Belantara

Belantara
SIAPAPUN AKAN KU HANCURKAN #2


__ADS_3

“Tett tettt tettt”


Bunyi


ponselku membangunkanku dari tidurku, lalu aku melihat ponselku dan ternyata


ada nomor baru yang menghubungiku, aku mematikannya. Aku memang tak pernah mau


mengangkat nomor baru yang menghubungiku sebelum dia mengirim pesan terlebih


dahulu.


Hal


itu pun membuat aku bangkit dari tempat tidurku, dan melihat jam dinding yang


sudah menunjukkan waktu malam, sepertinya tidurku terbalaskan siang ini. Aku


langsung bergegas mandi dan mempersiapkan diriku untuk menepati janjiku kepada


Zulfa untuk kerumahnya malam ini.


            Setelah aku bersiap, aku langsung pergi dengan menaiki


Motor Trail kebangganku, karena dekat jadi aku tak perlu memakai mobil, lagian


hari ini bintang sangat banyak menghiasi langit malam Hutan Belantara ini, jadi


ku rasa tak akan hujan malam ini.


             Ponselku selalu berbunyi


sejak tadi, tetapi aku tak pernah mengangkatnya, hingga aku sampai kerumah Zulfa


pun ponselku tetap berbunyi, aku jadi sedikit kesal dengan orang yang menelfon


ku Berkali-kali, tetapi masih belum ku respon untuk saat ini.


            Aku pun masuk kehalaman rumah Bidadariku, lalu


memarkirkan sepeda motorku di halaman rumah ini, dan aku berjalan menuju pintu


rumah yang tertutup, lalu aku mengnetuk pintu itu, yang langsung saja dibuka


oleh Mamanya.


“Malam Tante” sapaku


sambil tersenyum kepadanya.


“Malam, oh udah pulang,”


balasnya.


            Aku terdiam sambil mengerutkan dahi ku.


“Maksudnya tante?”


tanyaku.


            Dia pun menatapku heran.


“Zulfanya mana?” tanyanya


kepadaku.


            Aku semakin heran dengan pertanyaannya.


“Saya justru ingin


menemuinya kesini,” jawabku sopan.


“Lho, tadi sore dia


keluar, Tante fikir keluar dengan mu,” ucapnya.


            Aku terdiam mendengarnya, tadi siang aku sudah


mengantarnya pulang, tetapi kenapa sore dia keluar lagi, padahal aku mengatakan


kepadanya bahwa akan datang kerumahnya malam ini. Aku mulai curiga denga


kondisi ini.


“Masuk dulu nak,” ajaknya


kepadaku.


            Aku pun mengangguk.


            Lalu kami masuk dan duduk diruang tamu bersama Mamanya


Zulfa, Papanya puh ikut datang menghampiri kami.


“Oh kau rupanya, mana


anakku?” tanyanya kepadaku.


“Saya Benar-benar kurang


paham Om-Tante, saya datang justru ingin menemuinya kesini.” jawbaku sopan.


“Lah bagaimana ini, aku


fikir dia keluar denganmu,” ucapnya mulai panik.


            Aku pun ikut panik, dan ponselku selalu saja berbunyi


dengan nomer yang sama, aku jadi semakin kesal lalu mengangkat panggilan itu.


“Ada urusan apa kau


menelfonku terus,” ucapku kesal.


“Ini aku Ayu,” balasnya


seperti kepanikan.


“Ada apa?” tanyaku


“Aku diberitahu Zulfa


untuk menghubungimu sebelum dia dipergi dengan pria itu,” jawabnya.


“Maksudmu apa?” tanyaku


lagi mulai panik.


“Pria yang kau hajar


kemarin, dia mengajak Zulfa untuk pergi ke salah satu Bar yang ada dipusat


kota, Zulfa menelfonku sebelum dia pergi, dia harus meninggalkan ponselnya


dirumah, karena pria itu mengancamnya jika tak mau ikut perintah darinya,”


jawab Ayu.


“KEPARAT.” ucapku.


            Kedua Orang tua yang duduk dihadapanku pun menatapku


kaget, aku tak memperdulikan mereka, aku Benar-benar ingin meledakkan emosiku


kepada pria yang dengan beraninya memaksa Bidadariku.


