
Aku dan Zlufa sedang
dalam perjalanan menuju café, untuk memenuhi janji untuk ku kepada Drian, dia
ingin memamerkan wanita barunya kepadaku, lebih tepatnya adalah selir barunya,
karena sebenarnya dia sudah menikah dengan seorang wanita yang menurutku sangat
cantik. Tapi memang sudah kebiasaan dia yang seperti itu.
“Sebenarnya kita mau
ngapain Gy?” tanya Zulfa.
“Kita mau dinner bersama
teman bisnisku.”
“Siapa?”
“Drian.”
“Kau bilang sedang kesal
dengannya, kenapa malah diner dengannya sekarang?”
“Aku sudah berjanji
dengannya. Dan lagian dia sudah meminjamkan pesawatnya kemarin kepada kita.
Jadi biarlah ku turuti kemauannya, lagian hanya untuk makan,” jelasku
kepadanya.
Istriku pun mengangguk paham.
Drian kampret memang selalu saja memohon kepadaku untuk
semua hal, hanya untuk memamerkan selir-selir barunya kepadaku. Dia bilang
untuk memanas-manasiku yang tidak pernah memiliki seorang wanita dalam hidupku,
tapi sekarang aku sudah memiliki bidadari yang jauh lebih cantik dari wanita-wanitanya
selama ini.
Kita lihat saja drian
siapa yang akan panas diantara kita, ucapku dalam hati sambil tersenyum nakal
menatap bidadariku.
“Senyumanmu mengerikan
nugy,” ucapnya kesal.
“Hahaha, bisakah kau tak
memasang wajah kesal mu terus kepadaku?”
“Ntah kenapa aku jadi
suka kesal denganmu.”
“Hahah tenang sayang
setelah kita liburan nanti, rasa kesalmu itu akan hilang,” ucapku dengan
ekspresi wajah yang menggodanya.
Dia tak menjawab, hanya memalingkan muka. Ekspresi dia
yang seperti ini yang semakin membuatku gemas.
Aku
memarkirakan mobil ku, lalu turun bersama istriku untuk masuk kedalam café, aku
melihat tempat ini sangat sepi, tidak seperti biasanya, aku mendatangi Rojali
yang sedang melihat kedatanganku dan Zulfa dari sudut cafe tempat duduk dia
biasanya.
“Apaan nih, kenapa sepi
gini?” tanyaku padanya dengan kesal.
“Lah, kan kau yang nyuruh
kok.” jawabnya.
Aku menatapnya heran.
“Mana pernah g—” aku
menghentikan ucapanku. Seketika aku jadi paham dari semua maksud perkataannya.
“Waaahhh tumben lu sampai
duluan,” ucap Drian yang baru saja muncul dari belakang ku dan Zulfa.
Aku menatapnya sangat kesal.
“Apa maksudnya ini Drian?”
tanyaku kesal kepadanya.
Dia tak menjawab dan hanya menatapku yang tiba-tiba aku
kesal. Kemudian dia mulai mengangguk paham seakan mengerti maksud dari kekesalanku
barusan.
“Ohhh ini,” jawabnya
sambil melihat se isi café.
“Yah, gua habis dari
kantor lu langsung kesini, buat bilangin ama dia ngosongin nih café untuk malam
ini,” sambungnya santai seakan tak merasa bersalah.
“Seenaknya aja lu,”
balasku makin kesal.
Zulfa
mulai menggenggam tanganku untuk menenangnkan.
“Yaelah, gua ga mau
dinner dalam kondisi berisik, gua mau romantis malam ini sama cewek gua,”
balasnya lagi dengan raut wajah yang sombong.
“Ya gak harus ngosongin
juga, kan bisa ditempat lain,” balasku kepadanya.
“Lu mikirin uang Gy?”
tanyanya meremehkanku.
“Seorang elu takut
bangkrut? Gua gak salah?” sambungnya lagi.
“Bangsat lu, gua udah
pernah bilang, jangan remehin gua,” ancamku kepadanya.
