Belantara

Belantara
KEBENARAN #2 (PART 3)


__ADS_3

Pagi


ini aku pergi menepati janjiku untuk kekantor bersama Dewi, namun setelah


sampai dirumahnya, dia justru marah kepadaku.


“Kenapa ga libur sekalian


aja,” ketusnya.


“Jalanan macet Wi, lagian


ini masih pagi udah marah-marah aja lu.”


“Udah tau macet ngapain


malah lama lu berangkatnya.”


“Baru juga jam 8, santai


aja kali.”


“Gua kelamaan nungguin


elu.”


“Yaudah, maaf mending lu


masuk, ntar makin telat kita kekantor.”


            Dia pun menurut naik kemobilku lalu kami pun langsung


berangkat kekantor


“Ada deadline apa hari


ini?” Tanyaku.


“Hari ini gak ada, tapi


lu harus tetap dikantor,” jawabnya


Sepertinya


dia tau aku ingin pergi dari kantor hari ini.


“Sekali aja Wi, gua mau


ninjau pekerjaan kelapangan,” mohonku.


“Eleeeh, paling lu ke


café nemuin tuh si Rojali.”


Tebakannya


selalu benar. memang ajaib sahabatku yang satu ini.


“Dua ada urusan penting Wi


sama dia, dan gua belum bisa cerita sama lu sekarang,” mohonku lagi.


“Yaudah, tapi ada berkas


yang harus lu tanda tanganin dulu, kemaren gua lupa mintanya sama lu,” ucapnya.


“Pelupa lu jadi orang,” balasku


meledeknya.


“Apaan sih Gy, lagian kemaren


kan gua nemenin lu Bolak-balik,” ucapnya kesal.


“Hahahaha,” aku pun


tertawa melihat wajah kesalnya.


“Ketawa lu kampret,”


ketusnya lagi.


            Aku pun tetawa lagi.


            Kami pun sampai dikantor, lalu Dewi langsung turun menuju


mobilnya untuk mengambil Berkas-berkas yang harus ku tanda tangani, sedangkan


aku menunggunya dimobil, karena aku langsung ingin menemui rojali yang sudah


menunggu ku di café.


“Nih, udah kan.”


“Oke, lu langsung pergi?”


“Iya, dia udah nunggu gua.”


“Oke, Hati-hati, salam


gua buat Rojali,” ucapnya dan langsung masuk kekantor.


            Aku pun langsung pergi menuju café, karena Rojali sedang


menungguku disana, dia menelfonku semalam, dia tak memberi tahuku ada apa,


namun dia bilang ada yang penting. Dia tau jika hal penting tak baik jika


diberitahu tanpa bertatap muka. Aku pun mengemudikan mobilku dengan cepat.


            Hingga aku sampai di cafe, aku memarkirkan mobilku dengan


rapih, lalu masuk kedalam dan melihat Rojali yang sudah menungguku di sudut café,


aku pun kesana lalu duduk.


“Ada apa?” tanyaku.


“Aku udah dapat alamat Dokter


itu,” sambil memberikan sebuah kertas kepadaku.


            Lalu aku melihatnya.


Inikan dekat dengan


apartement milik Ayahku, kataku dalam hati.


 “Terus gimana sekarang?” tanyanya


“Yauda, kita langsung


kesana.”


“oke.”


            Kami pun berjalan untuk pergi kealamat ini, dan ketika


aku membuka pintu café, kami Berpas-pasan dengan Zulfa yang ingin masuk


kedalam.


“Nugy,” sapanya.


“Zulfa,” balasku.


“Lu ngapain disi—”


            Belum sempat dia bertanya namun Rojali langsung menarik


tangan kami berdua.


Gila si kampret Rojali,


dia main narik anak orang aja. Ngapain coba dia narik Zulfa buat ikutan juga,


ucapku dalam hati.


“Lu pada mau kemana sih?”


Tanya Zulfa.


“Udah ga usah banyak


tanya,” jawab Rojali sambil langsung mengemudi mobilku dengan kencang.


“Santai nyet,” ucapku


kesal.


“Kalian berdua kebanyakan


protes,” balasnya.


