Benih Yang Tak Kau Harapkan

Benih Yang Tak Kau Harapkan
pelukan hangat


__ADS_3

Clarissa yang sudah menyelesaikan ritual mandinya, ia keluar dari kamar nya mengenakan sehelai handuk. Sedangkan Bryan sang suami belum juga keluar dari kamar Clarissa.


Ia sedang sibuk memainkan gawainya di atas ranjang tempat tidur, sampai ketika Clarissa yang sudah kembali dari kamar mandi, membuat Bryan terkejut. Ia mengangkat wajahnya dan kini dihadapan nya sudah melihat dengan jelas tubuh molek Clarissa.


Bryan adalah lelaki normal seketika kedua matanya terbelalak dan ia hanya bisa meneguk saliva nya. Ingin rasanya ia bermain-main dengan Clarissa hanya saja mereka berdua sudah terikat oleh perjanjian kontrak.


"Kenapa kak Bryan melihat saya segitunya banget" ketus Clarissa


Bryan terdiam, sesekali ia tak ingin berkedip sedetik pun.


"Tidak siapa juga yang melihat kamu, Ge'er banget sih" sanggah Bryan berusaha berbohong, padahal dalam hatinya ia begitu bahagia. Untuk pertama kalinya melihat Clarissa hanya memakai sehelai handuk.


"Ya sudah kalau begitu kenapa KK tidak keluar dari kamar saya? Saya mau pakai baju!" pinta Clarissa


"Kalau saya keluar dari kamar kamu, nanti mamah sama papah curiga kalau kita tidak satu kamar!" sahut Bryan


Clarissa terdiam dan memicingkan matanya.


Bryan mencoba beranjak dari tempat tidurnya, ia berjalan mendekati Clarissa yang tengah berdiri mematung.


"Sudah kamu gak usah marah gitu! Gak bakalan lama ko hanya satu minggu saja" bisik Bryan di telinga Clarissa. Bryan tak dapat memalingkan wajahnya saat ia melihat ke arah leher jenjang Clarissa yang sudah terekspos dengan sempurna.


Lagi-lagi ia hanya bisa menahan hasratnya. Andai saja mereka berdua menikah dengan perasaan nya masing-masing sudah seharusnya Bryan menggauli Clarissa. Hanya saja ia tidak ingin perjanjian kontrak nya di langgar begitu saja.


"Kak Bryan kenapa diam saja!" ketus Clarissa dengan mengerutkan keningnya


"Sudah lebih baik kk sekarang mandi" pinta Clarissa


"Baiklah" balas Bryan


"Tapi memangnya aku tidak boleh melihat kamu memakai pakaian?" seloroh Bryan


Plak


Sebuah tamparan keras mendarat ke pipi Bryan


"Auwww ko kamu malah tampar saya sih Cla" ringis Bryan dengan memegangi pipinya yang sudah memerah


"KK ini jangan macam-macam ya, KK lupa diperjanjikan kontrak aja tidak ada sentuhan fisik apalagi sampai KK melihat saya ganti baju!" tutur Clarissa dengan suara keras nya


"Seperti nya aku harus merubah isi perjanjian kontrak kita Cla" papar Bryan


"Loh kenapa??" tanya Clarissa mengangkat satu alisnya


"Aku gak bisa seperti ini, tersiksa setiap hari!" jawab Bryan

__ADS_1


"Maksudnya?" tanya Clarissa yang tidak paham dengan penuturan Bryan


"Cla kita kan sudah menikah sudah seharusnya seorang suami dan istri memberikan hak dan kewajiban nya" ucap Bryan


"Maksud KK hak dan kewajiban apa?" tanya Clarissa lagi seolah ia tidak tahu apa-apa


"Dengerin aku Cla. Kita sudah seminggu menikah! Tapi kamu belum memberikan hak kamu sebagai istri" ujar Bryan memegangi kedua bahu Clarissa dengan menantap tajam wajah istrinya.


"Hak? Tunggu tunggu.. maksud KK hak memberikan itu????" tanya Clarissa yang mulai memahami


"Iya maksudnya itu Cla" jawab Bryan


"KK itu aneh banget sih! Mau memberikan hak bagaimana kita aja terikat perjanjian kontrak, dan kita aja tidur masing-masing, tidak satu kamar" ujar Clarissa


Bryan terkekeh dan menggaruk kepalanya.


Memang ada benarnya apa yang Clarissa ucapkan. Bryan sudah gegabah seharusnya ia tidak membuat kesepakatan kontrak nikah, tetapi ia pun tidak ingin menyentuh tubuh Clarissa dengan cepat, karena saat itu ia sama sekali belum menaruh hati.


"Ya sudah mulai hari ini kesepakatan kontrak nikah kita aku rubah!" ujar Bryan


"Di rubah?? Memangnya apa yang mau KK rubah?" tanya Clarissa


"Ada lah, ada banyak poin penting yang harus aku tambahkan dan ada yang harus direvisi" jawab Bryan


"Dan yang paling penting nya dalam perjanjian kontrak kita harus satu kamar!" ungkap Bryan dengan berlalu pergi menuju kamar mandi


Bryan tak menyahut, ia sudah masuk ke dalam kamar mandi.


