
Clarissa terbangun dari tidurnya, ia menoleh ke arah suaminya. Saat Clarissa terbangun ia merasakan ada hal yang berbeda, ia tersadar sang suami, Bryan melingkarkan tangannya ke arah perut ramping Clarissa. Posisi tidur keduanya sudah tak beraturan, bahkan sebuah bantal guling yang jadi pembatas tidak di hiraukan nya. Mereka berdua terlelap, sama-sama tidak saling sadarkan diri.
Clarissa mengerjapkan matanya, ia tercengang dan mulai terdiam. Entah apa yang sebenarnya terjadi, mengapa Bryan sudah berada sedekat itu dengan dirinya.
Akhirnya Clarissa mencoba mengangkat dan memindahkan lengan suaminya dengan perlahan, tanpa harus membangun kan suaminya.
"Alhamdulillah,. beruntung kak Bryan masih tidur." gumam Clarissa
Clarissa berusaha bangkit dari tempat tidurnya, dengan menyamping kan terlebih dahulu tubuhnya.
Ia mulai berdiri dan berjalan ke arah kamar mandi,.belum saja beberapa langkah Clarissa mulai merasakan mual dan kepalanya mendadak sedikit pusing.
"Hoek...Hoek...Hoekk" Clarissa mencoba tahan rasa mual itu dengan menutup mulutnya.
Tetapi rasa mualnya malah semakin memuncak, ia mempercepat langkahnya nya menuju wastafel yang berada di kamar mandi.
"Hoek...Hoekk...Hoekk"
Ia memuntahkan kembali cairan warna beningnya. Sudah beberapa Minggu Clarissa tak pernah merasakan mual, hanya saja hari ini, saat ia terbangun rasa mual itu muncul kembali.
"Kenapa perut ku mual sekali ya Allah, kepalaku pun sedikit pusing" gumam Clarissa. Kemudian ia membasuh mulutnya dan ia lap dengan telapak tangannya.
Clarissa mencoba menoleh ke arah cermin, dari pantulan cermin terlihat wajahnya begitu pucat disertai dengan keringat dingin. Clarissa menopang tangannya pada sela sela wastafel. Seketika tubuhnya ambruk terkulai lemas tak sadarkan diri.
Brak
Terdengar suara tubuh Clarissa yang terjatuh dari lantai kamar mandi. Hingga kepala terbentur lantai dan mengeluarkan sedikit dar*h di belakang kepalanya.
Seketika Bryan terbangun, ia mulai membuka kedua matanya perlahan, ia langsung menoleh ke samping tempat tidurnya, disana sudah tidak ada Clarissa. Bryan tidak lupa sebelum ia terbangun ia mendengar suara seseorang terjatuh.
"Cla kamu sedang dimana???" teriak Bryan
Untuk memastikan Bryan beranjak dari tempat tidurnya, ia berjalan menuju arah kamar mandi. Sedetik pun Bryan masih tidak percaya apa yang ia temui di kamar mandi adalah Clarissa yang sudah tergeletak pingsan.
"Clarissa bangun Cla" Bryan berjongkok dan mengangkat tubuh Clarissa dalam dekapan nya. Ia menepuk-nepuk pipi Clarissa, berusaha untuk membangunkan nya. Tapi saat Bryan berusaha menyentuh denyut nadi dipergelangan tangan Clarissa, denyut nadinya sangat lemah.
Bryan sontak merasa panik dan mencemaskan keadaan Istirnya. Ia berusaha berdiri dan mengangkat tubuh Clarissa.
Bryan keluar dari kamar mandi berjalan menuju lantai bawah, ia berniat untuk membawa Clarissa menuju RS.
Di ruang tamu Mamah Desi dan Papah Angga terkejut dengan Bryan yang sudah mengangkat tubuh Clarissa dengan kedua tangannya.
"Bryan istri kamu kenapa?" tanya mamah Desi panik
"Mamah nanti saja bahas ini nya, sepertinya Bryan harus segera membawa Clarissa ke RS" jawab Bryan berjalan tergesa.
"Ya sudah kalau begitu mamah ikut" pinta mamah Desi
"Papah juga ikut" sahut papah Angga
"Ya sudah Ayo pah, mah"
Bryan berjalan ke halaman depan rumah nya.
