
*Kejadian ini saat aku
masih duduk dikelas 1 SMA. Kejadian dimana pertama kalinya Ibu memarahiku soal
wanita.
“Kamu apain anak orang Nugy?”
tanya Ibu tegas
“Anak orang yang mana
lagi Bu,” jawabku heran.
Aku
menjadi bingung atas apa yang dilakukan Ibu terhadapku saat aku baru saja
sampai di rumah. Aku fikir karena aku berkelahi. Tapi aku merasa bahwa aku sama
sekali tidak melakukan perkelahian dengan siapapun, bahkan aku sudah lama tak
melakukan itu semenjak aku di Pesantren kan.
“Beberapa hari ini sudah
banyak wanita yang datang kerumah ini karena kamu, dan tadi sudah datang lagi 5
wanita. Katakan padaku apa yang kau lakukan kepada mereka?” tanya Ibu marah
kepadaku.
“Oh hahahaha.”
“Kenapa kau malah
tertawa? Aku sedang marah, tidak ada yang lucu.”
“Tidak Bu. Aku hanya tak
menyangka mereka benar-benar ke rumah, itu yang membuatku tertawa.”
“Maksudmu apa?”
“Mereka selalu memaksaku untuk
memberikan kontak ponselku. Aku risih!! lalu kusuruh saja mereka untuk memintanya
langsung pada Ibu,” balasku enteng.
“Kamu memang kurang hajar
Nugyyyyyy,” ucap Ibu sambil menjewer telingaku.
“Ahh Ibu, itu sakit.”
“Kamu dengar Ibu, kamu ga
boleh pacaran sebelum kamu kerja Nugy.”
“Aku tidak pernah pacaran
Ibu, mereka saja yang mendekatiku.”
“Ibu gak mau tahu, Ibu gak
mau lagi melihat ada wanita datang kerumah ini karena ulahmu.”
“Iya Bu” jawabku sambil
memegang telingaku yang memerah karena di jewer.
“Ada apa ini
ribut-ribut?” tanya Ayah yang keluar dari ruang kerjanya karena mendengar
kegaduhan ini.
“Kamu lihat anakmu ini,
kalian sama saja,” ucap Ibu yang justru memarahi Ayah.
“Lah, kenapa jadi aku
yang dimarahi juga,” protes Ayah heran.
“Kalau saja wajahmu tak
seperti ini pasti anakmu ini juga tak akan membuat masalah hari ini…”
“Aku heran!!! Kenapa
wajah kalian selalu membuat masalah dihidupku,” sambung Ibu lalu pergi
meninggalkan kami.
“Kenapa Ibumu?” tanya Ayah
heran kepadaku.
“Kurang Ayah perhatikan
mungkin” jawabku.
“Maksudmu?” tanyanya
lagi.
“Sepertinya Ibu sedang
ingin memberikan Adik baru untuk ku,” jawabku sambil tersenyum nakal.
“Ah sok tau kau ini,”
balas Ayah salah tingkah.
“Hahahahaha.” aku tertawa
lalu pergi kekamarku.
Kejadian itu selalu ku ingat, kejadian dimana Ayahku
masih selalu memberikan warna dirumah itu, kejadian dimana Ibu selalu
mengontrol ku dibanding adik ku. Aku juga tak tahu maksud dari perkataan Ibu
yang mengatakan “Bahwa wajah kami selalu membuat masalah dalam hidupnya.” Wajah
tampanku memang turunan dari Ayahku saat dia muda, bahkan saat dia sudah
menjadi seorang Ayah pun ketampanannya tak pernah luntur. Dan kini aku yang
menjadi imbas dari ketampanannya itu. Lalu adikku? dia juga tampan sebenarnya,
tapi karena dia pria yang membosankan makanya dia tak begitu di lirik oleh
siapapun.
