Bertahan Sakit Berpisah Sulit

Bertahan Sakit Berpisah Sulit
Bab 021: Menunggu


__ADS_3

Likta mengembuskan napas dalam, berusaha memahami ucapan Murti. Menurut pengakuan pengurus rumah sesaat lalu, Tiarnan seperti menyembunyikan penyebab kematian Tanya. Bahkan sebelum sang ayah sempat melihat, jasad adiknya sudah dikebumikan. Dan, pertanyaannya kenapa? Perlukah dia tahu, kendati orang tuanya saja tidak diberitahu?


Sambil mengobrol, tanpa terasa semangkuk buah segar dan segelas susu hampir habis, Likta meminta Murti supaya membantunya menghabiskan buah-buahan. Dia memang sudah tidak berselera makan sejak bersitegang dengan Tiarnan.


Sampai pada suapan terakhir, terdengar seseorang memanggil. “Bi Mur!”


Kedua orang yang berada di gazebo menoleh, wanita paruh baya segera berdiri. “Ya, Nov.” Meletakkan mangkuk dan gelas yang digenggam Likta ke atas baki.


“Tugas kita enggak cuma ngurusin anggota baru aja,” ujar Nov sewot. Dia melipat lengan kanan di depan perut dengan siku kiri bertumpu sambil memainkan kuku-kuku jari tangan.


Likta tersenyum simpul sebagai tanggapan atas lirikan sinis pengurus rumah yang lebih muda itu, sejujurnya tidak enak karena telah mengganggu waktu kerja Murti, sampai Nov harus repot-repot menyusul kemari. “Maaf, Mbak—Nov, benar 'kan?” Dia coba memastikan nama pengurus rumah itu. “Semalam kita belum sempat kenalan soalnya.” Imbuhnya, sembari mengulurkan tangan berkata, “Aku, Likta.”


Alis Nov berkedut ketika mengamati uluran tangan wanita ayu berparas belia itu, lalu ragu-ragu ketika menautkan telapak tangan. “Novreen.” Suaranya tidak kalah gamang, tatkala memperkenalkan diri. Dia sesaat tertegun, hampir tak percaya kalau istri Tiarnan ini pernah terpapar sinar matahari sebelumnya, sebab memiliki kulit yang begitu halus dan pucat.


Setelah sadar lama menjabat tangan, Nov melepas genggaman. “Bi Murti, ayo!” Berlalu tanpa menunggu wanita paruh baya itu.


“Bibi tinggal masuk dulu ya,” pamit Murti, tidak lupa membawa serta baki ketika beranjak. “Oiya, tadi Mas Tiarnan berpesan agar Mbak Likta segera bersiap-siap.”


“Iya, Bi, terima kasih,” sahut Likta, tidak lagi memanggilnya 'bu' sebab wanita paruh baya itu agaknya terbiasa dengan sapaan 'bibi'.


Karena Murti tidak kunjung mengikuti, Nov berkata lagi, “Kita kedatangan tamu penting.”


“Tamu penting?”


Nov berhenti dan balik kanan. “Iya, itu lagi nemui Mas Tiarnan di kamar.”


Mata belok Likta mengerjap cepat, terkejut mendengar obrolan dua pengurus rumah itu, tamu penting macam apa yang diberi akses masuk ke kamar tuan rumah. Apakah kerabat Tiarnan?

__ADS_1


“Mbak Juana?” celetuk Murti, dia tidak memperhatikan raut wajah tegang di belakangnya.


Likta mengedut saliva dengan susah payah, banyak sekali wanita di sekitar Tiarnan. Dan, seberapa spesial sampai diperbolehkan menemui suaminya ke tempat pribadi seperti itu. Berbagai asumsi negatif berputar-putar di dalam pikiran sekarang.


Juana siapa? Apa kekasih Tiarnan? Lalu, bagaimana dengan Violacea, bukankah telah merencanakan pertunangan? Dada Likta begitu terasa sebu, hatinya teramat ngilu. Dia sadar betul tanpa adanya bayi Tiarnan tidak mungkin mau memperistri dirinya, tetapi tetap saja rasa sakit mendera apabila sang suami dekat dengan wanita lain.


Suasana pagi tenang dan hangat, tetapi tidak menentramkan pikir Likta. Perasaannya begitu gundah gulana, dia merasakan sesuatu yang buruk sedang menanti. Mungkin lebih buruk dari masalahnya kini, perutnya tiba-tiba terasa nyeri.


