Bertahan Sakit Berpisah Sulit

Bertahan Sakit Berpisah Sulit
Bab 010: Cukup


__ADS_3

“Permisi, Mas, apa semuanya baik-baik saja?” Ketukan pintu terdengar, sekali lagi terdengar suara. “Mas Tiarnan, apa kita tidak jadi berangkat? Pak Frits sudah menelepon dua kali.”


“Sebentar lagi, nanti saya turun, Pak,” sahut Tiarnan tanpa mengalihkan pandangan dari Likta, “Serius kamu baik-baik saja?”


Pertanyaan Tiarnan syarat kecemasan dan realistis khas suami yang memedulikan istri, tetapi Likta tidak ingin tertipu lagi kali ini. Cukup sudah dipecundangi pria satu ini, kalau saja hubungan singkat mereka tak menghasilkan buah hati, tentu Likta tak akan pernah mencari-cari keberadaannya. “He'eh,”


Kedua jari Likta memijit ringan pelipis, membuat pola bulat-bulat supaya rasa pening di kepala berkurang, tetapi siapa menduga gerakan sederhana itu memantik ingatan Tiarnan saat merengkuh tubuhnya, jemari lentik itu membuat lingkar-lingkar kecil di dada.


Bercinta dengan Likta merupakan suatu kecelakaan bagi Tiarnan. Tanpa alibi. Dia akan bertanggungjawab sampai bayi itu lahir, sekalipun sulit sekali menolak daya tarik paras menggemaskan wanita yang baru dinikahi seminggu. Bibir dan senyum menawannya begitu manis bagai marshmello. Dia masih mengingat seperti apa saat meleleh di dalam mulut dan ....


“Cukup—” geram Tiarnan, menekan kuat-kuat gelenyar aneh di dalam tubuh. Lalu, menunduk, menatap Likta yang kini menengadah ke arahnya. Mungkin kaget dengan ucapan spontan penuh tekanan Tiarnan. “Sudah cukup istirahatnya? Ada yang sakit?”


“Hanya kram perut, sudah lebih baik,” ungkap Likta, maksud hati ingin berpegang pada lengan kursi, tetapi telapak tangan Tiarnan mendahului. Menggenggam kuat sampai dapat berdiri tegak. “Terima kasih.”


Genggaman dilepas dan Tiarnan menempatkan telapak tangan ke saku celana. “Kita sudah terlambat,” ujarnya. Kemudian, mempersilakan agar Likta berjalan lebih dulu.


Tiarnan melenggang setelah langkah pendek-pendek Likta. Berada satu langkah persis di belakang istrinya. Sentuhan singkat tadi sangat memengaruhinya, dia perlu menetralkan sensasi menggelitik, selembut kepakan sayap kolibri, pelan dan menghanyutkan.


Pintu lift terlihat di ujung lorong, seolah-olah dirancang hanya untuk penghuni kelas atas. Sebab tak terlihat pintu selain tempat Tiarnan, merasa diamati Likta menoleh sebentar. Lalu menekankan tombol di samping pintu transportasi vertikal itu.


Waktu Tiarnan melangkah masuk Likta sengaja membuat jarak serentang tangan kanan. Selanjutnya, Tiarnan-lah yang menekankan tombol menuju lantai dasar.

__ADS_1


“Apa yang harus kukatakan saat bertemu papamu?”


Alis tebal Tiarnan terangkat, dia menoleh cepat. “Jawab seperlunya.”


Setelah melewati beberapa lantai, keduanya telah mencapai lobi, pintu lift terbuka dan dari kejauhan penjaga pintu mengangguk samar. Membuka pintu lebar-lebar dan di ujung bawah undak-undakan teras sudah ada mobil hitam mengilat menunggu.


Dengan kesopanan tingkat tinggi supir membuka pintu mobil bagian penumpang. Tiarnan dan Likta duduk tanpa bertegur sapa, situasi paling canggung sepanjang ingatan Likta. Bagai dua orang asing yang dipaksa berada di tempat yang sama, beda jauh dengan awal berjumpa.


Namun, karena Likta tak juga memakai sabuk pengaman, Tiarnan harus mengulurkan tangan ke sebelah istrinya, mengaitkan dan memastikan tidak terlalu menekankan perut.


Perhatian sederhana Tiarnan membuat napas Likta berhenti sedetik, dia mengenyakkan punggung ke kursi. “Terima kasih.”


Namun, kita? Satu kata yang memiliki makna lebih intim, sebagai satu kesatuan yang saling terhubung, secara tidak langsung bermaksud mengukuhkan hubungan mereka. Bodoh! Sejak kapan Tiarnan menemukan kata ganti dua orang berbeda, dengan versi sederhana tetapi berpengaruh besar dalam konteks khusus.


Mobil mulai memasuki jalan raya, lampu-lampu berpendar bagai bintang-bintang kecil di kejauhan. Pedagang kaki lima bertebaran di pinggir trotoar.


Dalam keheningan yang canggung, baik Tiarnan maupun Likta enggan membuka obrolan, sampai tanpa sadar begitu melihat penjual seblak pinggir jalan Likta berkata keras, "Pak berhenti, aku mau itu.”


“Terus jalan,” perintah Tiarnan.


“Bukan mauku, ini keinginan junior.” Sembari mengusap perut, Likta menoleh ke belakang, dan sepertinya sang supir paham tentang wanita hamil yang mengidamkan sesuatu patutnya dituruti, hingga mencari belokan.

__ADS_1


“Kasihan sekali anak kita belum lahir sudah kamu fitnah,” gerutu Tiarnan. “Loh, Pak, kenapa putar balik? Oh, ternyata Bapak lebih memihak kepadanya.” Melirik Likta singkat lantas menatap nyalang supir pribadi Frits.


“Bukan begitu, Mas.”


“Jangan coba-coba berhenti atau—” ancam Tiarnan.


“Mas, mau kalau anak yang lahir nanti ngeces?” tutur pria paruh baya itu, untuk kembali ke tempat yang di maksud Likta melewati lampu lalu lintas, dan kini sedang menunjukkan warna merah.


“Itu tidak sehat, buat apa?” dengus Tiarnan, tak ingin mengubah pendirian, dia berkeras tidak mau berhenti seraya menambahkan, “Aku bilang tidak ya tidak. Titik. Tidak bisa diganggu gugat. Dan, hal itu cuma mitos, setiap bayi pastilah ngeces.”


“Sok tau, enggak lihat juga, apa yang aku mau,” timpal Likta, memainkan kuku-kuku jari sebelah kanan dengan sebelah kiri. Bibir mungil sedikit penuh itu bertambah seksi tatkala mengerucut. “Aku jelas enggak mau junior ileran.”


“Ini menunjukkan bahwa kamu-lah yang sok tau, seblak tidak baik untukmu, apa lagi setelah kram,” gerutu Tiarnan.


“Kok?” Pengakuan Tiarnan barusan memperkuat pemikiran Likta bahwa ada mata di tengkuk suaminya. “Aku janji pesan level terendah.”


Tiarnan melipat lengan di dada, berusaha bersikap sopan. “Tidak boleh ada yang keluar tanpa seizin dariku.”


Sopir mengendurkan pijakan kaki di gas, jelas sekali saat ini sedang berpihak kepada Likta ketimbang Tiarnan, tetapi ragu untuk melangkah keluar dari mobil karena baru saja mendapat ancaman.


Akhirnya, Likta memutuskan beli sendiri. “Aku bisa beli sendiri.”

__ADS_1


__ADS_2