Belantara

Belantara
SIAPAPUN AKAN KUHANCURKAN #1


__ADS_3

“Ah sial!!! aku


kesiangan” ucapku seakan berbicara sendiri.


            Aku pun kekamar mandi untuk membersihkan badanku, aku


pasti akan dimarahi oleh Dewi kali ini, tadi malam aku tidak bisa tidur cepat,


karena semua pengakuan Zulfa Berputar-putar menghantui fikiranku. Aku tak


menyangka wanita polos, kecil seperti dia memiliki mental dan jiwa yang tangguh


dalam dirinya.


            Bisa-bisanya dia menyembunyikan semua kejadian yang


menurutku bisa membahayakan dirinya, aku juga tak habis fikir atas semua


tekanan-tekanan yang terjadi dalam hidupnya, menurutku untuk wanita yang


berumur seperti dia, tak sepantasnya dia mengalami itu.


Kau memang wanita tangguh


Zulfa, ucapku dalam hati.


            Dari setiap pengakuan dia tadi malam, ada satu hal yang


membuatku tak habis fikir, yaitu bagaimana bisa kami tidak bertemu ketika dia


mencari ku di halte seperti yang dia katakan kepadaku, padahal aku juga


mencarinya Berkali-kali di halte yang sama. Sungguh benar-benar unik Tuhan


mempertemukanku lagi dengan nya. Namun yang paling penting sekarang adalah aku


sudah mengetahui semuanya dan tidak akan menyia-nyiakan kesempatan untuk mendapatkannya


kali ini.


            Setelah aku keluar dari kamar mandi, aku pun segera


bergegas untuk memakai pakaianku lalu langsung bergerak menuju kantorku, disana


sudah ada monster yang sudah menunggu untuk memarahiku.


“Aku pergi mbok,” ucapku kepada


Mbok.


“Aden ga sarapan dulu?”


tanyanya.


“Ga sempat Mbok, aku


harus cepat,” jawabku.


“Yaudah, hati-hati den.”


            Aku hanya mengangguk sambil memberi dia senyuman lalu aku


pergi dengan mobilku. Aku harus memikirkan alasan yang tepat untuk aku katakan


kepada Dewi, kalau tidak dia bisa-bisa memarahiku nanti, meskipun dia hanya


sekertarisku tetapi aku tak kekeberatan jika dia memarahiku atas keteledoranku,


karena mamang dialah yang membantuku untuk menjaga integritasku sehingga


menjadi orang yang sedikit terpandang di Hutan Belantara ini.


“Ah sial, malah macet


lagi,” umpatku.


            Hutan Belantara hari ini sangat macet, sehingga membuatku


sedikit terhambat untuk bisa melesat cepat kekantorku. Ntah kenapa banyak


sekali orang menjadikan kota ini menjadi tujuan dalam hidup mereka. Padahal


kota ini sangat ganas bagi seorang manusia untuk bisa bertahan hidup.


            Tak ada yang mebedakan haram dan halal dikota ini, dan


sangat sulit untuk mengetahui yang mana teman dan lawan. Oleh sebab itu aku tak


terlalu menjaga hubungan erat dengan banyak orang, karena bagiku teman yang


berkualitas itu lebih penting dari pada hanya sekedar kuantitas.


            Ketika lampu hijau sudah muncul Perlahan-lahan mobil pun


sudah mulai maju, tentu saja aku tak Menyia-nyiakan kesempatan ini, aku langsung


memajukan mobilku dengan perlahan dan ketika aku melihat ada celah kosong aku


pun langsung melajukan mobilku dengan cepat, hingga aku berhasil sampai


dikantorku.


            Aku segera memasuki kantorku dengan santai dan tidak tergesa-gesa,


aku tak boleh melihatkan kepanikanku kepada Karyawan-karyawan yang bekerja


dikantorku, itu tidak baik bagi seorang Pemimpin.


“Ohhh datang juga, gua


kira lu lupa ama kerjaan lu,” ucap seseorang yang sudah siap akan memarahiku.


            Aku tak membalas ucapannya dan hanya tersenyum kearahnya


lalu berjalan masuk keruanganku.


“Apa alasan lu hari ini


gy?” tanyanya.


“Macet,” jawabku singkat.


“Hah!!!”


            Aku hanya diam cuek tak merespon.


“Lu fikir gua bakal


memahami alasan lu itu?”  sambungnya


bertanya kepadaku.


