
“Ingin memercayaiku?”
Dalam sekali kedip air mata meluncur di pipi, sesaat lalu Likta diguyur sentuhan penuh cinta, tetapi pada hakikatnya Tiarnan masih menaruh rasa curiga.
Sakit rasanya tidak dipercayai, padahal sudah terbukti melalui pemeriksaan bahwa bayi yang mendiami rahimnya berkaitan erat dengan kebersamaan malam itu.
Dan, baru tadi pagi Likta mengatakan, Jangan khawatir. Aku enggak berniat menggodamu, kalaupun di dunia ini hanya kamu pria satu-satunya, enggak akan kubiarkan diri ini mendekatimu. Dan, aku sangat-sangat memahami apa yang sudah tertulis di dalam surat perjanjian pra nikah. Namun, ini apa? Betapa bodoh dirinya, dalam upaya menjauh dari Tiarnan terbukti sia-sia, pergumulan tadi bisa dikatakan sebagai bentuk ketidakberdayaan Likta menghalau pengaruh mematikan pria itu.
Likta menatap nanar seprai yang tampak masai dan hangat. Rasa jijik terhadap diri sendiri membuatnya mual, dia segera menyentak selimut untuk membungkus badan. Dia berhambur ke kamar mandi, sengaja masuk bilik kecil berdinding kaca.
Di bawah guyuran air dingin Likta menggigil, berhasil menyembunyikan suara tangis melalui gemercik air. Dia menggosok keras seluruh tubuh, menghapus jejak tidak kasatmata telapak tangan Tiarnan. Secara kasar, dirinya mengusap bibir berulang kali.
Semua terasa percuma, Likta berusaha melawan, tetapi seluruh sistem di dalam diri berkhianat. Jantung memompa lebih cepat mengingat setiap sapaan jari-jari terampil Tiarnan, jaringan kenyal dalam tubuh berdenyut-denyut mendambakan keintiman berulang.
Tubuh Likta berguncang, kembali menangis sesenggukan hingga menyisahkan cegukan. Bersama helaan napas frustrasi, dia memutuskan keluar dari kamar mandi dan sedapat mungkin menjauh dari Tiarnan.
Sebelum pria itu bangun Likta bergegas memakai baju, berjinjit-jinjit meninggalkan kamar tidur. Dia turun ke lantai bawah, di sana terlihat dua tiga orang berlalu-lalang, bunga-bunga mawar plastik berwarna merah muda dan biru dibopong dengan lengan.
Likta secara impulsif menjauhkan tangan dari susuran tangga, pita mengilap sewarna dengan bunga-bunga menghiasi.
“Mbak Likta!”
Mata Likta langsung tertuju ke arah pemanggil. “Ya.”
“Ke mana aja? Tadi Mas Tiarnan nyariin,” ungkap Murti.
“He'eh, itu orangnya lagi di kamar,” balas Likta, “Ini ada apa, Bi Mur?”
“Loh, kan untuk acara syukur tiga bulan si baby.” Kening Murti berkerut dalam, selain tercenung atas ketidaktahuan Likta mengenai acara yang akan dilaksanakan esok hari, juga bingung kenapa mata Likta sembab. Akan tetapi, dia tidak berani bersikap lancang dengan apa yang terjadi kepada anak menantu pemilik rumah. “Mbak Likta belum makan lagi sejak tadi siang, mau disiapkan sesuatu?”
“Yang ada aja, Bi Mur.”
“Kebetulan sudah masuk waktu makan malam dan sudah Bibi siapkan di ruang makan. Tinggal tunggu Pak Frits dan Mas Tiarnan,” terang Murti tanpa diminta, “Mbak Likta bisa tunggu di sana.” Bersambut anggukan.
Ketika melintas, Justice menghampiri, berjalan malas-malasan di sekitar kaki Likta. Makhluk berbulu putih itu mengeong, seolah-olah merayu minta digendong.
“Hai, Justice.” Likta berjongkok untuk meraih kucing gemuk itu. Dia merasa beruntung Justice mau menjadi sekutunya di tempat asing ini. Di mana waktu berjalan begitu lambat, sehari dua malam berasa seabad dua tahunan.
__ADS_1
“Ya, ya, baiklah aku segera ke sana.”
Pelupuk mata Likta tertutup sebentar saat mendengar suara Tiarnan, bulu romanya meremang. Dia tidak sanggup berhadapan dengan pria itu sekarang, sebelum keberadaannya diketahui, lebih baik menjauh beberapa radius dari sang suami.
“Bi Mur! Nov!” teriak Tiarnan, langkah kakinya mantap dan tegas. “Bi Mur!” serunya beraksen geram, kemarahan berkumpul di seraut wajah yang dingin.
“Iya, Mas Tiarnan?” Murti tergopoh-gopoh menghampiri.
“Likta di mana?”
