Bertahan Sakit Berpisah Sulit

Bertahan Sakit Berpisah Sulit
Bab 023: Stres Memicu Kram Perut


__ADS_3

Sejak keluar dari ruang kerja ayahnya dan menuju ke mobil Tiarnan membisu, Likta pun tidak berani menegur dulu. Sama-sama terdiam dalam kesenjangan yang meresahkan. Dia tahu pasti ada pembicaraan serius, tetapi apa? Mungkinkah perihal kelangsungan hubungan suaminya dengan model terkenal itu?


“Wajahmu tadi terlihat pucat, apa perutmu kram lagi?”


Perhatian Tiarnan mengejutkan Likta, jarang sekali ada yang menaruh kepedulian lebih, kecuali Brielle dan adik almarhumah ibunya.


“Tadi, ya, tapi sekarang sudah enggak apa-apa, kok.”


“Apa sebelumnya sering terjadi?” tanya Tiarnan protektif bagai suami siaga.


Begitu banyak perhatian yang diam-diam pria itu tunjukkan, lamun mengapa seakan-akan menutupi perlakuan itu. Bahkan saat ini Tiarnan bertanya tanpa melihat ke arah Likta. Tampak berpikir keras, siku bertumpu pada lis jendela mobil, sedangkan punggung jari telunjuknya bergerak ringan di bibir. Lalu, menoleh singkat, mungkin sadar sedang diperhatikan. “Sering terjadi?”


“Ini—” Dering telepon memotong perkataan Likta, dia segera merogoh tas jinjing yang tampak usang. Dahinya mengerut ketika menatap layar ponsel. “Arfid, kenapa dia menelepon?” monolognya, sembari menerima panggilan. “Ya, halo, Arfid ....”


Tiarnan yang kembali membuang muka ke luar jendela menoleh cepat hingga lehernya nyaris terkilir. Sorot mata tajam beralis tebal itu memicing, menggerat geraham, bahkan jemari panjangnya mengepal. Sekian lama mengorek informasi terkait hubungan Likta dan Arfid, baru kali pertama dia mendengarnya. Langsung dari yang bersangkutan. Jadi benar selama ini sang istri ada kedekatan dengan kekasih Tanya.


“ ... enggak, aku baik-baik aja ... jangan, jangan. Sungguh itu gak perlu, Arfid, terima kasih.” Jujur saja, Likta sebetulnya enggan menerima telepon dari pria satu ini, untuk ukur teman yang tidak terlalu akrab, perhatian Arfid amat mengganggu. Dia menunduk sambil mempermainkan keliman baju, tanpa tahu suaminya tengah mengawasi dan memasang wajah kesal.


“ ... ya. Sampai jumpa.” Bibir Likta sedikit cemberut usai mengatakan kebohongan itu, dia tidak sungguh-sungguh ingin berjumpa lagi dengan Arfid. Bukan karena benci, hanya kurang nyaman bila pria itu ada di sekitarnya.


Setelah mematikan panggilan dan memasukkan ponselnya kembali, pandangan Likta bertumbuk dengan Tiarnan. Dia merasakan emosi kemarahan di kedua bola mata sang suami. Akan tetapi, segera menepis prasangka itu dan menghindari tatapan sinis Tiarnan.


“Siapa yang—” Kini, ganti ponsel Tiarnan yang berbunyi, tetapi dia sengaja mematikannya. “Siapa Arfid dan—” Seperti alarm kebakaran, ponsel terus berdering. “Astaga, Juana! Kenapa kamu menelepon di saat seperti ini?” Menyentuh logo bergambar gagang telepon, sambil menggerutu, dia urung bertanya kepada Likta. “Ya, Juana ....”


Tiarnan yang tidak melepaskan tatapan sedetik pun dari Likta menyadari satu hal, kelopak mata istrinya melebar sesaat. Barang kali, sama seperti dirinya yang tidak suka ada orang berbeda genre berada dalam satu orbit. Dia pun merasakan gelombang penuh damba ketika memperhatikan bibir mungil serupa pita merah muda itu bergetar. Amarah di hatinya hilang begitu saja, menerima emosi asing mungkin jauh lebih mudah daripada berusaha mengelaknya.


“... ya, ya, aku mendengarkan,” ucap Tiarnan, menyadari fokusnya terbagi dua. “Jangan macam-macam, Juana, sialan! Aturan ulang jadwal temunya.”

__ADS_1


Punggung lebar Tiarnan bersandar. “Kalau memungkinkan aku akan mengajaknya. Ya, tidak perlu khawatir, ah sudahlah, cerewet sekali kamu ini ... hemm, ya, bye.”


