
“Kau tak kuliah? Ini kan
jadwalmu kuliah.”
Dia menggelngkan kepalanya.
“Kenapa?”
“Aku ingin dirumah saja.”
Aku diam dengan menatapnya, dia pun begitu.
“Kau tak serius dengan
kuliahmu?”
“Siapa bilang, aku
hanya—”
“Pergilah, aku janji tak
akan kemana-mana. Aku akan menunggu mu dirumah.”
Dia kembali terdiam.
“Setelah ini aku ingin
kerumah Papa sebentar, setelah makan siang, aku janji akan langsung pulang
kerumah dan menunggu mu pulang.”
Dia masih terdiam dan meletakkan sendok makannya.
“Kau tak percaya denganku?”
“Aku ragu.”
“Ayolah Zulfa, bukankah
aku sudah berjanji.”
“Kau serius dengan
janjimu?”
Aku mengangguk.
“Baiklah kalau begitu.”
Aku pun tersenyum melihatnya.
Kami pun kembali menyantap sarapan kami yang sudah
dimasak oleh istriku. Semenjak ada dia dirumah ini, tugas Mbok menjadi lebih
ringan, karena istriku yang selalu masak dirumah ini, bahkan jika dia bekerja
pun tetap menyempatkan dirinya untuk memasak terlebih dahulu, meskipun
bangunnya harus lebih pagi dari yang lain.
Istriku sudah menjelma menjadi wanita yang hebat seperti
Mama dan Ibuku, umur dan sikapnya sangat berbeda, dia menjadi lebih dewasa
semenjak menjadi istriku. Meskipun disuatu keadaan sikap cemberut, merajuk, dan
marahnya kerap kali kelihatan, tetapi bagiku itu wajar saja dan aku pun
memakluminya.
Sehabis makan, istriku langsung pergi bersiap-siap untuk
berangkat kuliah, sedangkan aku memutuskan untuk duduk sambil memilah
dokument-dokument yang ku bawa pulang waktu itu.
Aku memutuskan untuk mempelajarinya satu per satu, oleh
sebab itu aku memutuskan untuk menemui Papa sehabis ini, demi mengetahui
tentang dunia perbankan, aku harus membawa dokument tentang itu juga agar Papa
juga dapat memahami dari mana bisa mengajarkan ku nanti.
“Aku sudah siap.” ucap
Zulfa.
“Lalu?” heranku.
“Kau tak melakukan
sesuatu untukku?”
Aku mengeryitkan dahiku heran.
“Yasudahlah. Kau memang
suami yang kaku Nugy.”
Aku menjadi semakin heran, dia pun menatapku kesal lalu
hendal pergi meninggalkanku, namun aku langsung menarik kembali tangannya. Dia
menatapku dengna kesal, dan aku membalasnya dengan sambil tersenyum.
“Hati-hati ya sayang.
Jaga mata dan hatimu untukku.” ucapku lembut.
Dia pun tersenyum manis, lalu mencium pipiku dan menyalam
tanganku. Aku hanya membalasnya dengan senyuman, lalu dia pun pergi dengan
girangnya.
Setelah memastikan Bidadariku pergi dengan mobil miliknya,
aku pun juga pergi dengan mobilku menuju rumah Papa dengan membawa beberapa
dokument untuk ku bahas dengannnya nanti.
Zulfa tak membolehkan ku bekerja hari ini karena kejadian
kemarin aku yang tiba-tiba pingsan karena beban fikiran yang membuatku
tertekan. Bagaimana tidak, dalam waktu singkat aku ditunjuk untuk menggantikan
Ayahku, dan dalam waktu singkat aku juga harus mengetahui bagian kelam dari
perusahaan itu, bahkan aku harus siapkan dengan seorang monster yang tak pernah
terfikirkan olehku untuk bisa berurusan dengannya.
Aku sangat mengagumi Wicjaksana sebagai orang yang tersohor
nomer 1 di negeri ini, dan beberapa kali aku terlibat bisnis dengannya melalui
perusahaan milikku, kami memiliki hubungan yang baik, sehingga membuatku
dibanjiri beberapa bisnis melalui nya. Tetapi sekarang aku justru harus
berhadapan dengannya sebagai musuh.
Aku tak takut sama sekali, tetapi aku hanya merasa
kesulitan melawannya saat ini, oleh sebab itu aku bergerak sedikit lamban untuk
bisa berhadapan dengannya secara langsung. Tapi aku yakin bahwa aku bisa
mengatasi ini dengan baik.
Setelah memarkirkan mobilku dengan rapih, aku langsung
masuk kedalam rumah, disana Papa sudah duduk menungguku ditempat biasa. Aku tak
lupa menyalam nya begitu juga dengan Mama.
