
“Tett tettt tettt”
Bunyi
ponselku membangunkanku dari tidurku, lalu aku melihat ponselku dan ternyata
ada nomor baru yang menghubungiku, aku mematikannya. Aku memang tak pernah mau
mengangkat nomor baru yang menghubungiku sebelum dia mengirim pesan terlebih
dahulu.
Hal
itu pun membuat aku bangkit dari tempat tidurku, dan melihat jam dinding yang
sudah menunjukkan waktu malam, sepertinya tidurku terbalaskan siang ini. Aku
langsung bergegas mandi dan mempersiapkan diriku untuk menepati janjiku kepada
Zulfa untuk kerumahnya malam ini.
Setelah aku bersiap, aku langsung pergi dengan menaiki
Motor Trail kebangganku, karena dekat jadi aku tak perlu memakai mobil, lagian
hari ini bintang sangat banyak menghiasi langit malam Hutan Belantara ini, jadi
ku rasa tak akan hujan malam ini.
Ponselku selalu berbunyi
sejak tadi, tetapi aku tak pernah mengangkatnya, hingga aku sampai kerumah Zulfa
pun ponselku tetap berbunyi, aku jadi sedikit kesal dengan orang yang menelfon
ku Berkali-kali, tetapi masih belum ku respon untuk saat ini.
Aku pun masuk kehalaman rumah Bidadariku, lalu
memarkirkan sepeda motorku di halaman rumah ini, dan aku berjalan menuju pintu
rumah yang tertutup, lalu aku mengnetuk pintu itu, yang langsung saja dibuka
oleh Mamanya.
“Malam Tante” sapaku
sambil tersenyum kepadanya.
“Malam, oh udah pulang,”
balasnya.
Aku terdiam sambil mengerutkan dahi ku.
“Maksudnya tante?”
tanyaku.
Dia pun menatapku heran.
“Zulfanya mana?” tanyanya
kepadaku.
Aku semakin heran dengan pertanyaannya.
“Saya justru ingin
menemuinya kesini,” jawabku sopan.
“Lho, tadi sore dia
keluar, Tante fikir keluar dengan mu,” ucapnya.
Aku terdiam mendengarnya, tadi siang aku sudah
mengantarnya pulang, tetapi kenapa sore dia keluar lagi, padahal aku mengatakan
kepadanya bahwa akan datang kerumahnya malam ini. Aku mulai curiga denga
kondisi ini.
“Masuk dulu nak,” ajaknya
kepadaku.
Aku pun mengangguk.
Lalu kami masuk dan duduk diruang tamu bersama Mamanya
Zulfa, Papanya puh ikut datang menghampiri kami.
“Oh kau rupanya, mana
anakku?” tanyanya kepadaku.
“Saya Benar-benar kurang
paham Om-Tante, saya datang justru ingin menemuinya kesini.” jawbaku sopan.
“Lah bagaimana ini, aku
fikir dia keluar denganmu,” ucapnya mulai panik.
Aku pun ikut panik, dan ponselku selalu saja berbunyi
dengan nomer yang sama, aku jadi semakin kesal lalu mengangkat panggilan itu.
“Ada urusan apa kau
menelfonku terus,” ucapku kesal.
“Ini aku Ayu,” balasnya
seperti kepanikan.
“Ada apa?” tanyaku
“Aku diberitahu Zulfa
untuk menghubungimu sebelum dia dipergi dengan pria itu,” jawabnya.
“Maksudmu apa?” tanyaku
lagi mulai panik.
“Pria yang kau hajar
kemarin, dia mengajak Zulfa untuk pergi ke salah satu Bar yang ada dipusat
kota, Zulfa menelfonku sebelum dia pergi, dia harus meninggalkan ponselnya
dirumah, karena pria itu mengancamnya jika tak mau ikut perintah darinya,”
jawab Ayu.
“KEPARAT.” ucapku.
Kedua Orang tua yang duduk dihadapanku pun menatapku
kaget, aku tak memperdulikan mereka, aku Benar-benar ingin meledakkan emosiku
kepada pria yang dengan beraninya memaksa Bidadariku.
