Bertahan Sakit Berpisah Sulit

Bertahan Sakit Berpisah Sulit
Bab 046: Kecemburuan


__ADS_3

Setelah seluruh kendali diri terkumpul Likta mundur, dia menoleh ke sembarang arah, tangan terulur mengambil cerek lalu menuang air lebih dari separuh gelas. Mendekatkan ke bibir, minum sebanyak pipi menampung hingga menggembung, menelan bertahap sambil menjernihkan pikiran.


Kontan reaksi Likta menimbulkan keterkejutan dalam diri Tiarnan, menyadari satu hal, bahwa dia sulit melepaskan Likta barang semenit. Wanita berparas manis ini telah merasuk sampai ke sel-sel di dalam tubuhnya, secara naluriah dirinya meraih jemari ramping sang istri.


Dengan gelisah Likta melirik tangan yang tertangkup jari besar Tiarnan dan ritme jantungnya naik berpuluh-puluh kali lipat. Detak yang memukul-mukul tulang rusuk menyesakkan dada. Hawa panas menyerbu hingga ruang terasa menyempit, dia bisa pastikan tanpa bercermin pun tahu kalau pipinya kini telah merona.


Cukup lama mereka saling memandang, ada sesuatu dalam iris mata Tiarnan yang sanggup mendidihkan darah dalam diri Likta hingga menggelenyar. Seperti dibelit benang merah, siapa pun bisa melihat keduanya saling terpikat. Namun, wanita itu dengan sikap keras kepala yang masih tersisa berpaling, menutup kelopak mata beloknya rapat-rapat.


“Likta, ada apa?”


Dengan perasaan campur aduk Likta menunduk, menahan air mata agar tidak luruh.


“Angkat kepalamu, lihat aku!” desak Tiarnan. “Kenapa?”


Begitu enggan Likta menuruti perintah Tiarnan, dengan kesal menyadari kemampuan pria itu, seseorang yang tanpa berusaha keras sanggup mendesak supaya orang lain mematuhi permintaannya.


“Enggak apa-apa, ak-aku harus berkemas,” ucap Likta, mengabaikan tatapan Tiarnan yang menusuk sampai ke ulu hati. Dia menarik tangan, mengemasi piring dan gelas kosong.

__ADS_1


Tiarnan terpana melihat kegagapan Likta, bagaimana pipinya bersemu merah membuat dia ingin berlama-lama memandang sang istri. Menyusuri lekuk rahang yang mengeras sebab kehabisan napas usai menyatukan bibir.


“Kenapa kamu berusaha menghindar, aku tau keinginanmu sama besarnya dengan ku.”


Likta menghentikan gerakan tangan yang gemetaran. “Kurasa sudah jelas, hubungan ini gak lebih dari sekadar perjanjian. Aku gak mau terbenam dalam fantasi semu.”


“Ini bukan fantasi, kamu istriku,” tutur Tiarnan lembut, kembali menarik jemari istrinya, ibu jari di punggung tangan Likta bergerakan malas-malas untuk menenangkan—atau berusaha memenangkan sesuatu. “Melayani suami itu kewajiban, kamu tidak takut dosa?”


“Dosa mana yang belum aku perbuatan? Apa yang sudah kita lakukan sebelum menikah merupakan dosa terberat, andai di Indonesia ada hukum rajam mungkin—” Mata Likta mulai terbakar, air hangat terbendung di pelupuk. Sebelah tangan yang bebas dari pegangan Tiarnan, menggenggam gelas erat-erat, bisa jadi retak kalau dilanjutkan. Dia menarik napas seraya berujar, “Aku lebih baik berakhir dengan kematian—”


“Kenapa? Bukankah sebetulnya Mas Tiarnan gak benar-benar menginginkan aku. Jika—jika pernikahan ini dihiasi hubungan selayaknya suami istri, gimana setelah kita berpisah nanti?”


Tidak biasanya Tiarnan kehabisan kata, dia selalu punya segudang jawaban untuk berbagai pertanyaan. Otak encernya tiba-tiba membeku akibat ungkapan Likta. Melihat betapa rapuh sang istri, keputusaan memancar jelas dari mata belok yang biasanya tampak ceria.


Teringat dahulu ketika menikmati pagi di area wisata paralayang, paras elok Likta tampak bersinar diterpa matahari terbit, seulas senyum tersungging di bibirnya yang mungil nan seksi, sehingga Tiarnan merasakan sesuatu meleleh di dalam diri. Berpotensi merusak segala rencana yang telah terpikir sebelum bertemu wanita berwajah menggemaskan ini.


Tiarnan ingat betul, kekaguman terselip kala menatapnya, kebutuhan yang salah mencengkeram diri begitu kuat sampai seluruh tubuh terasa tegang. Dan, buah dari kesalahan itu sedang berkembang, tumbuh di dalam perut Likta.

__ADS_1


Namun, itu nyatanya tidak cukup ampuh menghapus ingatan Tiarnan akan Tanya, kematian adik tercinta masih segar dalam ingat. Sebagian hatinya berat membiarkan Likta bahagia, sehingga menyebukan dada.


Terdengar tarikan napas Likta yang berat, dia menegakkan badan, menatap Tiarnan dalam-dalam. Kesedihan, kemarahan, dan kasih sayang berganti mengambil alih perhatian suaminya.


“Sejak semula, hubungan ini memang salah. Gak ada ketertarikan secara hati selain nafsu yang—” Derai air mata membasahi pipi Likta, hidung kecil nan bangir itu ikut merah terkena imbas bara emosi yang meluap.


Likta tersengguk sebelum kembali berkata, “Apa yang telah terjadi, secara pasti telah menjungkirbalikkan dunia kita. Mas Tiarnan dari kalangan atas, sedangkan aku—enggak pantas masuk di ranah kehidupanmu.”


Seperti mencari kekuatan yang berhamburan di udara, Likta terdiam sejenak. Keringat dingin mencuat dari pori-pori telapak tangan, dia memejam sebentar kemudian berujar, “Aku sedang memahami posisiku, Violacea lebih berhak —dia dan Mas Tiarnan sudah ditakdirkan bersama—kehadiranku yang tiba-tiba merusak segalanya. Aku ingin mengakhiri sandiwara ini, lelah rasanya berperang dengan perasaan yang ujungnya membawa pada titik perpisahan.”


“Hanya aku yang bisa memutuskan siapa yang lebih dan tidak berhak menjadi bagian dalam hidupku!” dengkus Tiarnan. “Enak aja mau berpisah sebelum waktunya, apa kamu lupa isi perjanjian itu?”


Likta tersentak dan seketika itu Tiarnan menyesali kalimat yang keluar tanpa pikir panjang. Tersebab panik akan kehilangan kendali atas diri wanita ini, dia masih ingin menahan Likta di sampingnya. Untuk selamanya karena alasan yang pasti di awal, menjauhkan sang istri dari pria lain.


“Enggak sama sekali, tetapi dalam kurun waktu lima tahun itu, gimana bisa aku berbagi dengan orang lain? Terakhir kali perbincangan bersama Pak Frits, Violacea menyatakan kesediannya menjadi istri kedua.”


Anehnya gelombang kegembiraan menerpa Tiarnan, menganalisis maksud Likta yang menjurus pada kecemburuan, tidak mau membagi dirinya dengan orang lain. Lalu, hilang ke mana perasan sang istri terhadap Arfid? Kenapa bisa begitu mudah berpaling?

__ADS_1


__ADS_2