Bertahan Sakit Berpisah Sulit

Bertahan Sakit Berpisah Sulit
Bab 027: Ingin Memercayaimu


__ADS_3

“Likta!” seru Tiarnan, “Buka atau aku dobrak pintunya?”


Hening, yang terdengar hanya dengung mesin pendingin ruangan, Tiarnan makin tidak sabar. Bertambah panik setiap detik yang terlewat. “Likta, paling tidak katakan sesuatu.”


Karena mulai jengkel bercampur cemas, Tiarnan bertolak pinggang. “Aku hitung satu sampai tiga—” Dia mengusap wajah kasar.


Jantung Tiarnan berdetak lebih cepat ketika tidak mendapat tanggapan, berbagai kemungkinan berkecamuk di dalam pikiran. Dia mencoba memutar kenop, syukurlah pintu kamar mandi tidak dikunci. Penuh keraguan dirinya menyelinap ke dalam, pandangan langsung tertuju pada kaca selebar dinding di baliknya.


Selama beberapa detik napas Tiarnan tertahan, dia mematung, tertegun oleh apa yang dilihat. Istrinya terkulai lemas di dalam bak mandi, tampak rapuh dan pulas. Jauh di dasar hati, Tiarnan berharap sang istri benar-benar tertidur, bukan pingsan karena suatu hal.


Rambut basah Likta tergerai di sekitar pundak hingga menutupi sebagian dada. Lengan ramping bak busur panah tersampir di pinggiran bak, sedangkan tangan yang lain berada di atas perut. Kaki lampai Likta menyilang, tetapi tidak cukup ampuh menyembunyikan apa yang ada di antaranya.


Pada malam pertama Tiarnan menerobos dinding kesucian Likta, dia hanya dapat merasakan kelembutan kulit sepucat porselen wanita itu. Setelahnya, cuma bisa berimajinasi kapan bisa mencumbu dan menjelajahi setiap milimeter tubuh molek itu dalam cahaya terang.


Hanya dengan berandai-andai saja darah Tiarnan berdesir hangat dan cepat, angan-angan ingin mereguk manis madu dunia membuat celananya menyusut. “Sial!” Dia berpaling dan mencari sesuatu untuk menutupi tubuh tanpa busana Likta. Meski dirinya tahu pasti tidak mudah melepaskan gelombang pasang yang bisa menghancurkan pertahanan.


Sambil menyingsing lengan sebatas siku, Tiarnan meraih handuk berukuran jumbo, lalu berjongkok di samping bak mandi, sekarang apa? Membangunkan Likta atau langsung memboyong ke tempat tidur?


Bibir Tiarnan tersungging miring, dari awal berjumpa rona di wajah Likta tidak berubah. Tanpa riasan, tetapi selalu menarik perhatian.

__ADS_1


Dengan hati-hati Tiarnan mengusap pipi Likta, menyelipkan sulur anak rambut ke belakang telinga. “Tidak ada wanita sememikat dirimu, sihir apa yang kamu gunakan sampai-sampai aku sulit mengenyahkan semua hal tentangmu?” gumamnya, sembari menatap lekat pipi basah istrinya yang kemerah-merahan. Dia berasumsi, panas air di bak mandi menjadi penyebab tambahan selain merah jambu alami.


“Kecantikan inilah yang membuat hampir seluruh pria memandangmu dengan sorot mata memuja,” aku Tiarnan, “Apa yang harus aku lakukan supaya dirimu lenyap dari benakku?”


Seumur hidup, Tiarnan tidak pernah menginginkan wanita berkeliaran di hati dan pikiran. Akan tetapi, bayang-bayang Likta selalu menghantui. Sukses membangkitkan perasaan aneh yang cenderung meningkatkan kinerja seluruh jaringan di dalam tubuh, tanpa tahu sebab sekonyong-konyong melihat wanita itu ada di mana-mana, mendadak hati kian resah bila salah mengira. Jantung berdetak cepat tiada terkira ketika berdekatan seperti saat ini.


“Ma—” racau Likta, dia mengubah posisi.


Jangkung Tiarnan terlihat naik-turun, cemburu kepada air yang menepak-nepak lembut di sekitar tubuh Likta. Dia berharap bisa menggantikan peran cairan berbusa tipis itu.


Tiarnan menggeram dihadapkan dengan situasi seperti ini, gairah membuncah di sekujur tubuh. Sebisa mungkin menahan dorongan untuk menerjang, karenanya saat ini berusaha mati-matian memfokuskan indra penglihatan hanya ke wajah. Dia menjulurkan tangan, mencari-cari penyumbatan bak mandi.


