Bertahan Sakit Berpisah Sulit

Bertahan Sakit Berpisah Sulit
Bab 032: Kecewa Berat


__ADS_3

Hujan mengguyur Jepara pada malam ini, aspal yang semula keabu-abuan telah menghitam. Kadang kala guntur menggelegar, kilat menjilat ujung terjauh lengkungan bumi.


Di dalam kafe temaram ada tiga orang pria duduk diam, agaknya menunggu sang pramusaji menjauh. Dengan hati-hati wanita muda itu meletakkan satu per satu cangkir kopi, asap tipis terlihat menari-nari, menguarkan aroma kental kafeina.


Tiarnan melihat jam di pergelangan tangan dengan gusar, hati kian resah saja. Dia mengkhawatirkan keadaan Likta, apa perutnya masih sering kram?Bagaimana kalau Violacea berbuat yang tidak-tidak?


Segera, Tiarnan menarik ponsel dari saku celana, mengirim pesan kepada sopir pribadi sang ayah. Dia ingin tahu situasi di Jakarta. Apa istrinya berada dalam masalah?


Sepuluh menit berlalu, Tiarnan belum juga mendapatkan balasan, dia pun memutuskan berfokus pada pria di hadapannya. Menatap tajam tanpa niat menurunkan kewibawaan.


Dengan sekali tarikan napas si pria berujar, “Saya sudah siap menerima konsekuensinya, Pak, biar masuk buih pun tidak apa-apa.”


Suasana kembali hening, suara rintik hujan yang membentur kaca pun tidak kedengaran dari dalam. Entah sengaja menghemat listrik atau alat pemutar musiknya rusak, pegawai kafe membiarkan ruangan sunyi.


“Begini, Yan.” Gangsar angkat suara demi memutus kesenjangan, dia menoleh ke arah Tiarnan guna meminta persetujuan. Begitu mendapat anggukan dia kembali membuka mulut. “Kamu larikan ke mana uang sebanyak itu?”


Pria bernama Yan itu tidak sekali pun mengangkat kepala. Dia tampak berpikir keras sebelum menjawab pertanyaan Gangsar.


“Untuk pengobatan anak saya,” aku Yan, makin tertunduk malu. “Biarlah saya dipenjara atas kesalahan yang sudah saya perbuatan.”


“Kami dari awal tidak berencana membawa masalah ini ke jalur hukum, Yan, tetapi perbuatan kamu membuat saya kecewa,” ungkap Gangsar, dia juga merasa tidak enak dengan Tiarnan. Selama ikut temannya itu, Gangsar diberi kepercayaan cukup besar untuk mengurus segalanya, termasuk merekrut karyawan.


“Saya terdesak, Pak.”


“Apa pun alasanmu tidak bisa kami terima!” Gangsar menarik napas dalam-dalam, lalu bertanya geram, “Apa, sih, susahnya bilang ke saya?”


“Biayanya besar.”


“Saya tau—kelihatan dari nominal yang kamu salah gunakan,” dengkus Gangsar, tetapi lambat laun melunak. Dia ingin tahu apa gerangan yang diderita anak Yan. “Putrimu sakit apa?”


“Komplikasi liver.” Raut wajah Yan semakin mendung. “Tiga hari lalu melakukan pencangkokan. ”


“Semoga lekas pulih,” ucap Gangsar, tulus.

__ADS_1


“Terima kasih, Pak. Saya bersedia mengabdikan seluruh hidup saya kepada perusahaan.”


“Maaf, dengan sangat terpaksa kami tidak bisa mempekerjakan kamu lagi,” tegas Gangsar tanpa memandang wajah pucat sang karyawan.


Yan mengulas senyum getas, ini balasan sepadan atas apa yang telah dirinya lakukan. Dia menarik napas panjang, lantas berujar, “Mestinya saya yang minta maaf, Pak, karena sudah merusak kepercayaan Pak Gangsar dan Pak Tiarnan. Rasa malu saya berkali lipat sebab tidak dilaporkan ke pihak berwajib.”


Percakapan mereka selesai sampai di sana, tetapi tanpa sepengetahuan Yan, Gangsar memberikan sejumlah uang modal untuk membuka usaha atas perintah Tiarnan.


Dalam perjalanan, Tiarnan termenung masam, tersebab belum juga memperoleh informasi dari sopir pribadi Frits. Dia bertambah jengkel karena hujan yang semula rintik-rintik kecil kembali deras.


“Pulang besok sajalah,” usul Gangsar tanpa mengalihkan perhatian dari jalan berkabut di depan. “Kamu butuh istirahat.”


