Belantara

Belantara
Makan Malam Pertama


__ADS_3

Aku dan Zlufa sedang


dalam perjalanan menuju café, untuk memenuhi janji untuk ku kepada Drian, dia


ingin memamerkan wanita barunya kepadaku, lebih tepatnya adalah selir barunya,


karena sebenarnya dia sudah menikah dengan seorang wanita yang menurutku sangat


cantik. Tapi memang sudah kebiasaan dia yang seperti itu.


“Sebenarnya kita mau


ngapain Gy?” tanya Zulfa.


“Kita mau dinner bersama


teman bisnisku.”


“Siapa?”


“Drian.”


“Kau bilang sedang kesal


dengannya, kenapa malah diner dengannya sekarang?”


“Aku sudah berjanji


dengannya. Dan lagian dia sudah meminjamkan pesawatnya kemarin kepada kita.


Jadi biarlah ku turuti kemauannya, lagian hanya untuk makan,” jelasku


kepadanya.


            Istriku pun mengangguk paham.


            Drian kampret memang selalu saja memohon kepadaku untuk


semua hal, hanya untuk memamerkan selir-selir barunya kepadaku. Dia bilang


untuk memanas-manasiku yang tidak pernah memiliki seorang wanita dalam hidupku,


tapi sekarang aku sudah memiliki bidadari yang jauh lebih cantik dari wanita-wanitanya


selama ini.


Kita lihat saja drian


siapa yang akan panas diantara kita, ucapku dalam hati sambil tersenyum nakal


menatap bidadariku.


“Senyumanmu mengerikan


nugy,” ucapnya kesal.


“Hahaha, bisakah kau tak


memasang wajah kesal mu terus kepadaku?”


“Ntah kenapa aku jadi


suka kesal denganmu.”


“Hahah tenang sayang


setelah kita liburan nanti, rasa kesalmu itu akan hilang,” ucapku dengan


ekspresi wajah yang menggodanya.


            Dia tak menjawab, hanya memalingkan muka. Ekspresi dia


yang seperti ini yang semakin membuatku gemas.


Aku


memarkirakan mobil ku, lalu turun bersama istriku untuk masuk kedalam café, aku


melihat tempat ini sangat sepi, tidak seperti biasanya, aku mendatangi Rojali


yang sedang melihat kedatanganku dan Zulfa dari sudut cafe tempat duduk dia


biasanya.


“Apaan nih, kenapa sepi


gini?” tanyaku padanya dengan kesal.


“Lah, kan kau yang nyuruh


kok.” jawabnya.


            Aku menatapnya heran.


“Mana pernah g—” aku


menghentikan ucapanku. Seketika aku jadi paham dari semua maksud perkataannya.


“Waaahhh tumben lu sampai


duluan,” ucap Drian yang baru saja muncul dari belakang ku dan Zulfa.


            Aku menatapnya sangat kesal.


“Apa maksudnya ini Drian?”


tanyaku kesal kepadanya.


            Dia tak menjawab dan hanya menatapku yang tiba-tiba aku


kesal. Kemudian dia mulai mengangguk paham seakan mengerti maksud dari kekesalanku


barusan.


“Ohhh ini,” jawabnya


sambil melihat se isi café.


“Yah, gua habis dari


kantor lu langsung kesini, buat bilangin ama dia ngosongin nih café untuk malam


ini,” sambungnya santai seakan tak merasa bersalah.


“Seenaknya aja lu,”


balasku makin kesal.


Zulfa


mulai menggenggam tanganku untuk menenangnkan.


“Yaelah, gua ga mau


dinner dalam kondisi berisik, gua mau romantis malam ini sama cewek gua,”


balasnya lagi dengan raut wajah yang sombong.


“Ya gak harus ngosongin


juga, kan bisa ditempat lain,” balasku kepadanya.


“Lu mikirin uang Gy?”


tanyanya meremehkanku.


“Seorang elu takut


bangkrut? Gua gak salah?” sambungnya lagi.


“Bangsat lu, gua udah


pernah bilang, jangan remehin gua,” ancamku kepadanya.


