Belantara

Belantara
KEBENARAN #2


__ADS_3

Didalam mobil aku masih


memikirkan semua yang terjadi barusan, mereka sengaja mengerjaiku, mereka ingin


mengetesku, kenapa bisa aku tak sadar? Bahkan aku mengatakan sesuatu yang bodoh


dihadapan mereka. Apa itu tujuan mereka? Aku sangat kesal.


“Brengsek,” ucapku kesal.


            Zulfa menatapku kaget.


“Kenapa?” tanyanya.


“Kau sengaja kan.”


“Sengaja apa?”


“Kau sengaja menyuruhku


untuk menjemputmu agar kalian bisa mempermainkan aku seperti tadi.”


“Aku benar-benar gak tahu


Gy.”


“Jangan sok berakting


didepanku.”


“Aku tidak sedang akting,


aku benar-benar gak tahu.”


“Sebenarnya apa maksdumu


menyuruh ku datang menjemputmu?” tanya ku tegas.


“Setiap hari minggu aku


tak boleh keluar rumah. Karena itu adalah waktu kami mengumpul sekali seminggu.


Aku menyuruhmu menjemputku karena aku yakin kau bisa membuat Ayahku


mengizinkanku pergi,” jawabnya pelan.


“Lalu kenapa kau memaksa


dirimu untuk ikut?” tanyaku lagi.


“Aku ingi—”


“Aku tahu, kau pasti


memanfaatkanku kan? Agar kau bisa keluar dari rumahmu. Lalu memintaku untuk mengantarkanmu


ditempat kekasihmu yang sedang menunggumu sekarang,” ucapku kesal kepadanya.


Aku benar-benar marah kali ini.


“Buk—”


“Sudah, jangan Membuang-buang


waktuku. Aku ingin segera ketempat Ibuku. biar ku katakan saja kau tak bisa


ikut karena harus bersama keluargamu,”


“Nug—”


“Tak usah kau berbicara,


sekarang katakan dimana kekasihmu menunggumu? Akan ku antar kau kesana,” aku


sangat emosi dan tak ingin membiarkan dia bicara.


            Dia hanya diam tak menjawabku, kenapa dia malah menunduk.


Aku tak menyangka kali ini Benar-benar ada wanita yang mempermainkan aku, dan


wanita itu adalah dia yang ku cintai. Aku semakin emosi dibuatnya.


“Cepat katakan dimana dia


menu—”


            Ucapanku terpotong ketika aku melihatnya sedang menatapku


dengan air mata yang mengalir dipipinya. Aku menghentikan mobilku dipinggir


jalan.


            Kenapa dia malah menangis? Padahal aku yang harusnya


merasakan sakit saat ini. aku sudah dipermainkan oleh Papanya hanya untuk


menjadikanku sebagai alasan agar dia bisa pergi dengan kekasihnya itu.


“Sudah puas kau marah?”


tanyanya lirih.


“Kalau kau belum puas,


silahkan kau lanjutkan lagi Nugy. Biarkan aku terbiasa dengan sikapmu yang


seperti ini kepadaku,” sambungnya.


            Aku menatapnya dengan perasaan yang membingungkan, aku

__ADS_1


memang sangat emosi kepadanya tapi ntah kenapa saat aku melihat dia meneteskan


air mata, hatiku menjadi perih.


“Aku Benar-benar tak


mengetahui Skenario Papaku Gy, sungguh,” ucapnya lirih.


“Dan aku tak pernah ada


niat untuk memanfaatkanmu,” sambungnya.


            Hatiku mulai sakit melihatnya yang terus menangis.


“Aku menyuruhmu


menjemputku agar aku bisa keluar, aku hanya ingi—”


            Air matanya semakin banyak keluar sampai dia tak bisa


melanjutkan ucapannya


“Aku hanya ingin keluar


bersamamu Gy,” ucapnya pelan. Tangisnya semakin pecah.


            Seketika diriku hanya bisa mematung bagaikan tertancap dengan


gagahnya didasar bumi, aku tak sanggup menggerakkan diriku, aku benar-benar


terpatung mendegar ucapannya.


            Apa yang sudah kulakukan terhadap dirinya? Aku sudah


membuatnya menagis hari ini. Aku tak sanggup melihatnya menangis seperti ini.


tanpa sadar aku memeluk tubuhnya dan menyandarkan wajahnya dibahuku.


“Maafkan aku,” ucapku


pelan.


“Jangan nangis,”


sambungku.