“Tunjukkan aku dimana
lokasinya,” ucapku lalu mematikan ponselku.
“Ada apa?” tanya Tante panik
kepadaku.
“Tenang Om-Tante, saya
akan membawa Zulfa pulang dengan aman,” jawabku dan langsung meninggalkan
mereka.
Aku melajukan sepeda motorku dengan sangat cepat, untung
saja aku menggunakan Sepeda Motor, jadi aku bisa lebih cepat sampai menuju lokasi
yang sudah dishare oleh Ayu kepadaku. Aku tak memiliki banyak waktu untuk
membawa beberapa orang ikut bersamaku, aku harus berani melakukannya sendiri,
meskipun aku bakal terluka, tetapi aku kan menghancurkan mereka dan membawa Bidadariku
pulang dengan aman.
Aku tahu Bidadariku dalam bahaya sekarang, Bar dimana
tempat Bidadariku dibawa itu adalah tempat sarang prostitusi yang ada di Belantara
ini, semoga saja aku sempat sebelum dia Benar-benar diperdaya oleh pria
bajingan itu.
Bersabarlah sebentar
sayang, ucapku dalam hati.
__ADS_1
Dengan kecepatan sepeda motor yang ku kemudikan, akhirnya
aku sampai ditempat yang aku tuju, tanpa pikir panjang aku langsung memarkirkan
sepeda motorku dengan sembarang, lalu berjalan masuk dengan cepat.
Terlalu banyak orang yang ada didalam, sehingga aku tak
menemukan Bidadariku, sangat sesak oleh Orang-orang yang ada didalam, dan
membuatku agak sulit berjalan. Aku berusaha meloloskan diriku dari keramaian
orang yang sedang sibuk bergoyang dengan alkohol yang mengalir didarah mereka.
Hingga aku menemukan seorang wanita yang tengah berdiri kaku
lalu dipermainkan oleh beberapa lelaki, mereka Mencolek-colek wanita itu, dan
memainkan rambutnya. Aku kenal dengan wanita itu, meskipun dia membelakangiku
tetapi aku yakin bahwa dia adalah Zulfa Bidadariku. Hatiku kembali diselimuti
oleh emosi ku yang sangat membara, meskipun aku tak yakin jika membuat
keributan disini, tetapi aku rasa tak ada cara lain selain itu.
Aku mendekati mereka yang sudah mulai berani merangkul
bidadariku, dan ketika ku temukan pria itu ingin mencium wanitaku, aku langsung
menghantamkan tinjuku sekeras mungkin tepat diwajahnya.
“BAJINGAN KAU,” bentakku
kepadanya.
Aku tak Menyia-nyiakan kesempatanku, langsung saja aku
menghajarnya Bertubi-tubi hingga dia tak berdaya melawanku. Tetapi teman-teman
disekelilingnya tak tinggal diam, mereka maju untuk menghajarku.
Satu pukulan keras mendarat dibelakang leherku dan beberapa
pukulan dari mereka mendarat diwajahku, tetapi banyak pukulan mereka yang
berhasil aku tangkis, darahku semakin mendidih, sudah lama ku rasa tak
merasakan hasrat seperti ini, yaitu hasrat untuk menghancurkan sesuatu.
Aku langsung menghajar mereka semua yang tak tahu aku
berapa jumlahnya, yang jelas mereka lebih dari lima orang. Aku mendaratkan
pukulan dan tunjanganku kepada mereka, ketika mereka tergeletak dilantai aku
langsung menghajar mereka tanpa ampun.
Hingga semua sudah berhasil aku hancurkan, aku juga tak
lupa untuk meludahi pria yang selama ini berani mengancam bidadariku.
“INI PERINGATAN DARIKU…”
“JIKA KAU BERANI MEMBAWA
KEKASIHKU, KAU BENAR-BENAR AKAN MATI KU BUAT…”
“AKU TAK PEDULI SIAPA
KELUARGAMU, DATANGLAH MENEMUIKU KAPANPUN, AKU JUSTRU SENANG BISA MENGHANCURKAN
KAU DAN KELUARGAMU SEKALIGUS”
Setelah aku memakinya, aku pun membawa Zulfa pergi
keluar, dan tak lupa aku memberikan jaketku dan memakaikannya kepada zulfa yang
sedari tadi terdiam mengigil ntah karena apa, aku rasa dia sangat shock denga
kejadian yang dilihatnya sendiri.