“Hahaha gua becanda kali,


ayolah malam ini aja, jangan merusak suasana dong.” mohonnya padaku.


“Lagian karyawan lu juga


senang bisa istirahat cepet, ya kan bro,” ucapnya sambil mengode Rojali.


“Wiiih bener kali kau


bang—”


            Aku menatap Rojali dengan tajam, dan membuat dia tak


berani melanjutkan perkataannya.


“Begok kali maksud ku,”


sambung Rojali kepada Drian.


“Hahahaha,” Drian tertawa


melihat Rojali yang takut karena aku.


“Sudahlah, untuk malam


ini aja kan gak apa-apa Gy,” sambung Zulfa sambil tersenyum untuk meyakinkan


aku.


“Yaudah oke, anggap aja


ini rasa terima kasih gua sama lu,” ucapku.


“Nah gitu dong,” ucapnya


sambil melihat heran kearah Zulfa.


            Kami pun duduk dikursi yang sudah disediakan oleh


pelayanku sedari tadi, pelayanku sudah banyak yang pulang karena sikampret ini,


tinggal 3 orang koki dan si Rojali yang tinggal.


Sebenarnya


aku sangat kesal karena tingkah Diran yang sesukanya, tapi karena ada Zulfa


disampingku, jadi aku usahakan untuk tersenyum dengan situasi ini. Lagian ini


pertama kali aku dinner dengannya meskipun bersama dengan sikampret Drian dan


selir montoknya yang tak ku kenali itu.


“Ini siapa?” tanya drian


kepadaku menanyakan Zulfa.


“Kenapa? Kaget lu gua


bisa bawa cewek.”


            Dia hanya menatapku.


“Emangnya lu aja yang


bisa pamer.”


“Kenalin!!! ini istri gua,”


ucapku dengan bangga memperkenalkan Zulfa kepadanya.


“Hai” sapa Zulfa kepada


drian dan selirnya.


“Hai juga,” balas


selirnya itu, sedangkan Drian hanya terdiam.


            Aku tersenyum sinis kepadanya yang sedang terpatung


karena tak percaya bahwa aku sudah memiliki seorang istri yang sangat cantik. Aku


sangat yakin bahwa dia sedang merasa panas atas apa yang di lihatnya saat ini.


Hahaha rasain lu kampret,


pekikku dalam hati.


“Kenapa diam lu? Disapa

__ADS_1


tuh ama bini gua,” sambungku lagi meledeknya.


“Lu beneran istrinya Nugy?”


tanyanya memastikan kepada Zulfa.


“Iya,” jawab Zulfa dengan


senyuman dan mengangguk dengan bangga.


            Hal itu membuat Drian terpelongo tak percaya, aku yang


melihat itu pun tertawa kecil


            Drian berdiri sambil mengkode aku untuk ikut bersamanya,


aku pun mengikutinya yang berjalan keluar café.


“Bahkan lu nikah gak Bilang-bilang


ama gua Gy. Bener-bener dah lu,” ucapnya kesal sambil menggeleng-gelengkan


kepalanya.


“Susah jelasinnya,”


balasku pelan.


“Gua mau denger semuanya,”


pintanya kepadaku sambil menatapku.


            Karena tak ada pilihan lain, dari pada dia salah sangka


kepadaku dan jadi semakin kecewa. Lebih baik aku jelaskan semu kepadanya.


“Dia Zulfa istri gua, gua


langsung jatuh cinta pertama kali ngeliat dia dan gua ga tau dia cinta atau nggak


ama gua pada saat itu…”


“Gua usaha banget buat


deketin dia, sampai disuatu kejadian dimana gua tau bokap gua lagi sekarat, dan


saat itu dia kebetulan ada disamping gua. Bokap gua langsung seneng ngeliat dia…”


 “Bokap mau ngelihat gua nikah sama dia. Dan


gua terpaksa ngelakuin itu saat itu juga, karena gua tau bokap gak punya banyak


waktu…”


“Dan kita nikah didepan


bokap gua yang lagi sekarat dengan situasi yang serba mendadak…”


“Bisa dikatakan gua


beruntung, yah, gua beruntung banget malahan, kalau aja Rojali gak mendadak


narik dia ikut siang itu mungkin sekarang dia bukan siapa-siapa gua.” ucapku menjelaskan


dengan pelan dan lirih.


