Bertahan Sakit Berpisah Sulit

Bertahan Sakit Berpisah Sulit
Bab 019: Sejak Kapan?


__ADS_3

Tindakan tiba-tiba Tiarnan membuat Likta terkejut dan lambat berpikir, dia hanya merasakan sanubari yang tergores ucapan setajam sembilu kala penilaian sang suami terhadap dirinya menyusup ke indra pendengaran.


Itu tidaklah benar! Likta berusaha menahan emosi kekesalan agar tidak meledak-ledak, dia hampir memekikkan kata-kata pedas kepada Tiarnan. Namun, langsung menciut ketika melihat otot di rahang suaminya menegas, pria itu berniat menunjukkan kemarahan, tetapi terlepas dari ekspresi kerasnya, Likta dapat merasakan perhatian intens di kedua bola mata suaminya.


Di balik sorot mata tajamnya tersimpan rasa bimbang, Tiarnan mengembuskan napas berat. Jemari besarnya masih berada di pinggul Likta. Berjuta-juta ujung saraf mendapat sengatan gairah yang mengelegak di setiap urat nadi, seakan-akan hendak merusak sistem proteksi diri. Namun, dia berhasil pulih dan mengeras lagi. Kedua tangan pria itu kini berganti mencengkeram pinggiran meja, mengurung istrinya dengan lengan.


Masih saling tatap, kedua mata Likta mengerjap cepat, sedangkan iris mata Tiarnan bergerak-gerak. Seperti mencari sesuatu di paras ayu istrinya, yang mungkin bisa meringankan kesangsian.


“Kamu begitu menyiksaku, Likta,” gumam Tiarnan, tatapannya terasa membekukan. Tanpa tedeng aling-aling mengungkap apa yang dia pikirkan. “Sungguh seharusnya kita tak berada dalam situasi seperti ini. Aku tidak pernah merencanakan hubungan seserius ini, terlintas pun tidak. Kalau saja wanita itu bukan kamu. Andai semua tidak terjadi ....”


Andai semua tidak terjadi? Umpama aku enggak hamil, betapa bebas hidupmu, ya, kan? Kalau saja wanita itu bukan aku tetapi Violence, tentunya kamu sangat-sangat bahagia bukan? Suara pahit Likta bergema di kedalaman hati yang sulit mencuat ke permukaan.


Likta yang biasanya tidak mudah tersinggung mendadak melankolis, meneteskan air mata meski tanpa suara. Dia mendorong salah satu lengan Tiarnan, segera beranjak dari pangkuan, akan keluar dari kamar untuk mencari ketenangan. Jati dirinya harus ditarik kembali sebelum benar-benar pergi, dia tidak boleh membuka hati untuk pria mana pun.


Namun, sebelumnya Likta harus menegaskan satu hal, Tiarnan tidak boleh terus-menerus bersikap kasar tersebab merasa terancam akan kehadirannya.


Likta mengatupkan bibir rapat-rapat hingga tercipta segaris tipis. Dia memunggungi Tiarnan, tidak berniat menunjukkan ekspresi kecewa kepada suaminya. Tidak seorang pun boleh melihat betapa rapuh dirinya saat ini. “Jangan khawatir. Aku enggak berniat menggodamu, kalaupun di dunia ini hanya kamu pria satu-satunya, enggak akan kubiarkan diri ini mendekatimu. Dan, aku sangat-sangat memahami apa yang sudah tertulis di dalam surat perjanjian pra nikah.”


Kendati kaki terasa kebas, dengan langkah berat, Likta berjuang menuju Pintu keluar. Dia tidak ingin terlihat terintimidasi oleh ucapan sinis dan tatapan dingin Tiarnan.


Likta menegakkan bahu ketika menuruni tangga, melihat sekilas pantul diri melalui dinding kaca. Entah harus merasa bangga atau menyesal karena perut masih rata. Di sana terlihat sosok bertubuh ramping yang tingginya tidak sampai 155 sentimeter, raut wajahnya pun begitu muram tanpa riasan, bahkan rambut hitam sehabis bangun tidur tampak berantakan dalam gelungan asal. Mana bisa dia menyaingi wanita sekelas Violacea yang kerap keluar masuk majalah dan stasiun televisi.


“Loh, Mbak Likta belum siap-siap?” tanya Murti yang kebetulan naik ke lantai dua.


Likta terperanjat. “Mau cari udara segar, Bu. Ingin berjemur sebentar di taman.”


“Kata Mas Tiarnan semalam, Mbak Likta biasa makan buah pada pagi hari, tadi kelupaan makanya sekarang bibi buru-buru balik ke atas,” terang Murti tanpa diminta.


Likta menelengkan kepala, sejak kapan Tiarnan tahu kebiasaan langkanya? Dia melihat baki berisi semangkuk buah segera dan segelas susu. “Terima kasih, Bu. Tolong letakan di kamar aja dulu.”

