Belantara

Belantara
PRIA GAGAH ITU PERGI (PART 3)


__ADS_3

Lama aku tertidur, aku


pun terbangun saat Zulfa membangunkanku.


“Bangun, mandilah, ini


sudah sore,” suruhnya.


            Aku pun memeluknya yang tengah duduk disampingku.


“Lepaskan aku Nugy,” ucapnya


sambil melepaskan tanganku dari pinggangnya.


“Aku ingin memelukmu.”


“Aku tak suka dipeluk


oleh pria yang jorok,” ucapnya kesal


“Salahmu sendiri.”


“Kenapa jadi salahku”


protesnya


“Kau mandi tak mengajak


aku,” kataku dengan nada menggoda


“Jangan mimpi.”


“Hahaha, mana handukku,”


ucapku sambil berdiri.


            Dia pun memberikan handuk kepadaku, dan aku langsung


masuk kekamar mandi untuk mebersihkan badanku.


            Ketika aku keluar dari kamar mandi, aku melihat Zulfa


sedang mengikat rambutnya. Melihat dia dengan rambutnya yang terkuncir, justru


membuatku semakin ingin menciumnya, aku mendekatinya lalu memeluknya dari


belakang. Dia pun mendorongku.


“Pakai bajumu Nugy,” ucapnya


sambil memalingkan wajahnya dariku.


            Dia selalu tak tahan melihat tubuhku yang berotot ini,


dia selalu malu melihatnya


“Kenapa kau tak menatapku,”


godaku.


“Sudah pakai saja,”


suruhnya dengan malu-malu.


            Aku pun menariknya sehingga dia duduk menatapku.


“Kau tak tahan melihat


tubuhku? Atau kau tak menyangka pria sepertiku memiliki otot seperti ini?”


tanya ku menggodanya.


            Dia hanya diam dengan ekspresi wajah yang memerah, aku


pun memutuskan untuk terus menggodanya.


“Zulfaa, kau akan lebih


terkejut melihat apa yang ada dibalik handukku ini,” sambungku semakin


menggodanya.


“Nugy, kau mengerikan,” ucapnya


lalu mendorongku.


Dia


berdiri mengambil baju dan diberikan kepadaku.


            Aku hanya tertawa melihat bidadariku, aku sangat suka


menggodanya karena dia semakin terlihat menggemaskan dengan wajahnya yang


memerah kala ku goda.


            Setelah aku memakai bajuku, kami pun turun kebawah untuk


berkumpul bersama, aku melihat ada Om Zul suami Tante Yuni diruang tamu yang


tengah duduk bersama Ayah, Ibu, Tante Yuni dan Tante Iida.


“Nugy, kemari nak,”


panggil Ibu.


            Aku dan Zulfa pun datang bergabung bersama mereka, lalu kami


pun duduk disebelah Tante Ida.


“Itu adalah menantuku,” Ayah


menunjukk Zulfa dengan bangga.


            Om Zul pun takjub melihat kearah Zulfa yang duduk


disebelahku.


Zulfa


hanya mengangguk sambil melemparkansenyum kepada Om Zul, dan langsung dibalas olehnya.


“Dia cantik bukan?” ucap Ayah


dengan bangga.


“Seperti yang kau


katakan, dia sangat cantik, sangat cocok dengan anakmu yang gagah,” kata Om Zul


memuji kami.


            Lalu dia menatapku yang masih terdiam saja.


“Aku mendengar


perusahaanmu sedang naik daun Nugy,” sambungnya memujiku.


“Tidak Om, kami masih


berusaha maju,” jawabku santai


“Hahaha, aku suka sekali


dengan mu.”


            Aku tak pernah banyak mengobrol dengan Om Zul, namun aku


tau dia adalah orang yang baik, meskipun dia lebih tua tapi dia sangat hormat


kepada Ayahku, bahkan dia pernah turun langsung membantu Ayahku ketika masa


pencalonannya menjadi Elite Politik dia hutan belantara itu.


“Lalu bagaimana dengan


Hutan Belantaramu?” tanyanya lagi kepadaku.


            Aku hanya terdiam, dan menatap semua orang yang ada diruang


tamu rumah ini, kemudian tatapanku berhenti kepada Ayahku.


