
Penuh percaya diri Likta menghampiri tukang seblak, air liurnya hampir menetes dengan hanya mengamati penampilan menggoda makanan itu. Selama ini, Likta suka pedas, tetapi tidak terlalu. Namun, kali ini keinginan menikmati masakan khas Sunda itu takbisa terbendung lagi.
Di sana ada dua remaja mengantre, salah satunya menoleh ke arah Likta. Senyum manis khas anak muda iseng tersungging. “Silakan,” katanya, seraya bangkit dari kursi plastik merah.
“Terima kasih, enggak apa-apa, silakan duduk kembali,” tolak halus Likta.
Gadis yang ada di sebelahnya ikut menoleh. “Ada apa, Lucky?” bisiknya. Seperti tahu apa yang terpikir atau dilakukan pemuda tadi sebelumnya. “Duduk aja, Kak, dia enggak akan mau duduk lagi setelah menawarkan kepada orang, lebih-lebih cewek yang—”
“Ugly Goose!” geram remaja bernama Lucky, “Diam lu!” Memiting leher si gadis, keduanya bertengkar sambil cekikikan.
Aksi mereka pun membuat Likta mengulas senyum, dia mendambakan keakraban seperti itu. Dia punya saudara sepupu, tetapi tidak terlalu dekat, dan sebenarnya memang tak pernah ada kecocokan.
“Ayo, nyerah gak? Bilang nyerah Ugly Goose!”
“Oke, gue, nyerah. Puas, lu!” teriak si Ugly Goose, dia merapikan sulur anak rambut yang mencuat dari jepitan. “Tunggu sampai badan gue lebih besar dari, lu!”
Lucky tertawa puas lantas menoleh ke arah Likta lagi. “Bang duluin, Kakak ini aja.”
“Jangan, enggak usah, aku—” tolak Likta.
“Udah, Kak, nurut aja, ini orang emang suka mengurus kaum hawa. Sok jentlemen.” Gadis itu berbicara dengan Likta.
Sekali lagi, Likta dibuat tersenyum oleh ucapan teman—mungkin pacar Lucky. “Terima kasih.”
“Kembali kasih, silakan duduk, Kak.” Ugly Goose ikut berdiri.
“Lah, kalau gini, akunya yang enggak enak,” ungkap Likta. “Sini, duduk aja, Ug—maaf, kita belum saling kenal. Aku, Likta.”
“Dama,” sambut si Ugly Goose.
“Panggil aja, Ugly Goose, Kak,” gurau Lucky.
Likta mengerucutkan bibir setengah detik. “Dia cantik tau.”
“Tuh, denger! Mata lu aja yang perlu diperiksa.” Dama melipat kedua lengan, lalu menjulurkan lidah. “Ini anak memang resek, Kak.”
“Cantik juga baru-baru ini.” Lucky tidak mau kalah. Dia mengacaukan rambut Dama sampai berantakan, tawanya begitu lepas tanpa beban.
Pada saat itu seolah-olah Likta mengalami deja vu, entah kapan atau pernah bertemu, pemuda ini mirip sekali dengan seseorang. Akan tetapi, Likta lupa siapa. Ah, mungkin saja salah menduga.
“... Kak, Kak Likta!” Dama menggoyangkan telapak tangan di depan wajah Likta.
__ADS_1
“Eh, iya, sorry, sorry, bilang apa tadi?”
“Kakak bukan asli sini?”
“He'eh, dari Surabaya,” balas Likta.
“Silakan, Neng,” ucap Abang penjual seblak.
“Enggak apa-apa aku dulu?”
“Iya, ikhlas, Kak. Aku sedih kalau ditolak,” ujar Lucky, memasang wajah memelas yang tampak imut sekali. “Bang, total sekalian sama punyaku, ya.”
“Jangan-jangan, biar aku ba—” Likta meraba-raba bajunya, gaun terusan pas badan dan mengembang pada bagian perut sampai lutut itu tanpa kantong. Otomatis saat tiba giliran membayar, baru sadar tidak membawa uang, dia mau balik ke mobil untuk meminta uang kepada Tiarnan, tetapi malu, gimana mintanya.
“ ... Kak, udah enggak apa-apa, aku yang bayar,” ucap Lucky. Senyum tulus tersungging, kali ini tidak terlihat kejailan secuil pun. “Tapi—”
“Ya?” Likta menunggu kelanjutan kata-kata Lucky dengan mimik wajah serius.
“Bagi nomor ponsel,” seloroh Lucky, hingga mengundang cubitan kecil di perut dari Dama.
“Lu tu, ya!” geram Dama, lantas menengok ke Likta. “Udah, enggak usah dengerin, Kak, cowok satu ini emang agak-agak sinting.”
“Aduh ampun,” ujar Lucky, lalu melepaskan diri, bersembunyi di balik punggung. Telapak tangannya memegang erat-erat, bahkan cukup dekat saat mengintip Dama melalui bahu Likta. “Kak, tolong, si Goose suka KDRT.”
Likta-ku? Tiarnan tersentak oleh pengukuhan sendiri.
“Pak tolong—oh sial, kenapa Juana telepon sekarang?” Tiarnan urung berbicara kepada supir Frits, dia mengambil ponsel dari saku dan menjawab, “Halo, Juana, ada apa? Semua berjalan lancarkan?”
