Belantara

Belantara
BANKIR


__ADS_3

“Kau tak kuliah? Ini kan


jadwalmu kuliah.”


            Dia menggelngkan kepalanya.


“Kenapa?”


“Aku ingin dirumah saja.”


            Aku diam dengan menatapnya, dia pun begitu.


“Kau tak serius dengan


kuliahmu?”


“Siapa bilang, aku


hanya—”


“Pergilah, aku janji tak


akan kemana-mana. Aku akan menunggu mu dirumah.”


            Dia kembali terdiam.


“Setelah ini aku ingin


kerumah Papa sebentar, setelah makan siang, aku janji akan langsung pulang


kerumah dan menunggu mu pulang.”


            Dia masih terdiam dan meletakkan sendok makannya.


“Kau tak percaya denganku?”


“Aku ragu.”


“Ayolah Zulfa, bukankah


aku sudah berjanji.”


“Kau serius dengan


janjimu?”


            Aku mengangguk.


“Baiklah kalau begitu.”


            Aku pun tersenyum melihatnya.


            Kami pun kembali menyantap sarapan kami yang sudah


dimasak oleh istriku. Semenjak ada dia dirumah ini, tugas Mbok menjadi lebih


ringan, karena istriku yang selalu masak dirumah ini, bahkan jika dia bekerja


pun tetap menyempatkan dirinya untuk memasak terlebih dahulu, meskipun


bangunnya harus lebih pagi dari yang lain.


            Istriku sudah menjelma menjadi wanita yang hebat seperti


Mama dan Ibuku, umur dan sikapnya sangat berbeda, dia menjadi lebih dewasa


semenjak menjadi istriku. Meskipun disuatu keadaan sikap cemberut, merajuk, dan


marahnya kerap kali kelihatan, tetapi bagiku itu wajar saja dan aku pun


memakluminya.


            Sehabis makan, istriku langsung pergi bersiap-siap untuk


berangkat kuliah, sedangkan aku memutuskan untuk duduk sambil memilah


dokument-dokument yang ku bawa pulang waktu itu.


            Aku memutuskan untuk mempelajarinya satu per satu, oleh


sebab itu aku memutuskan untuk menemui Papa sehabis ini, demi mengetahui


tentang dunia perbankan, aku harus membawa dokument tentang itu juga agar Papa


juga dapat memahami dari mana bisa mengajarkan ku nanti.


“Aku sudah siap.” ucap


Zulfa.


“Lalu?” heranku.


“Kau tak melakukan


sesuatu untukku?”


            Aku mengeryitkan dahiku heran.


“Yasudahlah. Kau memang


suami yang kaku Nugy.”


            Aku menjadi semakin heran, dia pun menatapku kesal lalu


hendal pergi meninggalkanku, namun aku langsung menarik kembali tangannya. Dia


menatapku dengna kesal, dan aku membalasnya dengan sambil tersenyum.


“Hati-hati ya sayang.


Jaga mata dan hatimu untukku.” ucapku lembut.


            Dia pun tersenyum manis, lalu mencium pipiku dan menyalam


tanganku. Aku hanya membalasnya dengan senyuman, lalu dia pun pergi dengan


girangnya.


            Setelah memastikan Bidadariku pergi dengan mobil miliknya,


aku pun juga pergi dengan mobilku menuju rumah Papa dengan membawa beberapa


dokument untuk ku bahas dengannnya nanti.


            Zulfa tak membolehkan ku bekerja hari ini karena kejadian


kemarin aku yang tiba-tiba pingsan karena beban fikiran yang membuatku


tertekan. Bagaimana tidak, dalam waktu singkat aku ditunjuk untuk menggantikan


Ayahku, dan dalam waktu singkat aku juga harus mengetahui bagian kelam dari


perusahaan itu, bahkan aku harus siapkan dengan seorang monster yang tak pernah


terfikirkan olehku untuk bisa berurusan dengannya.


            Aku sangat mengagumi Wicjaksana sebagai orang yang tersohor


nomer 1 di negeri ini, dan beberapa kali aku terlibat bisnis dengannya melalui


perusahaan milikku, kami memiliki hubungan yang baik, sehingga membuatku


dibanjiri beberapa bisnis melalui nya. Tetapi sekarang aku justru harus


berhadapan dengannya sebagai musuh.


            Aku tak takut sama sekali, tetapi aku hanya merasa


kesulitan melawannya saat ini, oleh sebab itu aku bergerak sedikit lamban untuk


bisa berhadapan dengannya secara langsung. Tapi aku yakin bahwa aku bisa


mengatasi ini dengan baik.


            Setelah memarkirkan mobilku dengan rapih, aku langsung


masuk kedalam rumah, disana Papa sudah duduk menungguku ditempat biasa. Aku tak


lupa menyalam nya begitu juga dengan Mama.