“Sebentar lagi dia akan


kehilangan salah satu penghuninya,” jawabku datar penuh kepasrahan.


            Semuanya hanya terdiam mendengar perkataanku, tentu saja


mereka paham maksudku adalah Ayah. Hutan belantara itu akan kehilangan satu-satunya


penghuni yang sangat penting bagiku, bahkan bagi kami semua.


            Berbeda dengan yang lain, Ayah justru tersenyum melihat


kearahku. Bukan Ayah jika dia bisa terdiam terpaku mendengar seseorang yang


menyinggungnya.


“Penghuni yang hilang itu


akan pergi menuju wujudnya yang baru, dan salah satu penghuni yang tertinggal


akan mengubah hutan itu dipenuhi dengan tumbuhan hijau yang menenangkan jiwa


disekelilingnya,” ucapnya kearahku lalu tersenyum.


“Aku tak butuh jika


memang hutan itu akan menjadi hijau dan menenangkan, aku hanya butuh penghuni


itu tetap berada disisiku berupa fisik, dan bukan ruh bahkan nama,” balasku.


Lalu


aku beranjak dari tempat duduk ku dan pergi sambil membawa Zulfa ikut


bersamaku.


            Aku tak perduli dengan ruangan itu setelah aku


meninggalkan mereka, ntah kenapa disaat aku sadar kematian akan menjemput Ayahku,


disaat itu pula aku menolak untuk ditinggalkan olehnya.


            Aku pergi bersama Zulfa mengemudikan mobil yang ku pinjam


untuk pergi ke suatu tempat, dimana ditempat itu kami bisa melihat sunset yang


sangat indah.


            Ku parkirakn mobil itu dihalaman hotel yang ada didekat


tempat itu, dan kami berjalan menuju ujung dermaga yang ada di dekat hotel itu.


Kami melihat banyak orang yang mandi sore itu, anak-anak muda saling melempar


tawa sesamanya, dan ada remaja yang sibuk dengan kekasihnya, namun ada yang


membuatku hanyut ketika melihatnya, yaitu seorang anak yang tengah berenang


mengenakan pelampung sambil dipegang oleh Ayahnya.


            Aku mengingat diriku saat kecil, saat dimana posisiku


sama persis dengan anak kecil itu, Ayahku memegang tanganku seakan takut jika


aku hilang ditelan ombak, meskipun ombak itu tak berbahaya sama sekali. Aku


sadar jika waktu itu tidak akan pernah kembali lagi, bukan karena aku sudah besar,


tapi karena pria itu yang tak akan ada lagi didunia ini.


            Ditengah sinar mentari yang akan lenyap ditelan bumi aku menyandarkan


kepalaku kebahu bidadariku sambil memegang erat tangannya, dan dia mengelus


kepalaku dengan lembut, dia selalu tau harus berbuat apa ketika aku dalam


kondisi rapuh seperti ini.


“Kau lihat anak itu,” ucapku


sambil menunjuk anak yang ku maksud tadi.


“Iyaa, aku melihatnya,”


jawabnya lembut.


“Dulu aku pernah

__ADS_1


sepertinya, mengambang tanpa takut meskipun aku tak tau berenang, tapi aku


yakin pria itu tak akan membiarkanku hanyut,” ucapku sendu sambil menahan


tangisku.


“Kini. Justru pria itu


yang akan hanyut oleh takdir yang membelenggunya…”


            Aku mengangkat kepalaku lalu menatap istriku.


“Apakah aku bisa


membuatnya tak merasa takut Zulfa?” tanyaku dengan lirih.


            Aku tak sadar sudah meneteskan air mataku, aku tak kuat


menahan kesedihan ini, hatiku sakit pada takdir, dan hati ku sakit kepadamu


tuhan, mengapa secepat ini kau panggil Ayahku.


“Aku bahkan pernah


membenci pria itu, bahkan menyakiti hatinya disaat aku tak tahu bahwa dia


sedang menahan rasa sakitnya…”


“Dan setelah aku


mengetahuinya, justru rasa sakit yang ku dapat…”


“Aku harus apa Zulfa?”


Aku


tak kuasa menahan air mataku. Ku biarkan dia mengalir deras. toh hanya


bidadariku yang tahu.


Lalu


dia membelai wajahku dengan lembut sambil tersenyum kepadaku.