“Tunjukkan aku dimana


lokasinya,” ucapku lalu mematikan ponselku.


“Ada apa?” tanya Tante panik


kepadaku.


“Tenang Om-Tante, saya


akan membawa Zulfa pulang dengan aman,” jawabku dan langsung meninggalkan


mereka.


            Aku melajukan sepeda motorku dengan sangat cepat, untung


saja aku menggunakan Sepeda Motor, jadi aku bisa lebih cepat sampai menuju lokasi


yang sudah dishare oleh Ayu kepadaku. Aku tak memiliki banyak waktu untuk


membawa beberapa orang ikut bersamaku, aku harus berani melakukannya sendiri,


meskipun aku bakal terluka, tetapi aku kan menghancurkan mereka dan membawa Bidadariku


pulang dengan aman.


            Aku tahu Bidadariku dalam bahaya sekarang, Bar dimana


tempat Bidadariku dibawa itu adalah tempat sarang prostitusi yang ada di Belantara


ini, semoga saja aku sempat sebelum dia Benar-benar diperdaya oleh pria


bajingan itu.


Bersabarlah sebentar


sayang, ucapku dalam hati.

__ADS_1


            Dengan kecepatan sepeda motor yang ku kemudikan, akhirnya


aku sampai ditempat yang aku tuju, tanpa pikir panjang aku langsung memarkirkan


sepeda motorku dengan sembarang, lalu berjalan masuk dengan cepat.


            Terlalu banyak orang yang ada didalam, sehingga aku tak


menemukan Bidadariku, sangat sesak oleh Orang-orang yang ada didalam, dan


membuatku agak sulit berjalan. Aku berusaha meloloskan diriku dari keramaian


orang yang sedang sibuk bergoyang dengan alkohol yang mengalir didarah mereka.


            Hingga aku menemukan seorang wanita yang tengah berdiri kaku


lalu dipermainkan oleh beberapa lelaki, mereka Mencolek-colek wanita itu, dan


memainkan rambutnya. Aku kenal dengan wanita itu, meskipun dia membelakangiku


tetapi aku yakin bahwa dia adalah Zulfa Bidadariku. Hatiku kembali diselimuti


oleh emosi ku yang sangat membara, meskipun aku tak yakin jika membuat


keributan disini, tetapi aku rasa tak ada cara lain selain itu.


            Aku mendekati mereka yang sudah mulai berani merangkul


bidadariku, dan ketika ku temukan pria itu ingin mencium wanitaku, aku langsung


menghantamkan tinjuku sekeras mungkin tepat diwajahnya.


“BAJINGAN KAU,” bentakku


kepadanya.


            Aku tak Menyia-nyiakan kesempatanku, langsung saja aku


menghajarnya Bertubi-tubi hingga dia tak berdaya melawanku. Tetapi teman-teman


disekelilingnya tak tinggal diam, mereka maju untuk menghajarku.


            Satu pukulan keras mendarat dibelakang leherku dan beberapa


pukulan dari mereka mendarat diwajahku, tetapi banyak pukulan mereka yang


berhasil aku tangkis, darahku semakin mendidih, sudah lama ku rasa tak


merasakan hasrat seperti ini, yaitu hasrat untuk menghancurkan sesuatu.


            Aku langsung menghajar mereka semua yang tak tahu aku


berapa jumlahnya, yang jelas mereka lebih dari lima orang. Aku mendaratkan


pukulan dan tunjanganku kepada mereka, ketika mereka tergeletak dilantai aku


langsung menghajar mereka tanpa ampun.


            Hingga semua sudah berhasil aku hancurkan, aku juga tak


lupa untuk meludahi pria yang selama ini berani mengancam bidadariku.


“INI PERINGATAN DARIKU…”


“JIKA KAU BERANI MEMBAWA


KEKASIHKU, KAU BENAR-BENAR AKAN MATI KU BUAT…”


“AKU TAK PEDULI SIAPA


KELUARGAMU, DATANGLAH MENEMUIKU KAPANPUN, AKU JUSTRU SENANG BISA MENGHANCURKAN


KAU DAN KELUARGAMU SEKALIGUS”


            Setelah aku memakinya, aku pun membawa Zulfa pergi


keluar, dan tak lupa aku memberikan jaketku dan memakaikannya kepada zulfa yang


sedari tadi terdiam mengigil ntah karena apa, aku rasa dia sangat shock denga


kejadian yang dilihatnya sendiri.


