
“Bu Mur, tadi liat Ma—s Tiarnan?” Kagok sekali memanggil nama suaminya dengan sapaan mas, Likta berusaha membiasakan diri sejak menyadari beberapa orang di rumah ini menyebutnya begitu.
Likta menolak pelayanan dari Murti, dia tidak terbiasa dengan itu semua, sehingga menyiapkan makanan sendiri ke dalam mangkok. Asap tidak lagi mengepul dari makanan khas Sunda itu, tetapi aroma pedasnya masih menguar.
“Ada di ruang kerja Pak Frits,” jawab Murti. Melihat kebingungan di wajah Likta, dia menerangkan. “Papanya Mas Tiarnan, tadinya Mbak Likta mau bibi ajak ke sana, tapikan tidak mau, katanya mau makan dulu.”
Selagi menunggu, Likta bercengkerama dengan wanita paruh baya yang mengurus bagian dapur, menoleh ke segala arah, siapa tahu Tiarnan tiba-tiba menampakkan diri.
“He'eh, duuhh, jadi enggak enak,” sesal Likta, lantas mengaduk-aduk isi mangkuk.
Muhin si supir dan Murti saling tatap singkat, kemudian salah satunya angkat suara, Muhin yang tahu kehamilan Likta berujar, “Tidak usah sungkan, Mbak Likta. Kan, emang tadi lagi pingin banget makan seblak.”
“He'eh, Bapak mau?” Likta mendorong mangkuk ke dekat Muhin.
“Saya tidak suka pedas, Mbak,” tolak Muhin, lalu meneguk sedikit kopi buatan Murti. “Saya tinggal ke depan ya, Mbak Likta, Murti, cari angin," pamitnya, mendapat anggukan kepala serempak.
“Bu Mur, mau?” Kini, Likta menawari pengurus rumah.
“Sudah, terima kasih,” tolak Murti, “Bibi tinggal beberes dulu, ya.”
“He'eh.” Likta mangut-mangut sambil bergumam, sebab mulut penuh makanan. Dia mengambil sesuap lagi, menyeruput kuah merah yang menggoda lidah. “Segerr.”
Kalau sudah bersantap nikmat, seringkali lupa orang di kanan-kiri. Sampai seorang pengurus rumah lebih muda masuk ke dapur pun tidak tahu, lirikan matanya memancarkan ketidaksukaan, mengambil gelas berkaki tinggi dan keluar lagi.
“Sueehah! Oh, ya ampun nikmat mana yang kamu dustakan,” desisnya, saking nikmatnya Likta menginginkan lebih. Bulir keringat membasahi dahi sampai ke pelipis, sulur-sulur anak rambut menempel di sekitar pipi hingga leher jenjang putihnya.
“Bi Murti, sini?”
“Ada apa Nov?” Murti yang baru masuk dapur untuk mengambil piring menghampiri.
“Itu siapa?” tanya Nov, menunjuk dengan dagu.
“Istrinya Mas Tiarnan.” Murti sudah mau jalan lagi, tetapi ditahan Nov.
Nov merapatkan tubuh di dekat Murti, gayanya berbisik, tetapi suara masih terdengar jelas. “Oh, itu si wanita murahan. Gara-gara dia, idolaku tidak jadi menikah sama Mas Tiarnan.”
“Hush! Jangan sembarangan kamu kalau omong,” tegur Murti.
__ADS_1
“Loh, sebentar Bi Mur, tunggu!” pinta Nov, kala melihat Murti hendak melangkah. “Bi Mur, kok, biarin aja, sih, dia makan dulu.”
“Memang kenapa?”
“Lupa, ya? Peraturan di rumah ini, yang muda dilarang mendahului yang lebih tua. Terlebih-lebih hanya tamu.”
“Terus?” Sebelah tangan Murti bertumpu ke pinggang karena agak kesal, ingin sekali menyumpal mulut Nov pakai talenan.
“Harusnya dia tidak boleh makan dulu, dong.”
“Masih tidak paham, Mbak Likta itu istri Mas Tiarnan!”
“Halah, timbang istri akibat kecelakaan aja,” ejek pengurus rumah yang lebih muda itu.
Dari kejauhan, Likta tampak menyeruput kuah langsung dari mangkuknya. Dan, tiba-tiba tersedak. Dia yang kepedesan hendak menuang segelas es teh di atas meja, tetapi datang si Nov.
“Eh, eh, letakkan kembali!” seru Nov, bergegas ke arah meja Likta, di susul wanita paruh baya. “Siapa yang suruh mendahului tuan rumah?” Dengan cekatan menyambar gelas dari tangan Likta.
Oleh sebab itu mata Likta merah menahan pedas, bibir mungilnya berdesis lirih. Dia mengerjap beberapa kali supaya air di ujung kelopak mata tidak menetes, lalu meminta dengan sopan. “Dikit aja, Mbak, janji, deh, lain kali enggak ulangi.”