Ibuku
juga adalah seorang wanita yang cantik dan bahkan banyak yang mengakui parasnya
yang cantik natural dan awet itu. Saat muda dia juga wanita yang sangat cerdas,
selalu menjadi juara satu disekolahnya tapi sayangnya, kepintaran Ibu tak menular
kepadaku, justru menular ke Rudy adikku yang membosankan itu.
Meskipun
aku tak pintar dalam belajar, tapi aku ini termasuk murid yang berprestasi waktu
aku duduk di bangku Sma, dan ketika kuliah aku juga lulusan terbaik di Fakultas
dengan predikat Cumlaude bahkan dinobatkan sebagai Aktivis Kampus. Tapi aku
merasa itu hanya karena keberuntunganku saja. Mungkin itu semua karena aku
pernah sekolah di Pesantren yang banyak mengajari ku banyak hal yang baik. Jujur
saja aku sangat teramat mengakui bahwa tempat itu adalah tempat dimana aku
menemukan batu pertamaku menjadi Nugy yang baru, Nugy yang lebih baik dari
sebelumnya.
Setelah
aku lulus kuliah, aku memutuskan untuk pergi dari rumah ku untul ngekos dirumah
Dewi sahabatku bersama Rojali yang juga sahabatku. Dewi dibelikan rumah oleh
kedua Orangtuanya yang tinggal dibandung. Keluarganya juga termasuk orang kaya.
Ayahnya adalah salah satu petinggi di Pemerintahan Kota Bandung.
Saat
aku pergi dari rumah. Aku langsung memulai diriku untuk bekerja sebagai
pemborong proyek Kecil-kecilan dengan uang yang kutabung selama aku Sma dan dari
hasil menjual beberapa barangku, seperti Sepeda Motor, Laptop, dan Lain lain. Aku
mendapatkan proyek Kecil-kecilan itu dari kolega yang ku bangun ketika aku
aktif berorganisasi saat mahasiswa dulu.
Seiring
berjalannya waktu dengan semua kerja kerasku dan 2 orang sahabat yang selalu
mendampingiku, aku berhasil mendirikan kantorku sendiri. Tentu aku tak lupa
dengan mereka berdua, karena mereka juga yang selalu setia kepadaku. Aku
memilih Dewi sebagai sekertaris dikantorku. Sedangkan Rojali yang tak mau
bekerja di kantor pun memutuskan untuk menjaga café milikku yang ku bangun atas
kerjasama kami.
Dengan
itulah aku berhasil survivev di Hutan Belantara sehingga berhasil membuat Ibu
sangat bangga kepadaku. Sedangkan Ayahku, tak pernah sekali pun dia memberiku
selamat atas pencapaianku. Lagian aku tak perduli dengannya, aku sangat
membencinya. Jika membicarakan Ayahku ntah kenapa emosi ku selalu naik.
Aku
sangat bersyukur kepada tuhan atas apa yang sudah diberikannya kepadaku. Sudah
banyak dia memberikan keberuntungan untukku, dan keberuntungan yang paling
besar bagiku adalah lahir dari rahim wanita ajaib, IBU. *
Setelah Ibu beberapa hari menetap dirumahku, hari ini dia
memutuskan untuk pulang ke Tambun, dan karena aku ada sesuatu yang Benar-benar
tak bisa ditinggalkan, aku pun meminta Rojali untuk mengantar Ibu ku
kerumahnya.
“Ibu hati-hati ya, maaf
aku ga bisa nganterin.”
“Iya gak Apa-apa, Ibu
paham. Kalau begitu Ibu pulang dulu dan jangan pernah lupa lagi kamu datang
kerumah.”
“Iya Bu.”
“Hati-hati lu bawa
mobilnya,” sambungku pada Rojali.
“Selow, lagian cuma ke Tambun,
dekat kok.”
“Ya walaupun.”
“Kau udah nyuruh, tapi
malah ga percaya pula.”
“Hahaha udah Nugy, kau
berangkat kekantor sana. Ibu gak Apa-apa, lagian Rojali kan juga anakku,” Ucap Ibu
menengahi perdebatan kami.
“Nah dengar itu,” ketus Rojali.