“Apa yang kau bawa?”


“Ini yang ingin ku


ceritakan padamu Pa.”


“Oh yasudah, duduk dan

__ADS_1


merokok lah dulu.”


            Aku pun mengangguk lalu duduk dan menghidupkan rokokku.


“Mana istrimu?”


“Dia kuliah hari ini.”


“Hahaha, aku jadi susah


membedakan antara dia istrimu atau justru adikmu Nugy.”


            Aku pun ikut tertawa kecil, begitu juga dengan Mama.


“Apa dia merepotkanmu


Nugy?” tanya Mama lembut.


“Dia sudah banyak


membantuku Ma.” balasku sambil tersenyum bangga.


“Syukurlah, Mama jadi senang


melihat rumah tangga kalian.”


            Aku pun tersenyum mendengarnya.


            Kami melanjutkan pemicaraan kami dengan sambil merokok,


Mama yang tak ingin mengganggu kami pun beranjak pergi meninggalkan kami


berdua. Aku sambil menjelaskan kondisi perusahaan itu kepada Papa, dan aku juga


menceritakan tentang adanya keterlibatan Wicjaksana dibalik ini semua. Dia


mendengarkanku dengan baik, sesekali juga melemparkan pertanyaan yang langsung


ku jawab.


            Setelah aku menjelaskan itu kepadanya, aku langsung


memberikan dokument yang ku bawa tadi kepadanya, dan dia langsung membacanya


dengan sangat teliti, aku pun hanya menunggunya hingga selesai membaca


semuanya.


“Aku mungkin bisa


membantumu untuk yang satu ini Nugy. Tetapi aku tak mampu berbuat lebih.”


“Itu saja sudah cukup kok


Pa.”


“Baiklah, aku akan


menjelaskannya secara teori dulu kepadamu, kau siap?”


            Aku mengangguk siap.


            Dia pun menjelaskan semua tentang dunia perekonomian yang


menjurus kearah dunia perbankan dengan baik, aku mampu memahaminya secara


langsung, aku kagum dengna penjelasan Papa yang lansung dapat ku pahami.


            Bank adalah nyawa bagi perekonomian dimana pun itu,


didalam bank juga memiliki nyawa lagi, yaitu Bankir. Besar kecilnya Bank itu


dipengaruhi dengan berapa banyak uang yang tersimpan didalam nya. Dan uang itu


dari mana? Tentu saja dari nasabah. Lalu bagaimana cara nasabah agar mau


menabung? Beri dia kepercayaan. Bagaimana caranya? Beri dia kenyamanan.


Kenyamanan yang seperti apa? Itulah guna seorang Bankir ada.


            Begitulah penjelasannya yang dapat kutangkap dengan mudah


dikepalaku, aku mengangguk dan tak lupa melemparkan beberapa pertanyaan


kepadanya, dan dengan senang hati dia menjawabnya dengan jawaban yang dengan


“Aku baru percaya kalau


Papa seorang Bankir terkenal,” ucapku meledeknya.


“Kau salah Nugy. Dunia


seorang Bankir itu tidak sesederhana ini. dunia itu penuh dengan tipu muslihat,


keserakahan, licik, seperti bangkai yang kau simpan didalam mulutmu…”


“Mereka percaya dengan


yang akan kau katakan, kemudian mereka akan mati karena tak sadar sudah kau


lukai melalui virus yang berasal dari mulutmu.”


            Aku terdiam mendengarkannya. Aku sangat sadar dunia ini


selalu dipenuhi oleh manusia-manusia yang seperti itu, dan aku sangat membenci


itu.


“Kenapa kau diam? Kau membenci


ku sekarang?”


“Tidak Pa.”


“Kau harus tau Nugy.


Perbuatan baik itu akan timbul didalam hatimu. Sedangkan perbuatan jahat itu


timbul karena siapa yang ada dihadapanmu.”


            Aku mengeryitkan dahiku. Aku pernah mendegar kata-kata


itu dari seseorang yang pernah membimbingku saat di Pondok dulu. dan aku sangat


paham akan lanjutan dari kata-kata tersebut.


“Untuk mengalahkan iblis,


kau juga harus memilikinya. Tetapi jangan sampai hatimu berubah menjadi iblis


yang sesungguhnya.” Sambungku.


            Papa terdiam menatapku.


“Aku ingat kata-kata


itu.”


“Kau mengerti maksudnya?”


            Aku mengangguk.


            Untuk melawan Wicjaksana aku juga harus bisa memiliki


watak sepertinya, tetapi aku tak boleh benar-benar menjadi sepertinya. Tapi aku


tak tahu bagaimana caranya.