Menyadari hal ini Clarissa merasa resah dan gelisah. Ia tak ingin Bryan berbuat lebih padanya, meskipun ia tahu dirinya sudah tak suci lagi, sudah tersentuh oleh David sampai membuat nya hamil diluar nikah.


Clarissa tidak ingin pernikahan kontrak yang tidak berlangsung lama harus meninggalkan kenangan pahit, saat sesuatu yang berharga dalam hidupnya ia persembahkan untuk Bryan suaminya dan itu hanya akan membekas saja di ingatan nya.


Clarissa berharap Bryan tidak akan pernah meninggalkan nya, meskipun dia sudah berjanji akan menikahi Clarissa selama dirinya hamil dan setelah anak itu lahir Bryan akan segera menceraikan nya.


Tak ingin larut memikirkan massa depan nya, Clarissa segera berpakaian. Ia mulai membuka lemari dan mengeluarkan baju santai nya.


Karena ini Hari minggu, Clarissa libur kuliah.


Memang selama menikah dengan Bryan, Clarissa tidak pernah merasakan moments romanis seperti pasangan pada umumnya. Apalagi saat ia baru menikah, Bryan sang suami tak pernah membawa nya ke tempat yang indah atau ke tempat keramaian. Mereka berdua hanya sibuk dengan dunia nya masing-masing. Sampai membuat Clarissa merasakan seperti tidak pernah menikah dengan Bryan.


Clarissa tak menampik mungkin saja karena itu semua berlaku hanya kepada pasangan yang menikah di atas kertas. Kalau saja ia menikah dengan pasangan yang ia harapkan, sudah seharusnya mereka berdua menikmati waktu berdua dengan berbulan madu atau sekedar saling membalas kemesraan.


Clarissa yang sudah berpakaian kemudian ia duduk di kursi meja rias. Ia mematutkan dirinya dicermin, ia mulai menyisir rambut indahnya.


Seketika Bryan sang suami yang sudah menyelesaikan ritual mandinya, datang kehadapan Clarissa mengenakan sehelai handuk.

__ADS_1


Clarissa melihat suaminya dari pantulan cermin. Lalu dengan segera Clarissa berdiri dan membalikkan tubuhnya menantap ke arah suaminya.


"Arghhhhh" pekik Clarissa


Clarissa terkejut saat melihat sang suami bertelanjang dada.


"Apaan sih kamu hobby banget teriak-teriak, ini tuh bukan di hutan! Dan kamu bukan Tarzan! bentak Bryan dengan sungut nya yang mengerucut


"KK bisa gak kalau mau datang ke kamar itu bilang-bilang saya malu!" ucap Clarissa


"Lah kenapa harus malu! Kamu sekarang adalah istri aku! Kalau kamu mau lihat yang lebih pun tidak akan dosa!" ujar Bryan


"Iya tapi kan saya belum terbiasa kak" ucap Clarissa


"Alah sok polos belum terbiasa! Kemarin-kemarin kemana saat kamu sudah berhasil melakukan itu sama David?" tutur Bryan


Clarissa tersentak, Bryan sang suami sudah berhasil membuat nya mengingat kejadian itu.


"Stop KK bisakan jangan ungkit peristiwa itu lagi" pinta Clarissa


"Ya wajar lah aku bertanya seperti itu! Kamu jangan so lugu Cla. Terus kalau kamu gak hamil dan gak melihat tubuh Si David itu kalian melakukannya seperti apa? Dengan mimpi!" umpat Bryan


Clarissa tak ingin terus menerus mendengar kan perkataan suaminya yang menyayat hati.


Clarissa berusaha tegar, meskipun ia sendiri sudah ingin berteriak dan menangis kencang.


"Kenapa kamu diam saja? Ada yang salah dari perkataan ku?" tanya David


Clarissa menggelengkan kepalanya dan memalingkan wajahnya.


"Saya cape terus terusan diperlakukan seperti ini sama kak Bryan. Lebih baik saya pergi saja dari rumah ini! Kita ungkapkan yang sebenarnya semua pada kedua orang tua kita kalau kita menikah hanya sebatas nikah kontrak dan tak saling cinta!" ujar Clarissa


Bryan langsung memeluk tubuh Clarissa


"Cla maafkan aku, seharusnya aku tidak mengatakan itu. Hanya saja aku masih belum bisa memaafkan atas kesalahan kamu. Kamu adalah perempuan yang baik, kamu cantik. Aku hanya menyayangkan saja atas perbuatan kamu dengan teman mu itu" ungkap Bryan


"Saya memang perempuan yang berdosa kak! Tidak seharusnya kk harus terlibat dalam kehidupan saya. Biarkan saja saya pergi kak" tutur Clarissa merintih peluh


"Tidak Cla aku memutuskan untuk tetap mempertahankan pernikahan ini, aku sayang dan kasihan sama kamu" balas Bryan mengelus punggung Clarissa


Pelukan hangat itu melingkar dengan cukup lama.


...Clarissa seakan merasakan kehangatan dan kedamaian yang selama ini belum pernah ia rasakan, meskipun suaminya selalu membuat hati Clarissa terluka, tapi Bryan selalu meminta maaf....


...----------------...

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2