Belantara

Belantara
KEBENARAN #1


__ADS_3

            Sudah berapa lama aku menjalani hidupku baru sekarang aku


merasa bosan atas apa yang sudah aku punya. Aku menjalani hidupku dengan rotasi


yang Begitu-begitu saja. Kekantor, ke café, dan pulang kerumahku, begitu terus.


Aku merasa bosan atas hidupku. Dan hari ini sebaiknya aku kerumah Ibu saja,


mungkin dengan bertemu dengannya aku bisa mendapatkan warna hidupku kembali.


Mumpung ini hari minggu juga, fikirku.


            Sebelum aku memutuskan untuk pergi kerumah Ibu, aku


memutuskan untuk menelfonnya terlebih dahulu. Aku mengambil ponselku lalu


menelfon Ibu, dan tentu saja tersambung.


“Assalamualaikum Bu.”


“Waalaikum salam, ada apa


nak?” tanya Ibu.


“Aku bosan, aku ingin


menemui Ibu dirumah. Ibu tidak kemana-mana kan”


“Ibu dirumah kok,


kemarilah. Dan bawa Zulfa kesini.”


            Aku terdiam heran, selalu saja Ibu ingin bertemu dengan


wanita itu, lagian ini hari minggu, dia pasti pergi bersama kekasihnya itu.


Jadi mana mungkin mau dia ikut bersamaku menemui Ibu.


“Nugy” panggil Ibu lagi.


“I-iya bu.”


“Kenapa kau malah diam.”


“Ti-tidak apa-apa bu.”


“Kenapa? Kau tak ingin


membawa dia kesini?”


            Aku tak mungkin mengatakan kepada Ibu bahwa dia sudah


memiliki kekasih, Ibu bisa merasa sedih nanti. Tapi aku juga tak tahu harus


bagaimana dalam situasi ini.


“Dia pasti sibuk dengan


keluarganya Bu, atau mungkin dia ingin istriahat dirumahnya. Jadi aku tak tega


mengganggunya.”


“Coba kau pastikan dulu,


siapa tau dia mau nak,” suruh Ibu kepadaku.


            Ibu selalu saja memaksaku, dan aku tak mungkin bisa


menolak Ibuku ini.


“Ya sudah aku hubungi dia


dulu.”


“Iyaa, tetaplah kemari


jika dia tak bisa ikut.”


“Iya buk, Assalamualaikum.”


“waalaikumsalam.”


            Lalu aku mematikan ponselku.


            Aku masih memegang ponselku, aku sangat ragu untuk


menelfon Zulfa. Tapi tak mungkin berbohong kepada Ibu jika aku kesana tidak


membawa Zulfa karena dia tak bisa ikut. Ibu pasti sangat mudah mengetahui aku


yang sedang berbohong, dan tentu dia akan marah lagi kepadaku. Mau tak mau aku


pun memkasakan diriku untuk menelfon Zulfa. Dan ternyata langsung terhubung.


“Hallo,” katanya


disebarang sana.


Kenapa


dia selalu saja dengan cepat mengangkat telfonku, ucapku dalam hati.


“Hallo Nugy ada apa?”


panggilnya lagi.


“O-oh tidak, tidak ada Apa-apa,”


jawabku


“Lalu kenapa kau


menlefonku?”


            Astaga, aku selalu saja salah tingkah dibuat wanita ini.


aku menghirup nafasku dengan dalam lalu ku hembuskan.


“Kau sedang sibuk hari


ini?” tanyaku


“Tidak, aku dirumah saja”


jawabnya.


“Apa kau mau ikut


bersamaku?” tanyaku lagi.


“Kau ingin mengajakku


kemana? Balasnya.


            Astaga aku salah ngomong lagi.


“Begini, aku ingin


kerumah Ibuku, tetapi dia ingin aku mengajakmu untuk ikut kesana.”


“Ohh jika aku tak bisa


bagaimana?”


“Ga-gak Apa-apa, mungkin


lain kali saja.”


“Oke makasih Zulfa,”


sambungku lalu mematikan ponselku.


            Aku menjadi merasa sangat malu, instingku sudah mengatakan


bahwa dia pasti tak akan mau pergi bersamaku, dia dirumah mungkin sedang


menunggu kekasihnya itu untuk datang kerumahnya.


            Tapi ya sudahlah, yang penting aku sudah mengajak dia,


dan dianya yang tak bisa, aku jadi tak perlu berbohong kepada Ibuku.


