
Likta memalingkan wajah setiap kali bertemu muka dengan Tiarnan pagi ini, dia heran ketika melihat meja dapur penuh makanan. Jelas pria itu memesan lewat aplikasi.
“Apa kamu masih sering kram?” tanya Tiarnan, lelah didiami oleh istri. “Likta,” panggilnya.
“Hemm.”
“Masih sering kram?” Tiarnan mencondongkan tubuh setelah menarik kursi lebih dekat.
“Ya.”
Spontan jemari besar Tiarnan menyentuh perut Likta dan segera ditampik olehnya. “Bukan di sana, tapi di sini!” Sambil menunjuk dada, kekecewaan tersirat.
Ada tarikan emosional yang janggal di hati Tiarnan, mengapa tiba-tiba dia merasa seperti pria paling brengsek sedunia. Dengan sorot mata menyesal dia melihat Likta asyik menikmati biskuit, sesekali mematahkan kepingan roti kering itu lantas dicelupkan ke dalam teh hangat.
Tiarnan tahu sedang berada di pihak yang salah dalam pertengkaran semalam. Dia terlampau syok mendapat penolakan dari Likta, mungkin kalau wanita itu mau bersikap selayaknya istri, semua tidak akan terjadi.
Baru kini-lah Tiarnan tersadar tidak memperlakukan Likta dengan benar, sering kali melempar bumerang. Tidak segan melontarkan penilaian paling buruk yang pertama kali terlintas di dalam benak.
Tiarnan menggeleng. “Mengenai semalam—”
Dagu Likta terangkat, biskuit yang hendak masuk ke mulut menggantung di udara. Mata beloknya seketika menyipit sekejap, waspada kalau-kalau mendapat serang fajar. Sungguh dia teramat lelah setelah menumpahkan tangis semalaman. Acuh tak acuh dia kembali melanjutkan makan sebab ucapan Tiarnan berjeda.
“Aku.” Sepatah kata terdengar dan Tiarnan lagi-lagi menciptakan kesenjangan. “Setelah aku pikir semalam.”
Lama menunggu kata-kata Tiarnan, Likta kembali menekuni biskuit. Menit berikutnya, dia menyesap teh dan begitu seterusnya sampai pria di hadapannya sanggup menyelesaikan apa yang hendak di sampaikan.
“Semalam aku sudah—” Sampai sana kalimat Tiarnan tertahan lagi, dia membalik cangkir kosong, seolah-olah bisa menemukan potongan kata di baliknya. “Aku merasa bersalah karena berkata kasar, kuharap kamu mau menerima permintaan maafku.”
“Kenapa mau bilang maaf aja susah sekali?” tanya Likta, lalu mengambil sekeping biskuit lagi, mematahkan kue kering itu jadi dua. “Kalau perkataan maaf terlalu melukai ego-mu gak perlu memaksakan.”
“Likta, please,” ucap Tiarnan, iris matanya tampak nanar, “mulai pagi ini mari belajar saling memahami. Demi bayi kita.”
Hati Likta terketuk mendengar keibaan yang terkandung dalam permohonan Tiarnan. Dia juga ingin mengakhiri semua ketegangan, tetapi ragu, apa pria itu bersungguh-sungguh? Bukan ada maksud lain. Sejauh ini emosinya tidak bisa ditebak, kadang bersikap manis, sedangkan ucapan sering kali setajam belati.
Semakin ke sini Likta berpikir mengapa Tiarnan terus saja berusaha menyakitinya dengan kata-kata pedas. Sepanjang ingat, tidak pernah sekalipun dia berlaku buruk.
Salah satu biskuit remuk tanpa disengaja, jemari lentik Likta secara impulsif menggenggam kala mengingat percekcokan tidak berdasar sejak menikah dengan Tiarnan.
“Mas Tiarnan bisa menyatukan biskuit ini seperti semula?”
“Maksud kamu?”
“Anggap aja ini hatiku, sudah telanjur hancur. Aku memang bisa memaafkan Mas Tiarnan, tetapi gak bisa lupa gimana cara pandang kamu kepadaku sebelumnya.”
“Aku tidak memintamu melupakan semua perlakuan kasarku,” ujar Tiarnan, mengulurkan tangan mengambil biskuit kemudian mematahkannya. Ujung jari tangan menyingkirkan serpihan biskuit dari Likta dan menyatukan dengan sebagian miliknya.
Tanpa memutuskan tatapan Tiarnan melanjutkan, menunduk singkat—membasahi remahan biskuit dengan sedikit air hingga menjadi adonan. Kemudian, merekatkan kedua biskuit itu.
__ADS_1
“Aku bukan dokter yang bisa melakukan pencangkokan agar fungsi hati bisa bekerja normal, tetapi yang ingin kulakukan hanya memberi sebagai hatiku untuk menggantikan hatimu yang telah rusak,” jelas Tiarnan lantas membuka stoples selai cokelat dan melumuri kue kering di tangan sampai tidak tampak retakan, penampilannya terlihat menggiurkan.