“Ya iyalah, lu asal tarik


anak orang aja kampret,” ucapku.


“Tau lu,” sambung Zulfa.


“Dari pada kita kehabisan


waktu ngeliat kalian berdua bicara kaya adegan sinetron, mending aku tarik aja dia


langsung.”


“Nah disini bicaralah


kalian sepuasnya”, sambungnya.


“Kepala kau itu ku


pecahkan sepuasnya baru tau kau,” ucapku kesal.


“Hahaha Batak-batak.”


“Kau pun batak ya bangsat,”


balasku.


            Zulfa pun tertawa dibelakang melihat perdebatan kami


berdua.


“Kalian apaan sih, kaya

__ADS_1


anak-anak,” ucapnya sambil tertawa.


“Dia ini memang kayak


anak-anak,” balas Rojali mengatakan aku.


“Lu aja kampret,” protesku.


“Kau,” balas Rojali.


“Hahah, Udah-udah. Eh,


tapi jawab dulu dong, kita mau kemana nih?”


“Kedokter,” jawabku datar.


“Lah siapa yang sakit?”


tanyanya lagi.


            Aku pun menceritakan semuanya kepada Zulfa, tentang apa


yang sedang dirahasiakan oleh Ibu kepadaku, oleh sebab itu aku dan Rojali ingin


menemui kebenarannya dengan datang menanyakannya langsung kepada Dokter itu,


namun sikampret Rojali malah ngelibatin anak orang untuk ikut.


“Oooh gitu, lu ga kerja


emang?” tanyanya.


“Gua udah bilang ke Dewi


juga ada urusan penting hari ini,” jawabku.


“Kau takut kali sama Dewi,


padahal kau bosnya,” Rojali memanas manasiku.


“Diam aja kau, kau juga


sama aja takut sama dia,” balasku.


            Zulfa pun hanya tertawa sambil menggelengkan kepalanya.


            Aku dan Rojali pun melanjutkan pertengkaran kami dan Zulfa


hanya tetawa saja melihat kami, sejak dulu kami memang sering seperti itu,


namun kami tak pernah memasukkannya kehati, dan tak pernah berkelahi sungguhan.


            Hingga akhirnya kami sampai kerumah sakit pelayanan


onkologi yang dekat dengan apartement milik Ayah, aku heran sekaligus rasa


khawatir menyelimutiku, tapi aku tak mau berfikir Macam-macam terlebih dahulu


sebelum memastikannya, lalu kami pun berjalan menuju resepsionis dan bertanya


tentang keberadaan Dokter itu, dia pun langsung meberitahunya dan kami langsung


berjalan menuju ruangan Dokter itu.


Sesampainya


didepan ruangan Dokter itu, kami ditahan oleh seorang suster yang sepertinya


aku mengenalnya.


“Kalian ingin kemana?”


tanyanya.


“Kami ingin bertemu


Dokter Patricia,” jawab Rojali.


“Kalian tidak boleh


sembarangan menemui Dokter, jika kalian ingin berobat kalian harus mengikuti


peraturan yang ada,” tegasnya.


“Kami tak sedang ingin


berobat, apakah kau tetap menahan kami?” tanyaku.


“Nugy? Kau tak bilang jika


mereka adalah teman mu,” jawabnya.


“Kami sedang buru-buru,


bisakah kami masuk?”


“Tapi bisakah temanmu


menunggu diluar saja?” mohonnya.


“Mereka tidak akan


membuat rusuh, jadi tak perlu khawatir,” ucapku meyakinkannya.


            Dia pun hanya mengangguk mempersilahkan kami masuk, kami


salam dari seorang Dokter yang masih terlihat muda dan cantik. Namun tak secantik


Zulfa bidadariku.


“Selamat pagi,” sapanya.


“Pagi dok,” balas Rojali.


Aku


hanya melihatnya, dia selalu saja luluh diahadapan wanita cantik. Sangat


berbeda dengannya, ntah kenapa aku merasa kesal sekali dengan Dokter ini.


“Siapa diantara kalian


yang sakit, kalian sepertinya Sehat-sehat saja,” ucap Dokter itu.