“Hahaha gua becanda kali,
ayolah malam ini aja, jangan merusak suasana dong.” mohonnya padaku.
“Lagian karyawan lu juga
senang bisa istirahat cepet, ya kan bro,” ucapnya sambil mengode Rojali.
“Wiiih bener kali kau
bang—”
Aku menatap Rojali dengan tajam, dan membuat dia tak
berani melanjutkan perkataannya.
“Begok kali maksud ku,”
sambung Rojali kepada Drian.
“Hahahaha,” Drian tertawa
melihat Rojali yang takut karena aku.
“Sudahlah, untuk malam
ini aja kan gak apa-apa Gy,” sambung Zulfa sambil tersenyum untuk meyakinkan
aku.
“Yaudah oke, anggap aja
ini rasa terima kasih gua sama lu,” ucapku.
“Nah gitu dong,” ucapnya
sambil melihat heran kearah Zulfa.
Kami pun duduk dikursi yang sudah disediakan oleh
pelayanku sedari tadi, pelayanku sudah banyak yang pulang karena sikampret ini,
tinggal 3 orang koki dan si Rojali yang tinggal.
Sebenarnya
aku sangat kesal karena tingkah Diran yang sesukanya, tapi karena ada Zulfa
disampingku, jadi aku usahakan untuk tersenyum dengan situasi ini. Lagian ini
pertama kali aku dinner dengannya meskipun bersama dengan sikampret Drian dan
selir montoknya yang tak ku kenali itu.
“Ini siapa?” tanya drian
kepadaku menanyakan Zulfa.
“Kenapa? Kaget lu gua
bisa bawa cewek.”
Dia hanya menatapku.
“Emangnya lu aja yang
bisa pamer.”
“Kenalin!!! ini istri gua,”
ucapku dengan bangga memperkenalkan Zulfa kepadanya.
“Hai” sapa Zulfa kepada
drian dan selirnya.
“Hai juga,” balas
selirnya itu, sedangkan Drian hanya terdiam.
Aku tersenyum sinis kepadanya yang sedang terpatung
karena tak percaya bahwa aku sudah memiliki seorang istri yang sangat cantik. Aku
sangat yakin bahwa dia sedang merasa panas atas apa yang di lihatnya saat ini.
Hahaha rasain lu kampret,
pekikku dalam hati.
“Kenapa diam lu? Disapa
__ADS_1
tuh ama bini gua,” sambungku lagi meledeknya.
“Lu beneran istrinya Nugy?”
tanyanya memastikan kepada Zulfa.
“Iya,” jawab Zulfa dengan
senyuman dan mengangguk dengan bangga.
Hal itu membuat Drian terpelongo tak percaya, aku yang
melihat itu pun tertawa kecil
Drian berdiri sambil mengkode aku untuk ikut bersamanya,
aku pun mengikutinya yang berjalan keluar café.
“Bahkan lu nikah gak Bilang-bilang
ama gua Gy. Bener-bener dah lu,” ucapnya kesal sambil menggeleng-gelengkan
kepalanya.
“Susah jelasinnya,”
balasku pelan.
“Gua mau denger semuanya,”
pintanya kepadaku sambil menatapku.
Karena tak ada pilihan lain, dari pada dia salah sangka
kepadaku dan jadi semakin kecewa. Lebih baik aku jelaskan semu kepadanya.
“Dia Zulfa istri gua, gua
langsung jatuh cinta pertama kali ngeliat dia dan gua ga tau dia cinta atau nggak
ama gua pada saat itu…”
“Gua usaha banget buat
deketin dia, sampai disuatu kejadian dimana gua tau bokap gua lagi sekarat, dan
saat itu dia kebetulan ada disamping gua. Bokap gua langsung seneng ngeliat dia…”
“Bokap mau ngelihat gua nikah sama dia. Dan
gua terpaksa ngelakuin itu saat itu juga, karena gua tau bokap gak punya banyak
waktu…”
“Dan kita nikah didepan
bokap gua yang lagi sekarat dengan situasi yang serba mendadak…”
“Bisa dikatakan gua
beruntung, yah, gua beruntung banget malahan, kalau aja Rojali gak mendadak
narik dia ikut siang itu mungkin sekarang dia bukan siapa-siapa gua.” ucapku menjelaskan
dengan pelan dan lirih.
