
Lama aku tertidur, aku
pun terbangun saat Zulfa membangunkanku.
“Bangun, mandilah, ini
sudah sore,” suruhnya.
Aku pun memeluknya yang tengah duduk disampingku.
“Lepaskan aku Nugy,” ucapnya
sambil melepaskan tanganku dari pinggangnya.
“Aku ingin memelukmu.”
“Aku tak suka dipeluk
oleh pria yang jorok,” ucapnya kesal
“Salahmu sendiri.”
“Kenapa jadi salahku”
protesnya
“Kau mandi tak mengajak
aku,” kataku dengan nada menggoda
“Jangan mimpi.”
“Hahaha, mana handukku,”
ucapku sambil berdiri.
Dia pun memberikan handuk kepadaku, dan aku langsung
masuk kekamar mandi untuk mebersihkan badanku.
Ketika aku keluar dari kamar mandi, aku melihat Zulfa
sedang mengikat rambutnya. Melihat dia dengan rambutnya yang terkuncir, justru
membuatku semakin ingin menciumnya, aku mendekatinya lalu memeluknya dari
belakang. Dia pun mendorongku.
“Pakai bajumu Nugy,” ucapnya
sambil memalingkan wajahnya dariku.
Dia selalu tak tahan melihat tubuhku yang berotot ini,
dia selalu malu melihatnya
“Kenapa kau tak menatapku,”
godaku.
“Sudah pakai saja,”
suruhnya dengan malu-malu.
Aku pun menariknya sehingga dia duduk menatapku.
“Kau tak tahan melihat
tubuhku? Atau kau tak menyangka pria sepertiku memiliki otot seperti ini?”
tanya ku menggodanya.
Dia hanya diam dengan ekspresi wajah yang memerah, aku
pun memutuskan untuk terus menggodanya.
“Zulfaa, kau akan lebih
terkejut melihat apa yang ada dibalik handukku ini,” sambungku semakin
menggodanya.
“Nugy, kau mengerikan,” ucapnya
lalu mendorongku.
Dia
berdiri mengambil baju dan diberikan kepadaku.
Aku hanya tertawa melihat bidadariku, aku sangat suka
menggodanya karena dia semakin terlihat menggemaskan dengan wajahnya yang
memerah kala ku goda.
Setelah aku memakai bajuku, kami pun turun kebawah untuk
berkumpul bersama, aku melihat ada Om Zul suami Tante Yuni diruang tamu yang
tengah duduk bersama Ayah, Ibu, Tante Yuni dan Tante Iida.
“Nugy, kemari nak,”
panggil Ibu.
Aku dan Zulfa pun datang bergabung bersama mereka, lalu kami
pun duduk disebelah Tante Ida.
“Itu adalah menantuku,” Ayah
menunjukk Zulfa dengan bangga.
Om Zul pun takjub melihat kearah Zulfa yang duduk
disebelahku.
Zulfa
hanya mengangguk sambil melemparkansenyum kepada Om Zul, dan langsung dibalas olehnya.
“Dia cantik bukan?” ucap Ayah
dengan bangga.
“Seperti yang kau
katakan, dia sangat cantik, sangat cocok dengan anakmu yang gagah,” kata Om Zul
memuji kami.
Lalu dia menatapku yang masih terdiam saja.
“Aku mendengar
perusahaanmu sedang naik daun Nugy,” sambungnya memujiku.
“Tidak Om, kami masih
berusaha maju,” jawabku santai
“Hahaha, aku suka sekali
dengan mu.”
Aku tak pernah banyak mengobrol dengan Om Zul, namun aku
tau dia adalah orang yang baik, meskipun dia lebih tua tapi dia sangat hormat
kepada Ayahku, bahkan dia pernah turun langsung membantu Ayahku ketika masa
pencalonannya menjadi Elite Politik dia hutan belantara itu.
“Lalu bagaimana dengan
Hutan Belantaramu?” tanyanya lagi kepadaku.
Aku hanya terdiam, dan menatap semua orang yang ada diruang
tamu rumah ini, kemudian tatapanku berhenti kepada Ayahku.
“Sebentar lagi dia akan
kehilangan salah satu penghuninya,” jawabku datar penuh kepasrahan.