“Udah kamu juga sama aja,
ayo kita berangkat.”
Mereka pun pergi meninggalkan, sedangkan aku juga
langsung berangkat menuju kantor. Didalam perjalan, seperti biasa aku langsung
menghidupkan musik favorit ku selama ini. Aku adalah seorang Baladewa dengan
Ari Lasso sebagai vokalisnya, lebih tepatnya aku menyukai Ari Lasso nya saja.
Tapi aku tetap merasa bahwa aku adalah Baladewa.selain itu aku juga suka mendengar
musik 90 an dari fenomenal diera itu yaitu alm Nike Ardilla.
Sesampainya dikantor, aku langsung memarkirkan mobilku
dihalaman kantor. Aku berjalan masuk menuju ruangan kerjan yang langsung
disusul oleh Dewi sahabatku yang sekaligus Sekertarisku.
“Selamat pagi.”
“Pagi.”
“Lu kenapa?”
“Ga ada Apa-apa.”
“Lu bosan?” tanya Dewi sambil
memberikan dokumen.
“Nah, itu lu tau.”
“Ish, lu harus fokus Gy, bentar
lagi kita ada pertemuan.”
“Iya gua tau.”
“Apa sebaiknya pertemuannya
kita ditunda aja?”
“Gausah, lanjutin aja.”
“Ini peluang besar untuk
kita mendapatkan Proyek itu Gy, jadi lu harus fo-”
“Gua Baik-baik aja, dan
sejak kapan lu ragu sama gua?”
“Gua ga pernah ragu ama
lu.”
“Yauda kenapa lu
ketakutan gitu coba.”
“Gua cuma takut aja kita
harus bertemu dengan klient kalau kondisi lu begini.”
“Kondisi gua aman, udah
lu tenang aja deh. Mending lu buatin gua kopi.”
“Kopi mulu lu.”
“Biar gua seger.”
“Yaudah tunggu. Sekalian
tuh lu baca,” ucapnya sambil menunjuk dokumen yg dibawanya tadi.
Dewi adalah Satu-satunya sahabat wanita ku. Dewi juga
satu-satunya wanita yang tidak membuatnya risih dari dulu selain Ibuku. Karena
dia biasa saja terhadapku, tidak seperti Wanita-wanita lain yang selalu saja
mendekatiku dan membuatku risih. Dewi justru berbeda, dia adalah wanita yang
sangat ikhlas memberikan perhatiannya terhadapku tanpa adanya maksud apapun.
Dan dia sudah sangat banyak membantuku dari semenjak kami kenal di kampus dulu.
Tak
tahu apa yang membuat kami bisa jadi bersahabat. Yang pasti awalnya Rojali
sering sekali mengganggunya, sehingga aku juga menjadi Ikut-ikutan
mengganggunya. Namun hebatanya Dewi, dia tidak pernah sakit hati. Mungkin hal
itulah yang membuat kami bisa menjadi sahabat.
Dari
__ADS_1
dulu Dewi adalah wanita yang sangat memahami kondisiku dengan baik, saat sedang
kacau, sedih, senang, marah, dan lainnya. Dia selalu memberi solusi dengan baik
disetiap keadaan, Maka dari itu aku tidak pernah ragu untuk menunjuk Dewi
menjadi Sekertaris dikantor milikku.
Dewi
juga mahasiswi yang sangat pintar dan sangat rajin, bahkan dia memiliki wajah
yang cantik, mungkin itu sudah jadi tradisi Wanita-wanita Bandung untuk
memiliki Paras yang anggung dan menawan. Tak heran banyak Mahasiswa dan Dosen
yang sangat menyukainya, bahkan hingga kini juga banyak yang mengincar dan
mencoba mendekatinya. Tetapi dia memutuskan untuk tidak terlalu merespon
mereka, karena baginya saat ini pacaran bukanlah pilihan yang terbaik.
Setelah lama dia keluar, dia pun masuk dengan membawakan
kopi lalu meletakkannya dimeja kerja Nugy.