“Apa yang kau bawa?”
“Ini yang ingin ku
ceritakan padamu Pa.”
“Oh yasudah, duduk dan
__ADS_1
merokok lah dulu.”
Aku pun mengangguk lalu duduk dan menghidupkan rokokku.
“Mana istrimu?”
“Dia kuliah hari ini.”
“Hahaha, aku jadi susah
membedakan antara dia istrimu atau justru adikmu Nugy.”
Aku pun ikut tertawa kecil, begitu juga dengan Mama.
“Apa dia merepotkanmu
Nugy?” tanya Mama lembut.
“Dia sudah banyak
membantuku Ma.” balasku sambil tersenyum bangga.
“Syukurlah, Mama jadi senang
melihat rumah tangga kalian.”
Aku pun tersenyum mendengarnya.
Kami melanjutkan pemicaraan kami dengan sambil merokok,
Mama yang tak ingin mengganggu kami pun beranjak pergi meninggalkan kami
berdua. Aku sambil menjelaskan kondisi perusahaan itu kepada Papa, dan aku juga
menceritakan tentang adanya keterlibatan Wicjaksana dibalik ini semua. Dia
mendengarkanku dengan baik, sesekali juga melemparkan pertanyaan yang langsung
ku jawab.
Setelah aku menjelaskan itu kepadanya, aku langsung
memberikan dokument yang ku bawa tadi kepadanya, dan dia langsung membacanya
dengan sangat teliti, aku pun hanya menunggunya hingga selesai membaca
semuanya.
“Aku mungkin bisa
membantumu untuk yang satu ini Nugy. Tetapi aku tak mampu berbuat lebih.”
“Itu saja sudah cukup kok
Pa.”
“Baiklah, aku akan
menjelaskannya secara teori dulu kepadamu, kau siap?”
Aku mengangguk siap.
Dia pun menjelaskan semua tentang dunia perekonomian yang
menjurus kearah dunia perbankan dengan baik, aku mampu memahaminya secara
langsung, aku kagum dengna penjelasan Papa yang lansung dapat ku pahami.
Bank adalah nyawa bagi perekonomian dimana pun itu,
didalam bank juga memiliki nyawa lagi, yaitu Bankir. Besar kecilnya Bank itu
dipengaruhi dengan berapa banyak uang yang tersimpan didalam nya. Dan uang itu
dari mana? Tentu saja dari nasabah. Lalu bagaimana cara nasabah agar mau
menabung? Beri dia kepercayaan. Bagaimana caranya? Beri dia kenyamanan.
Kenyamanan yang seperti apa? Itulah guna seorang Bankir ada.
Begitulah penjelasannya yang dapat kutangkap dengan mudah
dikepalaku, aku mengangguk dan tak lupa melemparkan beberapa pertanyaan
kepadanya, dan dengan senang hati dia menjawabnya dengan jawaban yang dengan
“Aku baru percaya kalau
Papa seorang Bankir terkenal,” ucapku meledeknya.
“Kau salah Nugy. Dunia
seorang Bankir itu tidak sesederhana ini. dunia itu penuh dengan tipu muslihat,
keserakahan, licik, seperti bangkai yang kau simpan didalam mulutmu…”
“Mereka percaya dengan
yang akan kau katakan, kemudian mereka akan mati karena tak sadar sudah kau
lukai melalui virus yang berasal dari mulutmu.”
Aku terdiam mendengarkannya. Aku sangat sadar dunia ini
selalu dipenuhi oleh manusia-manusia yang seperti itu, dan aku sangat membenci
itu.
“Kenapa kau diam? Kau membenci
ku sekarang?”
“Tidak Pa.”
“Kau harus tau Nugy.
Perbuatan baik itu akan timbul didalam hatimu. Sedangkan perbuatan jahat itu
timbul karena siapa yang ada dihadapanmu.”
Aku mengeryitkan dahiku. Aku pernah mendegar kata-kata
itu dari seseorang yang pernah membimbingku saat di Pondok dulu. dan aku sangat
paham akan lanjutan dari kata-kata tersebut.
“Untuk mengalahkan iblis,
kau juga harus memilikinya. Tetapi jangan sampai hatimu berubah menjadi iblis
yang sesungguhnya.” Sambungku.
Papa terdiam menatapku.
“Aku ingat kata-kata
itu.”
“Kau mengerti maksudnya?”
Aku mengangguk.
Untuk melawan Wicjaksana aku juga harus bisa memiliki
watak sepertinya, tetapi aku tak boleh benar-benar menjadi sepertinya. Tapi aku
tak tahu bagaimana caranya.