Semuanya hanya terdiam mendengar perkataanku, tentu saja
mereka paham maksudku adalah Ayah. Hutan belantara itu akan kehilangan satu-satunya
penghuni yang sangat penting bagiku, bahkan bagi kami semua.
Berbeda dengan yang lain, Ayah justru tersenyum melihat
kearahku. Bukan Ayah jika dia bisa terdiam terpaku mendengar seseorang yang
menyinggungnya.
“Penghuni yang hilang itu
akan pergi menuju wujudnya yang baru, dan salah satu penghuni yang tertinggal
akan mengubah hutan itu dipenuhi dengan tumbuhan hijau yang menenangkan jiwa
disekelilingnya,” ucapnya kearahku lalu tersenyum.
“Aku tak butuh jika
memang hutan itu akan menjadi hijau dan menenangkan, aku hanya butuh penghuni
itu tetap berada disisiku berupa fisik, dan bukan ruh bahkan nama,” balasku.
Lalu
aku beranjak dari tempat duduk ku dan pergi sambil membawa Zulfa ikut
bersamaku.
Aku tak perduli dengan ruangan itu setelah aku
meninggalkan mereka, ntah kenapa disaat aku sadar kematian akan menjemput Ayahku,
disaat itu pula aku menolak untuk ditinggalkan olehnya.
Aku pergi bersama Zulfa mengemudikan mobil yang ku pinjam
untuk pergi ke suatu tempat, dimana ditempat itu kami bisa melihat sunset yang
sangat indah.
Ku parkirakn mobil itu dihalaman hotel yang ada didekat
tempat itu, dan kami berjalan menuju ujung dermaga yang ada di dekat hotel itu.
Kami melihat banyak orang yang mandi sore itu, anak-anak muda saling melempar
tawa sesamanya, dan ada remaja yang sibuk dengan kekasihnya, namun ada yang
membuatku hanyut ketika melihatnya, yaitu seorang anak yang tengah berenang
mengenakan pelampung sambil dipegang oleh Ayahnya.
Aku mengingat diriku saat kecil, saat dimana posisiku
sama persis dengan anak kecil itu, Ayahku memegang tanganku seakan takut jika
aku hilang ditelan ombak, meskipun ombak itu tak berbahaya sama sekali. Aku
sadar jika waktu itu tidak akan pernah kembali lagi, bukan karena aku sudah besar,
tapi karena pria itu yang tak akan ada lagi didunia ini.
Ditengah sinar mentari yang akan lenyap ditelan bumi aku menyandarkan
kepalaku kebahu bidadariku sambil memegang erat tangannya, dan dia mengelus
kepalaku dengan lembut, dia selalu tau harus berbuat apa ketika aku dalam
kondisi rapuh seperti ini.
“Kau lihat anak itu,” ucapku
sambil menunjuk anak yang ku maksud tadi.
“Iyaa, aku melihatnya,”
jawabnya lembut.
“Dulu aku pernah
__ADS_1
sepertinya, mengambang tanpa takut meskipun aku tak tau berenang, tapi aku
yakin pria itu tak akan membiarkanku hanyut,” ucapku sendu sambil menahan
tangisku.
“Kini. Justru pria itu
yang akan hanyut oleh takdir yang membelenggunya…”
Aku mengangkat kepalaku lalu menatap istriku.
“Apakah aku bisa
membuatnya tak merasa takut Zulfa?” tanyaku dengan lirih.
Aku tak sadar sudah meneteskan air mataku, aku tak kuat
menahan kesedihan ini, hatiku sakit pada takdir, dan hati ku sakit kepadamu
tuhan, mengapa secepat ini kau panggil Ayahku.
“Aku bahkan pernah
membenci pria itu, bahkan menyakiti hatinya disaat aku tak tahu bahwa dia
sedang menahan rasa sakitnya…”
“Dan setelah aku
mengetahuinya, justru rasa sakit yang ku dapat…”
“Aku harus apa Zulfa?”
Aku
tak kuasa menahan air mataku. Ku biarkan dia mengalir deras. toh hanya
bidadariku yang tahu.
Lalu
dia membelai wajahku dengan lembut sambil tersenyum kepadaku.