“Yaudah makanya jangan


banyak tanya.”


“Lu apaan sih Gy.”


“Lu yang apaan, coba aja


lu ngasih gua naik ojek. Gua ga akan telat kekantor ini.”


“Ooh sekarang lu malah


salahin gua.”


“Ya emang lu yang salah…”


“Kalau gua naik ojek


kesini tadi, gua pasti ga akan berhadapan sama macet yang buat gua telat hari


ini,” sambungku kesal kepadanya.


“Kok jadi elu yang marah,”


balasnya.


            Aku tak menjawab dan hanya menatapnya kesal.


“Yauda deh gua minta maaf,”


ucapnya pelan.


            Kali


ini aku menjadi merasa bersalah karena sudah memarahinya.


“Gak apa-apa,” balasku


santai.


            Lalu kami pun bertatapan sedikit lama.


“Nih,” ucapnya sambil


memberikan laporan kepadaku.


“Ntar aja gua cek,”


balasku.


“Oke.”


            Lalu dia pergi keluar ruanganku.


            Kini aku hanya duduk menyandarkan bahuku dikursi kerjaku,


ini sudah sering terjadi, aku sangat sering marah kepada dewi, dan disetiap


amarahku yang keluar dia selalu saja memaklumi ku, hal in yang membuatku tak


tega melihatnya yang habis ku marahi.


Mungkin nanti siang aku


akan mentraktir dia, ucapku dalam hati.


Aku


pun membuka laporan yang diberikan oleh dewi, sebenarnya aku sangat malas


memeriksa laporan-laporan ini, tetapi karena itu tugas ku, jadi aku lakukan


saja.


            Beginilah keseharian ku dikantor, membosankan dan tak


menyenangkan sama sekali. aku hanya harus duduk diruangan besar ini sendiri


dengan berkas-berkas yang membuat kepala ku terasa ingin pecah melihatnya.


            Saat-saat begini aku justru mengingat kejadianku kemarin


dengan Zulfa dan Ibu, hari itu adalah hari yang sangat menyenangkan bagi kami


bertiga. Hari dimana dua wanita yang kucintai saling bertemu dan melemparkan


cerita dan tawa satu sama lain, dua wanita yang selama ini menyimpan


ironi-ironi kehidupan mereka sendiri, aku sudah mengetahui kebenaran dari Zulfa,


tetapi belum mengetahui kebenaran yang disembunyikan oleh Ibu tentang


keluargaku.


Terbesit


difikiranku untuk mencari tahu persoalan itu, aku pun memutuskan untuk menyuruh


seseorang agar mencari tahu tentang apa yang disembunyikan dariku.  Dan aku tahu betul siapa orang yang pantas


untuk membantuku.


Aku


mengeluarkan ponselku lalu menelfon rojali. Dia pasti punya seseorang yang bisa


diandalkan soal ini.


“Dimana lu?” tanyaku


“Dicafe,” jawabnya


“Gua ada tugas buat lu.”


“Apa lagi?” tanyanya.


            Aku menceritakan kepadanya dengan singkat persoalan tingkah


Ibu yang seakan sedang menyembunyikan sesuatu tentang keluargaku terhadapku.


“Terus kau mau aku


gimana?” tanyanya.


“Lu suruh orang untuk mantau


aktivitas Ibu, dan kalau ada yang mencurigakan lu langsung kabarin gua,”


perintahku.


“Oke sip aman, santai aja


kau,” balasnya.


            Aku


tak menjawab lalu mematikan ponselku.

__ADS_1


            Rojali adalah orang yang tepat untuk urusan yang satu


ini, dia memiliki Anggota-anggota yang bisa dia andalkan, dan aku tak tahu bagaimana


dia bisa mendapatkan Orang-orang itu.


            Tunggulah sebentar lagi Bu, aku akan mengembalikan keluarga


ini menjadi keluarga yang menyenangkan seperti dahulu, ucapku dalam hati.


“Tettt tettt tettt”


ponsel ku Tiba-tiba berbunyi.


            Aku mengambil ponsel ku didalam saku celana yang ku


pakai, lalu ku lihat layar ponselku, ternyata Zulfa menelfonku. Aku langsung


mengangkatnya.


“Hallo” ucapku


“Hallo Gy,” balasnya


panik.


“Ada apa Fa?” tanyaku


sedikit panik.


“Nanti siang dia mengajak


ku makan siang,” jawabnya.


