
Pagi
ini aku pergi menepati janjiku untuk kekantor bersama Dewi, namun setelah
sampai dirumahnya, dia justru marah kepadaku.
“Kenapa ga libur sekalian
aja,” ketusnya.
“Jalanan macet Wi, lagian
ini masih pagi udah marah-marah aja lu.”
“Udah tau macet ngapain
malah lama lu berangkatnya.”
“Baru juga jam 8, santai
aja kali.”
“Gua kelamaan nungguin
elu.”
“Yaudah, maaf mending lu
masuk, ntar makin telat kita kekantor.”
Dia pun menurut naik kemobilku lalu kami pun langsung
berangkat kekantor
“Ada deadline apa hari
ini?” Tanyaku.
“Hari ini gak ada, tapi
lu harus tetap dikantor,” jawabnya
Sepertinya
dia tau aku ingin pergi dari kantor hari ini.
“Sekali aja Wi, gua mau
ninjau pekerjaan kelapangan,” mohonku.
“Eleeeh, paling lu ke
café nemuin tuh si Rojali.”
Tebakannya
selalu benar. memang ajaib sahabatku yang satu ini.
“Dua ada urusan penting Wi
sama dia, dan gua belum bisa cerita sama lu sekarang,” mohonku lagi.
“Yaudah, tapi ada berkas
yang harus lu tanda tanganin dulu, kemaren gua lupa mintanya sama lu,” ucapnya.
“Pelupa lu jadi orang,” balasku
meledeknya.
“Apaan sih Gy, lagian kemaren
kan gua nemenin lu Bolak-balik,” ucapnya kesal.
“Hahahaha,” aku pun
tertawa melihat wajah kesalnya.
“Ketawa lu kampret,”
ketusnya lagi.
Aku pun tetawa lagi.
Kami pun sampai dikantor, lalu Dewi langsung turun menuju
mobilnya untuk mengambil Berkas-berkas yang harus ku tanda tangani, sedangkan
aku menunggunya dimobil, karena aku langsung ingin menemui rojali yang sudah
menunggu ku di café.
“Nih, udah kan.”
“Oke, lu langsung pergi?”
“Iya, dia udah nunggu gua.”
“Oke, Hati-hati, salam
gua buat Rojali,” ucapnya dan langsung masuk kekantor.
Aku pun langsung pergi menuju café, karena Rojali sedang
menungguku disana, dia menelfonku semalam, dia tak memberi tahuku ada apa,
namun dia bilang ada yang penting. Dia tau jika hal penting tak baik jika
diberitahu tanpa bertatap muka. Aku pun mengemudikan mobilku dengan cepat.
Hingga aku sampai di cafe, aku memarkirkan mobilku dengan
rapih, lalu masuk kedalam dan melihat Rojali yang sudah menungguku di sudut café,
aku pun kesana lalu duduk.
“Ada apa?” tanyaku.
“Aku udah dapat alamat Dokter
itu,” sambil memberikan sebuah kertas kepadaku.
Lalu aku melihatnya.
Inikan dekat dengan
apartement milik Ayahku, kataku dalam hati.
“Terus gimana sekarang?” tanyanya
“Yauda, kita langsung
kesana.”
“oke.”
Kami pun berjalan untuk pergi kealamat ini, dan ketika
aku membuka pintu café, kami Berpas-pasan dengan Zulfa yang ingin masuk
kedalam.
“Nugy,” sapanya.
“Zulfa,” balasku.
“Lu ngapain disi—”
Belum sempat dia bertanya namun Rojali langsung menarik
tangan kami berdua.
Gila si kampret Rojali,
dia main narik anak orang aja. Ngapain coba dia narik Zulfa buat ikutan juga,
ucapku dalam hati.
“Lu pada mau kemana sih?”
Tanya Zulfa.
“Udah ga usah banyak
tanya,” jawab Rojali sambil langsung mengemudi mobilku dengan kencang.
“Santai nyet,” ucapku
kesal.
“Kalian berdua kebanyakan
protes,” balasnya.
“Ya iyalah, lu asal tarik
anak orang aja kampret,” ucapku.
