
Beberapa jam kemudian, Clarissa tersadar.
Ia perlahan mulai membuka kedua matanya, Clarissa hendak bangun dari tempat tidurnya, tetapi kepalanya masih cukup pusing.
"Auwww kepalaku, pusing sekali" ringis Clarissa dengan memegangi kepalanya.
Bryan terlonjak, ia langsung menghampiri istrinya.
"Cla kamu sudah siuman" sahut Bryan
"Kak saya sekarang sedang dimana, apa yang sudah terjadi dengan saya?" tanya Clarissa dengan suara lemasnya
"Tadi saat aku bangun tidur, kamu sudah tergeletak pingsan di toilet kamar mandi" jawab Reyhan
Clarissa mencoba mengingat kejadian beberapa saat sebelum ia tergeletak pingsan.
"Cla ada hal yang harus kita bahas" tutur Bryan dengan wajah serius nya
"Mau bahas apa kak?" tanya Clarissa dengan datar
"Mamah, papah sudah tau kalau kamu tengah hamil. Dan mamah begitu terkejut saat tau usia kandungan kamu sudah dua bulan" jawab Bryan berterus terang
"Apa kak" Clarissa tercengang, ia begitu tersentak dengan apa yang sudah terjadi.
"Mamah begitu marah Cla, aku saja sampai ditampar" ungkap Bryan
"Kak maafkan saya, itu semua gara-gara saya. Seharusnya saya tidak melibatkan KK di kehidupan saya" tutur Clarissa dengan lirih.
"Sudahlah biarkan saja yang sudah terjadi, aku ikhlas menerima semuanya. Mulai sekarang aku memutuskan untuk melanjutkan Pernikahan kita. Hari ini aku akan cabut kontrak nikah kita. Sekarang dan selamanya kamu adalah istri aku yang sah" ungkap Bryan
Clarissa tak langsung merespon, ia mencerna terlebih dahulu penuturan suaminya.
"Tapi kak...." sanggah Clarissa
"Clarissa aku tidak ingin semua masalah yang kamu hadapi semakin runyam, kalau aku menceritakan yang sebenarnya terjadi akan sulit bagi kedua orang tua kita untuk memahami nya. Jadi lebih baik aku yang ikhlas dan rela menjadi suami kamu. Suami yang tidak lagi terikat perjanjian kontrak" ujar Bryan
Clarissa mengeluarkan air matanya yang sudah sedari tadi ia bendung.
Ia benar-benar merasa sudah bersalah, harus membiarkan Bryan melepaskan masa lajangnya di usia muda, untuk menikahi Clarissa dan bertanggung jawab atas anak yang dikandung nya.
Sedangkan David orang yang sudah berhasil menghamili nya ia tak tahu bahwa saat ini, Clarissa tengah mengandung benih yang tidak di inginkan nya.
Bukan menjadi hal yang mustahil, seandainya saja saat itu, Clarissa mengetahui kehamilan nya sebum David pergi, mungkin saja David akan bertanggung jawab dan mengurungkan niatnya untuk pergi ke luar negeri.
Waktu tak dapat diputar, pernikahan Clarissa dan Bryan sudah berlangsung selama kurang lebih dua Minggu. Saat ini mereka hanya tinggal melanjutkan Pernikahan nya atau memilih mengakhiri semuanya.
Clarissa sudah di hadapan dengan pilihan yang sulit, ia tak mau kalau David harus gagal meraih impian nya. Tetapi pada kenyataannya ia sendiri sudah membuat Bryan yang bukan menjadi siapa-siapa, harus rela menanggung beban yang Clarissa pikul.
~~
Tak berselang lama, Clarissa harus dipindahkan ke ruang rawat. Dokter menyarankan supaya Clarissa harus dirawat beberapa hari sampai kondisi tubuhnya benar-benar pulih.
Beruntung saja Bryan sang suami dengan sigapnya membawa Clarissa menuju RS. Ia sendiri tak menghiraukan penampilan nya yang masih menggunakan pakaian piyama, bahkan ia juga belum mencuci wajahnya. Hanya karena ketampanan yang dipancarkan Bryan, ia tetap terlihat mempesona.
"Maaf tuan saya harus memindahkan pasien ke ruang rawat" ucap suster RS
__ADS_1
"Baik silahkan sus" balas Bryan
Beberapa Suster sudah masuk ke ruang UGD dan mereka mulai mendorong brankar Clarissa.
Clarissa di pindahkan ke ruang rawat VVIP kamar anggrek.
Setibanya di sana, suster memindahkan cairan infusan di infus stand.
"Baik kalau begitu saya permisi, kalau tuan butuh bantuan bisa bell saya" titah Suster
"Baik sus" ucap Bryan.
Clarissa masih terbaring lemas.
"Cla sebaiknya kamu istirahat saja, jangan banyak memikirkan apa yang seharusnya tidak kamu fikiran" ujar Bryan
"Iya kak"
"KK belum mandi dan berganti pakaian" sahut Clarissa
Ia memperhatikan penampilan suaminya yang masih menggunakan stelan tidur.
Bryan terkekeh seketika, istrinya memperhatikan penampilan dirinya, meskipun Clarissa sedang sakit, rasa perhatian nya masih saja di tunjukkan.