“Kau tak harus melakukan
apapun Nugy, Ayahmu sangat bangga padamu, bahkan kau bisa memenuhi semua
keinginan dia saat ini. Aku tau pasti dia merasa senang dengan semua ini…”
“Apa kah kau ingin dia
kecewa ketika melihat anaknya menyalahkan dirinya sendiri?”
Aku menggelengkan kepalaku pelan.
“Apakah kau lebih ingin
dia sengsara ketika harus meninggalkanmu dalam kondisi rapuh seperti ini?”
tanya nya lagi.
Aku menggeleng lagi
“Aku baru bertemu Ayahmu
Nugy, walaupun aku belum mengetahui banyak, tapi aku sangat tau bahwa Ayahmu
adalah orang yang hebat sepertimu…”
“Hatiku pun sakit Nugy,
melihat dia dengan kondisinya. Aku hanya berusaha lebih tegar, agar bisa menguatkan
suamiku…”
Aku terpana akan setiap bait perkataan yagn dia ucapkan
kepadaku.
“Jadi, aku tak meminta
apapun darimu…”
“Aku hanya ingin kita
bisa mengantarkannya dengan ikhlas dan dihiasi dengan senyuman tulus, meskipun
rasa sedih dan air mata terus mengalir.”
Tiap bait perkataannya berhasil masuk kedalam lubuk
hatiku dan merangsang otakku untuk menerima semuanya. Kata-kata yang sangat
lembut dan belaian yang membuatku nyaman. Aku merasa hangat didekatnya, Aku
menemukan sebercak semangat yang tersisa dalam hatiku. Aku berterima kasih
kepada tuhan atas takdir yang sudah mempertemukan ku dengan wanita yang kini
sudah menjadi istriku.
“Apakah kau akan terus
disisiku Zulfa?” tanyaku lirih kepadanya.
“Aku akan terus bersamamu,”
jawabnya.
Aku menatapnya dengan serius.
“Aku mencintaimu Zulfa,
saat pertama kali aku melihatmu aku selalu memikirkanmu, saat aku bertemu
kembali denganmu, hatiku sangat senang. Dan saat aku tahu kau pergi dengan pria
lain, hatiku sangat sakit. Dan ketika aku tahu bahwa pria itu bisa membuatmu
nyaman hingga lupa waktu, hatiku sangat terluka.”
“Aku cemburu, aku tak
pernah merasakan cinta sebelum aku bertemu denganmu, dan aku sangat merasa
beruntung bisa merasakannya kepada wanita sepertimu…”
diriku bahwa tak akan ada cinta yang lain selain hanya kepadamu. Sungguh aku
sangat mencintaimu Zulfa, istriku.”
Aku mengatakan semua yang kurasa terhadapnya, aku
mengungkapkannya dengan penuh keyakinan, aku tak perlu menundanya, karena dia
harus tau bahwa aku mencintainya.
Aku melihat air mata mengalir dari matanya yang indah
lalu membasahi pipinya yang mulus. Aku merasa tak enak, apakah aku menyakiti
hatinya? Apakah aku salah jika mengatakannya?
“Maafkan aku jika itu
membuatmu terluka, tapi kau tak pelu menangis Zulfa,” ucapku pelan sambil
mengusap air matanya.
Dia menahan tanganku yang ada dipipinya.
“Tidak Nugy, aku tak
terluka sedikit pun, aku hanya tak kuasa menahan air mata bahagiaku saat
mendengar kalimat yang selama ini aku ingin tau,” ucapnya lembut.
“Zulfa,” sapaku pelan.
“Aku juga sangat mencintaimu
Nugy, suamiku,” ucapnya sambil mendekatkan wajahnya kepadaku.
Kami pun berciuman sangat lama, kami terlarut dalam
suasana yang hangat dan penuh cinta. Disaat cahaya mentari mulai hilang ditelan
gelap, disaat itu pula kami saling tahu bahwa kami saling mencintai satu sama
lain.
Hari sudah mulai gelap, kami pun memutuskan untuk pulang
kerumah, mereka pasti menunggu kami berdua. kami mengendarai mobil lalu pergi
melesat dengan pelan menuju rumah.
“Zulfa” panggilku ragu.
“Apa?” tanyanya heran.
“Apa aku sudah boleh
melakukannya malam ini?”