“Dia cinta samalu?”


tanyanya.


“Yah, disaat gua gak


sanggup buat ngeliat bokap gua bakalan pergi, disaat itu dia ada disamping gua.


Gua ngungkapin semua sama dia tentang perasaan gua. Dan lu tau Dri?”


            Dia hanya diam dan menggeleng heran, aku melihat matanya


yang mulai berkaca-kaca mendengar ceritaku.


“Dia bilang kalau dia


juga sudah mencintai gua, meskipun gua gak tau semenjak kapan dia cinta sama


gua, tapi gua udah seneng banget dengernya…”


“Gua terima kasih banget


sama tuhan, disaat tuhan ngebuat gua rapuh saat itu juga dia ngasih gua


kekuatan. Cintanya yang buat gua rela atas kepergian bokap. Cintanya juga yang


buat gua kuat karena semua ini yan…”


“Gua bener bener-terima


kasih juga sama lu, yang udah ikhlas bantuin gua. dengan bantuan lu itu, gua


bisa tau semua kebenaran yang ada didalam hati dia. Dan…”


“Dengan bantuan lu gua


bisa ngelihat kepergian bokap gua dengan senyuman…”


“Makasih Drian, lu


sahabat gua mulai sekarang,” ucapku meyakinkannya.


            Dia tak menjawab, dia hanya datang memelukku sebagai


sahabat. Aku merasakan tubuhnya bergetar.


“Gua minta maaf, gua lupa


ama lu,” sambungku kepadanya.


“Gua paham Gy, gua udah


salah paham sama lu,” balasnya dengan masih memelukku.


            Aku hanya tersenyum mendengarnya.


“Lu masih mau temenan ama


gua kan Gy?” sambungnya bertanya kepadaku dengan melepaskan pelukannya.


“Lu sahabat gua. Mulai


sekarang,” jawabku meyakinkannya.


            Kami pun tersenyum sebagai seorang sahabat dan pria


tangguh. Lalu aku mengajaknya masuk, karena kasihan mereka berdua udah nunggu


lama didalam. Dia pun mengangguk.


“Hapus tu air mata lu,


cengen banget jadi lakik,” ledekku kepadanya.


“Kampret lu, gua akting


doang tadi,” balasnya sok megelak.


“Hahahaha,” aku pun hanya


tertawa dan dia pun ikut tertawa sambil mengusap matanya dengan kain yang


selalu dibawanya.


            Kami pun masuk kedalam dan bergabung lagi dengan


bidadariku.


“Lama amat sih,” protes Zulfa


kepada kami.


“Maaf sayang,” balasku


sambil mengelus kepalanya.


            Kami pun memesan makanan dan minuman, karena perut sudah


mulai terasa lapar. Setelah pesanan kami datang, kami pun memakannya sambil


bercerita sedikit saja. Setelah habis baru kami melanjutkan cerita kami. Ketika


aku mau mengeluarkan rokok milikku, Zulfa langsung melarangku.


“Ini dinner Nugy, kau


merusak suasana saja dengan rokokmu itu,” ucapnya kesal kepadaku.


“Memang kenapa kalau


dinner? Gak boleh ngerokok emang?” tanya ku heran.


“Norak lu, keliatan


banget ga pernah dinner ama cewek,” balas Drian meledekku.


            Lalu drian melihat kearah istriku.


“Maklumi saja Zulfa, dia


ini hanya biasa dinner dengan rekan bisnisnya saja, dan rata-rata semua rekan


bisnisnya adalah Bapak-bapak tua dengan rokok dan kopi, makanya si norak ini


gak tahu gimana konsep dinner yang romantis,” sambungnya.


