Benih Yang Tak Kau Harapkan

Benih Yang Tak Kau Harapkan
Membuka hati


__ADS_3

"Ya sudah sekarang aku mau pakai baju dulu, kalau kamu masih malu, kamu bisa keluar dari kamar ini" pinta Bryan


"Iya kak kalau begitu Clarissa turun ke bawah duluan" ucap Clarissa


Bryan hanya mengangguk saja.


~~


Di ruang makan sudah ada kedua mertuanya yang sudah duduk di meja makan.


"Sayang sini kamu duduk" sahut mamah Desi kepada Clarissa yang sudah tiba berada disana.


"Bryan kemana?" tanya Papah Angga


"Mas Bryan sedang berpakaian pah" jawab Clarissa sedikit canggung, ia hanya menunduk dan memainkan jari jemarinya.


"Oh ya sudah kita tunggu Bryan saja" pinta papah Angga.


Tak berselang lama, Bryan sudah turun dan menghampiri mereka ke ruang makan, dengan penampilan nya yang begitu tampan dan rupawan. Ia hari ini sudah mengenakan stelan santai, baju kaos berwarna putih dan celana jeans.


Seketika Clarissa terdiam dan memandangi wajah suaminya. Tak biasanya Clarissa mampu menantap wajah Bryan begitu lama hingga ia tak berkedip sekalipun. Bak sudah tersihir pesona dan ketampanan sang suami.


"Cla kamu kenapa? Are you okay?" tanya Bryan mengerutkan keningnya


Clarissa mulai tersadar.


"Astaghfirullah, ah tidak mas aku tadi itu....." Clarissa terhenti dari ucapannya


"Itu apa Cla, pasti kamu terpesona dengan ketampanan suamimu ya" timpal mamah Desi


"Tidak mah" ucap Clarissa malu-malu. Ia menunduk.


Bryan dengan segera duduk disamping Clarissa.


Degup jantung Clarissa seakan memompa lebih cepat, apalagi Bryan sang suami sudah membuat Clarissa salah tingkah. Ia menunjukkan sikap romanis nya dihadapan kedua orang tua nya. Bryan memegangi lengan Clarissa begitu kuat. Ia menciumi punggung tangan Clarissa.


Papah Angga dan Mamah Desi yang duduk bersebrangan dengan Bryan dan Clarissa merasa bahagia melihat mereka berdua yang menunjukkan sikap romanis nya.


"Muachh"


Clarissa melirik kedua matanya ke arah sang suami. Bryan hanya tersenyum manis, dan mengelus kembali lengan Clarissa.


"Duh pah melihat keromantisan mereka berdua mamah jadi flashback sama zaman dulu kita pacaran" ungkap mamah Desi


"Iya mah, tapi sudahlah itu kan dulu.. Biarlah mereka berdua bahagia seperti kita" timpal papah Angga


"Ya sudah sekarang kita makan mah, pah" sela Bryan.


Tak ada lagi pembicaraan yang terjadi di ruang makan, hanya terdengar dentingan sendok dan garpu saja.

__ADS_1


**


Waktu berputar begitu cepat.


Di malam hari nya, Bryan dan Clarissa tengah berada dikamar nya.


Mereka berdua tengah duduk di tepian ranjang tempat tidur.


"Cla maaf kalau kedatangan kedua orang tua ku membuat kita terpaksa satu kamar" ucap Bryan memulai pembicaraan


"Tidak apa-apa ko kak, saya juga minta maaf karena saya sudah membuat hidup kak Bryan menjadi tertekan" timpal Clarissa


"Sudahlah Cla jangan disesali terus" balas Bryan


"Hoammmmmmzz" terlihat Clarissa menguap


"Kamu sudah ngantuk Cla?" tanya Bryan


Clarissa mengangguk


"Iya kak" jawab Clarissa


"Ya sudah kalau begitu kita tidur" ucap Bryan


Clarissa menoleh ke arah tempat tidur


"Iya kita tidur satu ranjang,.aku tidak biasa tidur di sofa" jawab Bryan


"Ya sudah kalau begitu saya saja kak" ujar Clarissa beranjak berdiri.


"Tunggu Cla kamu mau kemana?" tanya Bryan menarik lengan Clarissa


Clarissa menunduk dan melihat tangan nya sudah digenggam oleh suaminya.


Lalu ia kembali mengangkat wajahnya dan menatap manik mata Bryan.


"Aku tidak akan membiarkan mu tidur di sofa malam ini" ujar Bryan


"Lalu kalau saya tidak tidur di sofa, saya tidur dimana?" tanya Clarissa


Bryan menepuk ranjang tempat tidur


"Disini Cla" jawab Bryan


Clarissa terlonjak, ia membulatkan netra coklat nya.


