
Sudah berapa lama aku menjalani hidupku baru sekarang aku
merasa bosan atas apa yang sudah aku punya. Aku menjalani hidupku dengan rotasi
yang Begitu-begitu saja. Kekantor, ke café, dan pulang kerumahku, begitu terus.
Aku merasa bosan atas hidupku. Dan hari ini sebaiknya aku kerumah Ibu saja,
mungkin dengan bertemu dengannya aku bisa mendapatkan warna hidupku kembali.
Mumpung ini hari minggu juga, fikirku.
Sebelum aku memutuskan untuk pergi kerumah Ibu, aku
memutuskan untuk menelfonnya terlebih dahulu. Aku mengambil ponselku lalu
menelfon Ibu, dan tentu saja tersambung.
“Assalamualaikum Bu.”
“Waalaikum salam, ada apa
nak?” tanya Ibu.
“Aku bosan, aku ingin
menemui Ibu dirumah. Ibu tidak kemana-mana kan”
“Ibu dirumah kok,
kemarilah. Dan bawa Zulfa kesini.”
Aku terdiam heran, selalu saja Ibu ingin bertemu dengan
wanita itu, lagian ini hari minggu, dia pasti pergi bersama kekasihnya itu.
Jadi mana mungkin mau dia ikut bersamaku menemui Ibu.
“Nugy” panggil Ibu lagi.
“I-iya bu.”
“Kenapa kau malah diam.”
“Ti-tidak apa-apa bu.”
“Kenapa? Kau tak ingin
membawa dia kesini?”
Aku tak mungkin mengatakan kepada Ibu bahwa dia sudah
memiliki kekasih, Ibu bisa merasa sedih nanti. Tapi aku juga tak tahu harus
bagaimana dalam situasi ini.
“Dia pasti sibuk dengan
keluarganya Bu, atau mungkin dia ingin istriahat dirumahnya. Jadi aku tak tega
mengganggunya.”
“Coba kau pastikan dulu,
siapa tau dia mau nak,” suruh Ibu kepadaku.
Ibu selalu saja memaksaku, dan aku tak mungkin bisa
menolak Ibuku ini.
“Ya sudah aku hubungi dia
dulu.”
“Iyaa, tetaplah kemari
jika dia tak bisa ikut.”
“Iya buk, Assalamualaikum.”
“waalaikumsalam.”
Lalu aku mematikan ponselku.
Aku masih memegang ponselku, aku sangat ragu untuk
menelfon Zulfa. Tapi tak mungkin berbohong kepada Ibu jika aku kesana tidak
membawa Zulfa karena dia tak bisa ikut. Ibu pasti sangat mudah mengetahui aku
yang sedang berbohong, dan tentu dia akan marah lagi kepadaku. Mau tak mau aku
pun memkasakan diriku untuk menelfon Zulfa. Dan ternyata langsung terhubung.
“Hallo,” katanya
disebarang sana.
Kenapa
dia selalu saja dengan cepat mengangkat telfonku, ucapku dalam hati.
“Hallo Nugy ada apa?”
panggilnya lagi.
“O-oh tidak, tidak ada Apa-apa,”
jawabku
“Lalu kenapa kau
menlefonku?”
Astaga, aku selalu saja salah tingkah dibuat wanita ini.
aku menghirup nafasku dengan dalam lalu ku hembuskan.
“Kau sedang sibuk hari
ini?” tanyaku
“Tidak, aku dirumah saja”
jawabnya.
“Apa kau mau ikut
bersamaku?” tanyaku lagi.
“Kau ingin mengajakku
kemana? Balasnya.
Astaga aku salah ngomong lagi.
“Begini, aku ingin
kerumah Ibuku, tetapi dia ingin aku mengajakmu untuk ikut kesana.”
“Ohh jika aku tak bisa
bagaimana?”
“Ga-gak Apa-apa, mungkin
lain kali saja.”
“Oke makasih Zulfa,”
sambungku lalu mematikan ponselku.
Aku menjadi merasa sangat malu, instingku sudah mengatakan
bahwa dia pasti tak akan mau pergi bersamaku, dia dirumah mungkin sedang
menunggu kekasihnya itu untuk datang kerumahnya.
Tapi ya sudahlah, yang penting aku sudah mengajak dia,
dan dianya yang tak bisa, aku jadi tak perlu berbohong kepada Ibuku.