“Nah gitu dong.”
“Brisik lu,” kesalnya.
“Itu udah gua cek.”
“Ya ampun Gy, jangan lu
cek aja. Tanda tangan juga dong.”
“Lah, elu kan minta gua
baca doang, ga ada lu minta tanda tangan.”
“Ah kampret lu memang.”
“Lu yang kampret.”
“Yaudah…”
“Mohon pak ditanda
tangani,” ucapnya selayaknya bagaimana Sekertaris berkomunikasi dengan Bosnya.
“Nah gitu dong.”
“PRETTT,” ledeknya seraya
berlalu pergi.
Aku hanya tertawa
kecil melihat dia yang pergi dengan perasaan jengkel terhadapku.
Sambil menunggu waktu, aku pun memutuskan untuk mengeluarkan
rokokku lalu ku hisap, mumpung Dewi lagi sibuk mempersiapkan semua untuk rapat
nanti. Soalnya Dewi akan marah jika melihat merokok didalam ruangan kerja.
Padahal ini adalah ruangan milikku, dan aku juga adalah seorang bos. Tapi aku
hanya memakluminya saja, toh Dewi juga berjasa membantuku selama ini.
Sambil asik dengan rokokku yang menyala, aku pun melihat
jam tangan yang terpasang pas dipergelangan tanganku, masih ada setengah jam
lagi waktu untuk bersantai, sebelum kami harus memulai pertemuan itu. Namun
tiba-tiba…
“Gy” panggil Dewi panik
dengan membuka pintu secara Tiba-tiba.
Karena hal itu aku menjadi kaget dan tak sengaja
mengenggam puntung rokok yang tengah menyala dan panas, tentu saja aku langsung
reflek membuangnya.
“Apaan kampret, buat kaget aja lu,” kesalku
sambil meniup-niup tanganku yang terkena puntung rokok.
“Mereka udah datang,” Jawabnya
tanpa merasa bersalah.
“Ah kampret.”
Aku pun lekas beranjak dari tempat duduk kemudian
bergegas merapikan jas yang tengah ku kenakan lalu pergi bersama Dewi keruang
rapat yang sudah dipersiapkan.
…
“Huahhh, sangat
melelahkan.”
Aku merasa bahwa aku harus merenggangkan ototku dan aku
tau tempat untuk itu, sambil berjalan keluar dari kantor untuk pergi makan
siang. Rapat sudah selesai dengan berjalan dengan baik, meskipun membosankan, tetapi
tetap saja kami harus senang karena sudah menyelesaikan misi sebagaimana kami
harapkan. Klient kami sangat senang untuk bekerjasama dengan kami, mereka pun
bersedia menyetujui kontrak yang kami tawarkan, bahkan mereka meminta lebih
untuk jangka waktu yang panjang.
“Mereka suka banget ama
persentase lu,” ucap Dewi yang tiba-tiba sudah berada dibelakangku.
“Udah gua bilang, lu
cukup percaya aja ama gua,” balasku bangga.
“Aliran fikiran lu ini
yang sulit banget buat gua pahami sampai sekarang.”
Aku hanya tersenyum tipis memaklumi ucapannya itu.
“Gua memang punya
sahabat-sahabat yang aneh.”
“Tenang aja, lu kan juga
sama anehnya.”
“Itu karna gua
terpengaruh ama lu berdua,” ketusnya.
Aku
pun tersenyum lagi mendengar perkataannya.
“Gua ga butuh senyuman
lu. lagian lu fikir gue sama ama Cewek-cewek lu itu. yang luluh cuma ngelihat
senyum lu itu.”
“Mereka bukan Cewek-cewek
gua, kampret!!!”
“Eleeh sok gak ngaku,
tapi lu sendiri senangkan.”
“Idiiih, senang apaan. Lagian
emang lu aja yang aneh.”
“Maksud lu?”
“Udah sih, ga usah
dibahas. Gua laper nih, ke cafe yuk,” ajakku mengalihkan pertanyaannya.