“Terus?”


“Aku takut,” jawabnya


pelan.


            Aku tak menjawabnya, meskipun aku tak dapat melihatnya


saat ini, tetapi aku yakin kalau dia sedang ketakutan dan meminta pertolongan


terhadapku.


“Sekarang kau ada


dimana?” tanyaku.


“Aku dikampus,” jawabnya.


“Ya sudah aku kesana


sekarang,” balasku lalu mematikan ponselku.


            Aku beranjak dari kursiku dan berjalan keluar ruanganku.


“Lu mau kemana?” tanya Dewi


kepadaku.


“Gua ada urusan.”


“Oh oke.”


            Dan aku langsung pergi berjalan meninggalkannya. aku


lebih baik tak mengatakan masalah ini dulu kepadanya, karena aku tak memiliki


banyak waktu, jadi biar aku yang menghadapinya dulu sendirian.


Maaf wi, gua gak bisa


ngomong sekarang, ucapku dalam hati.



            Kini aku sudah memasuki kawasan kampus yang menjadi


tempat kuliah Bidadariku, aku Mencari-cari dimana Fakultas dia berada, setelah


aku temukan langsung saja ku parkirkan mobilku.


            Aku berjalan mencari dimana Zulfa menungguku, disaat aku


berjalan banyak sekali Mahasiswi-mahasiswi yang melihat kearahku, dan aku tak


begitu perduli kepada mereka, aku hanya peduli kepada Bidadariku yang sedang


menunggu kedatanganku.


            Sudah lelah kurasa berkeliling untuk mencarinya, namun


tak juga ku temukan, lalu ku putuskan saja bertanya kepada seorang mahasiswa


yang sedang melirik ku sedari tadi, aku mendatanginya.


“Apa kau mengenal Zulfa?”


tanyaku.


            Dia tak menjawab dan hanya menatapku sambil tersenyum


kepadaku.


“Hey, apa kau


mengenalnya?” tanyaku lagi.


“E-eh gua ga kenal,”


jawabnya.


“Oh oke,” ucapku lalu


meninggalkannya.


            Aku sudah menelfon dia beberapa kali tetapi dia tak


mengangkatnya, aku rasa dia sudah bersama pria itu sekarang. Aku harus segera


mencarinya tetapi aku tak tahu kemana.


Dimana kau berada, ucapku


dalam hati.


            Aku mulai panik dengan tak menemukan dia, namun tiba-tiba


saja terlintas difikiranku untuk mencarinya dikantin kampus ini, tetapi aku tak


tahu dimana letaknya, jadi aku putuskan untuk menanyakan mahasiswi yang lain


lagi.


“Maaf mengganggu, apa kau


            Dia


tak menjawab dan hanya menatapku sambil tersenyum.


“Ayolah aku sedang Buru-buru,”


sambungku.


“B-baiklah,” jawabnya.


            Dia pun membawaku kekantin yang ada di Fakultas ini, dan


aku hanya berjalan mengikutinya dari belakangnya, ternyata tak begitu jauh dari


tempat ku berdiri tadi.


Akhirnya


aku pun sampai dikantin, dan tebakanku tidak salah, aku menemukan bidadariku


disini, dia bersama pria yang sudah ku hajar kemarin. Bidadariku sedang duduk


terdiam seperti orang yang ketakutan, sedangkan pria itu sedang tertawa dengan


teman-temannya yang berada satu tempat duduk dengannya dan Bidadarku.


            Aku tak tahan melihat pemandangan ini, aku berjalan


mendekati mereka, hingga aku berdiri disamping Bidadariku, dan menarik pelan tangannya


untuk berdiri.


“Ayo kita pulang,” ucapku


kepadanya.


“N-nugy,” sapanya kaget.


            Aku melihat raut wajahnya yang tersenyum kearahku, seakan


ketakutan yang ku lihat darinya tadi sudah hilang dengan kehadiranku


didekatnya.


“Enak aja lu Bawa-bawa


cewe gua,” ucap seorang pria yang pernah ku hajar itu.


            Aku tak menjawabnya, dan hanya menatapnya tajam.


“Lu fikir gua takut ama


lu,” sambungnya.


            Aku masih diam, aku bisa memaklumi keberanian dia saat


ini, pertama karena ini dilingkungan kampus, kedua karena banyak Teman-teman


dia disekelilingnya.


“Ayo sayang,” ucapku


kepada Zulfa.