“Aku sudah cukup banyak beristirahat, sejak di sini, kan, kamu yang pegang kendali.” Tiarnan beringsut dari duduknya, memposisikan punggung supaya lebih nyaman.


Sudah kesekian kali Tiarnan memeriksa ponsel, di layar waktu menunjukkan pukul delapan. Akan tetapi, masih tidak dapat kabar. Ingin sekali dia membanting telepon seluler dari genggaman.


Konyol, padahal saat berangkat Tiarnan kecewa berat kepada Likta, tetapi kenapa sekarang jadi uring-uringan ketika dirasa terlalu lama jauh darinya?


Gelenyar hangat terasa di sekitar perut Tiarnan, tidak kuasa membendung rasa takjub terhadap istrinya. Dalam video berdurasi singkat itu Likta tampil memesona, gaun lembut berornamen mutiara-mutiara kecil dan kristal gemerlapan saat bergerak. Istrinya tampil lebih cantik dan menarik daripada yang pernah ada di dalam imajinasinya.


Rumbai-rumbai tipis pada bagian lengan mengusap lembut kulit seputih pualam Likta, gaun berwarna merah itu secara provokatif memeluk erat setiap lekuk tubuhnya, sehingga memperlihatkan perut yang mulai membuncit.


Rambut hitam Likta dikepang longgar dan berhiaskan penjepit berlian, sulur-sulur halus membingkai wajah yang tampak natural. Tiarnan dapat melihat rona merah alami pada kedua pipi sang istri, tetapi bibir mungil serupa pita wanita itu diberi sedikit warna merah, sehingga membangkitkan keinginan Tiarnan untuk menghapus pewarna itu menggunakan bibirnya.


Dalam sesaat, semburan angan-angan liar Tiarnan melambung tinggi. Membuat dia limbung, dunianya kini seolah-olah jungkir-balik akibat darah yang menggelegak. Bukan karena rasa marah seperti saat di bungalo tiga belas hari yang lalu, ketika melihat pipi Likta merona setelah mendengar pertanyaan jailnya.


Dan, sama seperti pada waktu itu jantungnya memompa lebih cepat. Cairan yang mengalir di urat-urat nadi berdesir panas, tetapi lain dari yang dia yakini pada hari itu bahwa ambisi yang berkobar disebabkan oleh kebencian. Namun, api malam ini menggelora bersama hasrat maskulinitas yang kian membara.


Gila! Tiarnan jelas sudah setengah waras sekarang karena begitu menginginkan wanita yang telah menyebabkan adiknya meninggal dunia. Semua pikiran untuk membalaskan dendam lenyap tidak berarti ketika dia memikirkan Likta.


“ ... hai, Tiarnan! Sakit kali ya ini orang? Hai, Bos!” tegur Gangsar sudah yang ke lima kali. “Dih, mikir jorok, ya?”


“Hah?”

__ADS_1


Gangsar tergelak-gelak melihat kebingungan Tiarnan.


Pengusaha muda itu baru menyadari satu hal, dan semua sudah terlambat, celana panjangnya seakan-akan telah menyempit. “Breng*sek!” Dia mengusap wajah dengan kasar.


“Aku peringatkan sekali lagi, jangan nekat pulang malam ini. Cuaca sedang enggak bersahabat, jadi bersabarlah atau pulang tinggal nama,” tutur Gangsar diiringi gurauan.


Tiarnan menegakkan duduknya, lantas menengok ke luar jendela kaca mobil. Langit memang terlihat amat murung, air menetes deras tak terbendung. Guruh disertai lidah api menyambar-nyambar sesekali.


“Di sini sering hujan petir?”


“Enggak selalu.”


Tiarnan mangut-mangut.


“Gimana masalah di Swedia?”


“Uang dari pihak asuransi tidak bisa menutup jumlah kerugian akibat kebakaran itu.”


“Bukannya Juana sedang mencari investor?”


“Memang,” balas Tiarnan singkat, lalu mengambil permen di atas dasbor.


“Selesai, dong, masalah?”


“Aku tidak setuju, kamu ingat Tuan Jimmy?”


“Dia yang menawarkan bantuan?”


“Bisa dibilang gitu, tapi bodoh bila aku menyetujuinya, bukan?”


“Ya, dia pria hidung loreng,” ucap Gangsar, seraya menoleh sebentar. “Kamu ada rencana balik ke sana?”


“Yeah, setelah peresmian di sini.”

__ADS_1


__ADS_2