“Ntar, maksud lu apaan
barusan,” protesnya sambil menahan tanganku.
“Lu lesby kan? Makanya ga
naksir ama gua. hahaha,” ucapku menghinanya lalu pergi berlari kemobilku.
sambil mengejarku.
Kami berdua pun pergi kecafe untuk pergi makan siang
bersama. Didalam mobil dewi masih saja sibuk tidak terima atas apa yang ku
katakan tadi terhadap dia, tetapi aku tak mersponnya dan justru ku hidupkan
audio mobilku dengan volume yang keras. Tapi bukan dewi namanya jika gampang
menyerah, dia mengecilkan volumenya lagi, tetapi aku membesarkannya lagi hingga
sampai cafe kami begitu terus. Sesampainya dicafe pun dia tetap membahasnya,
dan hal ini justru membuatku menjadi kesal.
“Apaan sih lu.”
“Lu yang apaan.”
“Dari tadi lu bahas itu
mulu.”
“Ya makanya, lu tarik tu
ucapan lu.”
“Guakan cuma bercanda
kampret.”
“Tapi gua gak terima.”
“Ya itu urusan lu sih.”
“Kenapanya kalian berdua
ini, Datang-datang bukannya bawa berkah malah berantam,” ucap Rojali yang heran
melihat kami berantam gak jelas.
“Ini nih, brisik mulu
dari kantor,” ucapku kesal.
“Lu yang buat gua jadi
berisik,” balasnya.
“lu.”
“lu.”
“UDAH!!! aku aja yang
salah, heran aku. Brisik kali kalian,” ucap Rojali yang ikutan kesal.
“Yaudah elu,” balas kami
serempak menyalahkan Rojali.
Kami pun terdiam saling bertatapan satu sama lain, hingga
kami merasa geli dan tertawa.
“Hahahahhaha.”
“Brengsek memang kalian,”
ucap Rojali kepada kami.
“Lah kok gua, dia lah,”
balas Dewi ingin mengajakku berdebat lagi.
“Enak aja, elu lah,”
balasku kepadanya.
“UdaHhhhhhhhhhhh,” pekik
Rojali kepada kami berdua.
Kami pun terdiam, dan sekeliling cafe melihat kearah kami
semua. Membuat kami bertiga jadi salah tingkah.
“Dari pada kita berantam,
mending kalian dengeri aku,” ucap Rojali kepada kami.
“Idiiiih ngapain juga
dengerin lu,” balas Dewi.
“Ah, kau dengar aja dulu
******,” balas Rojali dengan logat medannya.
“Ada apaan emang?”
tanyaku padanya.
“Aku barusan dapat info
tentang cewek itu,” jawabnya.
“Hah!!!Cewek? Cewek mana?
Wahhh lu berdua parah. Nyembunyiin sesuatu dari gua,” protes Dewi kepada kami.
“Alahhh kampret, gak
pernah tenang aja dibuatnya bah. kau pun gak kau jelaskan sama dia,” marah Rojali
kepadaku.
Lalu Dewi pun menatapku seakan ingin mengetahui semuanya
dari ku.
“Huft, yaudah deh,”
ucapku malas.
Aku pun menceritakan semua tentang Zulfa kepadanya, mulai
dari pertama kali aku bertemu dengannya dihalte sampai aku bertemu lagi dengannya
ketika menemani Ibu berbelanja di Mall, dan dia pun paham, namun masih saja
protes.
“Wah Gy, ini hal penting
banget buat lu, tapi gua harus tahu diakhir? Parah lu emang,” protesnya
kepadaku lagi.
“Ah udahlah,” kata Rojali
“Diam lu,” ketusnya
kepada Rojali.
“Makkk janggg, kok jadi
marah samaku,” kesal Rojali.
“Udah-udah, mending cepet
lu jelasin info lu itu,” ucapku kepada Rojali.
Nanti
bisa lama lagi jika membiarkan mereka berdebat. Sedangkan aku sudah lapar. Dan
ingin segera menyantap makanan yang udah dihidang dihadapan kami.