“Kau boleh melakukannya
saat kita sudah sampai di Hutan Belantaramu nanti,” balasnya menggodaku.
“Kau selalu menundanya Zulfa,”
ucapku kesal.
“Hahaha kalau saja kau
lebih cepat mengucapkannya, mungkin kau sudah mendapatkannya.”
“Haruskah.”
“Tentu, aku tak mau
bersetubuh dengan pria yang tak mencintaiku,” balasnya menggoda sambil mencubit
pipiku tepat dimana dia menamparku tadi.
“Itu sakit Zulfa.”
“Hahaha, maafkan aku
sayang, aku sudah menamparmu tadi,” jawabnya sambil mengelus pipiku.
Aku pun tersenyum, aku senang sekali dia memanggilku
sayang.
Kami berdua masuk kedalam rumah, dan melihat mereka
sedang makan, aku dan Zulfa pun langsung ikut bergabung untuk makan malam
bersama. Aku sudah lama tak makan ikan segar. Aku melihat Zulfa yang sedang antusias
merasakan enaknya rasa ikan ini. Ikan-ikan di Kota ini adalah ikan yang paling
segar ku rasa. Tak salah jika memang kota ini dijuluki sebagai Kota Ikan.
Setelah makan aku pun pergi kebelakang rumah yang
terdapat kolam renangnya, seperti biasa aku mengeluarkan rokokku lalu
menghisapnya. Merokok setelah makan memang nikmat.
“Ada yang ingin ku
katakana padamu,” Kehadiran Patricia mengejutkanku.
“Katakan saja,” balasku
santai sambil menghisap rokokku.
“Ayahmu sudah tak mau
lagi dirawat, bahkan dia tak mau lagi kupasangkan alat medis, obat penghambat
rasa sakit pun tak mau lagi diminumnya.”
Aku hanya terdiam, sebenarnya juga kesal mendengarnya,
tapi apa lagi yang bisa ku lakukan, itu sudah kemauan Ayah, kurasa dia ingin
__ADS_1
mengakhiri hidupnya dengan lebih cepat. Aku pun tak tega melihat Ayah yang
selalu menahan sakit yang dideritanya, dan terkesan dipaksa hidup dengan
bantuan Alat-alat itu. Sepertinya kami hanya harus menuruti kemauannya.
“Kita ikuti saja kemauan
Ayah,” jawabku datar.
“Kau gila Nugy, bisa bisa
dia akan ma—”
“Dia memang akan mati,
dan itu maunya, jadi biarkan saja,” ucapku dengan tegas memotong perkataanya.
“Kau tega melihat Ayahmu
mati Nugy, kau tak memiliki rasa kasihan sama sekali” balasnya kesal.
“Apa kau bilang?”
Dia terdiam takut melihatku.
“Kau menganggapku tak
punya hati?”
“IYYA?” lanjutku
membentaknya.
“Kenapa diam?” tanyaku
lagi
Dia tak mampu menjawab apapun.
“Aku akan melakukan
apapun untuk menyembuhkan Ayahku jika itu maunya, aku akan terus merasa tak
tega kepadanya jika memang itu kehendaknya…”
“Tapi dia sama sekali tidak
menginginkannya. Patricia!!! kau sudah lama merawatnya, apakah kau pernah
melihat dia membiarkan satu orang pun untuk menaruh rasa iba kepadanya? Kau
jawab aku Patricia.”
Dia benar-benar tak mampu menjawab kali ini, dia hanya
terpantung mencerna setiap bait perkataanku.
“Tak ada satupun anak
yang rela jika membiarkan Ayahnya menderita, dan aku hanya berusaha membuat
diriku tenang atas ini semua, untuk Ayahku yang tak ingin melihat anak
sulungnya terlihat rapuh dihadapannya…”
Aku terdiam sejenak menenangkan diriku.
“Patricia, terima kasih
kau sudah merawat Ayahku selama ini, bahkan kau lebih mengetahui penderitaan Ayahku
dengan penyakitnya itu …”
“Tapi Patricia, aku lebih
menderita disaat dimana Ayahku tak mengharapkan pertolongan apapun dariku. Dan
aku lebih menderita disaat aku baru mengetahui semuanya. Dan aku lebih
menderita ketika Ayahku sudah siap akan kematiannya, sedangkan aku sendiri tak
siap dengan itu…”
“Sebagai anak, aku hanya
ingin menuruti kematian seperti apa yang di inginkan oleh Ayahku,” ucapku lirih.