            Aku pun memakai kemejaku, aku sudah mandi tadi pagi


setelah aku sarapan, dan sekarang masih jam 9 pagi, sebaiknya aku segera cepat


untuk pergi, agar tak kemalaman pulangnya.


“Aku ke rumah Ibu dulu


mbok,” ucapku izin kepada si Mbok yang sedang mencuci.


“Iya den Hati-hati,”


balasnya.


            Aku berjalan keluar rumah menuju mobilku.


“Kang dayat,” panggilku


ke Security rumahku.


“Iya den.”


“Udah dipanasin belum nih,”


ucapku sambil menunjuk mobilku.


“Udah kok den.”


“Oke makasih yak.”


“sama-sama den.”


Lalu


aku masuk ke mobilku, ketika aku menghidupkan mobilku. Ponselku ku boerdering seperti


ada pesan whatsapp yang masuk. Aku meliha ponselku dan ada pesan masukdari Zulfa.


            -jemputlah aku kerumah, aku akan ikut-


            Aku senang bukan main membaca pesan ini, aku langsung


saja bergerak untuk menjemput dia.


Eh tapi dimana alamatnya?


Ucapku dalam hati.


            Aku membuka ponselku lagi, dan melihat pesan itu, ternyata

__ADS_1


dia juga mengirim share location kepadaku. Aku membukanya dan melihat lokasi


rumahnya yang ternyata tak jauh dari rumahku. Masih satu khawasan.


Pantas saja aku bertemu


dengan dia dihalte waktu itu, ucapku dalam hati.


            Ah sudahlah, aku langsung mengemudikan mobilku menuju


rumahnya dengan perasaan yang senang.



Kayanya ini nih rumahnya,


ucapku kepada diriku sendiri


            Aku berjalan menekan bel rumah yang sedang ada dihadapanku


ini, Rumah besar seperti rumahku. Tak lama aku memencet bel rumah itu Tiba-tiba


seorang Security keluar dari balik pagar.


“Ada mas?” tanyanya


padaku.


“Bener gak nih lokasi


alamatnya?” tanyaku sampil menyerahkan ponselku kepadanya.


            Dia pun melihatnya dengan teliti. Lalu melihat kearahku.


“Mas ini siapa?” Tanyanya


lagi.


“Saya temannya Zulfa, dia


yang mengirim alamat ini,” jawabku santai.


“ooh kamu Nugy ya?”


“I-iya.”


“Silahkan masuk, sudah


ditunggu didalam.”


“O-oh oke makasih Pak,”


balasku.


lalu


pergi masuk kedalam rumah ini. siapa yang menungguku? heranku.


Aku


melihat pintu rumah itu terbuka, tapi aku sangat segan jika harus langsung


masuk kedalam.


“Assalamualaikum.”


“Waalaikumsalam,” jawab


penghuni rumah itu dari dalam.


            Lalu salah satu wanita keluar dari rumah itu, aku tak


mengenalnya.


“Maaf, kamu siapa?”


tanyanya sambil tersenyum kepadaku.


“Saya Nugy, temennya Zulfa,”


jawabku sopan.


“Siapa?” tanya seseorang


yang menyusul wanita tadi dari belakang.


            Aku melihatnya biasa saja, aku tak merasa takut sama sekali.


aku yakin pria ini adalah Ayahnya Zulfa dan wanita yang dihadapanku ini adalah


Ibunya.


“Ini!!! katanya dia


temennya anakmu,” jawab wanita itu kepada suaminya.


“Ada apa mencari anakku?”


tanyanya tegas.


            Aku tentu heran, bukannya tadi dia menyuruhku datang


untuk menjemputnya, sekarang kok malah aku seperti di intimidasi begini, tanyaku


dalam hati.


“Saya ingin kerumah Ibuku,


dan aku ingin mengajak anak Om untuk ikut. Makanya aku kesini,” jawab ku


“Berani sekali kau


mengajak anakku, kau memaksa anakku kan dengan alasan menemui Ibumu,” ucapnya


seperti ingin menakutiku.


            Aku benar-benar merasa sedikit tersinggung atas


ucapannya, aku tak pernah merendahkan diriku untuk memaksa wanita manapun untuk


ikut bersamaku.