            Tapi dia justru semakin menangis dipelukanku, aku


merasakan bajuku basah dibanjiri oleh air matanya. Hatiku Benar-benar sakit


sekali melihat dia seperti ini, tetapi aku hanya mampu membiarkan dia puas


dengan tangisannya dahulu. Aku hanya diam memeluknya tanpa bicara sepatah kata


pun.


            Lama dia menangis dipelukanku, disetiap air mata nya yang


marah, dan sakit hati dalam diriku seakan menghilang, aku sungguh tak tahan


melihat dia seperti ini. Kini aku sadar bahwa aku memang tak bisa berhenti


untuk mencintainya.


Maafkan aku Zulfa, ucapku


dalam hati.


            Sekian lama dia menangis dipelukanku, akhirnya kini dia


sudah berhenti dari tangisnya, aku mengelus kepalanya lembut, dan mencoba


mengangkat wajahnya pelan, aku menatap matanya halus.


“Kau sungguh ingin


bersamaku?” tanyaku pelan.


            Dia hanya mengangguk pelan dengan matanya yang sedikit


membengkak karena menangis sangat lama.


“Kalau begitu berhentilah


menangis. Aku akan mengajakmu pergi bersamaku.”


            Dia pun mengangguk lagi, dan mengusap matanya dengan


tisu.


“Kau sudah baikan?”


tanyaku memastikan.


“Sedikit,” jawabnya.


“Aku harus bagaimana?


Agar kau bisa Benar-benar membaik”


“Aku tak tahu, kau kan Laki-laki.


Seharusnya kau tahu bagaimana caranya meluluhkan hati wanita.”


            Aku jadi terdiam bingung. Aku benar-benar tak tahu


caranya.


“Maaf, aku benar-benar

__ADS_1


tak tahu.”


            Dia tak menjawab, dia justru memalingkan wajahnya dariku.


“Maafkan aku,” ucapku


lagi.


“Mau sampai kapan kau


akan terus meminta maaf?”


“Sampai kau Benar-benar


membaik.”


            Dia terdiam lagi, aku juga ikut diam dan tak tahu harus


melakukan apa.


“Hahahah kamu memang pria


yang kaku Nugy”


            Aku jadi semakin heran melihat dia yang tiba-tiba


tertawa.


Kenapa sekarang dia malah


tertawa, ucapku dalam hati.


“Sekarang aku percaya


bahwa kau memang tak terbiasa dengan wanita, hahahaha,” ucapnya


            Aku masih terdiam menatapnya bingung, dan dia juga


menatapku.


“Yasudah, kurasa Ibumu


sudah menunggu kita dari tadi. Jalanlah.” sambungnya.


            Ah mati aku, aku baru sadar, Ibu pasti sudah menunggu


kami dari tadi. Dia pasti akan banyak tanya nanti, aku harus mempersiapkan Jawaban-jawaban


atas apa yang akan Ibu tanyakan nanti. Aku melajukan mobilku dengan cepat.


“Hahahahah.”


“Kenapa kau tertawa?”


tanyaku.


“Aku selalu tertawa


melihatmu yang seperti ini, hahaha.”


“Tak ada yang lucu dariku.”


“Kau lucu sekali jika


sedang ketakutan karena Ibumu begini.”


“Aku bukan takut, aku


hanya tak mau dia menghabiskan hidupnya untuk memarahiku.”


“Hahaha banyak alasan.”


“Berhentilah


menertawakanku.”


“Jadi kau ingin melihatku


menangis?” tanyanya seakan mengancam.


“Ya-ya tidak” jawabku.


“Menurutmu, akan


bagaimana reaksi Ibumu setelah tahu kau membuatku menangis tadi?”


“Berhenti mengancamku Zulfa.”


“Hahahaha, aku tak


mengancam, tenang saja, aku akan memberitahu dia tentang ini.”


“Jangan.”


“Kau takut?”


“Kau Benar-benar sudah


pandai mempermainkanku,” jawabku kesal.


“Hahahaha.”


            Dia pun tak berhenti-henti menggodaku, meskipun aku kesal


tetapi hatiku sudah legah melihat dia yang sudah tak bersedih lagi. semakin aku


melihat tawanya, semakin aku jadi ingin ikut tertawa.


            Perjalanan kami menuju rumah Ibu diwarnai canda dan tawa,

__ADS_1


aku sudah tak melihat air matanya yang jatuh lagi sekarang. Bahkan dia tak Henti-hentinya


tertawa hingga kami sampai dirumah Ibu.


__ADS_2