“Nih coba kau liat,” ucap
Rojali sambil memberikan ponselnya padaku.
Ketika ingin ku ambil ponselnya, Dewi pun merebutnya
terlebih dahulu. Aku sangat kesal denga dia yang seperti ini, aku menatapnya
dengan tatapan marah.
“Heheh maaf,” ucapnya
kepadaku lalu memberikan ponsel itu kepadaku.
“Ah kau pun,” ketus Rojali
padanya.
“Apa sih lu.”
__ADS_1
“Ku cium kau nanti ya
lama-lama, asik marah aja.”
Aku tak menghiraukan pertengkaran mereka karena kini aku
sedang terpatung melihat sebuah foto yang membuatku merasakan seusatu yang
selama ini tak pernah kurasakan, foto yang berhasil membuatku seperti tak
bernyawa.
Hatiku bagaikan dihantam Ombak yang menghanyutkanku, Aku
bagaikan ditampar oleh ribuan manusia yang membenciku, aku bagaikan rumput
dilapangan yang luas, dipijak, diludahi, dan dikotori. Percayalah. bahwa hati
ku kini sangat hancur, hati ku terluka dengan goresan yang tak dapat ku lihat, hatiku
hancur setelah melihat belantaraku sedang bersama penghuninya. Zulfa dengan
kekasihnya. Yah sepertinya itu kekasihnya. Oh tidak, tapi itu memang
kekasihnya.
Aku hancur, lunglai dan tak berdaya. Aku pergi
meninggalkan mereka berdua, aku tak peduli apa yang mereka lakukan, aku pergi
dengan segenap harapan ku yang telah hilang dimakan waktu.
“Sebaiknya memang aku tak
merasakan cinta,” ucapku berbicara kepada diriku sendiri.
Dengan diriku yang tak sadar sudah berdiri didepan cafe,
aku menenangkan diriku dengan menyalakan rokokku dan menghisapnya sangat dalam.
Untuk pertama kali dalam hidupku aku merasakan cinta, lalu kemudian aku
langsung menerima sakit yang tak dapat kupahami.
Aku
tak terima, otakku mulai serasa ingin pecah, hatiku mulai tak karuan, Ntah
kenapa rasa sakit itu mulai membuatku merasa emosi, bahkan sangat emosi hingga
tak mampu ku tahan. Kenapa aku merasakan sakit sedang kan dia tidak, aku harus
berbagi rasa sakit ini kepadanya. Kepada pria yg ada difoto itu.
Aku pergi dengan membuang rokok yang belum sempat habis
ku hisap, aku mengemudikan mobilku secepat mungkin. Aku melihat sebuah kartu
yang pernah diberikan dia kepadaku. Aku melesat cepat kealamat itu. Aku tak
perduli dengan adanya lampu merah yang seakan berusaha mencegatku, aku hanya
ingin melesat cepat. Lalu meluapkan semua emosiku.
Hingga
aku memberhentikan mobilku didepan butik yang aku yakin ini adalah tempat yang
ingin kutuju. Aku turun dari mobilku, lalu melangkah dengan perasaan emosi yang
membara didalam hatiku. Aku tak perduli dengan siapapun yang memanggil dan
menahanku, aku membanting seseorang yang mengenakan seragamnya, lalu
kutinggalkan. Mereka memanggilku dan aku tak perduli.
Diamlah
kalian, ucapku dalam hati.
Aku
melangkahkan kaki ku hingga menemukan seseorang yang membuatku paham bahwa
cinta dan rasa sakit itu saling beriringan. Aku mendekat kepadanya, aku melihat
dirinya yang sedang seakan tak menyangka akan kehadiranku. Sedangkan yang lain
melihat takut kepadaku. Aku menatap matanya yang sayu itu, mata yang tak pernah
menampakkan rasa takut sama sekali kepadaku.
“Lu sama siapa kesini?
Ada apa Gy?” tanyanya kepadaku.