            Aku hanya diam saja, karena yang dikatakan Drian itu


benar, aku tak pernah dinner seformal yang mereka maksud. Aku hanya makan malam


bersama rekan bisnisku dengan hanya sekedar kata dinner. Dan kami biasa saja


tidak terlalu formal namun tetap serius, bahkan sambil ngerokok. Jadi maklum


saja aku tak tahu bagaimana konsep dinner yang mereka maksud.


“Ya sudah aku minta maaf,”


balasku sambil ingin memasukkan rokokkku.


“Gak apa kok, santai aja.


Gua ga keberatan, gua juga ga suka sama suasana yang terlalu formal. Boleh gua


minta sebatang?” ucap seorang wanita yang belum ku kenali itu.


            Aku pun melihat ragu kearah Zulfa sedang menatap hanya


heran kearah wanita tersebut. Ini pertama kali bagi dia melihat wanita merokok.


Dan aku melihat Drian yang hanya bersikap biasa saja sambil tersenyum sombong


kepadaku seakan akan wanitanya ini adalah seorang pro dalam hal hal begini.


“Wah asik nih,” balasku


Aku


kembali membakar rokok dan menghisapnya lalu ku berikan bungkus rokokku kepada


wanita itu dan dia mengambil sebatang. Aku menatap bidadariku yang masih


melihat heran kearah wanita itu.


“Nama lu siapa?” tanyaku


santai.


“Windy,” jawabnya sambil


mengajakku bersalaman.


“Gua Nugy” balasku


meresponnya.


“Lu udah kenalan ama bini


gua?” tanyaku lagi.

__ADS_1


“Udah kok, udah cerita


bahkan. Bini lu asik diajak ngobrol.”


“Ooh iya dong.”


Aku


menatap bidadariku yang sedang menatap tajam kearahku. Wajahnya seakan ingin


marah kepadaku, namun masih memaksakan diri untuk tersenyum, aku pasti akan kena


semprotnya nanti, karena tidak menghiraukan larangan dia agar aku tak merokok.


Tapi aku tak peduli dulu, karena aku sedang asik merokok.


“Gua boleh ngrokok kan Fa?”


tanya Windy kepada istriku.


“I—ya boleh kok,”


jawabnya terpaksa.


“Terus kok kaya terpaksa


gitu?” tanyanya lagi.


“Gak kok, gua cuma kaget


aja. baru pertama lihat cewek ngerokok,” jawabnya sambil tersenyum.


“Hahaha wajar saja dia


heran, Zulfa ini wanita yang sangat baik, mungkin ini pertama kalinya dia


melihat wanita merokok dihadapannya,” ucap Drian.


            Aku melihat Windy yang tak merasa tersinggung sedikitpun.


“Kita tinggal di Hutan


Belantar fa, seperti yang dikatakan suami lu yang norak ini,” sambungnya lagi.


“Lalu?” tanya Zulfa.


“Ah sudahlah, lupakan


saja. Jadi kapan kalian akan pesta Nugy?” tanyanya menghindari pertanyaan


istriku.


            Aku hanya diam tak menjawab, karena aku juga lupa belum


mengadakan pesta pernikahan dengan istriku.


“Lu mau gak ngundang gua


lagi?” sambungnya.


“Santai aja, lu pasti gua


undang, gua bakalan siapin tempat duduk special buat lu,” jawabku santai sambil


tersenyum sinis.


“Wahh gitu kan keren,”


balasnya bangga.


“Iya kerenlah, gua


bakalan siapin kursi buat lu. Deket speaker,” sambungku lagi.


“Kampret, gila lu ya. Lu


fikir gua budge,” kesalnya kepadaku.


            Kami pun hanya tertawa kepadanya.


            Tak lama kami berbicara, kami pun memutuskan untuk


pulang, aku mengantar Drian dan windy kedepan untuk pulang. Setelah itu aku


masuk lagi menemui Rojali yang sedang bercerita dengan Zulfa.


“Ayo kita pulang.”


            Dia tak menjawab dan hanya mengangguk.


“Selain gua yang ngabarin


lu langsung, jangan pernah lagi lu terima perintah dari siapapun,” ucapku tegas


kepada Rojali, agar tak ada lagi kejadian seperti malam ini.