“Aku tak memaksanya, aku


hanya menawarkan saja, dan dia bersedia ikut, lalu menyuruhku untuk


menjemputnya kerumah…”


“Tapi sepertinya om


keberatan. dan saya sedikit tersinggung mendengar ucapan Om. saya tak pernah memaksa


wanita untuk ikut dengan saya…”


“Kalau bergitu saya


permisi Om, Tante. Maaf mengganggu,” ucapku santai lalu pergi meninggalkan


mereka.


“Hey tunggu,” panggil


pria tadi kepadaku.


            Aku hanya menoleh kearah mereka.


“Masuklah,” ajaknya.


            Dengan perasaan heran aku pun menurutinya untuk masuk.


Aku mengikuti mereka berdua dari belakang ke ararh kemeja makan rumah ini. Dan


hal ini membuatku semakin heran.


“Duduklah,” suruhnya.


            Aku pun menyalam tangan kedua orang itu lalu duduk


dihadapan mereka.


“Kenapa kau baru


menyalamku?” tanyanya tegas.


“Aku hanya menyalam orang


yang tidak menaruh perasaan buruk terhadapku,” jawabku datar.


“Meskipun lebih tua


darimu?”


            Aku hanya mengangguk dan tak menjawab.


“Panggil Zulfa kesini,”


ucapnya kepada istrinya.


            Lalu Istrinya pergi untuk memanggil Zulfa, dan tak lama


dia sudah bersama anaknya itu untuk datang kearah kami. Dia duduk disebelahku.


Jadi posisi kami sekarang tepat dihadapan kedua orang tuanya ini. Aku melihat Zulfa


sudah memakai pakaian rapih, tetapi aku memerhatikan matanya seperti habis


menangis. Aku mulai sedikit bisa memahami atas apa yang terjadi saat ini.


Sepertinya mereka ingin


memarahi kami, ucapku dalam hati.


“Benar. Dia ini temanmu?”


Tanya pria itu kepada Zulfa.


“I-iya Pa” jawab Zulfa.


“SEJAK KAPAN KAU BERANI


MENYURUH LELAKI DATANG KERUMAH INI?” tanyanya membentak Zulfa.


            Sontak Aku langsung terkejut mendengarnya, aku melihat Zulfa


yang ada disebelahku, dia sangat ketakutan. Aku sungguh tak tega melihatnya


dibentak seperti itu.


“Maaf Pa,” jawabnya


lirih.

__ADS_1


            Dia sepertinya ingin menangis. Tetapi aku tak tahu harus


bagaimana. Aku juga tak mampu memahami semua ini. Kalau memang Papanya ini tak


mengizinkan lelaki untuk datang kesini. Lalu kenapa dia menyuruhku datang? lalu


bagaimana dia pergi dengan kekasihnya selama ini? apakah Papanya tak tahu kalau


dia pacaran? Ah aku bisa gila memikirkan semua ini.


“AKU TAK INGIN MENDENGARKAN


MAAFMU, KATAKAN ALASANMU,” bentaknya lagi kepada anaknya sendiri.


            Aku masih diam dan melihat Zulfa yang hanya menunduk


ketakutan. Ntah kenapa hatiku terasa sakit ketika melihat dia diperlakukan


seperti ini. meskipun dia ini Papanya, tapi tak seharusnya dia memperlakukan


wanita seperti ini, apa lagi ini anaknya sendiri. Aku mulai tak tahan melihat


ini, tapi aku masih berusaha menahan diriku untuk tetap tenang.


“Aku bosan dirumah, aku


ingin pergi bermain bersama dia,” ucap Zulfa pelan.


“BOSAN?”


“BERANI KAU MENGATAKAN


ITU DIHADAPANKU?”


“KALAU BEGITU ANGKAT KAKI


MU DARI RUMAH INI,” ucapnya membentak anaknya Bertubi-tubi.


            Aku jadi semakin tak tahan melihat ini. emosi ku mulai memuncak.


“Sudah Pa, kau terlalu


berlebihan dia anak kita Satu-satunya,” ucap wanita itu menenangkan suaminya.


“AKU TAK PEDULI!!!”


“AKU TAK BUTUH ANAK


SEPERTI INI.”


“DASAR ANAK KURANG AJ—”


            Ucapannya terpotong saat aku menahan tangannya yang


hendak menampar zulfa. Aku sudah Benar-benar tak tahan melihatnya dimarahi


seperti ini.


“Ini sudah berlebihan,”


ucapku pelan sambil menatap pria ini tajam.


“LALU? KAU INGIN


MENGHAJARKU?” tanyanya menantangku.