“Mana lelakimu?” tanyaku
kepadanya.
“Maksud lu apa,” ucapnya
heran dengan memicingkan matanya.
“Hati ku sedang tidak
baik, aku ingin menghancurkan seseorang, tunjukkan saja dimana lelakimu,”
balasku tegas dengan penuh emosi.
“Gua ga ngerti maksud lu.
Tapi kalau lu mau buat kekacauan disini. mending lu pergi.”
Aku tak menghiraukan perkataannya.
“Ada apa fa?” tanya
seorang lelaki yang tiba-tiba datang ntah darimana.
Aku menoleh kearah lelaki itu, emosi ku semakin memuncak
tak beraturan, tanpa sadar aku menghajarnya tanpa ampun, aku tak peduli dengan
semuanya yang berteriak panik atas apa yang ku lakukan.
Hingga aku tersadar ketika seseorang menghantam tepat di
wajahku, mereka ramai sekali, aku kaget hingga tak dapat menahan semua pukulan
mereka. Aku pasrah atas apa yang akan terjadi pada diriku. Aku pasrah dengan
menerima pukulan dari mereka. Hinga aku merasakan tak ada lagi pukulan yang menghantamku
lagi. dua orang membawaku pergi dari tempat itu, ntah kemana aku tak tahu, aku
memejamkan mataku seakan berharap apa yang terjadi barusan adalah sebuah ilusi.
“Lu kenapa gy?” tanya
dewi panik kepadaku.
Mendengar pertanyaan itu aku tersadar dari diriku yang
dirasuki iblis sehingga membuatku diselimuti emosi yang sangat membara tadi,
aku melihat sekelilingku. Kami sedang berada ditaman.
“Bodoh kali kau,” maki Rojali
kepadaku.
Aku semakin heran dengan apa yang terjadi. Aku tak tau kenapa
kami bisa ada disini, dan aku juga merasakan sakit dibagian wajahku, aku
langsung berdiri berjalan kearah mobil, aku melihat kaca sepion. Aku dikageti
dengan wajahku yang bonyok membiru, aku berjalan mendekati mereka lagi.
“Kenapa kita ada disini?
Kenapa gua bisa bonyok begini,” tanya ku heran kepada mereka.
“HAH!!!” balas mereka
kaget.
Aku jadi semakin heran.
“Lu gak sadar sama apa
yang udah lu lakuin?” tanya Dewi kepadaku.
Aku tak membalas, aku hanya memasang ekspresi heran.
“Eh begok. Coba jangan
Pura-pura bodoh kau,” sambung Rojali menimpali.
Aku heran dengan ucapannya, tapi mencoba mengingat apa
yang sebenarnya terjadi barusan, dan kenapa aku bonyok begini.
“Gy, lu gak ilang ingatankan,”
ucap Dewi panik.
Aku tak menghiraukannya. Mana mungkin aku hilang ingatan,
aku masih mengenal dua orang ini, aku pun mencoba berusaha mengingat apa yang
terjadi sebenarnya.
Samar-samar aku mulai mengingat apa yang terjadi, aku
baru saja menghajar seseorang, dan aku juga ingat kenapa aku bonyok begini, aku
dikroyok oleh beberapa orang yang sepertinya itu adalah rombongan pria yang ku
hajar tadi. Berani-beraninya mereka mengkroyok ku.
“BANGSAT,” pekikku.
Mereka berdua kaget mendengarku.
“BAWA GUA KETEMPAT TADI,”
jerit kepada Rojali.
Dia hanya terdiam
“CEPET!!! LU NUNGGU APAAN,”
teriakku lagi kepadanya.
“Lu mau ngapain?” tanya Dewi
panik sambil menahanku.
“GUA MAU MENGHAJAR TU
ORANG ORANG,” balasku.
“Aku gak bakalan mau,”
ucap Rojali tegas.
“BERNAI LU NGEBANTAH
GUA?” bentakku kepadanya.
Dia hanya terdiam menahan rasa takutnya terhadapku.