“Sipppp, semangat kau ya,”


jawabnya sambil tersenyum sinis.


“Apaan Semangat-semangat,”


ketusku kepadanya.


            Dia tak menjawab, dia hanya menoleh kearah Zulfa yang sudah


berjalan duluan keluar café.


            Aku menjadi paham maksudnya, istriku pasti sedang marah


atas kejadian tadi, aku harus membujuknya, agar posisi tidurku aman malam ini.


Aku menyusulnya lalu membukakan pintu mobil untuknya. Dan dia menatapku heran,


karena ini baru pertama kali aku melakukan ini kepadanya.


            Aku pun menaiki mobilku, lalu mengendarainya untuk


pulang.


            Didalam perjalanan kami hanya diam, aku beberapa kali


melirik istriku yang tampaknya sedang benar-benar kesal kepadaku, aku pun


mencoba untuk mencairkan suasana agar dapat meluluhkannya.


“Uhuk uhuk uhuk.”


            Dia tak meresponku.


“Kayanya aku batuk nih.”


“Rasakan,” ketusnya


kesal.


“Ayolah sayang, aku butuh


air,” mohonku kepadanya.


“Apaan sih, mana ada air


disini. Tahan saja sampai dirumah,” balasnya.


            Aku pun diam saja, padahal aku hanya berpura-pura batuk


agar dapat perhatiannya, tapi aku lupa memang tak ada air di mobilku ini.


Strategi ku batal kali ini, jadi aku mengemudikan mobil ku dengan cepat agar


bisa sampai dirumah untuk menjalankan strategi berikutnya.


            Kami pun sampai lalu ku parkirkan mobil ku digarasi, dia


sudah turun terlebih dahulu meninggalkan aku, jadi aku pun langsung cepat


menyusulnya sebelum dia masuk duluan kekamar, agar tak mengunciku yang maish


diluar.


            Aku masuk kedalam dan sedikit legah ketika bidadariku


masih didapur, jadi aku putuskan untuk duduk dulu didepan TV.


“Ini, minumlah,” suruhnya


dengan memberikan segelas air putih kepadaku.


“Makasih sayang,” balasku


dengan senyum menggoda kearahnya. Lalu ku minum.


“Menjijikkan,” ketusnya


lalu duduk disampingku.


 “Jijik-jijik gini pun kau tetap mencintaiku,”


godaku lagi.


“Kepedean.”


“Hahahha, kau sangat


menggemaskan jika seperti ini sayang.”


“Goda saja gadis baru mu


itu, kau lebih mendengarkannya kan.”


“Bukan begitu sayang,


maaflah. Aku benar-benar tidak pernah dinner seperti yang kau maksud. Jadi aku


tak tahu kalau merokok itu tak boleh saat dinner seperti itu,” belaku.


“Aku sudah mengingatkan,


kenapa kau masih menghisap rokokmu?”


“Mereka kan tak keberatan.”


“Oooh, yasudah tidur saja


dengan mereka malam ini,” ucapnya sambil meninggalkanku.


            Aku pun mengejarnya, agar tak dikuncinya dari dalam.


Belum sempat dia masuk aku langsung menarik tangannya, dan ku tatap wajahnya


dengan tulus.


“Aku janji akan


mengajakmu dinner lagi Fa.”


“Hanya berdua denganmu,”


sambungku.


            Dia tak menjawab. Dan terus menatapku dengan serius.


“Aku janji.”


“Tanpa rokok?” tanyanya


serius.


“Iya, tanpa rokok”


jawabku halus.


“Oke, kau selamat malam ini.”


            Aku pun tersenyum senang.


            Kami pun masuk kedalam kamar. Untuk yang kedua kalinya,


aku berhasil untuk mengamankan posisi tidurku disampingnya.


            Malam ini aku tak bisa menggauli


istriku, karena aku kasihan dia masih merasakan sakit diarea kewanitaannya.


Jadi aku tidur memeluknya saja malam ini. Kami tidur dengan sangat lelap dan

__ADS_1


penuh cinta.


__ADS_2