“Semua akan baik-baik saja, tenang oke.” Lebih seperti menasehati diri, padahal jauh di dasar hati, Likta masih belum bisa menerima kenyataan pahit yang menimpa. Dia sungguh-sungguh malu bila aibnya nanti diketahui banyak orang. Sudah barang tentu, serapat apa pun menyimpan bangkai suatu saat bakal tercium juga.


Bayangan Farida melintas sekilas, Likta pun mendongak, menatap awan putih yang berarak-arak tertiup angin di langit biru. Namun, pemandangan itu lama-kelamaan mengabur. Air matanya luruh, mengalir deras melewati pelipisnya. “Tante maafkan Likta yang enggak bisa menjaga diri.”


Likta menunduk dalam, kedua telapak tangan menutup muka. Sudah tidak sanggup menahan tangisnya. Bahu ringkih itu pun berguncang, dia sesenggukan. Mengapa jauh dari perlakuan baik paman maupun sang ayah— tidak mengajari apa-apa akan pentingnya menghargai diri, bisa-bisanya dia dengan mudah jatuh ke dalam kubang kehinaan.


Pertahanan diri yang telah dibangun selama bertahun-tahun hancur hanya dalam hitungan hari, pengaruh Tiarnan terhadap dirinya begitu hebat. Padahal tidak ada seorang pria pun sanggup menyentuh perasaan Likta, teringat pada waktu anak dari pemilik tempatnya bekerja.


“Hai.”


“Hai,” sahut Likta sembari membereskan meja.


“Keluar makan, yuk.”


“Sorry, aku ha—”


“Alasan lagi?” potong Arfid, “Kenapa, sih, kamu selalu menjaga jarak dariku?”


Gerakan tangan Likta seketika berhenti dua detik. “Aku enggak beralasan, dan mengenai jaga jarak, itu hanya perasaanmu aja.”

__ADS_1


“Oke, anggaplah hanya perasaanku saja, maka dari itu sekarang luangkan waktu sebentar untuk makan malam berdua,” desak Arfid.


“Aku gak bisa, maaf. Mungkin lain kali.”


“Nah, ini yang buat aku yakin kamu sengaja menjauhiku.”


Likta tidak menggubris, sambil lalu menyambar tas jinjing di atas meja.


“Likta aku sudah lama suka sama kamu.”


Pengakuan Arfid berhasil menghentikan langkah Likta pada saat itu. Dan, pernyataan seperti yang didengar barusan bukan pertama kali. Lebih dari selusin pria berharap dapat menjadi kekasih hatinya, tetapi makin dikejar dia makin menutup diri. Kamu enggak harus menjawab sekarang, Likta, begitu yang dikatakan Arfid kemudian.


“Meong,” seru Justice, sehabis meletakkan sesuatu di atas pangkuan dan menarik Likta dari kenangan masa lalu.


Perlahan kedua telapak tangan Likta pun terbuka, dia mengusap air mata di pipi. Kelopaknya masih terasa panas dan tebal.


“Hai, Justice,” sapa Likta dengan suara parau, sembari menggelitik bawah dagu kucing itu. Dia belum menyadari bahwa si gembul Justice membawakan hadiah hasil berburuan.


“Meong.” Kaki depan Justice menyuruk-nyuruk, ingin memberi petunjuk Likta agar menunduk.


“Ada apa?” Akhirnya, wanita berparas ayu itu menuruti permintaan si kucing. Mata sipit sehabis menangis terbuka lebih lebar. “Astaga, dapat dari mana cecak ini, hemm?”


Kepala bulat Justice meneleng, tampak menggemaskan saat mengerjap-ngerjapkan Mata. Sambil bergidik Likta menjimpit ekor hewan merayap itu, beruntung si kucing tidak memamerkan hasil buruan yang masih hidup dan berharga sebagai bentuk hadiah.


“Kemarilah, Justice.” Likta menggendong makhluk berbulu halus itu, sambil melangkah menuju ke dalam rumah. “Ajaib sekali, meski gemuk rupanya kamu cukup lincah, tapi jangan diulang lagi, ya. Nanti aku akan membelikanmu main. Eem, apa Tanya sudah banyak memberimu hadiah?”


Justice menoleh sebentar, lalu memejam. Ekor panjangnya bergerak-gerak perlahan. Sesekali telinga kanan si kucing bergetar.

__ADS_1


Likta telah tiba di ujung anak tangga lantai dasar, dia terdiam, mempertimbangkan naik dan menganggu pertemuan Tiarnan atau menunggu sampai tamunya pulang.


__ADS_2