Aku diam sejenak sambil mengendalikan emosiku, lalu
melanjutkannya lagi.
“Apa kau sudah paham Patricia?
Sebaiknya kau tak mengatakan itu lagi dihadapanku,” sambungku tegas menatapnya
penuh amarah.
Dia hanya terdiam takut karena ku.
Lalu Zulfa datang menenangkanku dan membawaku masuk
kedalam. Padahal aku sudah tenang dengan semua ini, tapi justru Patricia
membuat emosi ku memuncak lagi.
Aku bersama Zulfa duduk diteras rumah, aku menghisap
rokokku lagi sambil berdiri. Zulfa pasti sadar dia tak bisa melarang apapun
yang ingin aku lakukan saat ini, jadi dia memilih duduk manis menemaniku menghisap
rokokku.
“Kita besok kemana?”
tanya nya kepadaku.
“Aku ingin ziarah kemakam
kakekkmu,” ucap Ayah tiba-tiba datang dengan memkai kursi rodanya bersama Ibu
yang membantunya.
Kami hanya menatap mereka berdua.
“Oke,” jawabku santai dan
membuang rokokku.
“Kenapa kau membuangnya?”
tanya Ayah kepadaku
“Aku sudah puas
menghisapnya,” balasku datar.
“Hahaha,” dia tertawa
dengan sangat kecil.
Dia pun mendekat kepada kami berdua, aku pun duduk.
“Bisakah kau membantuku
untuk menghubingi Papamu?” tanya Ayah kepada Zulfa.
Zulfa
mengangguk riang.
Ayah hanya tersenyum, lalu Zulfa pun membuka ponselnya
yang sedari tadi tak pernah lepas dari tangannya, lalu menelfon Papa.
“Hallo Pa,” sapanya
kepada papa.
Kami yang tak tahu apa yang sedang mereka bicarakan, hanya
melihatnya saja.
“Ayah ingin bicara sama Papa,”
sambungnya.
Lalu
memberikan ponselnya kepada Ayah.
“Loudspeaker kan saja
nak,” suruh Ibu sambil tersenyum.
“Hallo” kata Ayah
“Hahaha ada apa kau
menelfonku, kau rindu?” balas Papa diseberang sana.
Papa memang memiliki sifat yang friendly, sangat mudah akrab
dengan orang, sama seperti Ayahku.
“Iyaa, sepertinya aku sudah
melihat ujung hidupku.”
Kami semua pun terdiam.
“Jadi, bisakah kau datang
kesini?” tanyanya lagi.
Papa pun terdiam diseberang sana.
“Aku ingin sahabataku
yang memandikanku,” sambung Ayah
Perkataannya membuatku, Ibu dan Zulfa merasa hanyut dalam
ras sedih kembali, aku hanya terdiam pasrah, sepertinya Ayah sudah sadar bahwa
kematiannya akan datang sebentar lagi. Aku melihat Ibu berusaha menahan
tangisnya. Dia pasti akan pergi sendiri untuk mengeluarkan semua air matanya.
“Ah apa yang kau katakan,
kau akan terus tetap hid—”
“Tolonglah,” Ayah
memotong perkataan papa dengan nada yang parau.
Kami semua terdiam termasuk Papa yang juga ikut diam
diseberang sana.
“Baiklah, besok pagi aku
sudah sampai disana bersama Istriku,” balas Papa meyakinkan Ayah.
“Terima kasih.”
“Sama-sama.”
Lalu
telfon pun mati.
“Mari kita tidur, besok
pagi-pagi sekali kita harus segera kesana, aku tak mau terlambat,” ucapnya
sambil tersenyum kepada kami berdua.
Kami pun masuk kedalam rumah, dan berjalan kekamar kami
masing-masing. Aku sepertinya tidak bisa tidur malam ini, namun Zulfa langsung
memelukku.
“Tidurlah,” ucapnya
lembut.
__ADS_1
Aku pun membalas pelukannya, hingga
kami pun tertidur.