"Kenapa kamu tidak mau?" tanya Bryan kembali


"Tidak kak" jawab Clarissa

__ADS_1


"Kamu tenang saja, aku tidak akan menyentuh mu bahkan melakukan hal yang tidak di inginkan" tutur Bryan


Clarissa tak enak hati, ia masih saja belum memberikan hak sebagai istri kepada Bryan. Sedangkan Bryan sama sekali tidak masalah, baginya apa yang dilakukannya semata-mata hanya menjalankan peran sebagai suami kontrak saja. Meskipun naluri nya ia adalah lelaki normal yang ingin mendapatkan hak dari sang Istri dengan memuaskan di atas ranjang.


Akan cukup lama Bryan menahan sabar nya, ia tak ingin memaksakan kehendak.


"Ya sudah kalau begitu kamu bisa tidur disebelah sini, aku akan tidur disebelah sana. Dan ini bantal guling sebagi pembatas. Kamu tenang saja Clarissa, aku tidak akan melewati batas ini" ungkap Bryan


Ia mulai naik ke atas ranjang tempat tidur, ia menaruh bantal guling ditengah-tengah. Setelah nya ia mulai terlelap memejamkan kedua matanya.


Clarissa yang masih berdiri mematung, ia merasa resah dan serba salah.


Clarissa duduk dengan membelakangi.


"Maafkan saya kak Bryan, saya sudah salah. Dari awal kak Bryan sudah menuruti permintaan saya, tapi saya juga yang tidak bisa membahagiakan kak Bryan. Saya hanya seorang istri yang jauh dari kata sempurna. Bahkan memberikan hak kepada kak Bryan saja saya belum siap kak" lirih Clarissa.


Ia tak bisa menahan air matanya yang sedari tadi ia bendung. Lagi-lagi Clarissa hanya bisa bersedih.


Tak ingin semakin larut,. Clarissa menyeka air matanya. Dan ia lihat jam sudah menunjukkan pukul 21.00 Clarissa memutuskan untuk tidur, karena besok pagi ia harus pergi ke kampus.


Clarissa membaringkan tubuh nya,.ia menoleh ke arah sang suami yang sudah tertidur lelap dengan penuh kedamaian.


Bryan memejamkan matanya, dengan tertidur menyamping ke arah Clarissa. Sedangkan kedua tangannya menopang wajahnya.


"Selamat malam kak, mimpi indah" gumam Clarissa.


Tak lama kemudian Clarissa sudah terlelap.


Bryan berusaha membuka kedua matanya, ia tersenyum manis ke arah istrinya. Posisi tidur mereka berhadapan dengan bantal guling sebagi pemisahnya.


Bryan memandangi wajah cantik Clarissa saat sedang tertidur.


"Cla kamu begitu cantik sekali. Hanya lelaki yang kurang bersyukur yang menyia-nyiakan kamu. Kamu baik Cla, hati kamu tulus" batin Bryan


Bryan memberanikan diri membelai lembut rambut Clarissa dengan perlahan. Ia juga tidak ingin membangunkan tidur Istri nya.


Belaian itu Bryan berikan cukup lama.


"Aku sayang sama kamu Cla. Aku berjanji tidak akan pernah meninggalkan kamu. Bahkan sampai anak mu telah lahir kedunia, aku akan berusaha merawat dan membesarkannya. Meskipun aku tau aku bukan orang yang sudah menghamili mu, tapi aku tidak ingin anak yang kamu kandung harus lahir tanpa seorang ayah" gumam Bryan


Sedetik kemudian Bryan meneteskan air mata nya.


Sepanjang hidupnya ia tak pernah merasakan kepiluan yang mendalam, tetapi saat ini Bryan merasakan sesuatu yang teramat sakit. Ia tak bisa melihat seorang perempuan harus menanggung beban sendiri, apalagi perempuan itu adalah Clarissa yang sudah menyandang status sebagai istri nya.


"Mulai besok aku akan mencabut kontrak nikah kita Cla. Aku memutuskan kita akan menjalani pernikahan ini selamanya. Aku kan bersabar menunggu sampai perasaan kita berdua sama-sama saling tumbuh dan berbalas kan" ucap Bryan


...----------------...


"Cinta bisa membuat seseorang berubah menjadi lebih baik bahkan sebaliknya. Cinta yang indah adalah cinta yang didapatkan dari hasil perjuangan dan pengorbanan."

__ADS_1


__ADS_2