“Dia cinta samalu?”
tanyanya.
“Yah, disaat gua gak
sanggup buat ngeliat bokap gua bakalan pergi, disaat itu dia ada disamping gua.
Gua ngungkapin semua sama dia tentang perasaan gua. Dan lu tau Dri?”
Dia hanya diam dan menggeleng heran, aku melihat matanya
yang mulai berkaca-kaca mendengar ceritaku.
“Dia bilang kalau dia
juga sudah mencintai gua, meskipun gua gak tau semenjak kapan dia cinta sama
gua, tapi gua udah seneng banget dengernya…”
“Gua terima kasih banget
sama tuhan, disaat tuhan ngebuat gua rapuh saat itu juga dia ngasih gua
kekuatan. Cintanya yang buat gua rela atas kepergian bokap. Cintanya juga yang
buat gua kuat karena semua ini yan…”
“Gua bener bener-terima
kasih juga sama lu, yang udah ikhlas bantuin gua. dengan bantuan lu itu, gua
bisa tau semua kebenaran yang ada didalam hati dia. Dan…”
“Dengan bantuan lu gua
bisa ngelihat kepergian bokap gua dengan senyuman…”
“Makasih Drian, lu
sahabat gua mulai sekarang,” ucapku meyakinkannya.
Dia tak menjawab, dia hanya datang memelukku sebagai
sahabat. Aku merasakan tubuhnya bergetar.
“Gua minta maaf, gua lupa
ama lu,” sambungku kepadanya.
“Gua paham Gy, gua udah
salah paham sama lu,” balasnya dengan masih memelukku.
Aku hanya tersenyum mendengarnya.
“Lu masih mau temenan ama
gua kan Gy?” sambungnya bertanya kepadaku dengan melepaskan pelukannya.
“Lu sahabat gua. Mulai
sekarang,” jawabku meyakinkannya.
Kami pun tersenyum sebagai seorang sahabat dan pria
tangguh. Lalu aku mengajaknya masuk, karena kasihan mereka berdua udah nunggu
lama didalam. Dia pun mengangguk.
“Hapus tu air mata lu,
cengen banget jadi lakik,” ledekku kepadanya.
“Kampret lu, gua akting
doang tadi,” balasnya sok megelak.
“Hahahaha,” aku pun hanya
tertawa dan dia pun ikut tertawa sambil mengusap matanya dengan kain yang
selalu dibawanya.
Kami pun masuk kedalam dan bergabung lagi dengan
bidadariku.
“Lama amat sih,” protes Zulfa
kepada kami.
“Maaf sayang,” balasku
sambil mengelus kepalanya.
Kami pun memesan makanan dan minuman, karena perut sudah
mulai terasa lapar. Setelah pesanan kami datang, kami pun memakannya sambil
bercerita sedikit saja. Setelah habis baru kami melanjutkan cerita kami. Ketika
aku mau mengeluarkan rokok milikku, Zulfa langsung melarangku.
“Ini dinner Nugy, kau
merusak suasana saja dengan rokokmu itu,” ucapnya kesal kepadaku.
“Memang kenapa kalau
dinner? Gak boleh ngerokok emang?” tanya ku heran.
“Norak lu, keliatan
banget ga pernah dinner ama cewek,” balas Drian meledekku.
Lalu drian melihat kearah istriku.
“Maklumi saja Zulfa, dia
ini hanya biasa dinner dengan rekan bisnisnya saja, dan rata-rata semua rekan
bisnisnya adalah Bapak-bapak tua dengan rokok dan kopi, makanya si norak ini
gak tahu gimana konsep dinner yang romantis,” sambungnya.
