
“Apa yang kamu harap setelah mengatakan ini?” tanya Tiarnan beraksen acuh tak acuh. Seakan-akan sedang membahas perubahan cuaca, tidak mempedulikan perasaan Likta sama sekali.
Secara tidak sadar jemari mengepal seolah-olah darah berhenti mengaliri buku-buku jari, Likta kesulitan bernapas karena pertanyaan Tiarnan—terlampau tajam dan dingin—menyesakkan dada.
Air mata terus merembes dari pelupuk, luruh membasahi pipi sampai ke dagu. Ini bukan seperti dirinya. Entah disebabkan hormon kehamilan atau yang lain, perasaan Likta kini teramat rapuh, sehingga mudah terluka.
Namun, dia memperingatkan diri agar bersikap tenang, mati-matian membendung sisa air mata agar berhenti mengalir. Tiarnan tidak pantas melihat sisi terlemahnya, bisa-bisa pria itu akan besar kepala lantaran tahu memiliki arti besar dalam hidupnya.
Kegetiran mengoyak keyakinan atas keberpihakan suaminya untuk menolak usulan Violacea, Likta berasumsi mungkin Tiarnan akan sedikit bersimpati setelah mendengar keluh kesahnya. Dan, nyatanya ... oh, bahkan pengakuan tadi terasa konyol sekarang. Dia luar biasa larut dalam emosi akhir-akhir ini.
Bagaimana bisa Likta lupa pria yang mempersuntingnya merupakan orang asing, ini sudah lebih dari cukup menegaskan seperti apa hubungan mereka. Dia pun tidak tahu apa yang diharapkan setelah mengatakan semua.
“Enggak, gak ada, maaf aku terlalu banyak bicara,” ucap Likta sedapat mungkin menahan suara tetap normal. “Jangan, letakkan. Biar aku yang bereskan. Mas Tiarnan istirahat aja,” katanya saat suami mulai mengemasi piring. Menumpuk peralatan makan itu biar mudah memindahkan ke tempat pencucian.
“Kamu lelah, Likta, mudah bukan menuruti permintaan ku yang ini?” Tiarnan lebih seperti menegaskan daripada bertanya. Dia mengulurkan tangan, meraih bahu sang istri.
Mata sembab Likta menyisakan garis tipis kala menyipit, pening menyerang ketika mencoba memahami segala perlakuan Tiarnan. Terlalu banyak kontradiksi dan itu membingungkan. Dia menggenggam pinggiran meja erat-erat, menarik napas dalam lantas mengembuskan perlahan.
Likta tidak berkata sepatah kata pun ketika Tiarnan membimbingnya menuju kamar, menekan lembut bahu supaya duduk.
Tiarnan berlutut di hadapan Likta, menautkan kedua jemari lentik sang istri ke atas pangkuan. Lalu, lengannya terulur mengambil tablet vitamin di atas meja. Menyobek pembungkus dan menyuapkan isinya kepada istrinya. Tak lupa meraih segelas air mineral agar wanita itu dapat lebih mudah menelan. “Tidur, tidak usaha bekerja lagi.”
Lambat-lambat Tiarnan mendorong bahu ringkih Likta, dia menatap lekat-lekat hingga membuat hati menggeletar. Dan, hal itu membuat detak di dada keduanya semakin cepat. Dengan lembut pria itu mengangkat kedua kaki sang istri ke atas tempat tidur.
__ADS_1
Likta ingin berpaling, takut tersesat dalam labirin iris mata kecokelatan penuh hasrat itu, tetapi sarafnya tidak mau menuruti hati. Dia tahu pasti jika Tiarnan mencoba menyentuh lebih dari seharusnya, maka tak diragukan lagi, dirinya akan kalah dan menyerah pada keinginan pria ini.
Spontan Likta menutup mata saat Tiarnan mendekatkan wajah, kedua sudut bibir tersungging, gemas bukan main melihat ekspresi istrinya. Dia menatap bibir mungil serupa pita itu merekah, tetapi kemudian mendapat pemandangan lain di bawah mata yang terpejam—semburat warna cokelat kehitam-hitaman. Tanda bahwa wanita ini tidak tidur dengan benar.
Akhirnya, Tiarnan mendaratkan kecupan di pipi sambil berbisik, “Tidur yang nyenyak, mulai malam ini tidak akan kubiarkan seseorang mengganggu tidurmu kecuali aku.” Menyambar selimut dan menghamparkan ke tubuh wanitanya sebatas perut tanpa mengalihkan pandangan.
