Bertahan Sakit Berpisah Sulit

Bertahan Sakit Berpisah Sulit
Bab 048: Munafik!


__ADS_3

“Omong-omong, kenapa kamu bangun?” tanya Tiarnan, sembari memijit lengan yang memaparkan otot kerasnya. Dia sedikit menelengkan kepala saat menatap Likta di sisi kiri.


“Aku—” Likta tertunduk, menjalin jemari di atas pangkuan. “Kukira sedang di rumah sakit.”


Tiga hari menjaga Farida secara otomatis pola tidur Likta menyesuaikan, mudah terbangun guna mengamati perkembangan sang tante. Apalagi setelah berencana keluar dari rumah, seperti ada beban di dada. Namun, bukan cuma itu, dia teringat wanita yang dimaksud Tiarnan.


Likta beranjak dari duduk, melipat sebelah lutut di atas sofa dan satu lagi menekuk bebas di pinggirannya. “Berbaliklah.” Dia menunduk karena posisi lebih tinggi dari Tiarnan.


Tiarnan mendongak, tatapan mereka saling mengunci, dia terlena oleh kecantikan tak tercela Likta. Kelewat sulit mengabaikan paras lembut yang membuat diri terhanyut dalam keindahan lembah dunia.


Semakin dekat mereka, maka semakin kencang pula debaran jantungnya. Baik Likta maupun Tiarnan merasakan sengatan tak kasatmata. Semacam daya tarik yang sukar ditolak, mendorong keinginan terpendam agar tersalurkan.


Likta buru-buru membuang muka, menurunkan kaki, memposisikan duduk seperti semula. Dia tidak kuat bila berada sedekat ini dengan Tiarnan, dalam situasi yang jauh dari menguntungkan.


“Aku ambilkan obat aja biar pusingnya berkurang.”


“Aku lebih membutuhkan dirimu daripada obat,” gumam Tiarnan.


Seketika tubuh Likta membeku teringat masa silam. Lampu ruangan begitu redup dan sunyi seperti saat ini, dirinya bisa mendengar napas berat dan teratur Tiarnan.


Percikan-percikan kebutuhan batin menjalari hatinya, kobaran hasrat pun meretih. Gejolak yang sengaja ditekan mengancam rusak dengan sekali sentuhan.


Sebelum keteguhan hati ambyar Likta lekas berdiri, membentangkan jarak aman dari jangkauan Tiarnan. Khawatir akan meleleh tatkala jemari pria itu menyentuh untuk mencegah dia menjauh.

__ADS_1


Dan, di luar perkiraan, lengan kokoh Tiarnan menyambar pinggul Likta hingga terduduk di atas pangkuan. Bibir keras Tiarnan membungkam segala penolakan yang hendak terucap. Indra perasaannya mengusap dan menggoda tepi bibir agar terbuka.


Likta meronta dalam dekapan Tiarnan, pria itu seperti lupa diri. Dia terus mengecap sampai kedua telapak tangan ramping yang semula berusaha mendorong penuh tekat mengendur. Dirinya merasakan cengkeraman kuat jemari lentik di kedua bahu.


Tanpa mengubah posisi dan memutus tautan Tiarnan mengarahkan jemari di seputar perut Likta yang tertutup baju. Dia mencari-cari sela agar dapat menyentuh kelembutan kulit istrinya. Detik demi detik terasa menyiksa, sebab tak kunjung menemukan apa yang begitu dia butuhkan.


Gerakan Tiarnan mulai tidak terkontrol, hampir gila karena mendamba, merasakan ngilu pada inti tubuh. Jantung bertalu-talu hingga oksigen tersekat di tenggorokan, dorongan ingin segera merasakan kehangatan berada di dalam tubuh Likta membutakan pikiran.


Akan tetapi, belum juga tiba di atas puncak yang manis dan memabukkan. Likta menggigit bibirnya kuat-kuat. Sontak Tiarnan membuka mata, merasakan cairan serupa logam.


“Siiitt!!!” umpat Tiarnan, seraya meraba bibir yang sedikit mengeluarkan cairan kental kemerahan. “Kenapa menghentikan dengan cara seperti ini?”


“Kamu yang memaksaku bertindak begini!” Napas Likta terputus-putus. “Aku bisa mati karena kurang oksigen.” Jemarinya masih setia menggelayut di bahu kokoh Tiarnan, lama kelamaan merosot ke dada dan berakhir di atas perut datar pria itu.


