Bertahan Sakit Berpisah Sulit

Bertahan Sakit Berpisah Sulit
Bab 034: Sampai Ajal Nanti


__ADS_3

Tiarnan melepas dua kancing teratas kemejanya, lalu menyingsing lengan. “Maksud Papa?”


“Tidak ada maksud apa-apa, hanya saja apa yang bisa kita lakukan? Membuat laporan orang hilang?” tanya Frits, karena Tiarnan tetap bungkam, dia menambahkan, “Sudahlah, nanti juga wanita itu balik sendiri.”


“Yang Papa sebut 'wanita itu' memiliki nama, Likta istriku dan menantu di rumah ini!” sergah Tiarnan.


“Dia bukan menantu yang Papa harapkan!”


“Ya, tetapi dia mengandung cucu yang sangat papa inginkan sebagai calon penerus garis keturunan dalam keluarga kita,” balas Tiarnan.


Argumentasi panas di antara bapak-anak itu membuat para pelayanan melangkah mundur, mereka menurunkan pandangan, tetapi jelas gendang telinganya masih bisa menyerap pembicaraan.


Tiarnan menopang kedua telapak tangan ke pinggang dan berbalik badan sebentar. Kemudian, menggelengkan kepala, sedikit kecewa atas kejujuran sang ayah. Dengan mata berkaca-kaca dirinya menatap pria paruh baya itu, kedua tangan lunglai di samping badan. “Suka atau tidak, Likta istriku!” Dia berhambur ke dalam mobil Frits.


“Tiarnan! Mau ke mana?” teriak Frits, tetapi sang putra tidak menggubris.


Seperti kesetanan, pria muda itu menginjak pedal gas. Menelusuri jalan pertama kali bertemu Likta tiga-empat bulan yang lalu, dalam benak dia berasumsi sang istri ada di sana. Bukankah dulu, istrinya bilang ke Jakarta mengunjungi kerabat.


Namun, tanpa sepengetahuan Likta, Tiarnan mengetahui identitas si kerabat dan tidak lain merupakan ayahnya. Sosok orang tua kejam yang menolak mentah-mentah menjadi wali nikah, menampik kehadiran putri sendiri. Agar tak berbuntut panjang, Tiarnan menyembunyikan fakta itu, takut istri sedih kalau sampai tahu.


Berselimut kekalutan, Tiarnan melerai kemacetan, dia berbelok tajam melewati tikungan. Rodanya berderit keras tatkala bersinggungan dengan aspal.


Dengan tergesa-gesa turun dari mobil, Tiarnan sudah tidak sabar untuk memboyong Likta kembali pulang.


“Selamat malam!” Tiarnan berkali-kali mengetuk pintu. “Selamat malam, Likta, kamu pasti di dalam, tolong buka pintunya!”


Masih tidak ada tanda-tanda kehidupan, pemilik rumah berlantai dua ukuran sedang itu hanya menghidupkan lampu redup ruang tamu.

__ADS_1


“Permisi! Pak Ayon, tolong bukan pintu.” Sebisa mungkin Tiarnan menarik napas secara teratur, berusaha menekan kepanikan agar tidak terlalu membabi buta. Begitu berhasil menguasai diri, dia agak terhuyung mendekati kursi.


Tiarnan mencoba menenangkan pikiran, sejauh ini tidak ada masalah yang tidak bisa dia selesaikan. Timbang mencari orang bukan persoalan besar, sebelum saling mengenal pun dia bisa menemukan Likta dengan mudah.


Jadi, kenapa sekarang Tiarnan bisa kehilangan akal? Nyawa hampir melayang karena menyetir ugal-ugalan. Apa karena tertular kepanikan orang-orang rumah tadi? Bisa jadi, karena begitu tiba dari Jepara—Murti—pengurus rumah langsung mengadukan kehilangan Likta dengan sorot mata nanar, sehingga orang di sekitarnya terbawa suasana.


Sebelum beranjak dari duduknya, Tiarnan menatap pintu rumah ayah Likta, melangkah gontai menuju mobil yang diparkir sembarangan. Menyalakan mesin dan mengemudikan lebih hati-hati.


Meski tidak sepenuhnya percaya bisa mengenyahkan kecemasan, setibanya di rumah, Tiarnan berniat menghilangkan lelah tubuh dan pikiran di bawah guyuran air hangat.


Setengah jam perjalanan, mobil bergerak perlahan sampai teras depan rumah sendiri, Tiarnan melihat Murti duduk termenung sambil menopang dagu. Wanita paruh baya itu seketika berlari menghampiri.


“Gimana, Mas Tiarnan?” Pandangan Murti tertuju ke belakang punggung suami Likta.


Tiarnan menggeleng lemah, ketika melangkah ke dalam rumah pun tidak setegas biasanya.


“Bukan urusan Papa!”


