
Hari ke hari Tiarnan terus mencari, datang ke taman setiap ada kesempatan. Dia lebih sering bergerak sendiri daripada bersama Frits. Ayahnya terlalu sibuk membangun bisnis.
Satu minggu menjelang ujian kelulusan, pencarian Tiarnan tidak juga membuahkan hasil. Meski begitu semangatnya tidak pernah surut dan makin giat pula mencari Arima. Dia terkadang sampai ketiduran, tahu-tahu langit jingga berganti gelap berbintang. Dia merasakan ada yang menendang ringan, pelan-pelan kelopak matanya terbuka.
“Woi, bagi rokok!”
“Sorry, tidak ngerokok, Bang.”
“Banci lu! Cowok, kok, gak ngerokok,” sindir preman berbadan cungkring.
Tiarnan sebisa mungkin menahan mulut tetap bungkam, kalau dipikir-pikir panik tambah memicu keributan. Yang terpenting sekarang, mempersiapkan diri buat lari andaikata kedua preman makin menyudutkan. Dia membereskan dua buah buku yang tergeletak di dekat tas.
“Ada uang kagak?” tanya preman, seraya mengedikkan dagu, “siniin tas lu!”
Kini, Tiarnan diapit kedua preman, bahkan tas diambil sembarangan. Syukur-syukur tidak putus tali tas punggungnya.
Demi mendapatkan sejumlah uang, kedua preman itu mengeluarkan semua isi dari dalam ransel. Yang ada hanya peralatan sekolah, tetapi mereka seperti tidak kehabisan akal. Dengan kasar menarik kerah seragam Tiarnan. “Lu sembunyikan uang di mana?”
Tiarnan berdecak keras seperti cecak. “Ck! Abang-abang sepertinya salah sasaran,” balas Tiarnan tenang. Dia mengamati sekeliling, bermaksud kabur untuk mencari perlindungan. Tumben-tumbenan sepi, terus melihat jam di pergelangan tangan, pantas saja sudah hampir larut.
“Gue sering lihat lu diantar mobil mewah kemari.”
Alis Tiarnan berkerut, tidak menampik pengamatan si preman. Lantaran belum cukup umur, dia tidak boleh membawa kendaraan sendiri, karena itulah supir pribadi Frits yang antar, terkadang pakai angkutan umum.
“Oh, itu—” Ketenangan Tiarnan dalam menghadapi kedua preman itu patut diacungi jempol, dengan santai dia mengembalikan peralatan sekolah ke dalam tas. “Aku, sih, cuma anak supir.”
Kedua preman saling lempar pandang, menilai kebenaran pengakuan Tiarnan. “Supir orang kaya, pasti gajinya besar, dong?”
Jemari yang sedang menutup resleting berhenti dua detik, Tiarnan menoleh kanan-kiri. Monolognya dalam hati. Gimana caranya lari? Akan tetapi, yang terucap justru, “Wah, kalau itu aku tidak tau, Bang.”
“Jam tangan lu bagus juga, merk mahal, tuh.”
“Ini, sih, imitasi, Bang. KW 10.” Dusta Tiarnan disertai nada bercanda, padahal hati sudah gemetar tidak tertahankan.
“Mau asli, kek, mau imitasi gue kagak peduli!” Telapak tangan si preman sudah menggenggam pergelangan Tiarnan yang ada jamnya.
__ADS_1
Begitupun jemari Tiarnan refleks terayun ke atas punggung tangan preman itu. “Jangan, Bang!” Dia mulai geram, “Ini pemberian Mama.” Berdiri sembari menghempaskan tangan orang itu dengan kasar.
“Oh, mau ngelawan, ya?”
Secara instingtif Tiarnan hendak berlari, tetapi kalah cepat dari sambaran tangan-tangan besar abang preman. “Mau ke mana lu?”
Intuisi menggerakkan kedua kaki jenjang Tiarnan lebih melebar, kuda-kuda terpancang. Dilihat dari tinggi badan Tiarnan memang sedikit lebih unggul, satu lawan dua masih bisa mengatasi. Akan tetapi, begitu jumlah preman bertambah dia kepayahan juga. Seperti sepak takraw, dia ibarat bola rotan yang di tendang sana sini oleh dua regu.
Kalau diamati dari segi kemampuan, Tiarnan yang tidak biasa tawuran jelas kalah, anak seumur jagung bisa apa. Terlebih lagi, lama tidak berlatih olah fisik. Sementara kini, dia hanya bisa menghindar, sesekali memukul, menendang, dan menangkis serangan.
Tiarnan terbungkuk ketika mendapat pukul di perut, belum sempat berdiri tegak, jotos runjam yang lebih familier disebut uppercut bersarang di dagunya. Dia berusaha berkelit, tetapi malah kehilangan keseimbangan hingga jatuh terduduk.
Tiba-tiba saja, ada seorang wanita menerjang satu dari preman itu. “Sudah, hentikan!”