Kelopak mata Likta terbuka lebar dan menemukan Tiarnan mengulum senyum. Baru kali ini dia melihat paras serius suaminya memudar, tampak lebih cerah seakan-akan beban yang terpancar dari matanya menghilang.
Masih dengan sisa seringai Tiarnan beranjak— meninggalkan kamar—karena jika dia berbalik badan tidak bisa menahan desakan dan mengacau istirahat Likta. Jadi, mencari cara untuk mengalihkan pikiran.
Ketika memperhatikan sekeliling dapur yang tidak terlalu besar Tiarnan merasa kesal, perlengkapan memasak dan makan menumpuk di bak cucian. “Keterlaluan, pasti dia yang mengaku sebagai Om tidak membantu membersihkan rumah selama istriku menjaga tantenya.” Mendengkus, kesal.
Bertolak pinggang sebelum mengarah ke meja makan, pertama-tama Tiarnan mencari jasa bersih-bersih yang melayani 24 jam. Dia ingin saat Likta bangun rumah sudah cemerlang, sehingga tidak memiliki alasan menunda keberangkatan.
Dalam kebosanan Tiarnan menunggu orang-orang penyediaan jasa itu datang, waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh. Sesaat lalu dia memeriksa Likta dan mengetahui wanita itu telah tenggelam dalam alam mimpi.
Pada waktu akan melakukan panggilan terdengar deru mobil berhenti di depan rumah. Tiarnan pun bergegas keluar dan melihat apakah orang yang ditunggu-tunggu telah tiba.
“Selamat malam, betul rumah Pak Awang kami dari DKD, cleaning service.”
“Ya, lama sekali datangnya?”
“Maaf, Pak.”
__ADS_1
“Masuk, saya minta kalian menyelesaikan pekerjaan tanpa menimbulkan suara,” pinta Tiarnan lantas menunjukkan mana-mana yang membutuhkan sentuhan terampil para petugas kebersihan.
Sementara diri Tiarnan memastikan Likta tidak terjaga. Kurang lebih dua jam orang dari jasa bersih-bersih menyelesaikan pekerjaan dan sesuai perintah, tidak menimbulkan keributan.
Meskipun sudah melunasi pembayaran, Tiarnan memberi uang tip berjumlah besar. Begitulah cara dia menghargai pekerjaan orang yang bekerja untuknya.
“Terima kasih, Mas.”
“Hemm,” balas Tiarnan sambil mengangguk.
Dengung kendaraan para petugas menjauhi rumah, Tiarnan segera masuk dan menutup pintu. Lantas, menjatuhkan tubuh ke atas sofa. Dia memejam dengan kepala terkulai pada sandaran.
Diam-diam Tiarnan mengkhawatirkan kondisi Likta, dia takut beban pikiran wanita itu memengaruhi kehamilannya. Kewajiban menjaga bayi itu menggelayuti hati, ada perasaan ingin melindungi terlepas dari dendam yang terpendam.
Otaknya berputar tak nyaman mengetahui keluhan Likta, tidak mengira selama pergi ke luar kota Violacea melancarkan aksinya. Namun, ada yang lebih mengganggu daripada perilaku model itu, yakni sikap sang ayah.
Kurang jelaskah Tiarnan menyampaikan kondisi kehamilan Likta, Riza menerangkan wanita hamil tidak boleh stres, tetapi ayahnya justru membahas perihal perjodohan yang sempat tertunda.
Lamat-lamat Tiarnan mendengar derit pintu terbuka dan suara Likta mengalun lembut. “Mas Tiarnan.”
Dengan tatapan setengah terpejam Likta keluar dari gorden pembatas ruangan. “Mas Tiarnan yang cuci piring?” Punggung tangan mengusap mata, lalu mengedarkan pandangan. “Bersih-bersih juga?”
Tiarnan menolak punggung dari sandaran, kemudian menghela napas, gelagatnya dibuat lelah seperti orang habis bekerja keras. “Memang siapa lagi?” Bibir Likta mengerucut dan tindakan itu membuat gusar. Kurang baik untuk dinding pertahanan yang dibangun agar tidak menerjang wanita itu sekarang. “Kemari!”
__ADS_1
Likta merapatkan bibir hingga menipis, berjalan malas ke arah Tiarnan. Jemari lentiknya memilin-milin keliman ujung baju.
“Ini tidak gratis, ada harga yang harus kamu bayar,” jelas Tiarnan, dia menepuk sofa sebagai tanda supaya Likta duduk di sana. “Kepalaku pusing, kamu bisa mulai pembayaran dengan pijatan.”