Bertahan Sakit Berpisah Sulit

Bertahan Sakit Berpisah Sulit
Bab 020: Bersikaplah Dewasa


__ADS_3

Dari kejauhan, sebuah mobil mewah melesat menuju teras depan pintu utama kediaman Frits. Pengendara itu rupanya tidak mengindahkan dua orang yang sedang duduk di gazebo taman, tidak memperhatikan orang yang sedang dicari tampak di peluk mata.


“Kamu enggak capek apa Cea, kemarin dari luar kota, eh hari ini langsung datang ke sini?” tanya Arysha.


“Mungkin sekarang Om Frits tau Tiarnan di mana,” jawab Violacea, “Kamu tau istilah, banyak jalan menuju Roma? Ini yang sedang aku upayakan.”


“Sia-sia, upaya yang enggak mungkin tercapai,” tegas Arysha, sembari mengeluarkan sesuatu dari dalam tas. “Setelah ini aku agendakan kamu ke psikiater.” Melanjutkan dengan agak jengkel, dia itu sayang kepada Violacea, tetapi yang dipedulikan selalu saja memperumit diri. Mungkin karena terlalu sering dimanjakan orang tua, sehingga sahabatnya ini senantiasa berbuat sesuka hati. Menghalalkan segala cara untuk mendapat apa yang dimau, sekalipun harus mengorbankan kebahagiaan orang lain.


“Ha-ha, enggak lucu, Ar!” berang Violacea, “Mau ikut atau tunggu di sini?”


“Pergi aja sendiri,” ucap Arysha lantas memasang handsfree, malas kalau-kalau mendengar Violacea mengomel.


“Terserah aja, deh.” Bahu ramping Violacea mengedik. Karena orang suruhannya kemarin tidak kunjung menemukan keberadaan Tiarnan dan Likta, dia memutuskan berkunjung ke rumah Frits. Ya, mencoba peruntungan, mana tahu ada titik terang.


Kaki jenjang Violacea melangkah pasti ke undak-undakan teras, dia memencet tombol agar salah satu pengurus rumah membukakan pintu.


“Eh, ada Kak Viola,” sapa Nov, senyum semringah tersungging saat mengetahui idolanya yang bertandang. “Minta foto, dong.”


“Nanti, ya, setelah aku menyelesaikan urusan.” Violacea memutar bola mata tanpa sepengetahuan pengurus rumah itu. “Om Frits ada?”


“Iya, Bapak ada di ruang kerja,” jawab Nov, dia berjalan di sisi Violacea. Dengan lebih berani, seolah-olah sudah berteman lama, Nov mencolek bahu model itu.


Violacea terlihat menaikkan sebelah alis, telapak tangan Nov berayun tanda perintah agar lawan bicaranya mendekatkan telinga. Lalu, dia memberi informasi sambil berbisik, “Mas Tiarnan ada di rumah, loh.”

__ADS_1


Violacea menjengit, dia melihat keseriusan di wajah asisten rumah tangga itu. “Yang benar?” Menanyakan kesahihan informasi dari Nov, kalau, iya, kemungkinan besar istrinya juga berada di rumah ini. Berarti, kesempatan untuk memberi pelajaran wanita itu terbuka lebar.


“Mana pernah Nov bohong sama Kak Violacea, aku, kan fan fanatikmu.” Nov mengulas senyum kebanggaan, seolah-olah telah memberitahukan rahasia besar. “Mas Tiarnan ada di lantai atas. Kamar pertama dekat tangga, mungkin lagi sa—”


“Oke, sip. Trims.” Tanpa menunggu ucapan Nov selesai, Violacea bergegas menyusuri anak tangga. Dia buru-buru menuju kamar Tiarnan begitu mengetahui pria itu dekat dari jangkauan.


“... ma istrinya—ya elah, belum juga selesai omong. Duuh, cantiknya Kak Violacea, beda jauh, tuh, dibanding sama istri Mas Tiarnan sekarang,” gumam Nov, dia yang selama ini mengidolakan model terkenal itu selalu memberi dukungan ekstra. Hingga memandang rendah Likta. Lupa bahwa dia semalam sempat menilai rupa istri majikannya begitu sedap dipandang, kecantikan alami makin terpancar ketika menyunggingkan senyuman. Terlihat begitu tulus dan belia saat memohon agar mendapat minuman.


Akan tetapi, saking kagumnya dengan sang model, Nov berdiri di ujung tangga sambil memandang keanggunan gerakan Violacea sampai menghilang di ujung atas tangga.