"Mah aku minta tolong bukain pintu mobilnya, ini kuncinya" Dengan posisi yang masih mengangkat tubuh Clarissa, Bryan mencoba merogoh kunci mobil otomatis dalam saku celananya dengan tangan satunya.
"Ya sudah sayang sini, biar mamah yang buka kunci mobilnya" ucap mamah Desi.
Mamah Desi memencet keyless entry sebuah kunci mobil otomatis yang tinggal ditekan tanpa harus memasukkan ke dalam lubang kunci.
Mobil terbuka, Bryan segera menurunkan tubuh Clarissa di kursi penumpang.
"Bryan sebaiknya biar papah saja yang mengendarai mobil nya, kamu duduk saja dibelakang dengan istrimu" usul papah Angga
"Iya Bryan benar apa yang dikatakan papahmu, biar papah saja yang bawa mobil" timpal mamah Desi.
__ADS_1
Dengan segala kepanikan nya yang sudah melanda, tak ada cara lain untuk Bryan berfikir. Ia menuruti saja semua perkataan kedua orang tuanya.
Bryan mencoba mengangkat kembali tubuh Clarissa, lalu ia duduk dikursi belakang.
Setelahnya, papah Angga dan Mamah Desi masuk ke dalam mobil nya. Papah Angga yang membawa mobil, sedangkan mamah Desi duduk di depan kursi penumpang.
"Bryan kamu yang tenang ya, kita akan membawa istrimu ke RS" ucap mamah Desi menoleh sedikit kepalanya ke arah Bryan.
Kecemasan dan kekhawatiran Bryan begitu tinggi, tak hentinya ia berdo'a dan berharap supaya istrinya dalam keadaan baik-baik saja.
Bryan mencoba merengkuh tubuh istrinya itu, ia berusaha membelai lembut rambutnya, dan mengecup ubun-ubun kepala Clarissa.
"Cla aku tidak tau sebenarnya apa yang sudah terjadi denganmu,. saat aku mendengar suara orang terjatuh, seketika aku terperanjat dan panik. Dan saat tahu bahwa kamu tak sadarkan diri dan tergeletak pingsan, saat itu juga aku merasa bersedih. Cla, semoga kamu baik-baik saja. Aku sayang sama kamu" batin Bryan dengan lirih.
Sepanjang perjalanan Bryan terus mendekap tubuh istrinya.
Jalan di Ibu Kota saat itu memang cukup macet karena berada di jam sibuk, ditambah pagi hari sudah banyak orang-orang yang pergi ke kantor, ke kampus, bahkan ke sekolah
Bryan teringat bahwa hari ini ia ada bimbingan dengan dosen mengenai skripsi. Ia memijat pelipisnya. Ia berfikir setelah berhasil membawa Clarissa menuju RS ia akan mengabari terlebih dahulu kepada dosennya.
**
Beberapa menit kemudian mobil yang di kemudian papah Angga telah tiba di RS Pelita Hati. Papah Angga mencoba memarkirkan mobilnya di basement RS. Kemudian ia langsung turun dari dalam mobilnya, disusul oleh mamah Desi istrinya.
Papah Angga berjalan ke arah pintu belakang, Ia membukakan pintu untuk Bryan.
"Ayo Bryan kita sudah sampai" ajak papah Angga.
"Iya pah" ucap Bryan
Bryan mencoba keluar dari dalam mobil nya, kemudian ia mengangkat tubuh istrinya, dan membawanya menuju koridor RS. Setibanya di depan koridor RS, para petugas medis membawa brankar dan memasukkan Clarissa menuju ruangan UGD.
"Mohon maaf untuk keluarga pasien diharapkan menunggu diluar terlebih dahulu, pasein akan segera kami tangani" ucap suster RS dengan menutup pintu ruangan UGD.
Bryan masih berdiri mematung di depan pintu UGD. Sedari tadi ia gelisah.
"Makasih mah, mudah-mudahan Clarissa tidak kenapa-kenapa dan dapat ditangani" timpal Bryan.
"Bryan papah mau tanya, penyebabnya istrimu bisa pingsan kenapa?" tanya papah Angga penasaran
"Bryan juga tidak tau pah! Tadi itu saat Bryan masih tertidur, Bryan mendengar suara seseorang yang terjatuh,. seketika Bryan tersadar, Bryan mulai bangun dan berjalan menuju kamar mandi. Di lihat sudah ada Clarissa yang tergeletak pingsan" tutur Bryan
"Ya sudah kalau begitu kita sama-sama berdo'a untuk kebaikan Clarissa" sahut mamah Desi
"Iya mah" balas Bryan.