"Hehe iya Cla, tadi saking aku panik nya, aku langsung berusaha mengangkat tubuh kamu dan membawa ke RS" timpal Bryan
"Sebaiknya KK pulang saja dulu, saya tidak apa-apa ko sendirian. Disini ada suster yang akan jagain saya" seru Clarissa
"Tidak Cla, aku akan menemani kamu disini, aku tidak peduli meskipun aku belum mandi" tutur Bryan
Drt...Drt...Drt..
Terdengar bunyi telfon dari saku celana Bryan
Bryan dengan segera merogoh benda pipih itu dalam celananya. Setelah itu ia genggam ponselnya, dan dilihat dari layar ponsel ternyata panggilan telefon dari dosen pembimbing.
"Sebentar Cla aku angkat telfon dulu" ucap Bryan
"Silahkan Kak" jawab Clarissa
Bryan berjalan ke arah pintu keluar.
"Hallo, Assalamualaikum pak Wisnu" ucap Bryan dari sebrang telfon
"Walaikumsalam salam Bryan" balas pak Wisnu Dosen pembimbing
"Iya pak ada keperluan apa bapak menelfon saya?" tanya Bryan
"Bryan, ko saya tidak melihat kamu masuk kampus hari ini. Kan saya sudah bilang, kalau hari ini kamu ada jadwal bimbingan skripsi" jawab pak Wisnu
"Ma-maaf Pak sepertinya untuk beberapa hari kedepan saya mau izin libur dulu" ucap Bryan
"Loh ada keperluan apa kamu libur?" tanya pak Wisnu dengan suara berat nya
"Ist.... Eh maksudnya sodara saya sedang sakit, dan saya harus menemani beliau di RS" jawab Bryan asal
__ADS_1
Wisnu Dosen pembimbing, ia mengerutkan keningnya.
'Loh kok aneh banget sodara nya yang sakit, apa hubungannya dengan libur kuliah' batin Wisnu menerka-nerka
"Bryan, saya mau tanya sodara kamu memang nya tidak memiliki anggota keluarga yang lain?" tanya pak Wisnu
"Tidak pak, karena keluarga saya semuanya sibuk. Tante saya, Oma saya mereka pada sibuk. Jadi saya harus menemani nya selama di RS" ungkap Bryan
"Baiklah di RS mana sodara kamu di rawat!??" tanya pak Wisnu
Bryan sudah kehilangan akal, memang pak Wisnu adalah salah satu dosen yang tak bisa di bohongi, apalagi tugas beliau di kampus menjadi salah seorang dosen pembimbing. Sudah menjadi makanan sehari-hari nya, setiap ada mahasiswa yang mau dibantu menyelesaikan skripsi, selalu saja memiliki seribu alasan.
"Bryan saya tidak mau kamu berbohong! Kamu adalah mahasiswa berprestasi. Saya tidak ingin kamu mendapatkan nilai yang tidak memuaskan, apalagi kalau skripsi kamu sampai ditolak dosen penguji." tutur pak Wisnu
"Hmmm, sa......"
"Sudah kamu saya tunggu siang ini jam 12" potong Wisnu
Pak Wisnu mematikan sambungan telefon nya.
Bryan menggaruk kepalanya, kemudian ia membalikkan badannya dan berjalan ke arah brankar Clarissa.
"KK kenapa ko muka nya ditekuk seperti itu?" tanya Clarissa
"Cla tadi itu telfon dari dosen pembimbing, aku disuruh ke kampus" jawab Bryan dengan wajah yang terlihat kesal
"Ya sudah kalau begitu KK pergi saja, saya tidak apa-apa ko disini sendiri" ujar Clarissa
"Kamu beneran tidak apa-apa kalau aku pergi sekarang?" tanya Bryan
Clarissa mengangguk dan tersenyum
"Ya sudah Cla, sekarang aku mau pulang dulu ke rumah. Mau bersiap pergi ke kampus, dan kamu tenang saja, setelah aku menyelesaikan skripsi, aku akan cepat-cepat pulang ke RS ini lagi" ujar Bryan
"Iya kak" balas Clarissa
~~
Di tempat yang berbeda.
Mamah Desi dan Papah Angga mereka langsung pergi dari RS. Mamah Desi sendiri masih kesal terhadap Bryan, yang menurut nya sudah berhasil menghamili Clarissa sebelum ia memutuskan menikah.
Niat nya untuk menginap selama satu minggu di rumah Bryan urung. Baru saja dua hari menginap, mamah Desi dan papah Angga memutuskan untuk kembali lagi ke rumah pribadinya.
Di dalam mobil mewahnya, mamah Desi masih saja merutuki kekesalan anak semata wayangnya.
"Pah mamah gak habis fikir kenapa sih anak kita bisa melakukan hal semacam itu" ujar mamah Desi dengan kekesalan nya yang tak dapat di redam.
"Sudahlah mah sebaiknya mamah jangan bahas itu lagi, semua itu tidak akan mengubah takdir yang sudah terjadi" sahut papah Angga dengan fokus menyetir
"Mamah heran saja pah, selama ini Bryan itu terkesan cuek pada wanita. Mamah tercengang saja, saat tau istri yang di nikahi nya sudah hamil, OH my God pah kalau teman sosialita mamah tau mereka akan heboh" tutur Mamah Desi dengan memijat pelipisnya
"Ya sudah tidak perlu mamah ceritakan kepada teman arisan mamah, mamah tutup rapat rahasia keluarga kita," titah papah Angga.
Mamah Desi terdiam dan tidak melanjutkan perkataannya lagi.
__ADS_1