Bertahan Sakit Berpisah Sulit

Bertahan Sakit Berpisah Sulit
Bab 029: Segera Diresmikan


__ADS_3

Makin malam Likta makin gelisah setelah bersembunyi, karena tidak bisa melihat Tiarnan sebelum pergi. Padahal sang jabang bayi ingin ditemani bapaknya, inilah alasan dia menggandrungi pria itu.


Sampai larut malam Likta berguling kanan balik ke kiri, begitu seterusnya. Kemudian karena bosan dia berjalan ke arah balkon, menggeser pintu kaca setinggi jendela yang persisi dengan tembok kamar.


Likta mendongak menatap langit, awan yang membiasakan cahaya bulan bergerak perlahan. Tidak biasanya kota Jakarta sedingin kutub utara, atau ini hanya perasaan dia saja lantaran jauh dari Tiarnan.


Sebelum tubuh membeku dicium hawa dingin Likta bergegas masuk ke kamar, menurunkan suhu mesin pendingin ruangan supaya lebih hangat.


Sejak datang ke sini kemarin malam Likta belum memeriksa isi lemari, dia berharap ada piyama yang pas untuknya. Namun, di dalam sana tidak ada satu pun baju wanita.


Likta mengerucutkan bibir, memilih salah satu kemeja sebagai ganti piyama. “Enggak jadi, deh, kaus sepertinya lebih nyaman.” Dia pun menggantikan gaunnya dengan oblong berwarna abu-abu baja yang hampir menenggelamkan tubuhnya. Kemudian, menjatuhkan tubuh ke tempat tidur, menarik selimut sampai menutupi kepala.


Lima jam telah berlalu, Likta terbangun subuh-subuh. Merangkak perlahan dari tempat tidur, mandi lalu melakukan rutinitas wajib sebelum keluar dari kamar. Dia bergegas setelah mematut penampilan di depan cermin, semua tampak sempurna. Segaris senyum terukir manis, jemarinya mengusap perut yang mulai membuncit.


“Sayang, apa kamu bahagia karena kami mengadakan acara syukuran untukmu? Bertahanlah 26 minggu lagi.” Likta bermonolog sambil mengelus lembut.


Seperti yang sudah Likta duga, rumah megah itu telah disulap begitu indah. Orang-orang berseragam hitam putih berseliweran membawa atau bergegas untuk mengerjakan sesuatu.


Likta dapat melihat meja panjang bertaplak linen putih, sendok-garpu perak dan pisau telah tersusun rapi di depan masing-masing kursi.


“Mbak Likta, sarapan sudah siap,” ucap Murti.


Likta mengangguk. “Bapak sudah bangun?”


Murti menoleh ke arah jam dinding. “Biasanya jam setengah tujuh beliau baru turun.”


“Oh,” sanggah Likta, berpikir bagaimana caranya menghadapi orang tua Tiarnan seorang diri. Mengingat pembicaraan mereka siang itu yang terkesan dingin.


Likta meneliti seluruh ruang rumah megah itu, mata beloknya berusaha menemukan keberadaan Violacea, sebab menurut pengakuan ayah mertua, model itulah yang akan mengatur semua.


Pengurus rumah membimbing langkah Likta menuju ke sisi lain ruangan yang ada di rumah itu. “Nah, sambil menunggu Pak Frits, apa Mbak Likta mau sesuatu? Teh barangkali?”


“Ya, nanti biar kutuang sendiri, Bi, terima kasih.” Mata Likta tertuju pada wanita paruh baya yang berdiri di sampingnya.

__ADS_1


Murti tersenyum simpul, alangkah beruntungnya, Tiarnan memiliki istri seperti Likta. “Bibi sudah siapkan buah. Oiya, semalam Pak Muh bilang ke Bibi, kalau Mbak Likta mau jalan tinggal bilang.”


“Pak Muh enggak antar Mas Tiarnan?” Sorot mata Likta menunjukkan kecemasan, lantas berujar. “Jepara, kan, jauh, Bi.”


“Iya, tetapi Mas Tiarnan berkeras bawa mobil sendiri,” ungkap Murti. “Mas Tiarnan menugaskan—”


Terdengar suara mirip orang lagi batuk, sehingga Murti tidak melanjutkan perkataan. Kedua wanita beda usia itu menoleh bersamaan. Si wanita paruh baya mundur selangkah, lalu menunduk hormat.


“Selamat pagi, Bapak.” Likta menyambut seraya berdiri.


“Pagi,” balas Frits datar. “Mur, Cea belum datang?”


“Belum, Pak.”


Kepala Frits mangut-mangut. “Pergilah, lihat, kalau dia sudah datang antarkan kemari.”


“Baik, saya permisi.” Murti mundur teratur beberapa langkah baru berbalik badan.