“Papa khawatir, kamu mengemudi dalam keadaan kacau.” Sang putra memandangnya dengan kesal, tetapi sebelum Tiarnan mengatakan sesuatu—Frits mengulurkan tangan. Meremas pundak pemuda itu sambil berkata, “Kalau Likta menganggapmu sebagai suami seharusnya pamit, paling tidak menunggu papa pulang. Atau titip pesan kepada salah seorang yang ada di rumah.”


Tiarnan menepis tangan ayahnya, lalu mengepalkan kedua tangan ke sisi badan. Dia berusaha berpikir jernih, menenangkan hati yang tersulut keluh-kesah.


“Tiarnan!” bentak Frits, sejak kapan putranya bertindak kurang ajar. “Likta mungkin saja merasa terpaksa menikah, dia sedang dekat dengan seorang pria. Dan ....”


Seketika, terlintas perbincangan Likta melalui ponsel pada waktu perjalanan menuju rumah sakit, di saat Tiarnan sedang mengkhawatirkan kondisi janin dalam kandungan karena sang istri sering mengalami kram, wanita itu justru menyebutkan nama Arfid. Dia menoleh cepat dari pemandangan lalu lintas, menelisik wajah sang istri yang tampak ekspresif.


Berbagai ekspresi melintas di paras sang istri, Tiarnan sendiri kurang bisa mengartikannya, sepintas terlihat bingung, keengganan, dan kesedihan semua bercampur aduk. Dia tidak tahu Arfid mengatakan apa, di lain pihak dirinya dapat mendengar Likta meyakinkan si pria.

__ADS_1


“ ... enggak, aku baik-baik aja ... jangan, jangan. Sungguh itu gak perlu, Arfid, terima kasih.”


Seingat Tiarnan, Likta menekuk wajah—seolah-olah takut kedalaman hati diketahui—dan, menurut pendapatnya, sang istri seperti tidak ingin menyinggung perasaan si penelepon.


“ ... ya. Sampai jumpa.” Begitu kata Likta di akhir perbincangan.


Dan, kini, salam perpisahan yang terlontar dari bibir mungil sang istri bagaikan lidah api membakar hati. Jadi, Likta menunggu kepergian Tiarnan terlebih dahulu sebelum menemui pria itu—menguatkan dugaan bahwa keduanya memiliki hubungan khusus.


Kekecewaan merabak kepercayaan Tiarnan yang sedang bertumbuh, tega sekali Likta berbuat begitu. Tidak merasakah wanita itu bahwa dia mulai mencintainya? Dengan susah-payah Tiarnan menelan kenyataan pahit, ini lebih sakit daripada dihujani seribu anak panah.


Saat itulah Tiarnan tersadar telah dibodohi oleh emosi yang biasa disebut orang cinta, sekarang dia harus menanggung akibatnya. Betapa perasaan itu dalam sekejap menorehkan luka. Tahu begitu, dia tidak akan mengabaikan penderitaan Tanya.


Baru kini Tiarnan dapat merasakan bagaimana sakitnya Tanya dikhianati, diduakan kekasih. Bodoh bukan main, dia mengikuti jejak sang adik, di mana prinsip yang telah dipegang selama enam belas tahun ke belakang? Hanya karena Likta mengandung, lantas keteguhan hati runtuh dalam sekejap.


Sayup kelanjutan perkataan tegas Frits, menarik Tiarnan ke masa kini. “... lepaskan saja dia. Papa yakin Violacea lebih bisa menghargaimu.”


“Aku tidak peduli!” geram Tiarnan, menolak kehadiran semua wanita. “Tidak seorang pun bisa menjauhkan ayah dari anaknya, termasuk wanita yang telah melahirkan si jabang bayi,” tegasnya lebih kepada diri sendiri.


Dengan segenap kekuasaan yang dipunya, Tiarnan bertekad mempertahankan bayi dalam kandungan Likta. Langkahnya kali ini boleh salah, membiarkan wanita itu sendiri suatu kecerobohan. Di kemudian hari dia tidak akan memberi celah sekecil apa pun bagi sang istri.


“Percaya sekali kalau Likta hamil anakmu, anak itu bahkan belum lahir,” gumam Frits tidak mengerti jalan pikiran putranya.


Bibir Tiarnan tertekuk ke bawah, dia mudah saja menerima kesangsian Frits barusan dan menolak pengakuan Likta, tetapi tidak—ini bisa menjadi babak kedua kesengsaraan orang yang berani bermain-main dengannya.


Kenekatan sang istri pergi dari rumah bagaikan bahan bakar kemurkaan, bara keinginan menyiksa dua orang yang saling mencinta berkobar di dalam hati Tiarnan.


Memisahkan Likta dan Arfid perkara mudah, apa yang bisa wanita itu lakukan kalau Tiarnan tidak mau menceraikannya. Dia bersumpah dalam hati akan mengikat Likta di sisinya sampai ajal nanti.

__ADS_1


__ADS_2