Dia


pasti paham ketika harus membedakan mana yang orang yang sedang terkena


penyakit dan mana yang tidak.


“Kau benar, kami sedang tidak


sakit, namun aku memiliki urusan lain denganmu,” balasku ketus.


            Zulfa menggoyang tanganku, sepertinya dia ingin


menyuruhku untuk bersikap sopan.


“Oh, kau bisa


mengatakaanya dengan cepat? Aku tidak memiliki banyak waktu untuk pria tak


punya sopan santun sepertimu,” ucapnya ketus.


“Tapi kulihat sepertinya


kau sedang memiliki banyak waktu,” balasku santai.


“Bicaralah.”


“Tak usah Buru-buru,


boleh kami duduk?” pintaku dengan gaya khas pecicilanku.


“Silahkan.”


            Aku pun duduk dihadapan Dokter cantik itu, sedangkan


Zulfa duduk disebelahku dan Rojali berdiri beberapa meter dibelakangku dan Zulfa.


“Kau kenal dengan Farida?”


tanyaku.


Farida


adalah nama Ibuku


“Aku memiliki banyak


pasien dan aku tak pernah mendengar nama itu, ku fikir kau salah menemui orang,”


jawabnya.


            Aku tau dia sedang berbohong kepadaku, nampaknya aku


harus mengeluarkan bukti pertama ku bahwa dia mengenal Ibuku. Aku mengeluarkan


foto yang ada didalam map coklat yang ku bawa sejak tadi dan meletakkannya


diatas mejanya.


“Kurasa dengan ini kau


bisa memberi sedikit penjelasan kenapa kau berbohongan di pertemuan pertama


kita.”


            Aku melihat ekspresi kaget dari wajahnya, dia ketauan


sedang berbohong kepadaku.


“Tak perlu kaget, dan


jangan khawatir, tak ada yang bisa berbohong kepadaku disaat aku sedang serius


berbicara.”


            Dia masih terdiam seakan bingung harus berbuat apa.


“Jelaskan saja,”


sambungku


            Zulfa menggoyang tanganku lagi, aku hanya tersenyum

__ADS_1


kepadanya. Dia mungkin baru pertama kali melihat diriku yang tidak menaruh


respect kepada orang lain, apa lagi ini seorang Dokter.


“Kau ingin memamerkan ke


sok jagoan mu diahadapan kekasihmu?” tanya Dokter itu mengalihkan pembicaraan.


“Tak ada hubungannya


dengan kekasihku, dia hanya wanita yang setia mendampingiku, lebih baik


jelaskan saja dan tak perlu Repot-repot mengalihkan pembicaraan,” jawabku


sambil menggenggam tangan Zulfa.


            Ku rasa dia terkejut dengan perkataan ku yang menganggap dia


adalah kekasihku dihadapan Dokter cantik ini.


“Dia adalah Farida Ibu kandungku,


aku merasa ada yang disembunyikan Ibuku dari ku, aku tak mungkin bisa menemukan


jawaban jika aku menanyakan langsung kepadanya, jadi aku memutuskan mencari


alamatmu dan menanyakannya langsung kepadamu,” jelasku lembut.


“Dan kau fikir akan


mendapatkan jawabannya dariku?” tanyanya.


“Aku anaknya, aku ingin


tau apa yang sedang disembunyikan oleh keluargaku dari ku,” balasku memohon.


“Aku tak akan


memberitahukan apapun kepada pria yang tak tau sopan santun sepertimu,” balasnya


kesal.


            Aku tau dia sudah bekerja sama dengan Ibu untuk menyimpan


rahasia ini, tapi aku harus tetap ingin tau tentang itu, jadi tak apalah jika


aku harus menunjukkan ekspresi sedihku kepadanya.


“Apakah Ibuku sakit?”


tanyaku dengan suara lirih dan pelan.


            Dia diam dengan ekspresi yang mulai luluh terhadapku.


“Maafkan aku jika tak


sopan denganmu, aku hanya emosi dengan diriku, kenapa sebagai anaknya aku tak


boleh mengetahui masalah apa yang sedang dialami Ibuku, aku benar-benar meminta


maaf kepadamu, tapi aku butuh jawabnmu tentang ini Dok,” sambungku dengan lirih


lagi.