            Semua yang ada dimeja itu menatap kearahku, tak


terkecuali Bidadariku, dia menatapku kaget. Aku sengaja memanggilnya sayang,


agar pria ini menjadi panas melihatku.


“I-iya,” balas Zulfa.


            Aku pun tersenyum kearah pria itu lalu membawa Zulfa


pergi bersamaku.


            Aku berjalan dengan memegang tangannya, hal ini membuat


banyak orang melihat kearah kami, tetapi aku tak peduli, hingga kami sampai


ditempat mobil yang ku parkirkan tadi lalu masuk kedalam mobil.


            Aku mengemudikan mobilku untuk pergi mengantarnya


kerumah, tetapi aku ingin membawanya makan siang terlebih dahulu, aku melihat


dia tak Menyantap sedikit pun makanannya dikantin tadi, aku rasa dia juga


sedang lapar sekarang.


“Kenapa kau bisa tahu aku


disana?” tanyanya.


“Aku mencarimu.”


“kau mencariku?”


“Iya, kalau saja kau


tidak merepotkanku, mungkin aku lebih mudah menemukanmu, dan dengan itu aku tak


perlu menjadi bahan tontonan teman-temanmu disepanjang perjalananku mencarimu


tadi,” ucapku marah kepadanya.


            Aku jadi kesal, tak bisakah dia menungguku ditempat yang


lebih mudah untuk ditemukan.


“Kenapa kau jadi


memarahiku,” protesnya.


“Kau memang pantas untuk


ku marahi.”


“Aku salah apa.”


“Seharusnya kau


berinisiatif untuk menungguku ditempat yang lebih mudah untuk kutemukan.”


“Kau mematikan telfon sebelum


aku memberitahu lokasiku.”


            Aku terdiam dan hanya menatapnya sekali.


“Aku menunggumu dihalte

__ADS_1


depan, agar kau bisa dengan mudah menemukanku, tetapi dia sudah duluan datang


dan membawaku kekantin…”


“Aku minta maaf jika itu


merepotkanmu, tetapi aku senang kau datang,” ucapnya pelan sambil tertunduk.


            Aku terdiam dan meberhentikan mobilku, aku mantapnya dengan


perasaan bersalah karena sudah memarahinya.


“Aku minta maaf, aku


hanya kesal menahan emosiku untuk tak menghajarnya tadi,” ucapku pelan.


            Dia menatapku dengan matanya yang mulai sedikit Berkaca-kaca


seakan ingin menangis.


“Aku sangat panik atas dirimu


Za, maafin aku ya, seharusnya aku datang lebih cepat tadi,” sambungku sambil


tersenyum kepadanya.


            Dia tak menjawab dan menatapku dalam.


“Kau tak akan


menangiskan?” tanyaku.


“Aku akan menangis jika


kau membiarkanku kelaparan,” jawabnya.


“Tenang saja, aku memang


ingin mengajakmu makan siang bersamaku,” ucapku.


“Ya sudah jalankan


mobilnya Nugy, aku sudah sangat lapar.”


            Aku pun menuruti kemauan dia dan langsung mengemudikan mobilku


dengan cepat menuju café biasa, agar tak terlalu jauh untuk mengantarkan dia


pulang setelah makan siang.


            Kami tak berbicara lagi hingga kami sampai di café, lalu


turun dari mobil dan masuk kedalamnya, aku melihat tatapan heran Rojali yang melihat


kami datang berdua, tetapi aku tak menghiraukannya, lalu mengajak Zulfa duduk.


“Kenapa kau membawa ku


kesini?” tanyanya.


“Kau mau makan kan,


makanya itu aku membawamu kesini,” jawabku datar.


“Iya aku tau, tapi kenapa


mesti ke café ini.”


“Biar aku bisa


mengantarmu pulang setelah ini,” jawabku.


“Aku tak mau pulang cepat,”


protesnya.


“Ya sudah, kalau begitu


kau tak boleh pergi dari sisiku sampai kau ingin ku antarkan pulang,” ucapku.


            Dia hanya terdiam menatapku.


“Hey, kau paham?” tanyaku


memastikan.


            Dia pun hanya mengangguk sambil tersenyum riang. Aku pun


membalas senyumannya, lalu memalingkan wajahku kearah sosok angker yang menatap


kami heran sedari tadi.


“Woi, apa ga ada niatmu


untuk jualan?” bentakku memanggil Rojali.