Sambil menunggu Clarissa ditangani,.Bryan memutuskan untuk duduk di kursi RS yang telah disiapkan.
Bryan duduk dan menundukkan kepalanya seraya ke dua tangan nya dirapatkan mengenai hidung nya.
**
Sudah sedari tadi Clarissa ditangani oleh dokter UGD, tak lama kemudian dokter itu pun keluar dari ruangan tersebut.
Bryan terperanjat dan langsung berdiri. Ia berjalan mendekati dokter UGD, begitupun dengan papah Angga dan Mamah Desi. Mereka begitu penasaran tentang kondisi dan keadaan menantu nya.
"Dok bagaimana keadaan istri saya??" tanya Bryan begitu panik
"Saya sudah menangani pasien, hanya saja keadaan nya sekarang cukup kritis. Pasein perlu beristirahat total, apalagi benturan di kepala nya cukup keras. Sepanjang pemeriksaan tidak ada sesuatu yang serius, hanya saja saya perlu menyarankan supaya pasein tidak terpeleset untuk kedua kalinya, mengingat kandungan nya yang masih trimester pertama sangat rentan akan keguguran, kalau pasein terjatuh seperti barusan" tutur Dokter UGD
"Apa dok kandungan? Maksud dokter menantu saya hamil?" tanya mamah Desi tidak percaya.
"Loh memangnya kalian semua disini tidak tahu kalau pasien sudah mengandung?" Dokter UGD balik bertanya. Ia menatap wajah Mereka bertiga yang ada dihadapannya.
"Tidak dok kami semua tidak mengetahui bahwa Clarissa tengah hamil" sahut mamah Desi.
__ADS_1
"Sangat menyayangkan kalau kalian semua belum mengetahui bahwa pasein tengah mengandung,. Padahal sekarang usia kandungan nya sudah memasuki usia 8 Minggu" tutur dokter UGD
Mamah Desi terkejut dengan penuturan dokter UGD. Mamah Desi terlonjak tidak percaya. Apalagi pernikahan Bryan putranya dengan Clarissa baru berjalan Dua Minggu, tetapi saat tau Clarissa sudah mengandung dengan usia kandungan nya menginjak 8 Minggu, mamah Desi menggelengkan kepala tidak percaya.
"Baik kalau tidak ada yang ditanyakan lagi, saya permisi." pamit dokter UGD
"Maaf dok tunggu sebentar" cegah Bryan
"Iya ada apalagi tuan?" tanya dokter UGD
"Kita semua apakah bisa menjenguk pasein?" tanya Bryan
"Oh tentu saja boleh, tetapi harus bersikap tenang dan jangan berisik. Pasein perlu beristirahat. Dan Pasien akan kami pindahkan beberapa jam lagi ke ruangan rawat, karena pasien membutuhkan perawatan beberapa hari sampai keadaan nya benar-benar pulih" jawab Dokter UGD.
Setelah kepergian dokter UGD, Bryan segera masuk menemui Istrinya. Seketika mamah Desi mencegah Bryan dengan menarik lengannya.
"Tunggu Bryan! Ada hal yang ingin mamah tanyakan" ujar mamah Desi
"Ada apalagi sih mah? Bryan mau melihat keadaan Clarissa di dalam" ucap Bryan
"Tunggu dulu! Sebaiknya kamu sekarang berterus terang kenapa tadi dokter UGD bilang bahwa Clarissa istri kamu sudah hamil 2 bulan? Sedangkan pernikahan kamu saja baru dua Minggu!" tanya mamah Desi membulat kan netra coklat nya dengan sempurna
"Jawab Bryan jangan diam saja!" bentak mamah Desi.
Emosinya sudah tidak dapat terkendali. Selama ini ia tidak pernah melihat Bryan menggandeng perempuan lain, apalagi sampai di perkenalkan kepada kedua orang tua nya.