“Kau tidak apa-apa?”


tanyaku memastikan.


“A—aku takut Nugy,”


jawabnya lalu menangis.


            Aku tak tahan melihat dia seperti ini, aku pun memeluknya


erat. Aku biarkan dia menghilangkan semua ketakutan yang dia rasakan saat ini.


aku sudah bersamamu,” ucapku menenangkannya.


            Lama dia menangis dipelukanku hingga ada beberapa orang


datang mendekat kepada kami berdua, mereka adalah Rojali, Ayu, dan Dewi, aku


tak begitu menghiraukan kedatangan mereka, yang ada aku justru bingung melihat


mereka bisa datang ditengah-tengah keadaan yang seperti ini.


“Lu gak Apa-apa Fa?”


tanya Ayu panik.


            Lalu Zulfa melepaskan pelukannya dariku dan langsung


memeluk Ayu sambil tetap menangis.


            Hatiku sangat sakit melihat Bidadariku menangis ketakutan


seperti ini, tetapi bagaimanapun aku juga sudah sangat puas menghancurkan pria


dan rekan-rekannya itu.


“Lu bonyok lagi Gy” ucap Dewi


sambil menggelengkan kepalanya.


            Aku hanya diam tak menjawab, darahku masih panas, dan


hatiku sangat sakit.


“Syukurlah kalian aman,”


ucap Rojali sambil menepuk pelan pundakku.


            Aku hanya mengangguk pelan.


“Kau sekarang sudah aman


Zulfa, banyak yang akan melindungimu sekarang,” ucap Ayu sambil mengelus kepala


Bidadariku.


            Aku melihat dia masih menangis dengan sendu, lalu aku


berjalan mendekat kearahnya dan menarik tangannya pelan. Lalu dia menatapku.


“Kita harus pulang,”


ucapku pelan.


“Aku takut jika Papaku


marah,” balasnya sambil menangis.


“Aku yang akan menyakinkan


mereka untuk tidak akan memarahimu,” ucapku meyakinkannya.


            Dia pun menurut apa yang ku katakan.


“Gua ga bisa jelasin


sekarang, dan hati gua Bener-bener lagi panas, jadi gua minta tolong buat elu


jelasin sama temen gua,” ucapku kepada Ayu mengatakan Dewi dan Rojali.


            Lalu aku pergi berboncengan dengan Zulfa dan dia memeluk


erat tubuhku, aku pun mengelus lembut tangannya. Baju kaos yang ku kenakan


sudah mulai basah ku rasa akibat dari air matanya yang keluar.


            Aku tak mengajaknya berbicara, aku biarkan dia


menumpahkan kesedihan yang dia rasakan. Aku benar-benar tak habis fikir


bagaimana mereka bisa memperlakukan wanita polos seperti yang mereka lakukan


tadi.


            Kota ini memang dipenuhi oleh Iblis-iblis yang


mengerikan, dan Bidadariku adalah korban dari keganasan kota ini, aku tak akan


tahu bahaya apa yang akan menanti ku didepan sana, tetapi yang pasti aku tak


akan membuat Bidadariku berada dalam bahaya lagi di Hutan ini.

__ADS_1


            Aku akan berusaha untuk menjaga Bidadariku, merawatnya


hingga dia mampu tumbuh menjadi Belantara dalam hidupku, bukan Belantara yang


di tumbuhi Beton-beton yang mampu menimpa para penghuninya dengan kerakusan


nafsu yang membara. Akan tetapi, dia adalah Belantara yang sesungguhnya,


Belantara yang tumbuh hijau, dan mampu memberi kesejukan, kedamaian, dan


memberi kekuatan hidup untuk terus berkembang.


“Zulfa kau adalah


belantaraku,” ucapku kepadanya.


            Dia diam tak menjawab, tetapi aku yakin dia mendengar apa


yang barusan aku ucapkan.