“Kau tak harus melakukan


apapun Nugy, Ayahmu sangat bangga padamu, bahkan kau bisa memenuhi semua


keinginan dia saat ini. Aku tau pasti dia merasa senang dengan semua ini…”


“Apa kah kau ingin dia


kecewa ketika melihat anaknya menyalahkan dirinya sendiri?”


            Aku menggelengkan kepalaku pelan.


“Apakah kau lebih ingin


dia sengsara ketika harus meninggalkanmu dalam kondisi rapuh seperti ini?”


tanya nya lagi.


            Aku menggeleng lagi


“Aku baru bertemu Ayahmu


Nugy, walaupun aku belum mengetahui banyak, tapi aku sangat tau bahwa Ayahmu


adalah orang yang hebat sepertimu…”


“Hatiku pun sakit Nugy,


melihat dia dengan kondisinya. Aku hanya berusaha lebih tegar, agar bisa menguatkan


suamiku…”


            Aku terpana akan setiap bait perkataan yagn dia ucapkan


kepadaku.


“Jadi, aku tak meminta


apapun darimu…”


“Aku hanya ingin kita


bisa mengantarkannya dengan ikhlas dan dihiasi dengan senyuman tulus, meskipun


rasa sedih dan air mata terus mengalir.”


            Tiap bait perkataannya berhasil masuk kedalam lubuk


hatiku dan merangsang otakku untuk menerima semuanya. Kata-kata yang sangat


lembut dan belaian yang membuatku nyaman. Aku merasa hangat didekatnya, Aku


menemukan sebercak semangat yang tersisa dalam hatiku. Aku berterima kasih


kepada tuhan atas takdir yang sudah mempertemukan ku dengan wanita yang kini


sudah menjadi istriku.


“Apakah kau akan terus


disisiku Zulfa?” tanyaku lirih kepadanya.


“Aku akan terus bersamamu,”


jawabnya.


            Aku menatapnya dengan serius.


“Aku mencintaimu Zulfa,


saat pertama kali aku melihatmu aku selalu memikirkanmu, saat aku bertemu


kembali denganmu, hatiku sangat senang. Dan saat aku tahu kau pergi dengan pria


lain, hatiku sangat sakit. Dan ketika aku tahu bahwa pria itu bisa membuatmu


nyaman hingga lupa waktu, hatiku sangat terluka.”


“Aku cemburu, aku tak


pernah merasakan cinta sebelum aku bertemu denganmu, dan aku sangat merasa


beruntung bisa merasakannya kepada wanita sepertimu…”


diriku bahwa tak akan ada cinta yang lain selain hanya kepadamu. Sungguh aku


sangat mencintaimu Zulfa, istriku.”


            Aku mengatakan semua yang kurasa terhadapnya, aku


mengungkapkannya dengan penuh keyakinan, aku tak perlu menundanya, karena dia


harus tau bahwa aku mencintainya.


            Aku melihat air mata mengalir dari matanya yang indah


lalu membasahi pipinya yang mulus. Aku merasa tak enak, apakah aku menyakiti


hatinya? Apakah aku salah jika mengatakannya?


“Maafkan aku jika itu


membuatmu terluka, tapi kau tak pelu menangis Zulfa,” ucapku pelan sambil


mengusap air matanya.


            Dia menahan tanganku yang ada dipipinya.


“Tidak Nugy, aku tak


terluka sedikit pun, aku hanya tak kuasa menahan air mata bahagiaku saat


mendengar kalimat yang selama ini aku ingin tau,” ucapnya lembut.


“Zulfa,” sapaku pelan.


“Aku juga sangat mencintaimu


Nugy, suamiku,” ucapnya sambil mendekatkan wajahnya kepadaku.


            Kami pun berciuman sangat lama, kami terlarut dalam


suasana yang hangat dan penuh cinta. Disaat cahaya mentari mulai hilang ditelan


gelap, disaat itu pula kami saling tahu bahwa kami saling mencintai satu sama


lain.


            Hari sudah mulai gelap, kami pun memutuskan untuk pulang


kerumah, mereka pasti menunggu kami berdua. kami mengendarai mobil lalu pergi


melesat dengan pelan menuju rumah.


“Zulfa” panggilku ragu.


“Apa?” tanyanya heran.