Model itu sudah berdiri di depan pintu ruangan yang tertutup, sedikit ragu jemarinya meraih knop dan memutar hingga terbuka. Matanya langsung bertemu dengan punggung lebar Tiarnan, pria itu berdiri sembari mengulurkan tangan ke dalam lemari, kaki berbalut celana panjang gelap yang berpijak kuat tampak dominan dan berkuasa. Begitu cocok di ruang tidur yang luas dan modern bercorak hitam keabu-abuan.


“Lima belas menit lagi kita harus berangkat,” kata Tiarnan tanpa menoleh ketika mendengar langkah kaki mendekat.


Violacea langsung memeluk erat pinggang Tiarnan dari belakang, hidungnya mencium kesegaran tubuh tanpa baju itu. Dia pun merasakan kehangatan kulit sang pria yang kini bersinggungan dengan lengan. Sentuhan intens itu sanggup menerbangkan kewarasan, dia ingin melingkarkan lengan lebih lama.


“Iya, ini aku.” Violacea tersenyum lebar, menelusuri dada polos Tiarnan. “Ekspresimu seperti melihat hantu aja.”


“Apa yang kamu lakukan di sini?” tanya Tiarnan, menghindar sembari menyambar baju dan mengenakannya.


Violacea mengembuskan napas kasar, lalu mendekati Tiarnan. Jari jemari lentiknya mengantikan gerakan tangan pria itu yang sedang mengancingkan baju.


“Berani-beraninya kamu kabur pada hari pertunangan kita,” bisik Violacea.

__ADS_1


Tiarnan menunduk, kedua matanya saling bertumbuk dengan kilat mengoda netra Violacea, tetapi tidak terjadi apa-apa. Darah yang mengaliri urat nadi tidak juga mengelenyar seperti saat bersama Likta. Tiba-tiba nuraninya tersentil, bayang sang istri terbentuk jelas di pikiran dan dia segera menjauh dari Violacea.


“Mengenai itu, sungguh aku tidak bermaksud merusaknya. Maafkan aku, seharusnya ini tidak terjadi,” ungkap Tiarnan, merasa bersalah karena secara tidak sengaja telah menyakiti perasaan wanita pilihan ayahnya.


“Enggak semudah itu, Tiarnan.” Violacea sangat serius dengan kata-katanya. Dia memang berniat merebut Tiarnan kembali. “Apa dia datang setelah kedua orang tua kita membuat keputusan? Kamu mestinya sadar Tiarnan, wanita itu hanya memanfaatkan kamu aja. Bisa jadi dia sedang mengandung anak orang lain, tetapi sengaja membuat pengakuan kalau itu anakmu.”


“Kamu tidak tau apa-apa tentang Likta!” geram Tiarnan, kalimat sarkastis Violacea tentang Likta serasa menikam hatinya. Tak terima bila ada orang yang menjelekkan sang istri. “Aku dan dia bertemu sebelum papa memberitahukan rencana perjodohan. Bahkan aku lebih mengenalnya daripada mengenalmu.”


“Tetap saja, kalau dia wanita baik-baik enggak akan tega merusak hubungan orang lain. Semua sudah diputuskan, Tiarnan. Sejak saat itu aku mengharapkan berjalan lancar sampai pernikahan.”


Alis Tiarnan mengerut, pernyataan model satu ini hampir sama dengan kasus Tanya. Namun, kali ini, dia berusaha menekan segala emosi yang sedang berkecamuk di hati. “Violacea, dari awal aku setuju bertunang karena desakan orang tua. Tidak ada yang berarti antara aku dan kamu.”


“Jadi, apa menurutmu pengaturan kedua orang tua kita enggak penting?”


“Bersikaplah dewasa, Violacea. Aku harus mempertanggungjawabkan semuanya, dia telah mengandung.”


“Kenapa? Wanita itu enggak lebih dari seorang pel*acur!” teriak Violacea.


“Kamu—” Tiarnan mengacungkan telunjuk di depan wajah Violacea yang merah padam. “Pergi dari sini! Jangan pernah berkata buruk tentang istriku!”


“Memangnya kenapa, sudah jelas, kok, kalau si—siapa? Likta itu wanita miskin yang berniat mencari orang kaya untuk bersandar.”


“Hentikan ocehan sampahmu itu! Atau mulutmu, aku robek?” Tiarnan memandang dengan sinar mata yang tajam, kemarahan terlihat jelas di raut wajah datarnya.

__ADS_1


“Jahat, kamu enggak punya hati Tiarnan! Aku akan adukan kepada Om Frits.”


“Silakan! Aku tidak peduli.”


__ADS_2