Permintaan wanita itu tidak digubris, malah mendorongnya sampai jatuh tepat di sebelah Tiarnan.
“Mama,” desis Tiarnan remaja, dari situ emosi kemarahan tersulut, bangkit meski agak sempoyongan. Iris matanya menggelap keras, dia tidak akan mundur dari perkelahian, terutama setelah melihat wanita yang dirindukan selama ini tersungkur di tahan sebab ulah mereka.
Selama babak kedua Tiarnan berada di puncak, sebisa mungkin menumbangkan preman itu satu per satu, tetapi arah angin berubah. Preman yang sempat jatuh menyambar lengan Tiarnan, menekuknya ke belakang. Tiga lainnya menyarankan tinju bertubi-tubi, hingga terdengar derak tulang patah.
Dari kejauhan samar terdengar suara sirine, para preman itu lari pontang panting meninggalkan Tiarnan yang terkapar.
Arima membawa Tiarnan ke rumah sakit, wajah tampan sang putra tampak babak belur dihajar preman.
Dokter umum ruang IGD memeriksa kondisi remaja itu sambil meringis, lalu membawanya untuk melakukan pemeriksaan radiologi. Lega tidak ada komplikasi, tetapi pihak rumah sakit menyarankan agar dia rawat inap.
“Mama,” gumam Tiarnan lebih terdengar seperti desisan.
“Istirahatlah, jangan banyak bicara dulu.” Arima membetulkan letak selimut, sesungguhnya ingin tahu kenapa Tiarnan malam-malam masih di taman.
“Ma.”
“Ya,” balas Arima, lamun iris matanya terus melirik ke arah pintu. Takut, ayah Tiarnan datang sewaktu-waktu dan panjang umur orang yang bersangkutan sedang berdiri di depan salah satu pintu ruang. “Sayang, Mama harus pergi.”
“Ma, please jangan pergi, atau Tiarnan akan kalah.”
__ADS_1
Arima mengecup lembut kening Tiarnan. “Maafkan, Mama, Sayang.”
“Ma!”
“Jangan pergi!” teriak Tiarnan hampir jatuh dari brankar andai Frits tidak langsung datang. “Pa, itu Mama! Tiarnan mau kejar Mama, Pa!”
Frits menoleh ke arah yang dimaksud sang putra, sekilas yang terlihat hanya punggung sempit. Dia tahu dengan pasti siapa wanita itu. “Sudahlah, Tiarnan, tenangkan dirimu,” saran Frits, “Kamu tidak boleh terlalu banyak gerak.”
“Papa juga lihat, kan?” tanya Tiarnan bersifat mendesak. “Itu Mama, Pa.”
Lama-lama Frits kesal juga, betapa remaja ini begitu keras kepala. Sabar, kunci paling ampuh menghadapi Tiarnan, dia harus bisa menekan ego sendiri agar bisa mempertahankan anak-anak. Akhirnya berkata, “Iya dan bukan apa bedanya? Yang kamu sebut Mama itu tidak peduli.”
“Mungkin Mama sedang—”
“Mungkin apa lagi? Berapa alasan yang kamu gunakan untuk membohongi diri, Tiarnan?” berang Frits. “Kalau ya itu Mama, kamu mau apa?”
“Penjelasan,” sergah Tiarnan.
“Penjelasan seperti apa?”
“Kenapa Mama pergi dan mengapa Papa menganggap Mama sudah mati?”
Frits terduduk lemah di kursi samping brankar, sembari berujar, “Belum saatnya kamu tau, Tiarnan!”
“Hah! Sampai kapan?” dengkus Tiarnan, dia melempar tatapan dongkol pada pintu yang digunakan Arima keluar. Iris matanya bertambah buram.
“Setelah kamu dewasa,” kata Frits kemudian, semoga anak sulungnya itu bisa menerima.
“Tiarnan sekarang bukan anak kecil lagi, Pa.”
Di luar ekspektasi, anak remaja itu pantang menyerah, dengan berat hati, Frits mengatakan. “Oke, kalau kamu memaksa.” Dia menarik napas dalam-dalam. “Mama mengkhianati kita.”
“Mengkhianati gimana?”
“Merusak kepercayaan papa,” keluh Frits, tertunduk lesu sambil melipat kedua lengan ke atas perut. Kebingungan Tiarnan tidak menghentikan penjabaran bapak dua anak itu. “Anak kecil yang kamu lihat itu buah dari pengkhianatan mamamu.”
__ADS_1
Dalam sedetik suasana hening, berikutnya kilat menyambar bersama guntur menggelegar.
Tiarnan tersadar dari lamunan beberapa tahun silam dan kini kembali berulang. Akankah benih yang ada di dalam kandungan Likta bukan hasil dari hubungan keduanya. Semua tampak masuk akal, karena menghasilkan keturunan tidak semudah membalikkan telapak tangan.