Tiba-tiba saja tanpa ada angin, tanpa ada hujan, Bryan memutuskan untuk segera menikah. Dan saat kedua orang tua nya tau Clarissa sudah hamil dengan usia yang terpaut jauh dengan usia pernikahan nya, membuat kedua orangtuanya mencurigai hubungan Bryan dan Clarissa.
Mamah Desi mengira bahwa Bryan sudah berhasil melakukan perbuatan tercela nya sebelum ia menikah.
Plak
Sebuah tamparan keras mendarat ke arah pipi Bryan
"Auwww ko mamah malah tampar pipi Bryan" ringis Bryan
"Mah sudah mah jangan buat keributan disini" timpal papah Angga
"Sebentar pah! Mamah masih belum puas memberikan teguran kepada anak kita" sergah mamah Desi
"Bryan! Mamah masih tidak percaya dengan apa yang sudah kamu lakukan! Ya memang mamah kemarin-kemarin itu berusaha untuk menjodohkan kamu dengan anak rekan bisnis papahmu. Tapi bukan begini juga Bryan! Kamu ko tega sih melakukan zina!" umpat mamah Desi mencibir Bryan habis-habisan.
Bryan terdiam, ia tak ingin mengatakan yang sebenarnya bahwa bukan dia yang melakukan itu semua. Bryan rela menikahi Clarissa yang tengah berbadan dua, asalkan ia tak jadi dijodohkan dengan pilihan kedua orang tuanya.
"Jawab Bryan kamu jangan diam saja!" bentak mamah Desi. Sorot mata nya terpancar begitu tajam
"Mah sudah Bryan minta jangan bahas ini di RS. Nanti kita bahas di rumah saja" pinta Bryan
"Tidak! Pokoknya mamah masih tidak percaya Bryan! Kurang apa mamah dan papah mu? Kita sudah mendidik kamu dengan baik, bahkan selalu menasehati kamu bahwa jauhi zina! Tapi kenapa kamu malah melanggar nasehat papah dan mamah? Apa selama ini yang kita lakukan untuk mu, untuk kebaikan mu diabaikan begitu saja dan tidak ada artinya nya sama sekali??" tanya mamah Desi.
Ia tak bisa lagi menahan air matanya dan rasa sakit nya atas apa yang telah terjadi menimpa anak nya. Anak kandung satu-satunya sudah dengan sengaja mencoreng nama baik keluarga.
"Hiks..Hiks..Hiks.." mamah Desi menangis tersedu-sedu.
Entah apa yang harus Bryan katakan. Ia sudah terjebak dalam pernikahan kontrak yang sama sekali ia tidak ingin kan.
"Mah maafkan Bryan,. Bryan sendiri merasa bingung harus dengan cara apa Bryan menjelaskan semuanya! Bryan benar-benar sudah sangat terjebak dengan masalah yang menghimpit ini." batin Bryan
"Sudah mah sudah, lebih baik mamah jangan bersedih dan menangis. Tidak akan merubah takdir yang sudah digariskan oleh Allah. Mungkin saja mereka khilaf" ucap papah Angga merangkul bahu istrinya seraya menenangkan nya.
"Tapi pah mamah malu anak kita..." ucapan nya terhenti dengan tangisan yang terisak
"Nasi sudah menjadi bubur, tidak ada yang harus disesali. Yang penting kita tahu semuanya saat Bryan dan Clarissa sudah menikah mah. Lebih baik kita memaafkan semua kesalahan keduanya,.kita mulai menerima dan memberikan semangat kepada mereka supaya mereka tetap langgeng, dan bisa membesarkan anaknya dengan baik. Sekarang kita bukan waktunya untuk ikut campur, biarlah mereka berdua yang menjalani" tutur papah Angga
Bryan masih saya merenungi penuturan Papahnya.
__ADS_1
Bryan sama sekali tak merasa bersalah, karena orang yang sudah berhasil menghamili Clarissa, sejatinya bukan Bryan lah pelaku nya tapi David teman satu kelas dengan Clarissa.
"Sangat sulit untuk aku menerima semua ini, tapi aku mulai belajar dari kejadian ini, bahwa tidak semua yang tidak kita harapkan bisa datang ke kehidupan kita. Justru aku sudah salah menilai, belum tentu keadaan yang kita lakukan hampir nyaris sempurna harus berjalan begitu baik, disinilah titik kita di uji. Mental dan fikiran beradu menjadi satu" batin Bryan