            Aku mengemudikan sepeda motorku dengan cepat, karena aku


juga menghkhawatirkan perasaan kedua Orang tuanya yang sudah sangat


mengkhawatirkan anaknya. Sesampainya dirumahnya aku langsung memarkirkan sepeda


motorku dengan rapih lalu membawa Zulfa untuk segera masuk, dan ketika aku


melangkahkan kakiku, dia menahan tanganku.


“Aku takut,” ucapnya pelan.


“Aku akan membelamu,”


balasku sambil tersenyum meyakinkannya.


            Lalu ku bawa dia masuk kedalam rumahnya, dan seperti yang


ku katakan, kedua orang tuanya langsung datang mendekat kearah kami berdua, dan


mamanya langsung memeluk Zulfa dengan perasaan cemas.


“Zulfa.”


“Ma.”


            Mereka berpelukan erat satu sama lain.


“Kau sudah membawa anakku


pulang degnan aman,” ucap Papanya kepadaku.


“Aku hanya menepati


janjiku,” balasku.


            Lalu kami semua pun duduk, hingga zulfa dan mamanya


berhenti menangis.


“Apa yang harus aku beri


untukmu?” tanya Papanya kepadaku.


“Aku hanya ingin air


putih, aku sangat haus,” jawabku santai.


“Hanya itu?” tanyanya


lagi.


Aku


hanya mengangguk ramah


            Dia pun berdiri mengambilkan air putih untukku, lalu


memberikannya kepadaku, dan langsung saja aku minum.


“Terima kasih nak, kau


sudah menyelamatkan anakku,” ucap Mamanya kepadaku.


            Aku hanya tersenyum


“Apa lukamu terasa


sakit?” tanyanya lagi kepadaku.


“Tidak Apa-apa Tante, aku


tak merasakan apapun,” jawabku meyakinkannya.


            Sebenarnya aku merasakan sedikit nyeri dibagian belakang


leherku karena salah satu dari mereka mengahajar leherku sangat keras, aku


merasa diriku sangat lelah, dari pada aku pingsan disini lebih baik aku segera


pulang dan mengobati lukaku.


“Kalau begitu saya pamit


dulu Om-Tante,” ucapku.


“Biar kuantar kau


kerumahmu.”


“Tak usah om, saya bisa


sendiri, lagian dekat.”


“Kau yakin?”


“Iya om.”


            Lalu aku bangkit dan berjalan keluar rumah.


            Ketika aku hendak menghidupkan sepeda motorku, Tiba-tiba


Zulfa datang memelukku dari belakang.


“Terima kasih Nugy,”


ucapnya pelan.


            Aku turun dari sepeda motorku lalu menatap wajahnya.


“Tidak apa, aku justru


berterima kasih kepadamu,” ucapku kepadanya.


            Dia menatapku seakan bertanya-tanya.


“Kau sudah percaya


padaku, aku sangat senang,” sambungku.


“Aku akan selalu percaya


padamu,” balasnya dengan yakin.


“Ya sudah, istirahatlah.”


“Lukamu, apa tidak


sakit?”


“Tidak terasa sama sekali.”


“Sungguh?”


            Aku hanya mengangguk dan menaiki sepeda motorku, badanku


sudah mulai terasa sempoyongan.


“Aku pulang ya.”


“Hati-hati ya.”


            Lalu aku pun pergi menuju pulang kerumahku.


            Aku sudah membayar kepercayaan yang dia berikan kepadaku,


aku juga sudah menyelamatkan Bidadariku dari kejamnya Makhluk-makhluk yang


membahayakan dirinya.


            Aku bahkan sudah membuat dia dan keluarganya percaya


kepadaku, kurasa itu sudah cukup bagiku. Meskipun aku tak tahu Bidadariku


mencintaiku atau tidak.


            Sesampainya dirumah, aku langsung


membaringkan badanku, tanpa sempat mengganti pakaianku, kepalaku terasa sangat


pening, dan pandaganku terasa Berputar-putar, aku pasti akan pingsan, tetapi


aku merasa nyaman karena sudah berada dikasurku. Dan tak ada satu pun yang

__ADS_1


mengetahui kondisiku yang lemah ini selain kau TUHAN.


__ADS_2