Likta hendak turun dari mobil, tetapi jemari tangan Tiarnan lebih dahulu mencengkeram pergelangan. “Tunggu sebentar.”


“Kita sudah sampai,” kata Likta terdengar seperti gumaman.


“Aku tahu—”


“Katamu tadi kita sudah terlambat, kan?” Likta menunduk, menatap sendu tangan besar yang sedang memegang pergelangan berada di atas pangkuan. Ingin bertanya siapa dan ada hubungan apa dengan orang bernama Juana? Dia pria atau wanita? Namun, sulit untuk mengatakannya.


Tiarnan mencondongkan tubuh, mengulurkan tangan untuk membuka pengait sabuk pengaman. “Well, kita harus bicara setelah ini.”


Dua-tiga detik lamanya, Likta seperti kehilangan arah. Berada sedekat ini dengan Tiarnan membuatnya tertekan, dia takut menjadi terlalu bergantung kepadanya. Segera setelah akal sehat terkumpul, dengan tegas menyakinkan bahwa tidak ada apa-apa di antara dirinya dan Tiarnan. “Terima kasih.”


Tanpa menunggu Tiarnan, Likta berjalan menuju lobi rumah sakit lebih dahulu, tetapi sadar tidak tahu jalan akhirnya berhenti.


“Ya,” jawab Likta.


“Ya?” Tiarnan menoleh ke mobil, seraya bertanya lagi, “Apa?”


“Kamu,” gumam Likta, terkejut atas ucapan sendiri. Bibirnya sedikit mengerucut. “Jangan salah mengartikan, aku enggak tau ruangannya di mana.”


Tiarnan menggeleng, binar matanya memancar geli. “Kemari.” Dia meraih dan menautkan jemari besarnya di sela-sela jari-jari lentik Likta, begitu posesif sebab tadi sempat melihat lebih dari tiga pria menoleh dua kali ke arah sang istri.


Setelah beberapa langkah, keduanya sudah mencapai ruang yang dimaksud, hanya ada beberapa ibu hamil di sana.


“Duduklah dulu,” perintah Tiarnan terkesan datar. Dia merogoh saku celana, kemudian mengambil ponsel dan melakukan panggilan. “Halo ....”

__ADS_1


Menit berikutnya nama Likta dipanggil, Tiarnan pun mengakhiri perbincangan melalui telepon genggam.


Seperti ibu hamil pada umumnya, Likta melakukan serangkaian pemeriksaan. Dokter mengatakan perkembangan sang bayi cukup baik, tanggal perkiraan kelahiran berkaitan erat dengan waktu mereka menghabiskan malam bersama. Menguatkan pernyataan Likta bahwa Tiarnan ayah dari janin yang ada di kandungan.


“Semalam dia mengalami kram perut, dan kurasa beberapa jam lalu juga,” ungkap Tiarnan.


Dokter menatap Likta singkat, kemudian kembali kepada Tiarnan. “Apa ada sesuatu yang membebani Likta, sehingga berpikir terlalu keras? Stres bisa memicu kram pada ibu hamil, jadi, Tiarnan, jaga baik-baik istrimu, buat dia bahagia selama masa kehamilan. Oh, bukan, tetapi untuk waktu lama.”


“Apa ada obat, sebagai pencegahan kalau-kalau mengalami kram lagi?” Ada kekhawatiran di dalam nada bicara Tiarnan.


Dokter menggeleng. “Selama tidak terjadi pendarahan, bisa diatasi dengan mengonsumsi air mineral yang cukup, kompres perut dengan air hangat, dan paling penting usahakan Likta tetap rileks.” Lalu, menoleh ke Likta. “Seberapa sering kamu mengalami kram?”


“Yang paling terasa kemarin malam, sepanjang hari ini sekitar dua kali, tetapi tidak begitu sakit,” terang Likta.


“Seperti yang sudah kukatakan, jangan terlalu stres,” kata dokter sambil menulis. “Tiarnan ingat kata-kataku. Kalau terjadi apa-apa dengan Likta, aku yang maju lebih dulu.”


Likta melihat kedua pria itu bergantian, seperti memahami kebingungan pasiennya, dokter berkata, “Aku dan Tiarnan teman lama.”


“Oh.”


“Oke, ini aku resepkan vitamin.” Dokter menyerahkan selembar kertas. “Tiarnan, dua minggu lagi kamu harus mengantar Likta periksa.”


Melalui sudut mata Likta dapat melihat Tiarnan menanggapi ucapan sang teman dengan anggukan.


“Baiklah, semoga ibu dan bayinya sehat selalu.”


“Terima kasih,” sambut Likta, sembari menyunggingkan senyum manis.

__ADS_1


__ADS_2