Aku pun memakai kemejaku, aku sudah mandi tadi pagi
setelah aku sarapan, dan sekarang masih jam 9 pagi, sebaiknya aku segera cepat
untuk pergi, agar tak kemalaman pulangnya.
“Aku ke rumah Ibu dulu
mbok,” ucapku izin kepada si Mbok yang sedang mencuci.
“Iya den Hati-hati,”
balasnya.
Aku berjalan keluar rumah menuju mobilku.
“Kang dayat,” panggilku
ke Security rumahku.
“Iya den.”
“Udah dipanasin belum nih,”
ucapku sambil menunjuk mobilku.
“Udah kok den.”
“Oke makasih yak.”
“sama-sama den.”
Lalu
aku masuk ke mobilku, ketika aku menghidupkan mobilku. Ponselku ku boerdering seperti
ada pesan whatsapp yang masuk. Aku meliha ponselku dan ada pesan masukdari Zulfa.
-jemputlah aku kerumah, aku akan ikut-
Aku senang bukan main membaca pesan ini, aku langsung
saja bergerak untuk menjemput dia.
Eh tapi dimana alamatnya?
Ucapku dalam hati.
Aku membuka ponselku lagi, dan melihat pesan itu, ternyata
__ADS_1
dia juga mengirim share location kepadaku. Aku membukanya dan melihat lokasi
rumahnya yang ternyata tak jauh dari rumahku. Masih satu khawasan.
Pantas saja aku bertemu
dengan dia dihalte waktu itu, ucapku dalam hati.
Ah sudahlah, aku langsung mengemudikan mobilku menuju
rumahnya dengan perasaan yang senang.
…
Kayanya ini nih rumahnya,
ucapku kepada diriku sendiri
Aku berjalan menekan bel rumah yang sedang ada dihadapanku
ini, Rumah besar seperti rumahku. Tak lama aku memencet bel rumah itu Tiba-tiba
seorang Security keluar dari balik pagar.
“Ada mas?” tanyanya
padaku.
“Bener gak nih lokasi
alamatnya?” tanyaku sampil menyerahkan ponselku kepadanya.
Dia pun melihatnya dengan teliti. Lalu melihat kearahku.
“Mas ini siapa?” Tanyanya
lagi.
“Saya temannya Zulfa, dia
yang mengirim alamat ini,” jawabku santai.
“ooh kamu Nugy ya?”
“I-iya.”
“Silahkan masuk, sudah
ditunggu didalam.”
“O-oh oke makasih Pak,”
balasku.
lalu
pergi masuk kedalam rumah ini. siapa yang menungguku? heranku.
Aku
melihat pintu rumah itu terbuka, tapi aku sangat segan jika harus langsung
masuk kedalam.
“Assalamualaikum.”
“Waalaikumsalam,” jawab
penghuni rumah itu dari dalam.
Lalu salah satu wanita keluar dari rumah itu, aku tak
mengenalnya.
“Maaf, kamu siapa?”
tanyanya sambil tersenyum kepadaku.
“Saya Nugy, temennya Zulfa,”
jawabku sopan.
“Siapa?” tanya seseorang
yang menyusul wanita tadi dari belakang.
Aku melihatnya biasa saja, aku tak merasa takut sama sekali.
aku yakin pria ini adalah Ayahnya Zulfa dan wanita yang dihadapanku ini adalah
Ibunya.
“Ini!!! katanya dia
temennya anakmu,” jawab wanita itu kepada suaminya.
“Ada apa mencari anakku?”
tanyanya tegas.
Aku tentu heran, bukannya tadi dia menyuruhku datang
untuk menjemputnya, sekarang kok malah aku seperti di intimidasi begini, tanyaku
dalam hati.
“Saya ingin kerumah Ibuku,
dan aku ingin mengajak anak Om untuk ikut. Makanya aku kesini,” jawab ku
“Berani sekali kau
mengajak anakku, kau memaksa anakku kan dengan alasan menemui Ibumu,” ucapnya
seperti ingin menakutiku.
Aku benar-benar merasa sedikit tersinggung atas
ucapannya, aku tak pernah merendahkan diriku untuk memaksa wanita manapun untuk
ikut bersamaku.