__ADS_1


Murti mengangguk lantas melanjutkan langkah. Suara langkah kaki pengurus rumah itu berangsur-angsur menjauh dan Likta kembali menapaki satu per satu anak tangga menuju lantai dasar.


Semalam ketika menyendiri, Likta telah mengamati taman luas kediaman Frits melalui jendela. Jadi memutuskan untuk menenangkan diri di sana, dia duduk di sebuah gazebo. Di sekitar kanan-kiri bunga bugenvil tumbuh subur berwarna-warni. Terdapat air mancur tempat pemandian burung-burung liar, memancar tinggi kemudian jatuh ke kolam yang tidak begitu lebar.


Dari balik semak-semak kucing gemuk menyembul, dan dalam sekejap bibir cemberut Likta mengulas senyum. “Justice, sini.”


Si kucing mengeong manja, melilit kedua kaki Likta. “Sini, sini.” Segera tubuh berbulu seberat lima kilo diangkat dengan hati-hati, lalu menidurkan di atas pangkuan. “Apa kamu enggak kesepian di rumah sebesar ini?”


Dengkuran nikmat terdengar, ternyata mata si kucing telah memejam, kumis putih jarang-jarangnya sesekali bergerak. Justice mengibaskan ekornya dengan malas-malas. “Aku senang ada kamu, Justice.”


Seperti memahami perkataan Likta, Justice merenggangkan tubuhnya, berdiri tegak dengan menjilati sebelah kaki lalu mengusap mata. Lidahnya yang merah mungil membasahi hidung, lantas menengadah persis di bawah tatapan mata Likta. “Kamu lapar? Gimana bisa kamu seberat ini Justice?”


Justice mencoba memanjat bahu Likta, kedua kaki depannya berhasil meraih pundak, kepalanya menyuruk-nyuruk di bawah dagu. “Ah, terima kasih Justice.”


Seringnya berinteraksi dengan berbagai jenis hewan Likta mudah mengenali gerakan mereka, terutama seekor kucing. Justice mengedipkan matanya perlahan-lahan seolah-olah bermaksud menunjukkan rasa sayang, ia ingin memberi tahu Likta bahwa saat ini merasa nyaman.


“Mbak Likta!”


“Ada apa, Bu?”


“Ini Mas Tiarnan meminta saya mengantarkan buah ke Mbak Likta,” jelas Murti sembari meletakkan baki.


“Aku lagi enggak berselera, Bu.”


“Loh, kok, gitu?” tanya Murti. Dia mengambil si kucing dari gendongan Likta. “Wah, jarang-jarang ini gembul nemplok sama orang baru.”


“Syukurlah enggak sama kayak yang punya, Bu,” celetuk Likta, karena wajah jutek Tiarnan tiba-tiba melintas.


Raut wajah Murti berubah muram. “Sayang pemiliknya sudah meninggal.”

__ADS_1


“Maaf, aku kira Justice punya Mas Tiarnan.” Likta menunduk sedih dengan bibir mengerucut singkat.


Si kucing melompat dari pangkuan. Berjalan lambat sebab kelebihan berat badan. Pun dengan Murti yang mengarahkan kaki menuju kaleng di bawah kran air. Dia mengisi kira-kira separuh, lantas membawanya di dekat Likta.


“Justice kepunyaan Mbak Tanya,” terang Murti.


“Tanya?”


“Adik Mas Tiarnan, saya rasa seumur Mbak Likta.”


Ingin sekali Likta menanyakan perihal Tanya, tetapi tidak tahu harus memulai dari mana.


“Silakan, Mbak Likta cuci tangan dulu, biar bisa segera makan buahnya.”


“Nanti saja, Bu.”


Ketakutan sepintas terlihat di wajah Murti, wanita paruh baya itu akhirnya berkata, “Mbak Likta harus memakannya, atau saya nanti dipecat.”


“Dipecat?”


“Iya, tolong dimakan ya, Mbak Likta. Mas Tiarnan tadi marah saat saya meletakkan buah dan susu ini di kamar. Dia selalu bersikap tegas kalau menyangkut kebaikan orang-orang terdekat. Dulu waktu Mbak Tanya ngambek enggak mau makan juga, sikap Mas Tiarnan begini.”


“Oh, ya?”


“Ya, sebagai bentuk perhatian. Kadang-kadang malah Mas Tiarnan sendiri yang menyuapi Mbak Tanya kalau sedang ada di Indonesia.”


“Mereka enggak ketemu setiap hari?”


Murti menggeleng. “Mas Tiarnan itu selama ini tinggal di luar negeri. Paling pulang kalau Mbak Tanya kangen. Kalau tidak gitu sesekali adiknya yang menyusul ke Swedia.”

__ADS_1


“Maaf, gimana bisa Tanya meninggal?” tanya Likta ragu-ragu.


__ADS_2