
Ruang tamu sesaat diselimuti oleh ketegangan, setelah jeda lumayan panjang Tiarnan berdiri, tinggi menjulang tak tercela.
“Boleh saya permisi?” Tiarnan tidak sungguh-sungguh meminta izin, jadi berlalu begitu saja ke ruang tengah. Dia mencari keberadaan istrinya. “Likta!”
“Ya, di sini,” sahut dari balik kamar dengan pintu tunggal terbuka penuh.
Terdengar derap langkah mendekat, Tiarnan bersandar di kusen seraya melipat lengan di depan dada. Tampak santai dan acuh tak acuh, dia menatap sekeliling kamar. Dilihatnya Likta sedang berdiri di depan lemari berukuran tidak sampai dua meter. Lekuk pinggul istrinya terlihat mengencang sebab tertarik perut yang mulai membusung, ingin sekali dia mengusapkan telapak tangan di sana.
“Sudah berkemas?”
“Aku gak bisa pergi gitu aja, terutama meninggalkan tante dalam kondisi seperti ini,” jelas Likta sambil mengeluarkan baju ganti, raut wajahnya tampak sedih dan bersungguh-sungguh.
“Ada Pak Awang, kan? Nanti aku carikan perawat pribadi.” Tiarnan menolak bahu dari kusen lantas menghampiri Likta, duduk di ujung tempat tidur, kaki panjangnya menekuk tak nyaman karena dipan di kamar itu lebih pendek. Dia menumpukan kedua siku di lutut sembari berujar, “Kalau kamu mengandung anakku, tidak ada alasan tinggal terpisah. Biar gimanapun, aku berhak terlibat dalam kehidupanmu dan bayi itu.”
Likta menyembunyikan keterkejutannya dengan berkata, “Beri waktu aku berpikir, sementara malam ini Mas Tiarnan kembali ke hotel.” Karena tidak mendapat sahutan dia menoleh ke arah Tiarnan. Netranya menemukan paras menawan yang susah dijabarkan dengan kata-kata. Dengan jantung berdegup kencang dia bertanya, “Begitu tiba di Surabaya, Mas Tiarnan menginap di mana?” Bahu pria itu mengedik.
Baju yang tersampir di lengan Likta merosot, dia membungkuk untuk mengambil kembali lalu disampirkan ke sandaran kursi kayu. Menarik bangku jauh dari meja, lantas mendudukkan diri. “Mas Tiarnan gak berencana tinggal sementara di sini, kan?”
“Kamu keberatan?”
“Enggak sama sekali, eeunnn, ya sudah selagi Mas Tiarnan di sini, biar aku siapkan kamar tamu.” Likta beranjak dari duduk dengan gugup, dan secara bersamaan merasakan jemari besar Tiarnan meraih pergelangan tangan. Sentuhan tiba-tiba itu mengalirkan darah di pembuluh lebih cepat dan hangat, dia hampir kehilangan keseimbangan akibat kaki serasa meleyot. “Perlu sesuatu?” tanyanya gemetar.
“Apa kata om kamu kalau tidur sendiri-sendiri?” Senyum jail tersinggung di bibir Tiarnan, enak aja, aku sudah datang jauh-jauh disuruh tidur kamar tamu, batinnya.
“Kasur di kamarku terlalu sempit untuk menampung dua orang,” papar Likta, “Kalau tidur dengan posisi yang sama sepanjang malam, nanti Mas Tiarnan pegal.”
__ADS_1
“Kamu sengaja menghindar dariku?”
“Iya, aku takut terlalu terikat secara emosi dengan mu.”
“Kenapa?” tanya Tiarnan datar, dan memiliki jawaban sendiri atas pertanyaannya. Karena hatimu sudah dimiliki orang lain, tapi aku tidak peduli, toh, saat ini statusmu adalah istriku. Aku tidak rela orang itu bahagia bersamamu, setelah tega meninggalkan Tanya. Tersebab asyik dengan pikiran sendiri, dia tidak mendengar perkataan Likta. “Gimana?”
“Aku terbiasa sendiri.” Tercipta kerutan dalam saat Likta mengernyitkan kening, seraya membatin, lah, aku ngomong segitu panjang, beneran enggak didengar, mungkin ini keberuntungan buat ku, bukankah tadi gak sengaja mengakui perasaanku sendiri. “Eem, ya sudah kalau gak keberatan menginap di kamar sekecil ini, selagi aku mandi, Mas Tiarnan bisa istirahat.”