“Aku tak memaksanya, aku
hanya menawarkan saja, dan dia bersedia ikut, lalu menyuruhku untuk
menjemputnya kerumah…”
“Tapi sepertinya om
keberatan. dan saya sedikit tersinggung mendengar ucapan Om. saya tak pernah memaksa
wanita untuk ikut dengan saya…”
“Kalau bergitu saya
permisi Om, Tante. Maaf mengganggu,” ucapku santai lalu pergi meninggalkan
mereka.
“Hey tunggu,” panggil
pria tadi kepadaku.
Aku hanya menoleh kearah mereka.
“Masuklah,” ajaknya.
Dengan perasaan heran aku pun menurutinya untuk masuk.
Aku mengikuti mereka berdua dari belakang ke ararh kemeja makan rumah ini. Dan
hal ini membuatku semakin heran.
“Duduklah,” suruhnya.
Aku pun menyalam tangan kedua orang itu lalu duduk
dihadapan mereka.
“Kenapa kau baru
menyalamku?” tanyanya tegas.
“Aku hanya menyalam orang
yang tidak menaruh perasaan buruk terhadapku,” jawabku datar.
“Meskipun lebih tua
darimu?”
Aku hanya mengangguk dan tak menjawab.
“Panggil Zulfa kesini,”
ucapnya kepada istrinya.
Lalu Istrinya pergi untuk memanggil Zulfa, dan tak lama
dia sudah bersama anaknya itu untuk datang kearah kami. Dia duduk disebelahku.
Jadi posisi kami sekarang tepat dihadapan kedua orang tuanya ini. Aku melihat Zulfa
sudah memakai pakaian rapih, tetapi aku memerhatikan matanya seperti habis
menangis. Aku mulai sedikit bisa memahami atas apa yang terjadi saat ini.
Sepertinya mereka ingin
memarahi kami, ucapku dalam hati.
“Benar. Dia ini temanmu?”
Tanya pria itu kepada Zulfa.
“I-iya Pa” jawab Zulfa.
“SEJAK KAPAN KAU BERANI
MENYURUH LELAKI DATANG KERUMAH INI?” tanyanya membentak Zulfa.
Sontak Aku langsung terkejut mendengarnya, aku melihat Zulfa
yang ada disebelahku, dia sangat ketakutan. Aku sungguh tak tega melihatnya
dibentak seperti itu.
“Maaf Pa,” jawabnya
lirih.
__ADS_1
Dia sepertinya ingin menangis. Tetapi aku tak tahu harus
bagaimana. Aku juga tak mampu memahami semua ini. Kalau memang Papanya ini tak
mengizinkan lelaki untuk datang kesini. Lalu kenapa dia menyuruhku datang? lalu
bagaimana dia pergi dengan kekasihnya selama ini? apakah Papanya tak tahu kalau
dia pacaran? Ah aku bisa gila memikirkan semua ini.
“AKU TAK INGIN MENDENGARKAN
MAAFMU, KATAKAN ALASANMU,” bentaknya lagi kepada anaknya sendiri.
Aku masih diam dan melihat Zulfa yang hanya menunduk
ketakutan. Ntah kenapa hatiku terasa sakit ketika melihat dia diperlakukan
seperti ini. meskipun dia ini Papanya, tapi tak seharusnya dia memperlakukan
wanita seperti ini, apa lagi ini anaknya sendiri. Aku mulai tak tahan melihat
ini, tapi aku masih berusaha menahan diriku untuk tetap tenang.
“Aku bosan dirumah, aku
ingin pergi bermain bersama dia,” ucap Zulfa pelan.
“BOSAN?”
“BERANI KAU MENGATAKAN
ITU DIHADAPANKU?”
“KALAU BEGITU ANGKAT KAKI
MU DARI RUMAH INI,” ucapnya membentak anaknya Bertubi-tubi.
Aku jadi semakin tak tahan melihat ini. emosi ku mulai memuncak.
“Sudah Pa, kau terlalu
berlebihan dia anak kita Satu-satunya,” ucap wanita itu menenangkan suaminya.
“AKU TAK PEDULI!!!”
“AKU TAK BUTUH ANAK
SEPERTI INI.”
“DASAR ANAK KURANG AJ—”
Ucapannya terpotong saat aku menahan tangannya yang
hendak menampar zulfa. Aku sudah Benar-benar tak tahan melihatnya dimarahi
seperti ini.
“Ini sudah berlebihan,”
ucapku pelan sambil menatap pria ini tajam.
“LALU? KAU INGIN
MENGHAJARKU?” tanyanya menantangku.