“Aku tak punya alasan


untuk menghajarmu,” jawabku tegas.


“LALU KENAPA KAU


MENAHANKU?”


“Aku tak tahan melihat


wanita diperlakukan seperti ini dihadapanku.”


“APA URUSANMU? DIA ANAKKU.”


“Aku tak peduli jika


memang bukan urusanku.”


“KAU SIAPA BERANI-BERANI


MELARANGKU UNTUK MENGHAJARNYA.”


“lalu? aku harus menjadi


siapa untuknya, agar kau tak melakukan itu terhadapnya,” ucapku mulai emosi.


“Aku Papanya, saat ini


dia belum menikah, jadi tak ada satu pun yang boleh melarang atas perbuatanku


ini terhadapnya kecuali dia sudah memiliki Suami, maka Suaminya itu yang boleh


melarangku.”


            Aku hanya terdiam mendengar perkataannya. Aku tak tahu Zulfa


suka atau tidak, tapi aku tak peduli, aku hanya ingin menyelamatkan dia dari


pria yang tak punya hati ini. aku tak peduli dengan kekasihnya itu, aku akan


menikahinya jika memang itu bisa menyelamatkannya.


“KAU TAHU?” tanyanya


dengan mulai membentakku lagi.


“JIKA MEMANG ITU YANG


BISA MEMBUAT DIA BEBAS DARI AMARHMU. MAKA AKU AKAN MENIKAHINYA. SEKARANG JUGA.”


balasku tegas dengan nada ku yang sudah mulai membesar dan mataku menatap tajam


kepada pria ini.


            Hatiku benar-benar panas, aku bisa-bisa mengahajar pria


ini jika terus begini.


            Aku tak peduli dengan apa yang ku lakukan, aku hanya


ingin menyelamatkan dia dari amarah Papanya ini. Aku masih menatapnya, aku


melihat matanya yang seolah tak menyangka atas apa yang aku ucapkan, begitu


juga istrinya.


            Yah aku sangat sadar, wajar saja mereka kaget, aku sudah


mengatakan sesuatu hal yang nekat dihadapan mereka. Tapi aku tak pernah gentar


dengan perkataanku.


            Agak lama kami terdiam hening, mereka menatapku heran,


lalu aku pun menjadi sedikit ragu atas ucapanku tadi. Tiba-tiba pria yang tadi


Meledak-ledak dengan amarahnya kini malah tertawa.


“hahahahah


HAHAHAHHA.HAHAHHAA.”


            Aku pun hanya bisa bingung melihatnya dia yang tertawa


sendiri, dan bukan hanya aku saja, tetapi anak dan istrinya juga seperti itu.


“Kenapa? Apa yang


sebenarnya terjadi?” tanya ku heran kepada pria itu.


“Hahahaha sudahlah tak


apa. Pergilah bawa anakku,” jawabnya justru menyuruh anakku pergi membawah


anaknya.


“HAH?!” aku dan Zulfa


kaget dan heran.


“Kali ini kamu bener-benar


berlebihan aktingnya Mas,” ucap istrinya.


“HAHAHAHA, pria ini


sangat menarik, jadi aku sengaja sedikit berlebihan,” balasnya.


“Tega banget sih Pa, aku Bener-bener


gak tahu kalau Papa lagi akting. Sumpah aku takut banget Pa,” rengek Zulfa


sambil memukul lengan Papanya.


            Aku masih berusaha untuk mencerna semua ini didalam


otakku. Aku masih bingung dengan kejadian barusan, kejadian dia hanya akting,


dan apa tujuannya aku pun tak tahu. Bahkan Zulfa pun tak mengetahuinya. Ahh


sudahlah aku jadi makin tak bisa berfikir. Aku jadi kesal. Diriku seperti


sedang dipermainkan oleh keluarga ini.


“Sudah berangkatlah, kau


ingin membawa anakku ke rumah Ibumu kan?” tanya pria itu.


            Aku hanya mengangguk tak menjawab.


“Pergilah nanti kalian


kemalaman,” suruhnya.


“Ya sudah kami pergi dulu


Pa, Ma,” ucap Zulfa sambil menyalam kedua Orangtuanya.


“Ayo,” ajak Zulfa


kepadaku.


“i—ya.”


            Aku pun pergi tanpa berpamitan kepada kedua Orangtuanya,

__ADS_1


aku masih sangat bingung, kami berdua pun masuk kedalam mobil, lalu pergi dari


rumah itu.


__ADS_2