“Munafik!” Tiarnan memindahkan tubuh Likta dari pangkuan ke sofa. Dia tidak menyadari keterkejutan di mata belok sang istri. “Kamu membatasi hubungan ini karena sudah ada laki-laki lain sebelum bertemu dengan ku, kan? Dan, masih menjalani kedekatan.”


“Murahan!” dengkus Tiarnan, hatinya sakit dihujam perkataan Likta. “Apa kamu juga tidur dengan laki-laki itu sebelumnya?”


“Kalau kamu yakin begitu, aku bisa apa?” Likta balik bertanya, salut terhadap diri sendiri karena sanggup menahan gugup. Kendati amarah bergolak sebab dituduh sehina itu oleh suami—pria sama yang telah merenggut kesuciannya.


Kesepuluh jari tangan menyugar rambut dengan geram, memilah-milah memori malam pertama mereka. Tidak, pikir Tiarnan menjawab pertanyaan sendiri. Likta masih polos pada waktu itu, istrinya merintih dan—sial! Dia mana tahu bedanya wanita perawan atau bekas orang.


Namun, Tiarnan mengingat satu hal, dia meminta maaf tanpa alasan setelah dengan susah payah menembus dinding dalam diri Likta. Betapa dirinya menyakiti wanita yang kini duduk di sisinya, saat itu kabut asmara menyelimuti hingga tidak dapat berpikir jernih.

__ADS_1


“Aku lelah,” aku Likta memecah keheningan. “Terima kasih sudah bantu beres-beres rumah, aku akan membayar setiap sen yang Mas Tiarnan keluarkan, selama diizinkan bekerja.”


“Tidak selama kamu menjadi istriku.”


Likta menoleh cepat. “Aku punya kehidupan, terbiasa mandiri, hanya bayi ini alasanku menjalani rumah tangga dengan mu. Aku enggak bisa membiarkan dia lahir tanpa ayah, atau kamu lebih senang gak diberi tahu?”


Kesabaran Likta telah habis, sehingga memilih pergi tanpa jawaban. Dia selalu mengingat pesan dokter, stres bisa berakibat fatal bagi kehamilan. Jadi, apa pun yang menimpa kini semaksimal mungkin ditekan agar tak jadi beban pikiran.


Prioritasnya sekarang adalah nyawa yang bersemayam dalam perut dan kesehatan Farida, selain itu tidak terlalu penting. Likta muak mengartikan sikap orang-orang yang selalu berpikiran buruk tentangnya.


Ponsel Tiarnan berdering, nama Juana tertera di sana. “Halo....” Dia mendengarkan setiap kata yang diucapkan sekretarisnya, lantas memberi tanggapan. “Okey, siapkan saja semua, bye.”


Kemudian, Tiarnan melangkah ke arah pembatas ruangan, melihat pintu kamar Likta tertutup rapat. Dia membayangkan seandainya wanita itu sungguh-sungguh tidak memberitahu mengenai anaknya, dan malah pergi menemui Arfid.


“Bedebah! Sudah cukup laki-laki itu menolak kehadiran Tanya dan bayinya, Likta tidak boleh bernasib sama,” sungut Tiarnan, dia mengusap wajah kasar lalu masuk ke toilet selama dua menit.


“Halo, Za....” Usai menyegarkan diri Tiarnan menelepon dokter kandung Likta. “Maaf aku telepon malam-malam, ada sesuatu yang ingin aku konsultasikan dengan mu.”


Setengah mengantuk Riza mengiyakan permintaan Tiarnan. Dia menyadari kekhawatiran sang teman menghadapi kehamilan sang istri.


“Dalam kondisi seperti ini apa Likta boleh naik pesawat?” tanya Tiarnan.


Terdengar gemeresik dari seberang, disusul penjabaran singkat Riza mengenai saat terbaik bagi ibu hamil melakukan perjalanan jauh menggunakan transportasi udara. Dia mengingat-ingat usia kandungan Likta, terakhir periksa sudah memasuki 14-15 minggu, itu menandakan lebih kuat secara fisik. Di akhir penjelasan dirinya bertanya apakah istri Tiarnan masih sering mengalami kram perut.

__ADS_1


Dengan jujur Tiarnan mengatakan tidak tahu, karena empat hari ini sibuk mengurus pembukaan cabang di Jepara. Dia berjanji akan menanyakan kepada Likta nanti.


“Baiklah, terima kasih, Za,” ucap Tiarnan di akhir telepon.


__ADS_2