“PLAKKKK,” Dewi
menamparku.
Pipiku terasa sakit ditampar olehnya.
“KENAPA LU NAMPAR GU-”
“NGOMONG LAGI GUA TAMPAR
LU,” balasnya membentakku.
Aku
pun terdiam tak berkutik, lalu berdiri terpaku. Kami semua pun terdiam, hingga
Dewi memulai berbicara dengan lirih.
“Sejak kapan lu gak punya
harga diri gini gy,” ucap Dewi lirih.
“Gua tau lu kecewa banget
sama foto itu, tapi lu ga boleh bersikap kaya gini.”
Aku terdiam melihat Dewi berbicara.
“Nugy yang kita kenal itu
gak pernah kaya bocah begini…”
“Lu kan yang bilang sama
kita. kalau kita ini gak boleh jadi orang yang membuat diri kita sendiri
terlihat memalukan.”
“Tapi…”
Ucapannya terpotong, dia menangis tak sanggup melanjutkan
untuk berbicara lagi. Lalu Rojali pun mencoba menenangkan dewi yang sedang
menangis atas sikapku yang kekanak-kanakan.
Aku terdiam sambil mencerna semua dari perkataan dari Dewi
barusan, aku sudah membuat kesalahan atas diriku sendiri, aku sudah melakukan
seseuatu yang membuat harga diriku jatuh dihadapan mereka, aku sudah bersikap Kekanak-kanakan
hingga mereka malu.
Aku berjalan mendekati mereka berdua. Aku berjongkok
dihadapan mereka sambil memegang tangan Dewi lalu ku genggam halus.
“Maafin gua,” ucapku
lirih kepadanya.
“Gua bakal perbaikin
semuanya” sambungku.
“Gu—”
“Kita Gy, kita bertiga
yang bakal perbaiki ini semua,” ucap Rojali memotong perkataanku.
“Aku juga minta maaf, harusnya
lebih cepat ku cari info itu,” sambungnya.
Aku hanya tersenyum mendengar perkataannya, lalu menatap Dewi
yang juga sudah menghapus air matanya. Kesalahan terbesar dalam hidupku sudah
membuat Sahabat-sahabatku malu atas sikapku barusan, aku juga sudah meremehkan
mereka atas apa yang terjadi.
Kenyataan itu memang sakit, tapi kenapa aku tidak mempercayai
mereka untuk mencoba menenangkan diriku tadi, aku justru pergi meninggalkan
mereka dengan perasaan sakit yang berhasil membuatku menjadi pria pengecut dihadapan
semua orang yang melihatku tadi.
Disaat kami sudah kembali seperti semula, kami melihat
sudah ada beberapa mobil polisi yang sudah datang untuk menjemput ku, aku sudah
melanggar peraturan lalu lintas, sudah melakukan kekacauan di tempat orang, dan
menyebabkan keributan yang membuatku babak belur sendiri. Ini sangat memalukan
untuk diriku, tapi aku harus bertanggung jawab atas semuanya.
Aku
pun berdiri dengan perasaan bangga kepada mereka berdua, aku tersenyum kepada
mereka.
“Ayo, gua udah dijemput,”
ucapku gagah kepada mereka.
“Kita Gy,” ucap Dewi.
“Iya kita,” sambung Rojali.
“Yah kalian benar, kita udah
dijemput,” balasku sambil berjalan kearah aparat yang sudah menunggu kami.
Aku tersenyum melihat kejadian yang sangat memalukan ini,
aku terlihat seperti penjahat saja. Aku pun mengingat Ibuku yang pasti akan
khawatir dengan keadaan ku ini, aku pun meminta maaf dalam hatiku untuknya,
untuk Ibuku.
Kami pun pergi menaiki mobil petugas
hukum untuk dibawa kekantor polisi agar dijalankan pemeriksaan terhadapku.
__ADS_1
Sahabat-sahabatku juga dibawa karena diduga bersekongkol dengan ku. Ahhh
benar-benar memalukan.