
“Ah sial!!! aku
kesiangan” ucapku seakan berbicara sendiri.
Aku pun kekamar mandi untuk membersihkan badanku, aku
pasti akan dimarahi oleh Dewi kali ini, tadi malam aku tidak bisa tidur cepat,
karena semua pengakuan Zulfa Berputar-putar menghantui fikiranku. Aku tak
menyangka wanita polos, kecil seperti dia memiliki mental dan jiwa yang tangguh
dalam dirinya.
Bisa-bisanya dia menyembunyikan semua kejadian yang
menurutku bisa membahayakan dirinya, aku juga tak habis fikir atas semua
tekanan-tekanan yang terjadi dalam hidupnya, menurutku untuk wanita yang
berumur seperti dia, tak sepantasnya dia mengalami itu.
Kau memang wanita tangguh
Zulfa, ucapku dalam hati.
Dari setiap pengakuan dia tadi malam, ada satu hal yang
membuatku tak habis fikir, yaitu bagaimana bisa kami tidak bertemu ketika dia
mencari ku di halte seperti yang dia katakan kepadaku, padahal aku juga
mencarinya Berkali-kali di halte yang sama. Sungguh benar-benar unik Tuhan
mempertemukanku lagi dengan nya. Namun yang paling penting sekarang adalah aku
sudah mengetahui semuanya dan tidak akan menyia-nyiakan kesempatan untuk mendapatkannya
kali ini.
Setelah aku keluar dari kamar mandi, aku pun segera
bergegas untuk memakai pakaianku lalu langsung bergerak menuju kantorku, disana
sudah ada monster yang sudah menunggu untuk memarahiku.
“Aku pergi mbok,” ucapku kepada
Mbok.
“Aden ga sarapan dulu?”
tanyanya.
“Ga sempat Mbok, aku
harus cepat,” jawabku.
“Yaudah, hati-hati den.”
Aku hanya mengangguk sambil memberi dia senyuman lalu aku
pergi dengan mobilku. Aku harus memikirkan alasan yang tepat untuk aku katakan
kepada Dewi, kalau tidak dia bisa-bisa memarahiku nanti, meskipun dia hanya
sekertarisku tetapi aku tak kekeberatan jika dia memarahiku atas keteledoranku,
karena mamang dialah yang membantuku untuk menjaga integritasku sehingga
menjadi orang yang sedikit terpandang di Hutan Belantara ini.
“Ah sial, malah macet
lagi,” umpatku.
Hutan Belantara hari ini sangat macet, sehingga membuatku
sedikit terhambat untuk bisa melesat cepat kekantorku. Ntah kenapa banyak
sekali orang menjadikan kota ini menjadi tujuan dalam hidup mereka. Padahal
kota ini sangat ganas bagi seorang manusia untuk bisa bertahan hidup.
Tak ada yang mebedakan haram dan halal dikota ini, dan
sangat sulit untuk mengetahui yang mana teman dan lawan. Oleh sebab itu aku tak
terlalu menjaga hubungan erat dengan banyak orang, karena bagiku teman yang
berkualitas itu lebih penting dari pada hanya sekedar kuantitas.
Ketika lampu hijau sudah muncul Perlahan-lahan mobil pun
sudah mulai maju, tentu saja aku tak Menyia-nyiakan kesempatan ini, aku langsung
memajukan mobilku dengan perlahan dan ketika aku melihat ada celah kosong aku
pun langsung melajukan mobilku dengan cepat, hingga aku berhasil sampai
dikantorku.
Aku segera memasuki kantorku dengan santai dan tidak tergesa-gesa,
aku tak boleh melihatkan kepanikanku kepada Karyawan-karyawan yang bekerja
dikantorku, itu tidak baik bagi seorang Pemimpin.
“Ohhh datang juga, gua
kira lu lupa ama kerjaan lu,” ucap seseorang yang sudah siap akan memarahiku.
Aku tak membalas ucapannya dan hanya tersenyum kearahnya
lalu berjalan masuk keruanganku.
“Apa alasan lu hari ini
gy?” tanyanya.
“Macet,” jawabku singkat.
“Hah!!!”
Aku hanya diam cuek tak merespon.
“Lu fikir gua bakal
memahami alasan lu itu?” sambungnya
bertanya kepadaku.
“Yaudah makanya jangan
banyak tanya.”
