
Perawat tadi keluar ruangan, Likta pun terlonjak dari duduk. “Gimana keadaan tante saya, Sus?”
“Kabar baik, kami tadi melihat pergerakan,” terang suster, “Dokter sedang memastikan perkembangannya, salah satu dari kalian diizinkan masuk.”
“Baik, terima kasih,” ucap Likta, merasakan telapak tangan Tiarnan di pundak memijat ringan, jemari rampingnya pun terangkat ke punggung tangan sang suami. Dia mendongak, melihat seulas senyum di bibir merah alami pria itu.
Ini sungguh membingungkan, Likta mengesampingkan perasaan aneh terkait sikap Tiarnan dan masuk ke ruang rawat. Netranya menatap nanar Farida yang terbaring di atas brankar.
“Beliau sudah sadar, Dok?”
Kelopak mata Farida terasa berat, dia mendengar suara lembut yang tidak asing di telinga. Lamat-lamat menggerakkan pelupuk, cahaya terang menyusup melewati cela mata. Dia merasakan pupil tertusuk sinar, sakit hingga menutupnya rapat-rapat.
“Tante Farida,” tegur Likta lirih.
Suara yang amat familier terdengar lagi, kelopak mata Farida pun kembali terbuka dan sinar tajam menusuk kornea. Untuk menghalau silau, dia mengedip-ngedip, sehingga sosok di depannya terlihat samar-samar.
Kala mencari informasi di kepala mengenai orang di hadapannya, Farida merasakan otak diremas kuat-kuat hingga nyeri tak terperi. Ingin sekali memberi pijatan untuk mengurangi rasa sakit, tetapi tangan sulit digerakkan.
“Tante Farida.”
Ada yang memanggil-manggil, suaranya menyusup halus, tetapi siapa pikir Farida? Dia pun membuka penuh kelopak mata supaya dapat mengenali pemilik suara itu.
“Syukurlah, Ibu sudah sadar. Saya, Rendra dokter yang menangani Anda,” ungkap sang dokter, “Anda sedang berada di rumah sakit.”
Farida mencermati wajah berseri di hadapannya dan tidak mengenalinya.
“Di sini ada keponakan, Ibu,” terang Rendra.
Ingin sekali Farida menyahuti, tetapi tenggorokan terasa kering. Susah untuk mengeluarkan suara, dia pun menoleh perlahan mencari keberadaan orang yang dimaksud keponakannya—Likta. Namun, gerakan sekecil itu membuat kepalanya berdenyut ngilu, tanpa sadar di memejam.
“Bu Farida, buka mata Anda, tetaplah bangun! Kalau tidak kesadaran Ibu akan hilang,” perintah Rendra ketika pasiennya kembali menutup mata.
Kepalanya makin nyeri serasa dihantam godam, Farida merasakan air mata mengalir melalui sudut mata.
“Tante,” bisik Likta, mengusap lembut punggung tangan Farida. “Bangun, Tante pasti kuat.”
__ADS_1
Tatapan matanya menyiratkan keharuan, bingung, dan seperti akan mengatakan sesuatu, Farida berusaha bicara, tetapi butuh air untuk membasahi tenggorokan. “Haus.”
Sesuai saran dokter, Likta memberi minum sedikit, sekadar membasuh bibir dan tenggorokan. Menilik reaksi Farida, matanya tidak menampakkan kekosongan. Semoga apa yang diharapkan terwujud, tidak ada kerusakan pada jaringan otak.
“Ibu ingat siapa nama, Ibu?” tanya Rendra dan berbalas anggukan lemah dari Farida. “Syukurlah.”
Malam itu menjadi hari membahagiakan, Likta melewati sisa hari dengan senyum senantiasa merekah. Dokter pun mengizinkan Tiarnan masuk sebentar untuk menyapa. Meski begitu dokter juga menyarankan agar keduanya tidak terlalu banyak berbincang dan membiarkan pasien istirahat.
Tadi Farida menanyakan suami dan anaknya, untuk itu Likta meminta Tiarnan mengantarkan pulang.
“Kamu nanti tidak usah balik rumah sakit, biar aja suaminya yang jaga,” tutur Tiarnan dalam perjalanan.
Likta enggan menyahuti, seluruh tenaganya sudah terkuras habis. Memang membutuhkan banyak istirahat. Mudah-mudahan kali ini Awang mau bergantian menemani Farida.
Mereka tiba beberapa menit setelahnya, Likta turun dari motor mengambil kunci dan membuka gerbang selebar dua meter. Dia melihat lampu ruang tamu masih menyala, lalu masuk serta mengucapkan salam. Namun, tidak ada sahutan.
“Om,” seru Likta, “Om Awang!”