“Tau lu,” sambung Zulfa.
“Dari pada kita kehabisan
waktu ngeliat kalian berdua bicara kaya adegan sinetron, mending aku tarik aja dia
langsung.”
“Nah disini bicaralah
kalian sepuasnya”, sambungnya.
“Kepala kau itu ku
pecahkan sepuasnya baru tau kau,” ucapku kesal.
“Hahaha Batak-batak.”
“Kau pun batak ya bangsat,”
balasku.
Zulfa pun tertawa dibelakang melihat perdebatan kami
berdua.
“Kalian apaan sih, kaya
__ADS_1
anak-anak,” ucapnya sambil tertawa.
“Dia ini memang kayak
anak-anak,” balas Rojali mengatakan aku.
“Lu aja kampret,” protesku.
“Kau,” balas Rojali.
“Hahah, Udah-udah. Eh,
tapi jawab dulu dong, kita mau kemana nih?”
“Kedokter,” jawabku datar.
“Lah siapa yang sakit?”
tanyanya lagi.
Aku pun menceritakan semuanya kepada Zulfa, tentang apa
yang sedang dirahasiakan oleh Ibu kepadaku, oleh sebab itu aku dan Rojali ingin
menemui kebenarannya dengan datang menanyakannya langsung kepada Dokter itu,
namun sikampret Rojali malah ngelibatin anak orang untuk ikut.
“Oooh gitu, lu ga kerja
emang?” tanyanya.
“Gua udah bilang ke Dewi
juga ada urusan penting hari ini,” jawabku.
“Kau takut kali sama Dewi,
padahal kau bosnya,” Rojali memanas manasiku.
“Diam aja kau, kau juga
sama aja takut sama dia,” balasku.
Zulfa pun hanya tertawa sambil menggelengkan kepalanya.
Aku dan Rojali pun melanjutkan pertengkaran kami dan Zulfa
hanya tetawa saja melihat kami, sejak dulu kami memang sering seperti itu,
namun kami tak pernah memasukkannya kehati, dan tak pernah berkelahi sungguhan.
Hingga akhirnya kami sampai kerumah sakit pelayanan
onkologi yang dekat dengan apartement milik Ayah, aku heran sekaligus rasa
khawatir menyelimutiku, tapi aku tak mau berfikir Macam-macam terlebih dahulu
sebelum memastikannya, lalu kami pun berjalan menuju resepsionis dan bertanya
tentang keberadaan Dokter itu, dia pun langsung meberitahunya dan kami langsung
berjalan menuju ruangan Dokter itu.
Sesampainya
didepan ruangan Dokter itu, kami ditahan oleh seorang suster yang sepertinya
aku mengenalnya.
“Kalian ingin kemana?”
tanyanya.
“Kami ingin bertemu
Dokter Patricia,” jawab Rojali.
“Kalian tidak boleh
sembarangan menemui Dokter, jika kalian ingin berobat kalian harus mengikuti
peraturan yang ada,” tegasnya.
“Kami tak sedang ingin
berobat, apakah kau tetap menahan kami?” tanyaku.
“Nugy? Kau tak bilang jika
mereka adalah teman mu,” jawabnya.
“Kami sedang buru-buru,
bisakah kami masuk?”
“Tapi bisakah temanmu
menunggu diluar saja?” mohonnya.
“Mereka tidak akan
membuat rusuh, jadi tak perlu khawatir,” ucapku meyakinkannya.
Dia pun hanya mengangguk mempersilahkan kami masuk, kami
salam dari seorang Dokter yang masih terlihat muda dan cantik. Namun tak secantik
Zulfa bidadariku.
“Selamat pagi,” sapanya.
“Pagi dok,” balas Rojali.
Aku
hanya melihatnya, dia selalu saja luluh diahadapan wanita cantik. Sangat
berbeda dengannya, ntah kenapa aku merasa kesal sekali dengan Dokter ini.
“Siapa diantara kalian
yang sakit, kalian sepertinya Sehat-sehat saja,” ucap Dokter itu.
Dia
pasti paham ketika harus membedakan mana yang orang yang sedang terkena
penyakit dan mana yang tidak.