“Kau tidak apa-apa?”
tanyaku memastikan.
“A—aku takut Nugy,”
jawabnya lalu menangis.
Aku tak tahan melihat dia seperti ini, aku pun memeluknya
erat. Aku biarkan dia menghilangkan semua ketakutan yang dia rasakan saat ini.
aku sudah bersamamu,” ucapku menenangkannya.
Lama dia menangis dipelukanku hingga ada beberapa orang
datang mendekat kepada kami berdua, mereka adalah Rojali, Ayu, dan Dewi, aku
tak begitu menghiraukan kedatangan mereka, yang ada aku justru bingung melihat
mereka bisa datang ditengah-tengah keadaan yang seperti ini.
“Lu gak Apa-apa Fa?”
tanya Ayu panik.
Lalu Zulfa melepaskan pelukannya dariku dan langsung
memeluk Ayu sambil tetap menangis.
Hatiku sangat sakit melihat Bidadariku menangis ketakutan
seperti ini, tetapi bagaimanapun aku juga sudah sangat puas menghancurkan pria
dan rekan-rekannya itu.
“Lu bonyok lagi Gy” ucap Dewi
sambil menggelengkan kepalanya.
Aku hanya diam tak menjawab, darahku masih panas, dan
hatiku sangat sakit.
“Syukurlah kalian aman,”
ucap Rojali sambil menepuk pelan pundakku.
Aku hanya mengangguk pelan.
“Kau sekarang sudah aman
Zulfa, banyak yang akan melindungimu sekarang,” ucap Ayu sambil mengelus kepala
Bidadariku.
Aku melihat dia masih menangis dengan sendu, lalu aku
berjalan mendekat kearahnya dan menarik tangannya pelan. Lalu dia menatapku.
“Kita harus pulang,”
ucapku pelan.
“Aku takut jika Papaku
marah,” balasnya sambil menangis.
“Aku yang akan menyakinkan
mereka untuk tidak akan memarahimu,” ucapku meyakinkannya.
Dia pun menurut apa yang ku katakan.
“Gua ga bisa jelasin
sekarang, dan hati gua Bener-bener lagi panas, jadi gua minta tolong buat elu
jelasin sama temen gua,” ucapku kepada Ayu mengatakan Dewi dan Rojali.
Lalu aku pergi berboncengan dengan Zulfa dan dia memeluk
erat tubuhku, aku pun mengelus lembut tangannya. Baju kaos yang ku kenakan
sudah mulai basah ku rasa akibat dari air matanya yang keluar.
Aku tak mengajaknya berbicara, aku biarkan dia
menumpahkan kesedihan yang dia rasakan. Aku benar-benar tak habis fikir
bagaimana mereka bisa memperlakukan wanita polos seperti yang mereka lakukan
tadi.
Kota ini memang dipenuhi oleh Iblis-iblis yang
mengerikan, dan Bidadariku adalah korban dari keganasan kota ini, aku tak akan
tahu bahaya apa yang akan menanti ku didepan sana, tetapi yang pasti aku tak
akan membuat Bidadariku berada dalam bahaya lagi di Hutan ini.
__ADS_1
Aku akan berusaha untuk menjaga Bidadariku, merawatnya
hingga dia mampu tumbuh menjadi Belantara dalam hidupku, bukan Belantara yang
di tumbuhi Beton-beton yang mampu menimpa para penghuninya dengan kerakusan
nafsu yang membara. Akan tetapi, dia adalah Belantara yang sesungguhnya,
Belantara yang tumbuh hijau, dan mampu memberi kesejukan, kedamaian, dan
memberi kekuatan hidup untuk terus berkembang.
“Zulfa kau adalah
belantaraku,” ucapku kepadanya.
Dia diam tak menjawab, tetapi aku yakin dia mendengar apa
yang barusan aku ucapkan.