Dengan muka kusut Awang keluar dari kamar, dia bertanya sambil menguap. “Loh, kok, pulang, tantemu siapa yang jaga?”
“Oh.”
Mendengar komentar bernada tidak mengacuhkan jemari Tiarnan mengepal, demi kewarasan dia coba tetap tenang. Dia menahan diri tak menerjang gorden pembatas antara ruang tamu dan ruang tengah.
“Kamu habis ini ke sana lagi, kan?” tanya Awang enteng sambil menuang air minum, menenggak isinya hingga tandas. “Perkembangannya gimana?”
“Alhamdulillah, baik,” jawab Likta.
“Ya, sudah besok saja aku ke sananya,” kata Awang sambil lalu.
“Tapi, Om—”
“Apalagi?”
“Likta!” Terdengar seruan Tiarnan.
__ADS_1
Awang menoleh pada pembatasan ruangan, keningnya mengeryit. “Siapa itu?”
“Mas Tiarnan,” ucap Likta bersamaan dengan pria jangkung menyibak gorden.
“Selamat malam, Pak,” sapa Tiarnan kemudian, “bisa bicara sebentar?” Dia mengatakan itu sambil memberi kode agar Likta tidak khawatir akan adanya pembicaraan sengit.
Keduanya berjalan ke ruang tamu, meninggalkan Likta yang diam terpaku. Wanita itu tahu, suaminya merencanakan sesuatu, punya maksud tersembunyi untuk memuluskan segala apa yang dikehendaki.
Likta memberanikan diri mengintip dari celah kain tebal pembatas ruangan, netranya menatap Tiarnan yang duduk di sofa penuh percaya diri. Dan, dia berani bertaruh bahwa sang paman berusaha keras untuk tak terlihat terintimidasi.
“Jangan berharap kamu diterima baik di rumah ini setelah mencemari salah satu anggota keluarga kami,” kata Awang, tidak mencoba menaikan pandangan, pria itu menutup reaksi diri dengan mengeluarkan sebatas rokok.
Tiarnan menggerakkan alis hingga tinggi sebelah, ekspresi santai terpampang jelas di wajahnya. “Kami sudah menikah, praktis membersihkan noda di dirinya.”
“Membersihkan? Apa aku gak salah dengar? Dia pulang sendiri empat hari lalu, sedangkan kamu tampil di layar televisi bersama wanita lain.” Meski berkata demikian, Awang tetap mengalihkan tatapan. Membuang muka ke luar jendela.
Mata Tiarnan menyipit dan hanya Tuhan yang tau mekanisme kerja otak cerdasnya sekarang. “Anda mencoba menilai saya?” Nada bicara dan cara pandangannya syarat ejekan belaka. “Hal semacam itu sudah biasa di kalangan atas. Keseluruhan hanya berlandaskan bisnis semata.”
Tawa sumbang Awang mengiringi ucapan. “Bagi kami itu penghinaan, selaku orang tua, aku gak akan membiarkan orang lain menyakiti perasaannya.”
“Orang tua yang tega memeras keponakan sendiri, bukan begitu?”
“Apa maksudmu?” sentak Awang.
“Saya memang tidak berada di dekat Likta setiap waktu, tetapi semua aktivitasnya ada dalam pantauan saya,” ucap Tiarnan datar. “Apa Anda pikir saya tidak tau kalau semua biaya pengobatan tantenya dia yang tanggung.”
“Oh, aku paham sekarang, jadi mau main itung-itungan? Enggak perlu khawatir, semua biaya kuganti!”
Di balik tirai yang tertutup Likta tercenung, rupanya tabungan Awang sudah diniatkan untuk mengganti biaya operasi Farida. Akan tetapi, kenapa tidak bilang dari awal? Sehingga menimbulkan prasangka buruk di benak Likta.
Namun, Tiarnan mengabaikan bualan itu. “Nah, dari mana datangnya uang untuk mengganti semua biaya yang telanjur Likta keluarkan? Apa bersumber dari wanita yang datang kemari sebelumnya?”
Awang menghenyakkan punggung ke sandaran, menoleh cepat ke arah Tiarnan. Jantungnya mulai berdetak waswas tanda peringatan.
“Apa yang baru saja Anda dengar, satu dari sekian fakta di dalam jangkauan saya,” tutur Tiarnan tanpa kesombongan, karena itu kenyataannya, hal yang membuat orang berpikir jutaan kali untuk mengelak segala pengetahuannya. “Dengan atau tanpa persetujuan Anda, saya akan membawa Likta keluar dari rumah ini. Dan, mulai sekarang jangan pernah ganggu dia lagi.”
__ADS_1
Ini seperti memecahkan kepala, Tiarnan sendiri tidak habis pikir, di sisi lain ingin membuat Likta menderita, tetapi tidak rela ada orang yang menyakitinya.