            Dia pun datang kearahku dengan membawa menu sambil


menatapku kesal.


“Mau mesan apa kau?”


tanyanya kesal kepadaku.


“Begini caramu melayani?”


tanyaku membalasnya.


“Mau mesan apa bang?”


tanyanya lembut.


“hahahahhaha.” tawaku


pecah melihat Rojali yang seperti ini.


“Kenapa kau tertawa


nugy?” tanya zulfa heran kepadaku.


“Tidak apa, aku hanya


lucu melihat wajahnya yang sok polos ini.”


“Hati-hati kau sama dia


ini,” ucap Rojali kepada Zulfa mengatakan aku.


“kenapa?” tanya Zulfa.


“Dia ini pria yang cabul


sama cewek polos kayak kau ini,” jawab Rojali.


“Brengsek kau,” ketusku


kepada rojali.


“hahahahaha,” mereka


berdua menertawaiku.


“Kau rasakan itu,” ucap


rojali kepadaku.


            Aku hanya menatap mereka berdua kesal.


            Zulfa pun memesan pesanan dia.


“Kau mesan apa?” tanya


rojali kepadaku.


“Yang biasa.”


            Lalu dia pun pergi meninggalkan kami berdua.


            Aku melihat bidadariku Senyum-senyum sendiri dihadapanku.


“Kau seperti orang gila”


ucapku.


“Biar saja, aku sengaja


agar kau tak tertarik mencabuli ku,” godanya meledekku.


“Aku tidak cabul, jangan


percaya dengannya” balasku kesal.


“Hahahahaha.”


“Jangan menertawaiku.”


“Kau lucu Nugy.”


“Berhenti atau aku Benar-benar


akan mencabulimu disini,” ucapku menggodanya.


“Sekarang justru kau yang


terlihat gila.”


“Hahahaha”


            Aku jadi tertawa setiap melihat dia dengan ekspresi


polosnya, sedangkan dia melihatku kesal.


            Lalu aku menatapnya dalam, aku merasa ada sesuatu gejolak


dalam diriku untuk mengatakan sesuatu kepadanya, yaitu mengatakan cinta. Namun


aku tak memiliki nyali yang cukup untuk mengatakannya saat ini. Aku memang tak


berdaya dibuat gadis yang lebih muda dariku ini.


“Kenapa kau lihat aku


seperti itu?” tanyanya.


“H-hah ngak ada,” jawabku


sambil tersenyum menggodanya.


“Kau tidak benar-benar


akan melakukannya kan?” tanyanya seakan takut.


“Tenang saja, aku tak


akan menikmati tubuhmu itu sekarang.”


“Kau terlihat seprti Om-om.”


“Hahahaha.”


            Setelah puas aku menggodanya, kemudian Rojali pun datang


dengan membawakan pesanan kami, lalu dia pun pergi meninggalkan kami berdua.


Aku dan Zulfa pun langsung menyantap makanan kami Masing-masing.


            Setelah kami menghabiskan makan kami masing-masing, aku


mengajak Zulfa untuk pulang kerumah, awalnya dia tak mau pulang, tetapi aku


meyakinkannya dengan mengatakan aku memiliki urusan untuk ku selesaikan, dan


akhirnya dia mau pulang.


            Dijalan pulang kami tak bercerita sama sekali, aku sedang


sibuk fokus mengendarai mobilku, sedangkan Zulfa sibuk memainkan ponselnya.


Hingga kami sampai dirumahnya, dia pun turun dari mobilku.


“Ga mampir dulu?”


tanyanya.


“Aku Buru-buru.”


“Sepertinya kau jadi


tidak mau masuk kerumahku karena kejadian itu,” ucapnya pelan sambil menunduk.


“Tidak Zulfa, aku akan


kerumahmu nanti malam” balasku.


“Sungguh?”


            Aku hanya mengangguk kepadanya.


Lalu


dia pun pergi masuk kedalam rumahnya, sedangkan aku langsung mengemudikan


mobilku kerumahku, aku jadi malas kekantor karena harus Bolak-balik lagi, lebih


baik aku pulang kerumah saja untuk istirahat agar nanti malam aku bisa kerumah


Zulfa seperti yang kujanjikan kepadanya tadi.


Sesampainya

__ADS_1


aku dirumah, aku langsung mengganti pakaianku lalu membaringkan tubuhku dikasur


kamarku hingga aku tertidur.


__ADS_2