“Lu apaan sih Gy.”
“Lu yang apaan, coba aja
lu ngasih gua naik ojek. Gua ga akan telat kekantor ini.”
“Ooh sekarang lu malah
salahin gua.”
“Ya emang lu yang salah…”
“Kalau gua naik ojek
kesini tadi, gua pasti ga akan berhadapan sama macet yang buat gua telat hari
ini,” sambungku kesal kepadanya.
“Kok jadi elu yang marah,”
balasnya.
Aku tak menjawab dan hanya menatapnya kesal.
“Yauda deh gua minta maaf,”
ucapnya pelan.
Kali
ini aku menjadi merasa bersalah karena sudah memarahinya.
“Gak apa-apa,” balasku
santai.
Lalu kami pun bertatapan sedikit lama.
“Nih,” ucapnya sambil
memberikan laporan kepadaku.
“Ntar aja gua cek,”
balasku.
“Oke.”
Lalu dia pergi keluar ruanganku.
Kini aku hanya duduk menyandarkan bahuku dikursi kerjaku,
ini sudah sering terjadi, aku sangat sering marah kepada dewi, dan disetiap
amarahku yang keluar dia selalu saja memaklumi ku, hal in yang membuatku tak
tega melihatnya yang habis ku marahi.
Mungkin nanti siang aku
akan mentraktir dia, ucapku dalam hati.
Aku
pun membuka laporan yang diberikan oleh dewi, sebenarnya aku sangat malas
memeriksa laporan-laporan ini, tetapi karena itu tugas ku, jadi aku lakukan
saja.
Beginilah keseharian ku dikantor, membosankan dan tak
menyenangkan sama sekali. aku hanya harus duduk diruangan besar ini sendiri
dengan berkas-berkas yang membuat kepala ku terasa ingin pecah melihatnya.
Saat-saat begini aku justru mengingat kejadianku kemarin
dengan Zulfa dan Ibu, hari itu adalah hari yang sangat menyenangkan bagi kami
bertiga. Hari dimana dua wanita yang kucintai saling bertemu dan melemparkan
cerita dan tawa satu sama lain, dua wanita yang selama ini menyimpan
ironi-ironi kehidupan mereka sendiri, aku sudah mengetahui kebenaran dari Zulfa,
tetapi belum mengetahui kebenaran yang disembunyikan oleh Ibu tentang
keluargaku.
Terbesit
difikiranku untuk mencari tahu persoalan itu, aku pun memutuskan untuk menyuruh
seseorang agar mencari tahu tentang apa yang disembunyikan dariku. Dan aku tahu betul siapa orang yang pantas
untuk membantuku.
Aku
mengeluarkan ponselku lalu menelfon rojali. Dia pasti punya seseorang yang bisa
diandalkan soal ini.
“Dimana lu?” tanyaku
“Dicafe,” jawabnya
“Gua ada tugas buat lu.”
“Apa lagi?” tanyanya.
Aku menceritakan kepadanya dengan singkat persoalan tingkah
Ibu yang seakan sedang menyembunyikan sesuatu tentang keluargaku terhadapku.
“Terus kau mau aku
gimana?” tanyanya.
“Lu suruh orang untuk mantau
aktivitas Ibu, dan kalau ada yang mencurigakan lu langsung kabarin gua,”
perintahku.
“Oke sip aman, santai aja
kau,” balasnya.
Aku
tak menjawab lalu mematikan ponselku.
__ADS_1
Rojali adalah orang yang tepat untuk urusan yang satu
ini, dia memiliki Anggota-anggota yang bisa dia andalkan, dan aku tak tahu bagaimana
dia bisa mendapatkan Orang-orang itu.
Tunggulah sebentar lagi Bu, aku akan mengembalikan keluarga
ini menjadi keluarga yang menyenangkan seperti dahulu, ucapku dalam hati.
“Tettt tettt tettt”
ponsel ku Tiba-tiba berbunyi.
Aku mengambil ponsel ku didalam saku celana yang ku
pakai, lalu ku lihat layar ponselku, ternyata Zulfa menelfonku. Aku langsung
mengangkatnya.
“Hallo” ucapku
“Hallo Gy,” balasnya
panik.
“Ada apa Fa?” tanyaku
sedikit panik.
“Nanti siang dia mengajak
ku makan siang,” jawabnya.
“Terus?”
“Aku takut,” jawabnya
pelan.