Aku hanya diam saja, karena yang dikatakan Drian itu
benar, aku tak pernah dinner seformal yang mereka maksud. Aku hanya makan malam
bersama rekan bisnisku dengan hanya sekedar kata dinner. Dan kami biasa saja
tidak terlalu formal namun tetap serius, bahkan sambil ngerokok. Jadi maklum
saja aku tak tahu bagaimana konsep dinner yang mereka maksud.
“Ya sudah aku minta maaf,”
balasku sambil ingin memasukkan rokokkku.
“Gak apa kok, santai aja.
Gua ga keberatan, gua juga ga suka sama suasana yang terlalu formal. Boleh gua
minta sebatang?” ucap seorang wanita yang belum ku kenali itu.
Aku pun melihat ragu kearah Zulfa sedang menatap hanya
heran kearah wanita tersebut. Ini pertama kali bagi dia melihat wanita merokok.
Dan aku melihat Drian yang hanya bersikap biasa saja sambil tersenyum sombong
kepadaku seakan akan wanitanya ini adalah seorang pro dalam hal hal begini.
“Wah asik nih,” balasku
Aku
kembali membakar rokok dan menghisapnya lalu ku berikan bungkus rokokku kepada
wanita itu dan dia mengambil sebatang. Aku menatap bidadariku yang masih
melihat heran kearah wanita itu.
“Nama lu siapa?” tanyaku
santai.
“Windy,” jawabnya sambil
mengajakku bersalaman.
“Gua Nugy” balasku
meresponnya.
“Lu udah kenalan ama bini
gua?” tanyaku lagi.
__ADS_1
“Udah kok, udah cerita
bahkan. Bini lu asik diajak ngobrol.”
“Ooh iya dong.”
Aku
menatap bidadariku yang sedang menatap tajam kearahku. Wajahnya seakan ingin
marah kepadaku, namun masih memaksakan diri untuk tersenyum, aku pasti akan kena
semprotnya nanti, karena tidak menghiraukan larangan dia agar aku tak merokok.
Tapi aku tak peduli dulu, karena aku sedang asik merokok.
“Gua boleh ngrokok kan Fa?”
tanya Windy kepada istriku.
“I—ya boleh kok,”
jawabnya terpaksa.
“Terus kok kaya terpaksa
gitu?” tanyanya lagi.
“Gak kok, gua cuma kaget
aja. baru pertama lihat cewek ngerokok,” jawabnya sambil tersenyum.
“Hahaha wajar saja dia
heran, Zulfa ini wanita yang sangat baik, mungkin ini pertama kalinya dia
melihat wanita merokok dihadapannya,” ucap Drian.
Aku melihat Windy yang tak merasa tersinggung sedikitpun.
“Kita tinggal di Hutan
Belantar fa, seperti yang dikatakan suami lu yang norak ini,” sambungnya lagi.
“Lalu?” tanya Zulfa.
“Ah sudahlah, lupakan
saja. Jadi kapan kalian akan pesta Nugy?” tanyanya menghindari pertanyaan
istriku.
Aku hanya diam tak menjawab, karena aku juga lupa belum
mengadakan pesta pernikahan dengan istriku.
“Lu mau gak ngundang gua
lagi?” sambungnya.
“Santai aja, lu pasti gua
undang, gua bakalan siapin tempat duduk special buat lu,” jawabku santai sambil
tersenyum sinis.
“Wahh gitu kan keren,”
balasnya bangga.
“Iya kerenlah, gua
bakalan siapin kursi buat lu. Deket speaker,” sambungku lagi.
“Kampret, gila lu ya. Lu
fikir gua budge,” kesalnya kepadaku.
Kami pun hanya tertawa kepadanya.
Tak lama kami berbicara, kami pun memutuskan untuk
pulang, aku mengantar Drian dan windy kedepan untuk pulang. Setelah itu aku
masuk lagi menemui Rojali yang sedang bercerita dengan Zulfa.
“Ayo kita pulang.”
Dia tak menjawab dan hanya mengangguk.
“Selain gua yang ngabarin
lu langsung, jangan pernah lagi lu terima perintah dari siapapun,” ucapku tegas
kepada Rojali, agar tak ada lagi kejadian seperti malam ini.