“Kopi.” Frits meraih koran. “Bagaimana kondisimu pagi ini?”


“Baik,” sahut Likta, lalu menyambar centong nasi, menyiapkan untuk ayah mertua. Dia melakukan peran menantu sebaik mungkin, semoga kedepannya hubungan mereka tidak secanggung ini.


“Aku tidak tau apa yang membuat Tiarnan berangkat ke Jepara lebih awal, terlebih lagi tau ada acara penting—” Ucapan Frits terjeda, pria berusia senja itu meraih cangkir, menyeruput sedikit kopi lantas melanjutkan. “Apa kalian bertengkar?”


Pipi Likta bersemu merah sebelum berganti murung, entah bisa dikatakan apa perihal peristiwa tidak terduga itu. Dia memang sengaja menghindar dan suaminya memilih berangkat tanpa berpamitan langsung.


Likta masih diselimuti kekecewaan atas pengakuan tidak sengaja Tiarnan usai bercinta. Astaga, mengingat percintaan itu, otot-ototnya berdenyut. Dia buru-buru membuang muka, takut ada yang tahu rona di pipi.


“Tidak, hubungan kami baik-baik saja.” Likta berdusta.


Senyum angkuh tersemat di bibir pria paruh baya itu, perasaan Likta tiba-tiba tidak enak. Dia menduga ayah Tiarnan dapat melihat keragu-raguan dalam pernyataannya barusan. Memang sedari dahulu, wanita hamil itu kurang bisa berbohong. Jadi, bukan hal baru bila ada orang yang dapat dengan mudah menilai kejujuran melalui seraut wajahnya.


“Selamat pagi, Om.” Violacea menyapa dengan ceria, sembari menarik kursi di samping Frits.

__ADS_1


“Pagi,” ucap Frits, lalu menoleh ke arah istri Tiarnan. “Likta, bisa tuangkan teh untuk Cea.”


“Tentu,” ungkap Likta, tulus, seraya mengulas senyum. Mata beloknya menyipit. “Terima kasih, kamu sudah meluangkan waktu menggelarkan acara tiga bulanan untukku.”


“Ah, bukan apa-apa, ini juga buat calon anakku, betul begitu kan Om?”


Likta tersentak, sekuat mungkin menahan tangannya agar tidak gemetar. Dia takjub kali ini berhasil meredam rasa nyeri yang sering menghampiri ketika ketenangan hati terusik. “Ada yang bisa aku bantu?”


“Semua sudah aku atasi, kamu tinggal santai aja. Jaga baik-baik baby yang ada di perutmu.” Violacea tersenyum simpul, kemudian menyelipkan rambut ke belakang telinga dengan anggun. “Om hari ini kerja, kan?”


“Ya, titip rumah ya?”


“Jangan khawatir, Cea bisa urus semuanya.”


Di luar keinginan, Likta membiarkan tatapan rapuh mencuat ke permukaan. Dia tidak mungkin menyela pembicaraan mereka. Untuk menutupi rasa sakit, dirinya menyesap teh perlahan. Lantas berdiri dan mengambil sarapannya sendiri, jika ini yang dimaksud acara ramah tamah, lebih baik dia mengikuti alurnya.


Sebetulnya tidak ada sedikit pun niat untuk masuk ke ranah keluarga Tiarnan, sebab Likta tahu ke mana akhir dari hubungan ini berlabuh. Mengingat itu, cairan empedu seolah-olah naik ke tenggorokan. Dengan susah payah dia menelan makanan.


“Kok, sedikit sekali makannya? Ayo, dong, tambah!” Violacea mengambilkan Likta tumis brokoli. “Biar bayinya sehat.”


“Terima kasih.” Likta dapat melihat kebanggaan terpancar dari wajah ayah mertua kala memandang calon penggantinya. Aduuuh, rasa yang tercipta sakit bukan main, dia langsung mual hanya dengan membayangkan.


“Om?” tegur Violacea agak canggung, dia ingin berbicara, tetapi terlihat kurang yakin.


“Ya, katakan,” sambut Frits lembut.


“Bukankah—” Ada jeda dua detik sebelum Violacea melanjutkan, gadis cantik itu berdehem anggun. “Begini, aku sudah memikirkan hal ini dari lama.”


Likta merasa waswas, secara naluriah menyadari ada sesuatu yang tidak beres dari kata-kata Violacea. Namun, dia lebih memilih tutup telinga rapat-rapat.


“Tidak masalah kalau hubungan ku dengan Tiarnan segera diresmikan.”


Likta hampir tersedak sendok sebelum waktu berhenti berputar. Semua yang ada di sana terdiam. Wanita hamil itu tidak berani untuk mengangkat kepala sekadar melihat raut wajah ayah mertua atau Violacea.

__ADS_1


__ADS_2