“Apa aku sudah boleh


melakukannya malam ini?”


“Kau boleh melakukannya


saat kita sudah sampai di Hutan Belantaramu nanti,” balasnya menggodaku.


“Kau selalu menundanya Zulfa,”


ucapku kesal.


“Hahaha kalau saja kau


lebih cepat mengucapkannya, mungkin kau sudah mendapatkannya.”


“Haruskah.”


“Tentu, aku tak mau


bersetubuh dengan pria yang tak mencintaiku,” balasnya menggoda sambil mencubit


pipiku tepat dimana dia menamparku tadi.


“Itu sakit Zulfa.”


“Hahaha, maafkan aku


sayang, aku sudah menamparmu tadi,” jawabnya sambil mengelus pipiku.


            Aku pun tersenyum, aku senang sekali dia memanggilku


sayang.


            Kami berdua masuk kedalam rumah, dan melihat mereka


sedang makan, aku dan Zulfa pun langsung ikut bergabung untuk makan malam


bersama. Aku sudah lama tak makan ikan segar. Aku melihat Zulfa yang sedang antusias


merasakan enaknya rasa ikan ini. Ikan-ikan di Kota ini adalah ikan yang paling


segar ku rasa. Tak salah jika memang kota ini dijuluki sebagai Kota Ikan.


            Setelah makan aku pun pergi kebelakang rumah yang


terdapat kolam renangnya, seperti biasa aku mengeluarkan rokokku lalu


menghisapnya. Merokok setelah makan memang nikmat.


“Ada yang ingin ku


katakana padamu,” Kehadiran Patricia mengejutkanku.


“Katakan saja,” balasku


santai sambil menghisap rokokku.


“Ayahmu sudah tak mau


lagi dirawat, bahkan dia tak mau lagi kupasangkan alat medis, obat penghambat


rasa sakit pun tak mau lagi diminumnya.”


            Aku hanya terdiam, sebenarnya juga kesal mendengarnya,


tapi apa lagi yang bisa ku lakukan, itu sudah kemauan Ayah, kurasa dia ingin

__ADS_1


mengakhiri hidupnya dengan lebih cepat. Aku pun tak tega melihat Ayah yang


selalu menahan sakit yang dideritanya, dan terkesan dipaksa hidup dengan


bantuan Alat-alat itu. Sepertinya kami hanya harus menuruti kemauannya.


“Kita ikuti saja kemauan


Ayah,” jawabku datar.


“Kau gila Nugy, bisa bisa


dia akan ma—”


“Dia memang akan mati,


dan itu maunya, jadi biarkan saja,” ucapku dengan tegas memotong perkataanya.


“Kau tega melihat Ayahmu


mati Nugy, kau tak memiliki rasa kasihan sama sekali” balasnya kesal.


“Apa kau bilang?”


            Dia terdiam takut melihatku.


“Kau menganggapku tak


punya hati?”


“IYYA?” lanjutku


membentaknya.


“Kenapa diam?” tanyaku


lagi


            Dia tak mampu menjawab apapun.


“Aku akan melakukan


apapun untuk menyembuhkan Ayahku jika itu maunya, aku akan terus merasa tak


tega kepadanya jika memang itu kehendaknya…”


“Tapi dia sama sekali tidak


menginginkannya. Patricia!!! kau sudah lama merawatnya, apakah kau pernah


melihat dia membiarkan satu orang pun untuk menaruh rasa iba kepadanya? Kau


jawab aku Patricia.”


            Dia benar-benar tak mampu menjawab kali ini, dia hanya


terpantung mencerna setiap bait perkataanku.


“Tak ada satupun anak


yang rela jika membiarkan Ayahnya menderita, dan aku hanya berusaha membuat


diriku tenang atas ini semua, untuk Ayahku yang tak ingin melihat anak


sulungnya terlihat rapuh dihadapannya…”


            Aku terdiam sejenak menenangkan diriku.


“Patricia, terima kasih


kau sudah merawat Ayahku selama ini, bahkan kau lebih mengetahui penderitaan Ayahku


dengan penyakitnya itu …”


“Tapi Patricia, aku lebih


menderita disaat dimana Ayahku tak mengharapkan pertolongan apapun dariku. Dan


aku lebih menderita disaat aku baru mengetahui semuanya. Dan aku lebih


menderita ketika Ayahku sudah siap akan kematiannya, sedangkan aku sendiri tak


siap dengan itu…”


“Sebagai anak, aku hanya


ingin menuruti kematian seperti apa yang di inginkan oleh Ayahku,” ucapku lirih.


