
“Aku bukan takut, aku
hanya tak mau dia menghabiskan hidupnya untuk memarahiku.”
“Hahaha banyak alasan.”
“Berhentilah
menertawakanku.”
“Jadi kau ingin melihatku
menangis?” tanyanya seakan mengancam.
“Ya-ya tidak” jawabku.
“Menurutmu, akan
bagaimana reaksi Ibumu setelah tahu kau membuatku menangis tadi?”
“Berhenti mengancamku Zulfa.”
“Hahahaha, aku tak
mengancam, tenang saja, aku akan memberitahu dia tentang ini.”
“Jangan.”
“Kau takut?”
“Kau Benar-benar sudah
pandai mempermainkanku,” jawabku kesal.
“Hahahaha.”
Dia pun tak berhenti-henti menggodaku, meskipun aku kesal
tetapi hatiku sudah legah melihat dia yang sudah tak bersedih lagi. semakin aku
melihat tawanya, semakin aku jadi ingin ikut tertawa.
Perjalanan kami menuju rumah Ibu diwarnai canda dan tawa,
__ADS_1
aku sudah tak melihat air matanya yang jatuh lagi sekarang. Bahkan dia tak Henti-hentinya
tertawa hingga kami sampai dirumah Ibu.