Aku tak menjawabnya, meskipun aku tak dapat melihatnya
saat ini, tetapi aku yakin kalau dia sedang ketakutan dan meminta pertolongan
terhadapku.
“Sekarang kau ada
dimana?” tanyaku.
“Aku dikampus,” jawabnya.
“Ya sudah aku kesana
sekarang,” balasku lalu mematikan ponselku.
Aku beranjak dari kursiku dan berjalan keluar ruanganku.
“Lu mau kemana?” tanya Dewi
kepadaku.
“Gua ada urusan.”
“Oh oke.”
Dan aku langsung pergi berjalan meninggalkannya. aku
lebih baik tak mengatakan masalah ini dulu kepadanya, karena aku tak memiliki
banyak waktu, jadi biar aku yang menghadapinya dulu sendirian.
Maaf wi, gua gak bisa
ngomong sekarang, ucapku dalam hati.
…
Kini aku sudah memasuki kawasan kampus yang menjadi
tempat kuliah Bidadariku, aku Mencari-cari dimana Fakultas dia berada, setelah
aku temukan langsung saja ku parkirkan mobilku.
Aku berjalan mencari dimana Zulfa menungguku, disaat aku
berjalan banyak sekali Mahasiswi-mahasiswi yang melihat kearahku, dan aku tak
begitu perduli kepada mereka, aku hanya peduli kepada Bidadariku yang sedang
menunggu kedatanganku.
Sudah lelah kurasa berkeliling untuk mencarinya, namun
tak juga ku temukan, lalu ku putuskan saja bertanya kepada seorang mahasiswa
yang sedang melirik ku sedari tadi, aku mendatanginya.
“Apa kau mengenal Zulfa?”
tanyaku.
Dia tak menjawab dan hanya menatapku sambil tersenyum
kepadaku.
“Hey, apa kau
mengenalnya?” tanyaku lagi.
“E-eh gua ga kenal,”
jawabnya.
“Oh oke,” ucapku lalu
meninggalkannya.
Aku sudah menelfon dia beberapa kali tetapi dia tak
mengangkatnya, aku rasa dia sudah bersama pria itu sekarang. Aku harus segera
mencarinya tetapi aku tak tahu kemana.
Dimana kau berada, ucapku
dalam hati.
Aku mulai panik dengan tak menemukan dia, namun tiba-tiba
saja terlintas difikiranku untuk mencarinya dikantin kampus ini, tetapi aku tak
tahu dimana letaknya, jadi aku putuskan untuk menanyakan mahasiswi yang lain
lagi.
“Maaf mengganggu, apa kau
Dia
tak menjawab dan hanya menatapku sambil tersenyum.
“Ayolah aku sedang Buru-buru,”
sambungku.
“B-baiklah,” jawabnya.
Dia pun membawaku kekantin yang ada di Fakultas ini, dan
aku hanya berjalan mengikutinya dari belakangnya, ternyata tak begitu jauh dari
tempat ku berdiri tadi.
Akhirnya
aku pun sampai dikantin, dan tebakanku tidak salah, aku menemukan bidadariku
disini, dia bersama pria yang sudah ku hajar kemarin. Bidadariku sedang duduk
terdiam seperti orang yang ketakutan, sedangkan pria itu sedang tertawa dengan
teman-temannya yang berada satu tempat duduk dengannya dan Bidadarku.
Aku tak tahan melihat pemandangan ini, aku berjalan
mendekati mereka, hingga aku berdiri disamping Bidadariku, dan menarik pelan tangannya
untuk berdiri.
“Ayo kita pulang,” ucapku
kepadanya.
“N-nugy,” sapanya kaget.
Aku melihat raut wajahnya yang tersenyum kearahku, seakan
ketakutan yang ku lihat darinya tadi sudah hilang dengan kehadiranku
didekatnya.
“Enak aja lu Bawa-bawa
cewe gua,” ucap seorang pria yang pernah ku hajar itu.
Aku tak menjawabnya, dan hanya menatapnya tajam.
“Lu fikir gua takut ama
lu,” sambungnya.
Aku masih diam, aku bisa memaklumi keberanian dia saat
ini, pertama karena ini dilingkungan kampus, kedua karena banyak Teman-teman
dia disekelilingnya.
“Ayo sayang,” ucapku
kepada Zulfa.