“Kau benar, kami sedang tidak
sakit, namun aku memiliki urusan lain denganmu,” balasku ketus.
Zulfa menggoyang tanganku, sepertinya dia ingin
menyuruhku untuk bersikap sopan.
“Oh, kau bisa
mengatakaanya dengan cepat? Aku tidak memiliki banyak waktu untuk pria tak
punya sopan santun sepertimu,” ucapnya ketus.
“Tapi kulihat sepertinya
kau sedang memiliki banyak waktu,” balasku santai.
“Bicaralah.”
“Tak usah Buru-buru,
boleh kami duduk?” pintaku dengan gaya khas pecicilanku.
“Silahkan.”
Aku pun duduk dihadapan Dokter cantik itu, sedangkan
Zulfa duduk disebelahku dan Rojali berdiri beberapa meter dibelakangku dan Zulfa.
“Kau kenal dengan Farida?”
tanyaku.
Farida
adalah nama Ibuku
“Aku memiliki banyak
pasien dan aku tak pernah mendengar nama itu, ku fikir kau salah menemui orang,”
jawabnya.
Aku tau dia sedang berbohong kepadaku, nampaknya aku
harus mengeluarkan bukti pertama ku bahwa dia mengenal Ibuku. Aku mengeluarkan
foto yang ada didalam map coklat yang ku bawa sejak tadi dan meletakkannya
diatas mejanya.
“Kurasa dengan ini kau
bisa memberi sedikit penjelasan kenapa kau berbohongan di pertemuan pertama
kita.”
Aku melihat ekspresi kaget dari wajahnya, dia ketauan
sedang berbohong kepadaku.
“Tak perlu kaget, dan
jangan khawatir, tak ada yang bisa berbohong kepadaku disaat aku sedang serius
berbicara.”
Dia masih terdiam seakan bingung harus berbuat apa.
“Jelaskan saja,”
sambungku
Zulfa menggoyang tanganku lagi, aku hanya tersenyum
__ADS_1
kepadanya. Dia mungkin baru pertama kali melihat diriku yang tidak menaruh
respect kepada orang lain, apa lagi ini seorang Dokter.
“Kau ingin memamerkan ke
sok jagoan mu diahadapan kekasihmu?” tanya Dokter itu mengalihkan pembicaraan.
“Tak ada hubungannya
dengan kekasihku, dia hanya wanita yang setia mendampingiku, lebih baik
jelaskan saja dan tak perlu Repot-repot mengalihkan pembicaraan,” jawabku
sambil menggenggam tangan Zulfa.
Ku rasa dia terkejut dengan perkataan ku yang menganggap dia
adalah kekasihku dihadapan Dokter cantik ini.
“Dia adalah Farida Ibu kandungku,
aku merasa ada yang disembunyikan Ibuku dari ku, aku tak mungkin bisa menemukan
jawaban jika aku menanyakan langsung kepadanya, jadi aku memutuskan mencari
alamatmu dan menanyakannya langsung kepadamu,” jelasku lembut.
“Dan kau fikir akan
mendapatkan jawabannya dariku?” tanyanya.
“Aku anaknya, aku ingin
tau apa yang sedang disembunyikan oleh keluargaku dari ku,” balasku memohon.
“Aku tak akan
memberitahukan apapun kepada pria yang tak tau sopan santun sepertimu,” balasnya
kesal.
Aku tau dia sudah bekerja sama dengan Ibu untuk menyimpan
rahasia ini, tapi aku harus tetap ingin tau tentang itu, jadi tak apalah jika
aku harus menunjukkan ekspresi sedihku kepadanya.
“Apakah Ibuku sakit?”
tanyaku dengan suara lirih dan pelan.
Dia diam dengan ekspresi yang mulai luluh terhadapku.
“Maafkan aku jika tak
sopan denganmu, aku hanya emosi dengan diriku, kenapa sebagai anaknya aku tak
boleh mengetahui masalah apa yang sedang dialami Ibuku, aku benar-benar meminta
maaf kepadamu, tapi aku butuh jawabnmu tentang ini Dok,” sambungku dengan lirih
lagi.