            Aku diam sejenak sambil mengendalikan emosiku, lalu


melanjutkannya lagi.


“Apa kau sudah paham Patricia?


Sebaiknya kau tak mengatakan itu lagi dihadapanku,” sambungku tegas menatapnya


penuh amarah.


            Dia hanya terdiam takut karena ku.


            Lalu Zulfa datang menenangkanku dan membawaku masuk


kedalam. Padahal aku sudah tenang dengan semua ini, tapi justru Patricia


membuat emosi ku memuncak lagi.


            Aku bersama Zulfa duduk diteras rumah, aku menghisap


rokokku lagi sambil berdiri. Zulfa pasti sadar dia tak bisa melarang apapun


yang ingin aku lakukan saat ini, jadi dia memilih duduk manis menemaniku menghisap


rokokku.


“Kita besok kemana?”


tanya nya kepadaku.


“Aku ingin ziarah kemakam


kakekkmu,” ucap Ayah tiba-tiba datang dengan memkai kursi rodanya bersama Ibu


yang membantunya.


            Kami hanya menatap mereka berdua.


“Oke,” jawabku santai dan


membuang rokokku.


“Kenapa kau membuangnya?”


tanya Ayah kepadaku


“Aku sudah puas


menghisapnya,” balasku datar.


“Hahaha,” dia tertawa


dengan sangat kecil.


            Dia pun mendekat kepada kami berdua, aku pun duduk.


“Bisakah kau membantuku


untuk menghubingi Papamu?” tanya Ayah kepada Zulfa.


Zulfa


mengangguk riang.


            Ayah hanya tersenyum, lalu Zulfa pun membuka ponselnya


yang sedari tadi tak pernah lepas dari tangannya, lalu menelfon Papa.


“Hallo Pa,” sapanya


kepada papa.


            Kami yang tak tahu apa yang sedang mereka bicarakan, hanya


melihatnya saja.


“Ayah ingin bicara sama Papa,”


sambungnya.


Lalu


memberikan ponselnya kepada Ayah.


“Loudspeaker kan saja


nak,” suruh Ibu sambil tersenyum.


“Hallo” kata Ayah


“Hahaha ada apa kau


menelfonku, kau rindu?” balas Papa diseberang sana.


            Papa memang memiliki sifat yang friendly, sangat mudah akrab


dengan orang, sama seperti Ayahku.


“Iyaa, sepertinya aku sudah


melihat ujung hidupku.”


            Kami semua pun terdiam.


“Jadi, bisakah kau datang


kesini?” tanyanya lagi.


            Papa pun terdiam diseberang sana.


“Aku ingin sahabataku


yang memandikanku,” sambung Ayah


            Perkataannya membuatku, Ibu dan Zulfa merasa hanyut dalam


ras sedih kembali, aku hanya terdiam pasrah, sepertinya Ayah sudah sadar bahwa


kematiannya akan datang sebentar lagi. Aku melihat Ibu berusaha menahan


tangisnya. Dia pasti akan pergi sendiri untuk mengeluarkan semua air matanya.


“Ah apa yang kau katakan,


kau akan terus tetap hid—”


“Tolonglah,” Ayah


memotong perkataan papa dengan nada yang parau.


            Kami semua terdiam termasuk Papa yang juga ikut diam


diseberang sana.


“Baiklah, besok pagi aku


sudah sampai disana bersama Istriku,” balas Papa meyakinkan Ayah.


“Terima kasih.”


“Sama-sama.”


Lalu


telfon pun mati.


“Mari kita tidur, besok


pagi-pagi sekali kita harus segera kesana, aku tak mau terlambat,” ucapnya


sambil tersenyum kepada kami berdua.


            Kami pun masuk kedalam rumah, dan berjalan kekamar kami


masing-masing. Aku sepertinya tidak bisa tidur malam ini, namun Zulfa langsung


memelukku.


“Tidurlah,” ucapnya


lembut.

__ADS_1


            Aku pun membalas pelukannya, hingga


kami pun tertidur.


__ADS_2