Hening selama setengah menit, Tiarnan mendengarkan perkataan Juana sembari terus mengawasi Likta yang sedang bercanda dengan kedua remaja itu. “Iya, masih di sini. Aku percayakan semua kepadamu Juana.”
“Mas Tiarnan perlu sesuatu?” tanya supir usai panggilan anak dari atasannya selesai.
Tiarnan mengembuskan napas kasar, mengapa dia begitu marah melihat Likta tertawa lepas karena orang lain, bukan dirinya-lah penyebab wanita itu menyunggingkan senyum. Perut Tiarnan seperti melilit, semua itu tersebab kematian Tanya yang tak wajar. Dan, Likta pemicunya—wanita yang kini menjadi calon penerus keluarganya.
Kenapa Likta? Sejak perjumpaan pertama Tiarnan sudah merasakan sesuatu yang salah. Jantungnya berdebar sampai hati yang telah lama kehilangan kunci terbuka sendiri. Menyambut kehadiran perasaan asing, tetapi begitu menentramkan hidupnya.
“Tak kusangka seleramu anak di bawah umur,” sindir Tiarnan, setelah Likta duduk di sebelahnya.
Mata Likta membelalak, tidak tau apa maksud perkataan Tiarnan. Dia tidak acuh, mengintip makanan berbahan dasar kerupuk itu, menghidu aroma pedas yang cukup menyengat.
“Oh, ya, ampun, sampai tidak menyadari aku berbicara,” sindir Tiarnan lebih keras, lalu menepuk pundak supirnya, “jalan Pak.”
__ADS_1
“Maaf, aku kira kamu omong sama Pak—”
“Astaga, Likta, aku—ah, sudahlah lupakan!” Tiarnan menghempaskan punggung ke sandaran, melempar pandangan ke luar jendela. Ada apa dengannya, terserah Likta mau dekat sama siapa saja, persetan!
Saat berhenti di lampu merah, seorang anak menawarkan berbagai bacaan, karena kasihan Likta ingin sekali membelinya. Dia menekan tombol di pintu mobil untuk membuka jendela. “Hei, sini!”
“Kakak mau beli? Yang mana?” tanya anak itu.
Likta tampak berpikir sesaat. “Koran boleh.”
“Ini koran tadi pagi, Kak, lebih baik tabloid saja,” kata sang anak.
“Emang kenapa, enggak basi, kan?”
“Kita beli semua,” sambar Tiarnan lantas mengulurkan tangan melewati Likta. Aroma manis menyusup lembut ketika menarik napas, rasanya ingin selalu sedekat ini.
“Terima kasih, Pak, tapi ini kebanyakan,” ujar si anak.
“Tidak apa-apa, semoga membantu,” ucap Tiarnan sebelum lampu berganti hijau.
“Terima kasih,” ucap anak itu sambil melambai-lambai.
Supaya tidak jenuh, Likta membaca salah satu tabloid, pada bagian sampul terdapat poses model kenamaan Indonesia. Di sana ada suatu keterangan, semacam pemancing agar laku di pasaran.
Violacea, Mengalami Depresi Sebab Calon Tunangan Digaet oleh Wanita Tidak Dikenal.
Kontan, buku terjatuh dari genggaman, bibir Likta bergetar. Seumur hidup tidak pernah terbayangkan bahwa dirinya akan merebut milik orang lain.
“Hei ada—apa?” Tiarnan langsung tahu apa yang membuat Likta terguncang, rona di pipi istrinya lenyap sudah. Pucat pasi, seakan-akan melihat sesuatu yang menakutkan.
“Tiarnan, aku jahat sekali, kan?” Pandangan Likta kosong, dia menatap lurus ke depan dengan mata berkaca-kaca. “Dia—kalian saling mencintai, harusnya aku enggak datang menemuimu pada saat itu—mestinya kita gak pergi bersama. Oh, bukan kita, melainkan aku. Mengapa waktu itu aku mengiyakan ajakanmu? Aku wanita mur—”
“Hei, kamu ini bicara apa?” Tiarnan meraih Likta dalam pelukan, mengusap lembut punggung wanita itu. Mendaratkan kecupan ringan di pelipisnya.
“Ayo, kita harus buat klarifikasi!” desak Likta, dia meremas baju Tiarnan.
“Lalu setelah itu, apa menurutmu semua akan berjalan seperti semula? Dan aku tidak mau kamu jauh dari pengawasan ku selama masa kehamilan.”
“Memang enggak, tapi setidaknya kamu bisa kembali kepada Violacea, dan, aku akan memberimu kabar setiap kali selesai pemeriksaan. Aku janji Tiarnan,” tutur Likta sambil terisak. Dia membenamkan wajah ke dalam dada suaminya, takpeduli air mata telah menodai baju putih pria itu.
“Kita akan pikirkan nanti, oke? Sekarang tolong, tenanglah.”
__ADS_1
Ya Tuhan, kenapa aku merasa sakit saat melihatnya serapuh ini? Harusnya aku merasa senang telah membuat dia terluka, sama seperti sakit di hati Tanya. Apakah ini suatu karma untuknya karena tega merebut kekasih orang lain? Tanya apa rasa kecewamu semasa hidup sedikit terobati, apa ini cukup? batin Tiarnan membatin, air mata Likta membuat dirinya menderita.