“Jika Bank mu ini bisa
kembali sehat, percayalah Nugy, semua divisi mu yang sedang bermasalah akan
bisa berjalan dengan baik.”
Aku masih terdiam hingga menemukan sesuatu yang membuatku
sedikit yakin harus melakukannya.
“Aku punya suatu cara,
tetapi aku tak yakin ini akan berhasil.”
“Apa rencanamu?”
“Menghancurkan Bank
miliknya. Dan merebut seluruh nasabah potensial miliknya.”
__ADS_1
Dia terdiam menatapku.
“Apa Papa tertarik untuk
memegang suatu bank?”
“Apa maksudmu?”
“Aku ingin Papa memegang
bank AP.”
Dia kaget menatapku heran.
“Aku akan memberikan gaji
berapapun yang Papa inginkan.”
“Ini bukan soal gaji
Nugy.”
“Aku tahu, tetapi aku
memohon kepadamu Pa. hanya itu yang bisa ku berikan kepada Papa saat ini.”
Dia kembali terdiam.
“Bantulah aku Pa. Aku
janji idak akan mengecewakanmu. Aku sangat yakin, hanya Papa yang bisa menjaga
kepercayaan nasabah nantinya.”
“Tap—”
“Aku mohon Pa.”
Dia terdiam menatapku yang sedang memohon kepadanya.
“Baiklah.”
Aku pun tersenyum senang sambil tak henti-henti menyalam
tangannya, sampai dia menyuruhku melepaskannya.
“Kalau begitu, besok aku
akan menjamput Papa.”
“Hah!? Kau ingin
menyuruhku lansung bekerja?”
“Tidak. Aku akan
memperkenalkan mu kepada yang lain dirapat kami besok.”
Dia pun hanya menggelengkan kepalanya pasrah seakan tak
menyangka.
Setelah itu kami pun makan siang bersama sambil sesekali
bercerita tentang semua hal, muali dari rumag tanggaku, Ibu, dan juga Rudy.
Sehabis makan, aku pun langsung kembali kerumah ku untuk
menepati janjiku kepada Zulfa.
Aku mengemodikan mobilku dengan beberapa strategi yang
menyelimuti kepalaku, fikiranku menerawang tentang apa yang akan terjadi
kedepannya, aku sangat yakin dengan rencana yang sudha ku fikirkan dengan
singkat.
Sesampainya dirumah, aku langsung merebahkan badanku
hingga tertidur.
…
Aku terbangun ketika Zulfa membangunkanku dari tidurku
yang nyenyak, dia melihatku sambil tersenyum manis kepadaku, aku berusaha
bangkit untuk duduk dan mentapnya yang tak henti tersenyum kepadaku.
“Kau sudah pulang.”
Dia mengangguk girang.
“Ada apa dengan mu?”
Dia masih saja tersenyum kepadaku.
“Kenapa kau tersenyum
menatapku begitu?”
“Aku senang kau menepati
janjimu,” balasnya senang.
Aku pun ikut tersenyum menatapnya.
Aku menjadi gemas melihatnya yang tak henti tersenyum
kepadaku, aku menyandarkan kepalanya didadaku sambil mengelu lembut rambutnya
yang indah. Naluri lelaki ku mulai muncul karena moment begini.
“Kau sudah mandi?”
tanyaku.
“Belum.”
“Ingin mandi bersamaku?”
“Kau ingin menggodaku
sayang?” tanyanya dengan reaksi yang menggoda.
Aku pun mengangguk senang.
“Kalau aku tak mau
bagaimana?”
“Aku tetap akan
melakukannya.”
“Itu sama saja dengan
memperkosaku.”
“Apa kau sunggu tak mau?”
Dia tak menjawab dan hanya tersenyum manis kepadaku.
Aku pun langsung memahami maksud dari senyumannya itu,
aku langsung mencium bibir manisnya dengan lembut, lalu menyentuh seluruh
bagian tubuhnya yang masih dilapisi pakain yang menghalanginya. Aku pun membuka
seluruh pakaiannya dengan pelan, hingga dia tak mengenakan satu helai benang
pun. Tanpa penolakan darinya, aku pun melanjutkan aksi ku untuk memuaskan
seluruh hasrat ku kepadanya, sama seperti saat setiap kami melakukannya, kami
melanjutkan pertikaian yang mesra hingga masing-masing dari kami merasa puas,
dan tergeletak diranjang kami.
“Aku mencintaimu Zulfa.”
“Aku juga mencintaimu
Sayang.”
Kami kembali berciuman dan
__ADS_1
melakukannya lagi sampai kami puas dan tak ada apapun yang menghalangi kami.