Aku mengemudikan sepeda motorku dengan cepat, karena aku
juga menghkhawatirkan perasaan kedua Orang tuanya yang sudah sangat
mengkhawatirkan anaknya. Sesampainya dirumahnya aku langsung memarkirkan sepeda
motorku dengan rapih lalu membawa Zulfa untuk segera masuk, dan ketika aku
melangkahkan kakiku, dia menahan tanganku.
“Aku takut,” ucapnya pelan.
“Aku akan membelamu,”
balasku sambil tersenyum meyakinkannya.
Lalu ku bawa dia masuk kedalam rumahnya, dan seperti yang
ku katakan, kedua orang tuanya langsung datang mendekat kearah kami berdua, dan
mamanya langsung memeluk Zulfa dengan perasaan cemas.
“Zulfa.”
“Ma.”
Mereka berpelukan erat satu sama lain.
“Kau sudah membawa anakku
pulang degnan aman,” ucap Papanya kepadaku.
“Aku hanya menepati
janjiku,” balasku.
Lalu kami semua pun duduk, hingga zulfa dan mamanya
berhenti menangis.
“Apa yang harus aku beri
untukmu?” tanya Papanya kepadaku.
“Aku hanya ingin air
putih, aku sangat haus,” jawabku santai.
“Hanya itu?” tanyanya
lagi.
Aku
hanya mengangguk ramah
Dia pun berdiri mengambilkan air putih untukku, lalu
memberikannya kepadaku, dan langsung saja aku minum.
“Terima kasih nak, kau
sudah menyelamatkan anakku,” ucap Mamanya kepadaku.
Aku hanya tersenyum
“Apa lukamu terasa
sakit?” tanyanya lagi kepadaku.
“Tidak Apa-apa Tante, aku
tak merasakan apapun,” jawabku meyakinkannya.
Sebenarnya aku merasakan sedikit nyeri dibagian belakang
leherku karena salah satu dari mereka mengahajar leherku sangat keras, aku
merasa diriku sangat lelah, dari pada aku pingsan disini lebih baik aku segera
pulang dan mengobati lukaku.
“Kalau begitu saya pamit
dulu Om-Tante,” ucapku.
“Biar kuantar kau
kerumahmu.”
“Tak usah om, saya bisa
sendiri, lagian dekat.”
“Kau yakin?”
“Iya om.”
Lalu aku bangkit dan berjalan keluar rumah.
Ketika aku hendak menghidupkan sepeda motorku, Tiba-tiba
Zulfa datang memelukku dari belakang.
“Terima kasih Nugy,”
ucapnya pelan.
Aku turun dari sepeda motorku lalu menatap wajahnya.
“Tidak apa, aku justru
berterima kasih kepadamu,” ucapku kepadanya.
Dia menatapku seakan bertanya-tanya.
“Kau sudah percaya
padaku, aku sangat senang,” sambungku.
“Aku akan selalu percaya
padamu,” balasnya dengan yakin.
“Ya sudah, istirahatlah.”
“Lukamu, apa tidak
sakit?”
“Tidak terasa sama sekali.”
“Sungguh?”
Aku hanya mengangguk dan menaiki sepeda motorku, badanku
sudah mulai terasa sempoyongan.
“Aku pulang ya.”
“Hati-hati ya.”
Lalu aku pun pergi menuju pulang kerumahku.
Aku sudah membayar kepercayaan yang dia berikan kepadaku,
aku juga sudah menyelamatkan Bidadariku dari kejamnya Makhluk-makhluk yang
membahayakan dirinya.
Aku bahkan sudah membuat dia dan keluarganya percaya
kepadaku, kurasa itu sudah cukup bagiku. Meskipun aku tak tahu Bidadariku
mencintaiku atau tidak.
Sesampainya dirumah, aku langsung
membaringkan badanku, tanpa sempat mengganti pakaianku, kepalaku terasa sangat
pening, dan pandaganku terasa Berputar-putar, aku pasti akan pingsan, tetapi
aku merasa nyaman karena sudah berada dikasurku. Dan tak ada satu pun yang
__ADS_1
mengetahui kondisiku yang lemah ini selain kau TUHAN.