“Di—” Murti menyapukan pandangan keseluruhan ruangan. “Tadi ada, kok, sebentar biar—”
“Tidak usah, Bi, tolong sampaikan ke dia kalau saya ke Jepara.”
“Loh, Mas Tiarnan tidak makan malam dulu?”
“Buru-buru, Bi. Saya tadi juga sudah pamit papa,” jelas Tiarnan sambil lalu, alisnya berkerut dalam menandakan banyak pikiran. Sampai tidak menyadari rumah sedang didekorasi. Kejengkelan bercokol di palung hati, ketika terbangun dari mimpi manis dan tidak menemukan Likta di sampingnya. Sebagai pria, egonya tersentil.
“Pak Muh, mobil sudah siap?” tanya Tiarnan karena sebelum turun sudah memberitahu lewat telepon.
“Siap, Mas Tiarnan, mari.”
“Biar saya antar.” Pak Muh telah membuka pintu belakang, menunggu pria muda itu masuk.
“Saya berangkat sendiri, Pak Muh di sini saja, lebih mudah bila Likta ingin berjalan-jalan,” tutur Tiarnan bernada datar, biar bagaimanapun wanita itu saat ini mengandung calon penerus keluarga.
“Baik, Mas Tiarnan.”
Tiarnan pun melesat tanpa mengatakan apa-apa lagi. Dia menerobos jalan raya ambil arah utara menuju jalan Minangkabau Barat, setelahnya masuk jalur bebas hambatan.
Kini, untuk mencapai kota kelahiran pahlawan yang menjadi pelopor emansipasi wanita, dalam sejarah dikenal dengan mottonya 'Habis Gelap Terbitlah Terang' itu membutuhkan waktu tempuh selebihnya 12 jam.
Tiarnan mendirikan kantor cabang distributor di Bumi Kartini bukan tanpa alasan, tersebab kota itu terkenal dengan bahan baku furniture yang bagus, sehingga berpeluang besar meningkatkan usahanya yang bergerak pada industri ampelas.
Menilik historis sejak era ke-19 daerah kelahiran R.A Kartini ini menjadi daerah yang memproduksi mebel dan ukiran termasyur di Indonesia. Hasil karya masyarakat Jepara sudah merambah ke negara tetangga juga Eropa. Hal inilah yang mendasari pertimbangan Tiarnan.
Saat ini, Tiarnan sedang beristirahat setelah menempuh empat jam perjalanan, lebih dari yang dianjurkan dalam mengendarai mobil dalam bepergian jarak jauh.
__ADS_1
“Tambah apa lagi, Kak? Pulsa?” tanya kasir.
“Tidak, terima kasih.”
“22.200,” kata kasir seraya menyerahkan dua kopi kemasan gelas plastik.
Dengan ekspresi datar Tiarnan menyerahkan selembar uang lima puluh ribu.
“300-nya, boleh didonasikan?”
Tiarnan mengangguk sebagai persetujuan, lalu menerima bukti pembayaran dan uang kembalian. Tampang suami Likta memang seringkali terlihat murung, tetapi beraura pangeran, sampai kasir tadi sulit melepaskan pandangan darinya.
Ketika turun dari undak-undakan teras toko, ponsel Tiarnan berdering, dia pun memilih duduk dahulu di salah satu kursi bermeja bundar.
“Halo, ya, Juana?”
“Tiarnan aku tidak bisa lagi menunggu kehadiranmu, ini terlalu lama,” ungkap Juana di telinga Tiarnan.
“Apa kamu sudah bosan bekerja denganku? Atau aku yang terlalu memanjakanmu, hah?” Tiarnan sedikit kesal, kenapa seharian ini para wanita membuat emosi menurun.
“Bukan begitu, Tiarnan, ini juga untuk kebaikan kita. Harus berapa lama lagi kami menunggumu, hah? Kamu juga tidak mau bukan rencana di Jepara gagal?”
“Apa kamu sedang bersama Pak Nathan?”
“Beliau pulang lebih awal, anaknya sakit,” terang Juana, murung. “Dan, ambil cuti tiga hari.”
“Ambil cuti tiga hari? Apa sakitnya parah?” Nada suara Tiarnan tidak kalah cemas. “Kalau Pak Nathan cuti, siapa yang akan menemanimu nanti Juana?”
“Aku bisa sendiri Tiarnan, sebelumnya juga sudah pernah, kan? Mudah mendapatkan investor.”
Tiarnan menggembungkan pipi. Dia menyeruput sedikit kopi dari sedotan. “Aku tau kebakaran waktu itu berdampak buruk bagi arus kas kita, tetapi kita bisa cari jalan lain.” Dia dapat mendengar helaan napas Juana.
“Juana?”
“Ya?”
“Ajukan pencairan deposito ke bank,” perintah Tiarnan.
__ADS_1
“Tapi—”