Dia pun mulai luluh, kemudian menghembuskan nafasnya
dengan pelan.
“Ibu mu sedang tidak
menderita penyakit apapun, aku sudah berjanji kepada Ibumu untuk menyimpan
rahasia ini, ku rasa kau tau betapa kecewanya Ibumu jika aku mengingkarinya,” ucapnya
lembut.
Aku terdiam mulai membingung akan apa yang harus aku
lakukan lagi setelah ini.
“Tapi akan ku beritau
seseorang yang memiliki hak bebas untuk memebritahukan semuanya kepadamu,” sambungnya
sambil berdiri melepas atributnya.
Kami hanya terdiam melihatnya.
“Aku akan membawa mu
kesana,” sambungnya sambil mengajak kami pergi.
Aku pun ikut berdiri, mengikuti kemana Dokter itu pergi
dan tak lupa aku pamit kepada suster tadi, dia adalah teman Sma ku dulu namanya
adalah Lia, setelah aku mengucapkan terima kasih keapadanya kami pun berjalan
keluar dari rumah sakit menuju parkiran,
“Dimana mobil kalian?”
tanyanya.
“Itu,” tunjuk Rojali
kearah Mobil Pajero putih milikku.
“Bisa aku menumpang
dengan kalian?” tanyanya lagi.
“Tentu,” jawab Rojali.
Dia
selalu saja antusias untuk meladeni Dokter cantik ini
“Dan kau,” dia menujukku.
Aku terdiam bingung melihatnya.
“Sampai kapan kau akan
menggenggam tangan kekasihmu, itu menggelikan,” ucapnya kepada kami berdua.
Astaga aku baru sadar bahwa sejak tadi aku menggenggam
tangan Zulfa, dan dia pun juga tak sadar tangannya ku genggam, aku pun
melepaskan genggamanku.
“Aku hanya tak ingin ada
orang lain yang merebut kekasihku,” balasku kepadanya sambil tersenyum kearah Zulfa.
Aku bisa melihat wajah Zulfa yang memerah akibat
perkataan ku tadi, sungguh dia sangat cantik ketika dalam ekspresi seperti ini.
Kami pun menaiki mobil, aku dan Zulfa duduk berdua
dibelakang, sedangkan Patricia didepan menemani Rojali. Disaat saat seperti ini
Rojali tak pernah menyia-nyiakan moment seperti untuk bisa mendekatkan diri
kepada Patricia, dia terus mengajak Dokter itu berbicara sambil sesekali mereka
tertawa kecil. Sedangkan aku dan Zulfa hanya saling diam.
“Kau liat dia, seperti
patung saja,” ejek Patricia.
“Mereka lagi kesal karena
dokter nyuruh mereka buat melepaskan genggaman tangannya,” ejek Rojali lagi.
“Diam kau,” ketusku
kepada Rojali.
“Aku belum tau namamu,”
kata Patricia kepada Zulfa.
“Aku Zulfa” jawabnya sambil
bersalaman.
“Sudah berapa lama kalian
berpacaran?” tanya Patricia yang langsung membuat Rojali menahan tawanya.
Aku
bisa melihatnya dari kaca depan. Kampret lu, kataku dalam hati.
“Kami—” belum sempat Zulfa
bicara aku langsung memotongnya.
“Kau ingin memberi kami
hadiah? Atau kata selamat? Karena ini hari pertama jadian kami?” tanyaku.
“Ohh, pantas saja kau tak
melepaskan genggamanmu, ternyata baru jadian,” jawab Patricia.
“Kalau begitu selamat,
dan bersabarlah dengan lelakimu,” sambungya kepada Zulfa.
“I—ya terima kasih,”
jawab Zulfa sambil melihat kearahku.
Aku hanya tersenyum, tak kuduga dengan respon Zulfa. Aku
melihat matanya dengan penuh cinta, kurasa Zulfa pun membalasnya dengan tatapan
penuh malu-malu.
Hahaha aku semakin
__ADS_1
mencintaimu Bidadariku, ucapku dalam hati.