            Dia pun mulai luluh, kemudian menghembuskan nafasnya


dengan pelan.


“Ibu mu sedang tidak


menderita penyakit apapun, aku sudah berjanji kepada Ibumu untuk menyimpan


rahasia ini, ku rasa kau tau betapa kecewanya Ibumu jika aku mengingkarinya,” ucapnya


lembut.


            Aku terdiam mulai membingung akan apa yang harus aku


lakukan lagi setelah ini.


“Tapi akan ku beritau


seseorang yang memiliki hak bebas untuk memebritahukan semuanya kepadamu,” sambungnya


sambil berdiri melepas atributnya.


            Kami hanya terdiam melihatnya.


“Aku akan membawa mu


kesana,” sambungnya sambil mengajak kami pergi.


            Aku pun ikut berdiri, mengikuti kemana Dokter itu pergi


dan tak lupa aku pamit kepada suster tadi, dia adalah teman Sma ku dulu namanya


adalah Lia, setelah aku mengucapkan terima kasih keapadanya kami pun berjalan


keluar dari rumah sakit menuju parkiran,


“Dimana mobil kalian?”


tanyanya.


“Itu,” tunjuk Rojali


kearah Mobil Pajero putih milikku.


“Bisa aku menumpang


dengan kalian?” tanyanya lagi.


“Tentu,” jawab Rojali.


Dia


selalu saja antusias untuk meladeni Dokter cantik ini


“Dan kau,” dia menujukku.


            Aku terdiam bingung melihatnya.


“Sampai kapan kau akan


menggenggam tangan kekasihmu, itu menggelikan,” ucapnya kepada kami berdua.


            Astaga aku baru sadar bahwa sejak tadi aku menggenggam


tangan Zulfa, dan dia pun juga tak sadar tangannya ku genggam, aku pun


melepaskan genggamanku.


“Aku hanya tak ingin ada


orang lain yang merebut kekasihku,” balasku kepadanya sambil tersenyum kearah Zulfa.


            Aku bisa melihat wajah Zulfa yang memerah akibat


perkataan ku tadi, sungguh dia sangat cantik ketika dalam ekspresi seperti ini.


            Kami pun menaiki mobil, aku dan Zulfa duduk berdua


dibelakang, sedangkan Patricia didepan menemani Rojali. Disaat saat seperti ini


Rojali tak pernah menyia-nyiakan moment seperti untuk bisa mendekatkan diri


kepada Patricia, dia terus mengajak Dokter itu berbicara sambil sesekali mereka


tertawa kecil. Sedangkan aku dan Zulfa hanya saling diam.


“Kau liat dia, seperti


patung saja,” ejek Patricia.


“Mereka lagi kesal karena


dokter nyuruh mereka buat melepaskan genggaman tangannya,” ejek Rojali lagi.


“Diam kau,” ketusku


kepada Rojali.


“Aku belum tau namamu,”


kata Patricia kepada Zulfa.


“Aku Zulfa” jawabnya sambil


bersalaman.


“Sudah berapa lama kalian


berpacaran?” tanya Patricia yang langsung membuat Rojali menahan tawanya.


Aku


bisa melihatnya dari kaca depan. Kampret lu, kataku dalam hati.


“Kami—” belum sempat Zulfa


bicara aku langsung memotongnya.


“Kau ingin memberi kami


hadiah? Atau kata selamat? Karena ini hari pertama jadian kami?” tanyaku.


“Ohh, pantas saja kau tak


melepaskan genggamanmu, ternyata baru jadian,” jawab Patricia.


“Kalau begitu selamat,


dan bersabarlah dengan lelakimu,” sambungya kepada Zulfa.


“I—ya terima kasih,”


jawab Zulfa sambil melihat kearahku.


            Aku hanya tersenyum, tak kuduga dengan respon Zulfa. Aku


melihat matanya dengan penuh cinta, kurasa Zulfa pun membalasnya dengan tatapan


penuh malu-malu.


Hahaha aku semakin

__ADS_1


mencintaimu Bidadariku, ucapku dalam hati.


__ADS_2