“Bu~Mu~r,” seru Tiarnan menggantung dan panjang tatkala melihat semua berkumpul di dapur termasuk Likta. Dia tadi mengira istrinya ada di ruang tamu atau ruang keluarga, tetapi malah di sini dengan mata yang tampak berkaca-kaca. “Ada apa ini? Kenapa Likta menangis?”
Telapak tangan besar Tiarnan melingkupi kepalan jemari Likta di atas meja. “Ada apa?” tanyanya bingung.
“Kepedesan habis makan seblak,” aku Likta, dia mendongak sebab Tiarnan berdiri menjulang di sampingnya.
“Ini kenapa tidak ada yang ambilkan minum?” bentak Tiarnan. “Mau kalian diberhentikan?” Dia meraih gelas yang menggantung di atas tataan, berjalan ke arah dispenser, lalu mengisi sedikit air panas dan air dingin hingga suam-suam kuku.
“Ini, minum pelan-pelan,” tutur Tiarnan, sembari mendekatkan ke bibir merah serupa pita mungil istrinya, lantas dengan kedua telapak tangan Likta ingin memegang sendiri.
Tatapan keduanya bertemu dan dapur yang begitu luas serasa mengecil, teramat kecil sampai Likta dapat mendengar debar jantung bertalu-talu. Memukul-muluk tulang rusuknya kuat-kuat, sampai-sampai dia takut terdengar oleh Tiarnan.
“Minum beberapa teguk bisa mengurangi rasa pedasnya,” ucap Tiarnan.
Suara lembut dan dalam itu, menyedot kesadaran Likta dari keterpakuan. “He'eh, terima kasih.” Kemudian, mengangguk kaku.
Ekspresi lembut di wajah Tiarnan berubah garang saat menghadap ke arah para pengurus rumah. “Kalau kalian bosan bekerja di rumah ini, jangan sungkan-sungkan bilang ke aku atau papa!”
__ADS_1
Senyap, tidak ada yang berani menyahuti perkataan anak dari pemilik rumah megah itu. Mereka menunduk dalam, seolah-olah hanya untuk mengambil napas pun takut.
“Likta, sudah?” Tiarnan berbalik lagi, “Yuk, papa sudah lama nunggu kita.”
“He'eh.”
Sambil berjalan ke ruang makan Tiarnan menegur, “Kamu tadi, kok, tidak mengikutiku sampai ke dalam rumah?”
“Langkahmu panjang-panjang. Susah mau nyusul,” jawab Likta asal.
“Benarkah? Ini bukan kali pertama kamu mengikuti langkahku.”
Seketika pipi Likta bersemu merah, entah sengaja atau tidak pernyataan Tiarnan membawanya pada kenangan kala bertualang bersama. Memang benar dia mudah sekali mengikuti langkah Tiarnan saat di hutan. Takut ketinggalan dan di terkam macan. “Waktu itu, kan—waoow.”
Tiarnan menjengit saat mendengar decak kagum Likta, seketika pikirannya pun melanglang buana pada kejadian malam pertama mereka. Air mukanya merah padam, apa maksud kata 'waoow' yang terucap dari bibir sang istri.
“Ini ruang makannya?” tanya Likta, sembari mengusap lembut ukiran naga di daun pintu, lalu merambat ke pegangan berwarna perak. Terlampau takjub, dia tidak menyadari ekspresi bengong di wajah Tiarnan. “Mas Tiar—”
“Apa? Kamu panggil aku mas?”
Seulas senyum tersungging, Likta mengerucutkan bibir sekejap sembari berkata, “Bu Mur sama Pak Muh panggil kamu gitu.”
“Oh, karena Pak Muh.” Tiarnan berbicara seraya membuka pintu.
Ruang makan di kediaman Frits tidak terlihat sempit meski terdapat meja makan berukuran besar lengkap dengan dua puluh dua kursi bersandaran tinggi.
Seorang pria paruh baya yang diyakini Likta merupakan orang tua Tiarnan duduk tenang di bagian kepala meja. Setelah berkenalan sebentar, ketiganya menikmati makanan dalam diam.
Di tengah-tengah menikmati hidangan penutup, Frits sesekali mengajukan pertanyaan, tanpa menunjukkan emosi apa pun, persis seperti orang yang baru saling mengenal.
“Sebelum ke Jepara, menginaplah barang sehari,” pinta Frits.
“Jepara?” Dahi Likta berkerut, dia sedikit terkejut, bahwasanya Tiarnan tidak cerita apa-apa sedari tadi.
“Loh, kamu belum bilang ke Likta?”
“Untuk apa?” Mata Tiarnan melebar sebentar, mengapa kata-kata busuk itu yang keluar, kini dia merasa jadi bedebah nomor satu. Ah, tetapi siapa peduli.
__ADS_1