Likta melanjutkan langkah menuju pintu, sebelum sepenuhnya keluar berbalik badan dan bertanya, “Mas Tiarnan mau nasi goreng?”
“Boleh.”
Seperginya Likta, Tiarnan membaringkan tubuh ke tempat tidur dengan kaki menggantung sebatas lutut. Menatap langit-langit kamar bernuansa turkuois, sekelebat kejadian di Jepara melintas.
Tiarnan teringat pembicaraan terakhirnya dengan Violacea sebelum berangkat ke Surabaya. Mereka duduk di kantor yang menurut kacamata orang awam dirancang khusus sebagai tempat mengintimidasi pengunjung, bukan ruang nyaman untuk berbincang santai. Semua tampak jelas dari cat dinding yang didominasi warna maskulin, juga dipertegas adanya perabotan bernilai tinggi. Hingga orang takut bergerak dan merusak tatanan yang ada.
Panggilan masuk di ponsel Frits, pria paruh baya itu pun meninggalkan ruangan. Dan, ini merupakan kesempatan bagi Tiarnan undur diri, tetapi segera dicegah oleh ucapan Violacea.
“Tiarnan, sejak tadi kamu kelihatan gelisah,” tebak Violacea.
Menyadari bahwa secara diam-diam model itu memperhatian detail kecil keresahannya, alis Tiarnan terangkat tatkala melirik paras berias tebal Violacea.
“Aku tau apa yang kamu pikirkan,” celetuk Violacea ketika tidak mendapat tanggapan. “Masih mengharapkan Likta?”
Dengan berat hati Tiarnan pun duduk kembali, keingintahuan mendesaknya agar tetap tinggal, sembari menunggu tujuan Violacea menyinggung perihal Likta. “Sederhanakan aja.”
__ADS_1
“Apa kamu tidak merasa kalau Likta pergi karena ingin terbebas darimu?” ungkap Violacea dan sengaja memberi jeda, “Aku khawatir dia mencintai orang lain.”
“Memangnya kenapa?” tanya Tiarnan kesal, tetapi cukup terhibur, seberapa jauh model ini menggali informasi terkait sang istri.
“Kamu gak berniat memaksakan sesuatu, kan?” Violacea seperti mencari kalimat yang pas sebelum melanjutkan. “Aku tau terkadang cinta enggak memandang logika. Namun, coba pikirkan kalau sampai kabar miring kaburnya Likta karena laki-laki lain didengar orang, pastinya berpengaruh terhadap usahamu bukan?”
“Itu pasti menarik.”
“Apa kamu sudah gila?” gumam Violacea. “Yah, walaupun kita gak saling kenal sebelumnya, paling enggak orang tua kita sama-sama tau. Om Frits tau aku yang terbaik untuk mu,” ucap Violacea percaya diri khas sales produk kecantikan ketika menjajakan dagangannya.
Mengagumkan, menilik permikiran orang yang berpendidikan tinggi, mengeluarkan kata-kata bijak sebagai batu lompatan dalam memenangkan keinginan sendiri. Tiarnan memandang Violacea tanpa merespons.
“Kamu gak akan mendapatkan apa-apa, terutama hatinya. Likta tentu sangat mencintai orang itu, sehingga dengan mudahnya meninggalkan mu tanpa penjelasan.” Violacea menegaskan.
“Sekeping hati tidak berarti selama aku mendapatkan Likta dalam bentuk nyata,” aku Tiarnan setengah serius, “Omong-omong kenapa kamu yakin sekali kalau istriku ada hubungan dengan orang lain?”
Angan Tiarnan terpecahkan oleh kedatangan Likta, aroma segar menyusup pada indra pernapasan. Dia menatap sang istri dari ujung kaki sampai puncak kepala, rambut panjangnya digelung asal hingga menampakkan leher putih yang lembab.
“Mas Tiarnan bawa baju ganti?”
Tiarnan menggeleng tanpa mengalihkan tatapan lapar ke arah Likta.
“Sebentar, aku kayaknya punya kaus baru, semoga ukurannya pas,” oceh Likta, tidak memperhatikan sorot mata memburu sang suami. “Nah, ini ia,” serunya lantas berbalik menghadap Tiarnan, mengulurkan kaus berbungkus plastik yang terlipat rapi.
“Maaf, cuma atasannya aja.”
__ADS_1
“Lebih dari cukup.”