Likta berdecak kesal, lalu berujar, “Ini hati bukan biskuit! Enggak bisa segampang itu memperbaikinya. Curang!”
“Loh, aku cuma meneruskan apa yang sudah kamu mulai,” timpal Tiarnan, “tolong, jangan cemberut gitu. Kalau belum bisa memaafkan aku sepenuhnya tidak apa-apa.”
Geregetan saat meninggalkan meja makan, Likta berderap menuju kamar.
“Likta,” seru Tiarnan, mengetuk pintu. “Buka, kita jadi pergi, kan? Apa kamu masih sering kram?”
“Apa pedulimu?”
“Tentu saja aku peduli, kita akan berangkat ke Swedia besok. Aku sudah konsultasi sama Riza tadi malam dan dia tanya apa kamu masih sering kram.”
Seketika pintu kamar terbuka. “Swedia?”
“Ya, aku ada urusan penting di sana.”
“Aku gak mau ikut.”
“Loh, gimana, sih. Katanya semalam sudah memutuskan untuk ikut dengan ku?”
“Iya, tapi ke Jakarta, bukan ke luar Negeri.”
“Ini bukan penawaran, Likta, untuk sekarang kamu berkewajiban mengikuti ke mana pun aku pergi, tanpa terkecuali.”
“Apa terlalu berat bagimu ikut aku?” tanya Tiarnan, “atau kamu ada janji sama orang lain?”
“Iya,” aku Likta.
“Batalkan!”
“Gak bisa, malahan aku mau meminta izin Mas Tiarnan untuk kembali ke Surabaya setelah sebulan di Jakarta.”
“Mengunjungi Tante Farida?” tanya Tiarnan, heran.
“Itu salah satunya.”
“Berapa orang yang mau kamu temui?”
“Yang pasti tiga,” jawab Likta, jujur.
“Siapa?”
“Brielle.”
“Terus?”
__ADS_1
“Orang paling penting dalam hidupku.” Likta berujar, sekilas terlihat kesedihan dari pancaran mata beloknya.
“Seberapa penting sampai kamu berpikir aku akan memberi izin?” Tiarnan memicing.
“Sangat, sepenting tarikan napasku.” Kenangan Likta, menutup wajah singkat sebelum membalas tatapan curiga Tiarnan. Kemudian, menyugar rambut panjang yang terurai bebas.
“Berarti tidak boleh,” pungkas Tiarnan.
“Loh, kenapa?”
“Karena rencanaku, tinggal di Swedia lama.”
“Selama Mas Tiarnan di Swedia aku bisa tinggal di Jakarta,” bujuk Likta.
“Aku tidak mau kamu sendirian.”
“Ayolah, jangan konyol. Enggak akan terjadi apa-apa dengan ku di sini, maksudku selama Mas Tiarnan pergi aku bisa jaga diri.”
“Faktanya tidak begitu, Violacea bisa menemui kamu kapan saja dan mengingat cerita semalam hubungan kalian terdengar kurang baik, terutama untuk kehamilanmu,” papar Tiarnan. “Aku takut kamu kram lagi.”
“Ini sudah memasuki minggu ke 15 kalau tidak salah, jadi aman, kok.”
“No.” Tiarnan berkeras.
“Gini, deh, aku bisa tetap di Surabaya.”
“Ti. Dak!” tegas Tiarnan.
“Kenapa, sih? Kalau masalahnya cuma Violacea aku bisa menghadapinya. Lagian dia enggak mungkin kemari.”
“Salah.”
“Apa Mas Tiarnan meremehkan aku? Ayolah, aku gak selemah itu,” protes Likta.
Tiarnan merasakan sengatan kebanggaan mengetahui wanita yang dia nikahi begitu tangguh. Memang mudah sekali menangis, tetapi mampu menghadapi masalah sebesar ini.
Bayangan Tanya melintas, adiknya jelas tidak seberuntung Likta. Laki-laki itu menolak bertanggungjawab atas kesalahannya, sehingga mendesak Tanya yang malang memilih jalan pintas.
Tanpa sadar Tiarnan bergidik ngeri, secara provokatif bayangan perut Tanya yang membuncit menumbuhkan rasa sakit.
“Mas Tiarnan, kenapa tiba-tiba wajahmu pucat?” tegur Likta, maju selangkah untuk menyentuh kening, memastikan kondisi suami. Lembab dan dingin. “Ayo sarapan, setelah itu—”
“Kamu ikut denganku, no debat.”
Likta menghela napas. “Aku mau ke rumah sakit hari ini.”
“Tidak masalah, kita sekalian pamit,” tegas Tiarnan.
__ADS_1