Semua yang ada dimeja itu menatap kearahku, tak
terkecuali Bidadariku, dia menatapku kaget. Aku sengaja memanggilnya sayang,
agar pria ini menjadi panas melihatku.
“I-iya,” balas Zulfa.
Aku pun tersenyum kearah pria itu lalu membawa Zulfa
pergi bersamaku.
Aku berjalan dengan memegang tangannya, hal ini membuat
banyak orang melihat kearah kami, tetapi aku tak peduli, hingga kami sampai
ditempat mobil yang ku parkirkan tadi lalu masuk kedalam mobil.
Aku mengemudikan mobilku untuk pergi mengantarnya
kerumah, tetapi aku ingin membawanya makan siang terlebih dahulu, aku melihat
dia tak Menyantap sedikit pun makanannya dikantin tadi, aku rasa dia juga
sedang lapar sekarang.
“Kenapa kau bisa tahu aku
disana?” tanyanya.
“Aku mencarimu.”
“kau mencariku?”
“Iya, kalau saja kau
tidak merepotkanku, mungkin aku lebih mudah menemukanmu, dan dengan itu aku tak
perlu menjadi bahan tontonan teman-temanmu disepanjang perjalananku mencarimu
tadi,” ucapku marah kepadanya.
Aku jadi kesal, tak bisakah dia menungguku ditempat yang
lebih mudah untuk ditemukan.
“Kenapa kau jadi
memarahiku,” protesnya.
“Kau memang pantas untuk
ku marahi.”
“Aku salah apa.”
“Seharusnya kau
berinisiatif untuk menungguku ditempat yang lebih mudah untuk kutemukan.”
“Kau mematikan telfon sebelum
aku memberitahu lokasiku.”
Aku terdiam dan hanya menatapnya sekali.
“Aku menunggumu dihalte
__ADS_1
depan, agar kau bisa dengan mudah menemukanku, tetapi dia sudah duluan datang
dan membawaku kekantin…”
“Aku minta maaf jika itu
merepotkanmu, tetapi aku senang kau datang,” ucapnya pelan sambil tertunduk.
Aku terdiam dan meberhentikan mobilku, aku mantapnya dengan
perasaan bersalah karena sudah memarahinya.
“Aku minta maaf, aku
hanya kesal menahan emosiku untuk tak menghajarnya tadi,” ucapku pelan.
Dia menatapku dengan matanya yang mulai sedikit Berkaca-kaca
seakan ingin menangis.
“Aku sangat panik atas dirimu
Za, maafin aku ya, seharusnya aku datang lebih cepat tadi,” sambungku sambil
tersenyum kepadanya.
Dia tak menjawab dan menatapku dalam.
“Kau tak akan
menangiskan?” tanyaku.
“Aku akan menangis jika
kau membiarkanku kelaparan,” jawabnya.
“Tenang saja, aku memang
ingin mengajakmu makan siang bersamaku,” ucapku.
“Ya sudah jalankan
mobilnya Nugy, aku sudah sangat lapar.”
Aku pun menuruti kemauan dia dan langsung mengemudikan mobilku
dengan cepat menuju café biasa, agar tak terlalu jauh untuk mengantarkan dia
pulang setelah makan siang.
Kami tak berbicara lagi hingga kami sampai di café, lalu
turun dari mobil dan masuk kedalamnya, aku melihat tatapan heran Rojali yang melihat
kami datang berdua, tetapi aku tak menghiraukannya, lalu mengajak Zulfa duduk.
“Kenapa kau membawa ku
kesini?” tanyanya.
“Kau mau makan kan,
makanya itu aku membawamu kesini,” jawabku datar.
“Iya aku tau, tapi kenapa
mesti ke café ini.”
“Biar aku bisa
mengantarmu pulang setelah ini,” jawabku.
“Aku tak mau pulang cepat,”
protesnya.
“Ya sudah, kalau begitu
kau tak boleh pergi dari sisiku sampai kau ingin ku antarkan pulang,” ucapku.
Dia hanya terdiam menatapku.
“Hey, kau paham?” tanyaku
memastikan.
Dia pun hanya mengangguk sambil tersenyum riang. Aku pun
membalas senyumannya, lalu memalingkan wajahku kearah sosok angker yang menatap
kami heran sedari tadi.
“Woi, apa ga ada niatmu
untuk jualan?” bentakku memanggil Rojali.