Suara air yang tersedot ke pembuangan menyamarkan deru napas Tiarnan, mata belok Likta membulat, hampir melompat dari kelopaknya.


“Mas—Tiarnan,” ucap Likta parau, nyaris tidak sanggup bernapas karena tekanan bibir hangat Tiarnan. Impresi gerakan intim mengejutkan sekaligus menggiurkan. Kelopak matanya terkatup sayup, api mengalir dahsyat sampai menimbulkan gelenyar kenikmatan tertahan. “Dingin,” rintihnya dengan tubuh menggigil.


Dan, di luar dugaan, suara Likta makin menenggelamkan indra perasa Tiarnan, menuntut bersambut. Sensasinya amat memabukkan, kedua insan yang sangat menginginkan penyatuan tubuh membiarkan pertautan bibir berlanjut.


Ini seperti malam pertama mereka, hawa panas dari dalam tubuh menghanguskan segala kecemasan atas akibat yang diterima kemudian hari. Terhipnotis oleh perdaya surga dunia, hingga melupakan rambu-rambu yang ada.

__ADS_1


“Berpeganglah,” gumam Tiarnan di sela-sela bibir Likta, dia bagai ikan yang terjerat kail, takut koyak bila mencoba lepas. Malahan makin memperdalam sentuhan, indra perasanya mula-mula menjelajahi garis tepi, kemudian berhasil mencapai seluruh bagian.


Sel-sel darah di dalam tubuh Likta mencair, tak sanggup menahan semburan gelora jiwa yang mendamba belaian. Kedua tangannya merangkak ke atas pundak Tiarnan, jari-jemari salin bertautan di belakang leher. Sensasi menghanyutkan hingga tanpa diminta tubuh melengkung dan mendekat ke dada.


Tiarnan menarik Likta dari bak mandi dengan mudah, seolah-olah berat istrinya seringan bulu merpati. Dia menggendong sang wanita keluar dari kamar mandi dan mencapai tempat tidur.


Bagaikan sesuatu yang berharga, Tiarnan menurunkan Likta penuh kelembutan. Entah kenapa dia menyapukan bibir di kening istrinya sebelum melepas semua penghalang bertemunya kulit dengan kulit.


“Tegur aku bila ini menyakitkan,” pinta Tiarnan serak, karena tidak ada tanda-tanda penolakan, dia menyusurkan jemari di sepanjang tulang punggung Likta. Bergerak teratur hingga mencapai tempat paling tersembunyi, menguak sepasang kaki dengan lamban.


Kedua tangan Likta mencengkram pundak, laksana kucing takut merosot ujung-ujung kuku menancap kuat. Napasnya tersengal-sengal, sebelum sempat menolak, dia merasakan dorong primitif. Mereka sama-sama tidak berpengalaman, membiarkan diri tenggelam lebih dalam. Serangkaian gerakan pinggul dan sentakan menimbulkan aliran darah di setiap pembuluh meletup-letup kegirangan.


Dan, saat Tiarnan mulai mempercepat gerakan, Likta menyambut dengan rintihan. Mendengar itu, dia terpaksa menurunkan jangkar, menahan siku agar tidak sepenuhnya menghimpit. Dirinya memilih diam menunggu penolakan, tetapi justru menemukan permohonan di binar bening bola mata istrinya.


Tiarnan menunduk, napas hangatnya menyapu ceruk leher Likta. Sebagai sambutan, wanita itu membenamkan jemari ke dalam rambut tebal Tiarnan. Penjelajahan tidak sampai di sana, tanpa navigasi dia menelusuri semua lekuk hingga sang istri memekikan namanya dalam suara tertahan.


Pekikan itu memompa adrenalin, maskulinitas beradu dengan kelembutan gerakan. Mempertahankan keharmonian gerakan ketika berusaha mencapai puncak tertinggi, di bawah kesadaran kedua insan yang sedang diselimuti kabut asmara melenguh panjang, bukti kepuasan yang tak terperikan.


Pria itu akhirnya terjatuh ke dasar jurang, terbenam dalam kenikmatan, lengan kokohnya meraih sang wanita lebih dekat. Mengecup pucuk kepala begitu mesra.

__ADS_1


“Aku ingin memercayaimu, Likta,” bisik Tiarnan sebelum jatuh tertidur, kali ini dia tidak hanya menaruh kepercayaan, melainkan ingin memiliki wanita dalam rangkulan untuk selamanya.


__ADS_2