“Jika Bank mu ini bisa


kembali sehat, percayalah Nugy, semua divisi mu yang sedang bermasalah akan


bisa berjalan dengan baik.”


            Aku masih terdiam hingga menemukan sesuatu yang membuatku


sedikit yakin harus melakukannya.


“Aku punya suatu cara,


tetapi aku tak yakin ini akan berhasil.”


“Apa rencanamu?”


“Menghancurkan Bank


miliknya. Dan merebut seluruh nasabah potensial miliknya.”

__ADS_1


            Dia terdiam menatapku.


“Apa Papa tertarik untuk


memegang suatu bank?”


“Apa maksudmu?”


“Aku ingin Papa memegang


bank AP.”


            Dia kaget menatapku heran.


“Aku akan memberikan gaji


berapapun yang Papa inginkan.”


“Ini bukan soal gaji


Nugy.”


“Aku tahu, tetapi aku


memohon kepadamu Pa. hanya itu yang bisa ku berikan kepada Papa saat ini.”


            Dia kembali terdiam.


“Bantulah aku Pa. Aku


janji idak akan mengecewakanmu. Aku sangat yakin, hanya Papa yang bisa menjaga


kepercayaan nasabah nantinya.”


“Tap—”


“Aku mohon Pa.”


            Dia terdiam menatapku yang sedang memohon kepadanya.


“Baiklah.”


            Aku pun tersenyum senang sambil tak henti-henti menyalam


tangannya, sampai dia menyuruhku melepaskannya.


“Kalau begitu, besok aku


akan menjamput Papa.”


“Hah!? Kau ingin


menyuruhku lansung bekerja?”


“Tidak. Aku akan


memperkenalkan mu kepada yang lain dirapat kami besok.”


            Dia pun hanya menggelengkan kepalanya pasrah seakan tak


menyangka.


            Setelah itu kami pun makan siang bersama sambil sesekali


bercerita tentang semua hal, muali dari rumag tanggaku, Ibu, dan juga Rudy.


            Sehabis makan, aku pun langsung kembali kerumah ku untuk


menepati janjiku kepada Zulfa.


            Aku mengemodikan mobilku dengan beberapa strategi yang


menyelimuti kepalaku, fikiranku menerawang tentang apa yang akan terjadi


kedepannya, aku sangat yakin dengan rencana yang sudha ku fikirkan dengan


singkat.


            Sesampainya dirumah, aku langsung merebahkan badanku


hingga tertidur.



            Aku terbangun ketika Zulfa membangunkanku dari tidurku


yang nyenyak, dia melihatku sambil tersenyum manis kepadaku, aku berusaha


bangkit untuk duduk dan mentapnya yang tak henti tersenyum kepadaku.


“Kau sudah pulang.”


            Dia mengangguk girang.


“Ada apa dengan mu?”


            Dia masih saja tersenyum kepadaku.


“Kenapa kau tersenyum


menatapku begitu?”


“Aku senang kau menepati


janjimu,” balasnya senang.


            Aku pun ikut tersenyum menatapnya.


            Aku menjadi gemas melihatnya yang tak henti tersenyum


kepadaku, aku menyandarkan kepalanya didadaku sambil mengelu lembut rambutnya


yang indah. Naluri lelaki ku mulai muncul karena moment begini.


“Kau sudah mandi?”


tanyaku.


“Belum.”


“Ingin mandi bersamaku?”


“Kau ingin menggodaku


sayang?” tanyanya dengan reaksi yang menggoda.


            Aku pun mengangguk senang.


“Kalau aku tak mau


bagaimana?”


“Aku tetap akan


melakukannya.”


“Itu sama saja dengan


memperkosaku.”


“Apa kau sunggu tak mau?”


            Dia tak menjawab dan hanya tersenyum manis kepadaku.


            Aku pun langsung memahami maksud dari senyumannya itu,


aku langsung mencium bibir manisnya dengan lembut, lalu menyentuh seluruh


bagian tubuhnya yang masih dilapisi pakain yang menghalanginya. Aku pun membuka


seluruh pakaiannya dengan pelan, hingga dia tak mengenakan satu helai benang


pun. Tanpa penolakan darinya, aku pun melanjutkan aksi ku untuk memuaskan


seluruh hasrat ku kepadanya, sama seperti saat setiap kami melakukannya, kami


melanjutkan pertikaian yang mesra hingga masing-masing dari kami merasa puas,


dan tergeletak diranjang kami.


“Aku mencintaimu Zulfa.”


“Aku juga mencintaimu


Sayang.”


            Kami kembali berciuman dan

__ADS_1


melakukannya lagi sampai kami puas dan tak ada apapun yang menghalangi kami.


__ADS_2