Dia pun datang kearahku dengan membawa menu sambil
menatapku kesal.
“Mau mesan apa kau?”
tanyanya kesal kepadaku.
“Begini caramu melayani?”
tanyaku membalasnya.
“Mau mesan apa bang?”
tanyanya lembut.
“hahahahhaha.” tawaku
pecah melihat Rojali yang seperti ini.
“Kenapa kau tertawa
nugy?” tanya zulfa heran kepadaku.
“Tidak apa, aku hanya
lucu melihat wajahnya yang sok polos ini.”
“Hati-hati kau sama dia
ini,” ucap Rojali kepada Zulfa mengatakan aku.
“kenapa?” tanya Zulfa.
“Dia ini pria yang cabul
sama cewek polos kayak kau ini,” jawab Rojali.
“Brengsek kau,” ketusku
kepada rojali.
“hahahahaha,” mereka
berdua menertawaiku.
“Kau rasakan itu,” ucap
rojali kepadaku.
Aku hanya menatap mereka berdua kesal.
Zulfa pun memesan pesanan dia.
“Kau mesan apa?” tanya
rojali kepadaku.
“Yang biasa.”
Lalu dia pun pergi meninggalkan kami berdua.
Aku melihat bidadariku Senyum-senyum sendiri dihadapanku.
“Kau seperti orang gila”
ucapku.
“Biar saja, aku sengaja
agar kau tak tertarik mencabuli ku,” godanya meledekku.
“Aku tidak cabul, jangan
percaya dengannya” balasku kesal.
“Hahahahaha.”
“Jangan menertawaiku.”
“Kau lucu Nugy.”
“Berhenti atau aku Benar-benar
akan mencabulimu disini,” ucapku menggodanya.
“Sekarang justru kau yang
terlihat gila.”
“Hahahaha”
Aku jadi tertawa setiap melihat dia dengan ekspresi
polosnya, sedangkan dia melihatku kesal.
Lalu aku menatapnya dalam, aku merasa ada sesuatu gejolak
dalam diriku untuk mengatakan sesuatu kepadanya, yaitu mengatakan cinta. Namun
aku tak memiliki nyali yang cukup untuk mengatakannya saat ini. Aku memang tak
berdaya dibuat gadis yang lebih muda dariku ini.
“Kenapa kau lihat aku
seperti itu?” tanyanya.
“H-hah ngak ada,” jawabku
sambil tersenyum menggodanya.
“Kau tidak benar-benar
akan melakukannya kan?” tanyanya seakan takut.
“Tenang saja, aku tak
akan menikmati tubuhmu itu sekarang.”
“Kau terlihat seprti Om-om.”
“Hahahaha.”
Setelah puas aku menggodanya, kemudian Rojali pun datang
dengan membawakan pesanan kami, lalu dia pun pergi meninggalkan kami berdua.
Aku dan Zulfa pun langsung menyantap makanan kami Masing-masing.
Setelah kami menghabiskan makan kami masing-masing, aku
mengajak Zulfa untuk pulang kerumah, awalnya dia tak mau pulang, tetapi aku
meyakinkannya dengan mengatakan aku memiliki urusan untuk ku selesaikan, dan
akhirnya dia mau pulang.
Dijalan pulang kami tak bercerita sama sekali, aku sedang
sibuk fokus mengendarai mobilku, sedangkan Zulfa sibuk memainkan ponselnya.
Hingga kami sampai dirumahnya, dia pun turun dari mobilku.
“Ga mampir dulu?”
tanyanya.
“Aku Buru-buru.”
“Sepertinya kau jadi
tidak mau masuk kerumahku karena kejadian itu,” ucapnya pelan sambil menunduk.
“Tidak Zulfa, aku akan
kerumahmu nanti malam” balasku.
“Sungguh?”
Aku hanya mengangguk kepadanya.
Lalu
dia pun pergi masuk kedalam rumahnya, sedangkan aku langsung mengemudikan
mobilku kerumahku, aku jadi malas kekantor karena harus Bolak-balik lagi, lebih
baik aku pulang kerumah saja untuk istirahat agar nanti malam aku bisa kerumah
Zulfa seperti yang kujanjikan kepadanya tadi.
Sesampainya
__ADS_1
aku dirumah, aku langsung mengganti pakaianku lalu membaringkan tubuhku dikasur
kamarku hingga aku tertidur.