“Sipppp, semangat kau ya,”
jawabnya sambil tersenyum sinis.
“Apaan Semangat-semangat,”
ketusku kepadanya.
Dia tak menjawab, dia hanya menoleh kearah Zulfa yang sudah
berjalan duluan keluar café.
Aku menjadi paham maksudnya, istriku pasti sedang marah
atas kejadian tadi, aku harus membujuknya, agar posisi tidurku aman malam ini.
Aku menyusulnya lalu membukakan pintu mobil untuknya. Dan dia menatapku heran,
karena ini baru pertama kali aku melakukan ini kepadanya.
Aku pun menaiki mobilku, lalu mengendarainya untuk
pulang.
Didalam perjalanan kami hanya diam, aku beberapa kali
melirik istriku yang tampaknya sedang benar-benar kesal kepadaku, aku pun
mencoba untuk mencairkan suasana agar dapat meluluhkannya.
“Uhuk uhuk uhuk.”
Dia tak meresponku.
“Kayanya aku batuk nih.”
“Rasakan,” ketusnya
kesal.
“Ayolah sayang, aku butuh
air,” mohonku kepadanya.
“Apaan sih, mana ada air
disini. Tahan saja sampai dirumah,” balasnya.
Aku pun diam saja, padahal aku hanya berpura-pura batuk
agar dapat perhatiannya, tapi aku lupa memang tak ada air di mobilku ini.
Strategi ku batal kali ini, jadi aku mengemudikan mobil ku dengan cepat agar
bisa sampai dirumah untuk menjalankan strategi berikutnya.
Kami pun sampai lalu ku parkirkan mobil ku digarasi, dia
sudah turun terlebih dahulu meninggalkan aku, jadi aku pun langsung cepat
menyusulnya sebelum dia masuk duluan kekamar, agar tak mengunciku yang maish
diluar.
Aku masuk kedalam dan sedikit legah ketika bidadariku
masih didapur, jadi aku putuskan untuk duduk dulu didepan TV.
“Ini, minumlah,” suruhnya
dengan memberikan segelas air putih kepadaku.
“Makasih sayang,” balasku
dengan senyum menggoda kearahnya. Lalu ku minum.
“Menjijikkan,” ketusnya
lalu duduk disampingku.
“Jijik-jijik gini pun kau tetap mencintaiku,”
godaku lagi.
“Kepedean.”
“Hahahha, kau sangat
menggemaskan jika seperti ini sayang.”
“Goda saja gadis baru mu
itu, kau lebih mendengarkannya kan.”
“Bukan begitu sayang,
maaflah. Aku benar-benar tidak pernah dinner seperti yang kau maksud. Jadi aku
tak tahu kalau merokok itu tak boleh saat dinner seperti itu,” belaku.
“Aku sudah mengingatkan,
kenapa kau masih menghisap rokokmu?”
“Mereka kan tak keberatan.”
“Oooh, yasudah tidur saja
dengan mereka malam ini,” ucapnya sambil meninggalkanku.
Aku pun mengejarnya, agar tak dikuncinya dari dalam.
Belum sempat dia masuk aku langsung menarik tangannya, dan ku tatap wajahnya
dengan tulus.
“Aku janji akan
mengajakmu dinner lagi Fa.”
“Hanya berdua denganmu,”
sambungku.
Dia tak menjawab. Dan terus menatapku dengan serius.
“Aku janji.”
“Tanpa rokok?” tanyanya
serius.
“Iya, tanpa rokok”
jawabku halus.
“Oke, kau selamat malam ini.”
Aku pun tersenyum senang.
Kami pun masuk kedalam kamar. Untuk yang kedua kalinya,
aku berhasil untuk mengamankan posisi tidurku disampingnya.
Malam ini aku tak bisa menggauli
istriku, karena aku kasihan dia masih merasakan sakit diarea kewanitaannya.
Jadi aku tidur memeluknya saja malam ini. Kami tidur dengan sangat lelap dan
__ADS_1
penuh cinta.