“Aku tak punya alasan
untuk menghajarmu,” jawabku tegas.
“LALU KENAPA KAU
MENAHANKU?”
“Aku tak tahan melihat
wanita diperlakukan seperti ini dihadapanku.”
“APA URUSANMU? DIA ANAKKU.”
“Aku tak peduli jika
memang bukan urusanku.”
“KAU SIAPA BERANI-BERANI
MELARANGKU UNTUK MENGHAJARNYA.”
“lalu? aku harus menjadi
siapa untuknya, agar kau tak melakukan itu terhadapnya,” ucapku mulai emosi.
“Aku Papanya, saat ini
dia belum menikah, jadi tak ada satu pun yang boleh melarang atas perbuatanku
ini terhadapnya kecuali dia sudah memiliki Suami, maka Suaminya itu yang boleh
melarangku.”
Aku hanya terdiam mendengar perkataannya. Aku tak tahu Zulfa
suka atau tidak, tapi aku tak peduli, aku hanya ingin menyelamatkan dia dari
pria yang tak punya hati ini. aku tak peduli dengan kekasihnya itu, aku akan
menikahinya jika memang itu bisa menyelamatkannya.
“KAU TAHU?” tanyanya
dengan mulai membentakku lagi.
“JIKA MEMANG ITU YANG
BISA MEMBUAT DIA BEBAS DARI AMARHMU. MAKA AKU AKAN MENIKAHINYA. SEKARANG JUGA.”
balasku tegas dengan nada ku yang sudah mulai membesar dan mataku menatap tajam
kepada pria ini.
Hatiku benar-benar panas, aku bisa-bisa mengahajar pria
ini jika terus begini.
Aku tak peduli dengan apa yang ku lakukan, aku hanya
ingin menyelamatkan dia dari amarah Papanya ini. Aku masih menatapnya, aku
melihat matanya yang seolah tak menyangka atas apa yang aku ucapkan, begitu
juga istrinya.
Yah aku sangat sadar, wajar saja mereka kaget, aku sudah
mengatakan sesuatu hal yang nekat dihadapan mereka. Tapi aku tak pernah gentar
dengan perkataanku.
Agak lama kami terdiam hening, mereka menatapku heran,
lalu aku pun menjadi sedikit ragu atas ucapanku tadi. Tiba-tiba pria yang tadi
Meledak-ledak dengan amarahnya kini malah tertawa.
“hahahahah
HAHAHAHHA.HAHAHHAA.”
Aku pun hanya bisa bingung melihatnya dia yang tertawa
sendiri, dan bukan hanya aku saja, tetapi anak dan istrinya juga seperti itu.
“Kenapa? Apa yang
sebenarnya terjadi?” tanya ku heran kepada pria itu.
“Hahahaha sudahlah tak
apa. Pergilah bawa anakku,” jawabnya justru menyuruh anakku pergi membawah
anaknya.
“HAH?!” aku dan Zulfa
kaget dan heran.
“Kali ini kamu bener-benar
berlebihan aktingnya Mas,” ucap istrinya.
“HAHAHAHA, pria ini
sangat menarik, jadi aku sengaja sedikit berlebihan,” balasnya.
“Tega banget sih Pa, aku Bener-bener
gak tahu kalau Papa lagi akting. Sumpah aku takut banget Pa,” rengek Zulfa
sambil memukul lengan Papanya.
Aku masih berusaha untuk mencerna semua ini didalam
otakku. Aku masih bingung dengan kejadian barusan, kejadian dia hanya akting,
dan apa tujuannya aku pun tak tahu. Bahkan Zulfa pun tak mengetahuinya. Ahh
sudahlah aku jadi makin tak bisa berfikir. Aku jadi kesal. Diriku seperti
sedang dipermainkan oleh keluarga ini.
“Sudah berangkatlah, kau
ingin membawa anakku ke rumah Ibumu kan?” tanya pria itu.
Aku hanya mengangguk tak menjawab.
“Pergilah nanti kalian
kemalaman,” suruhnya.
“Ya sudah kami pergi dulu
Pa, Ma,” ucap Zulfa sambil menyalam kedua Orangtuanya.
“Ayo,” ajak Zulfa
kepadaku.
“i—ya.”
Aku pun pergi tanpa berpamitan kepada kedua Orangtuanya,
__ADS_1
aku masih sangat bingung, kami berdua pun masuk kedalam mobil, lalu pergi dari
rumah itu.