
Lain tempat, lain persoalan, setelah menempuh perjalanan kurang lebih 12 jam, Tiarnan tiba di Jepara.
Sesuai dugaan, kantor cabang yang semestinya siap huni belum rampung. Salah satu orang kepercayaan tangan kanan Tiarnan membawa kabur dana yang lumayan besar. Sungguh nasib sedang tidak berpihak kepadanya kali ini.
“Gimana bisa, Ga?”
“Sorry, banget, Tiarnan,” sesal Gangsar bernada muram. “Selama kerja denganku dia tekun dan jauh dari kata enggak dapat dipercaya.”
“Sudah kamu telusuri penyebabnya?”
“Kontrakan dia kosong, kata tetangganya pergi pakai taksi tadi pagi,” terang Gangsar.
“Buat berita acara mengenai masalah ini!” ucap Tiarnan tegas penuh wibawa, dia menjatuhkan punggung ke sandaran kursi, lantas mendongak sambil memijat pangkal hidung.
Tidak seharusnya Tiarnan meninggalkan acara penting di rumah, di satu pihak tidak bisa mengabaikan laporan dari salah satu orang kepercayaannya.
Selama memegang ribuan karyawan belum pernah Tiarnan memberi gaji di bawah upah minimum kabupaten, bahkan dengan adanya premi hadir dan uang makan serta biaya transportasi bisa dikatakan lebih besar dari seharusnya.
Setengah jam kemudian Gangsar masuk ke ruangan, pria itu meletakkan map merah transparan di atas meja.
Tiarnan mengembuskan napas kasar lalu menyambar map berisi berita acara. Dia membaca laporan itu dengan cermat, pipinya menggembung singkat. Di sana tertulis bahwa si pelaku bermain secara bertahap, tidak begitu kentara karena memakai sistem gali lubang tutup lubang dan tanpa terasa lubang itu menjadi besar serta dalam, sehingga tidak bisa ditambal.
Bagi Tiarnan uang segitu nominal kecil, tetapi karena ditusuk dari belakang-lah yang terasa menyakitkan. Dia ingin tahu alasan di balik perbuatan orang itu. Jadi, ketika Gangsar mengusulkan agar masalah ini dibawa ke jalur hukum dia menolak. Tidak ada gunanya, toh, uang tidak akan kembali.
“Sebaiknya kamu makan dulu, Tiarnan,” bujuk Gangsar, sebab setibanya dari Jakarta sampai sekarang bosnya itu belum terlihat memakan sesuatu.
“Sudah tadi di perjalanan.” Tiarnan berdiri dari duduknya, dia memunggungi Gangsar seraya berujar, “Aku mau data lengkap orang itu segera.”
Mendengar perintah yang demikian tegas Gangsar bergegas, tidak sampai sepuluh menit dia kembali. “Silakan.”
“Hemm.” Tiarnan membaca sekilas. “Kamu boleh pergi.”
“Kalau membutuhkan apa-apa, aku ada di ruangan,” ucap Gangsar sebelum hengkang.
Tiarnan tidak menjawab maupun menganggukkan kepala, pikirannya bercabang ke mana-mana. Kalau saja tempurung otaknya buatan tangan manusia sekiranya sudah meledak sejak lama.
Enggan menggunakan pihak berwajib bukan menjadi pembatas Tiarnan untuk bergerak lebih jauh, dia lebih percaya kawan lama dalam urusan penyelidikan. Biarlah sementara waktu kasus Likta dan Tanya ditangguhkan dahulu.
“Halo—” Tiarnan hilir-mudik di seputaran ruangan. “Aku ada kerjaan lain, tolong cari tau keberadaan orang yang barusan datanya ku kirim ke kamu.”
Samar terdengar sahutan dari seberang. “Beres, mau paket apa?”
“Sialan!”
__ADS_1
Tawa membahana terdengar, hingga Tiarnan menjauhkan ponsel.
“Mau tau kabar terbaru?”
Hening.
Dan, itu artinya Tiarnan mau pernyataan bukan pertanyaan.
“Pria itu terlihat ke rumah Likta satu kali dan ke tempat kerjanya dua kali. Dia anak dari pemilik klinik,” papar orang di seberang, “Karena Likta sekarang sedang bersamamu—jadi, aku tidak bisa tau seberapa dekat mereka.”
Senyap.
“Hah, dan, aku sendiri heran, kenapa pula kamu menikahinya? Bukankah niat awalmu ingin menghancurkan wanita itu? Namun, setelah kupikirkan ulang, ini pasti trik supaya kamu bisa menggerogotinya dari dalam hingga tidak bersisa.”
Tiarnan mendadak bisu, seperti orang yang terjangkit tumor lidah, susah bicara. Hubungan barunya ini bagaikan tebak-tebak buah manggis, belum tentu berakhir manis. Lebih-lebih setelah wanita itu turun dari tempat tidur sebelum dirinya bangun, seakan-akan ingin menujukan kedekatan mereka bukan apa-apa.
Tidak ada yang spesial, kebutuhan itu bangkit begitu saja. Mereka ingin melebur dalam gelora asmara bukan karena saling cinta. Keduanya orang dewasa normal yang membutuhkan pelampiasan, tidak lebih.
“ ... jadi ada apa dengan orang ini? Kamu hanya membutuhkan lokasinya, kan? Halo ... halo ... Tiarnan!”
“Ya, aku mendengarkan.”
“Sialan! Kamu kira aku orang bodoh?”
“Informasi yang kamu butuhkan akan aku kirim dalam waktu kurang dari satu jam.” Sambungan telepon pun terputus.
Dari balik pintu kaca setinggi dua setengah meter seseorang mengetuk pintu.
“Masuk.” Tiarnan melongo sekilas melihat penampilan wanita tinggi semampai itu, rok hitam ketatnya berada jauh di atas lutut. Bahkan ketika membungkuk saat mengambil kertas yang jatuh, kerah berpotongan rendahnya terlalu banyak memperlihatkan yang seharusnya tersembunyi dengan rapi.
“Ada beberapa dokumen yang perlu Anda setujui,” katanya bernada menggoda.
Bahu datar Tiarnan mengedik, sembari memerintah. “Tinggalkan saja dokumennya di sana!”
“Baik, Pak, apa Anda membutuhkan sesuatu? Kopi, teh?”
“No, trims,” ucap Tiarnan lantas mengibaskan tangan, seakan-akan mengusir lalat. Akan tetapi, sebelum wanita itu mencapai pintu dia memanggil. “Kamu—siapa namamu?”
“Nihan.”
“Bisa panggilkan Gangsar?”
“Tentu, ada lagi Pak?”
__ADS_1
Sebagai laki-laki normal, Tiarnan tahu arti tatapan Nihan. Namun, semaksimal mungkin menindas perasaannya agar tidak menyimpang, dia akan dihantui rasa bersalah andaikata melayani perasaan yang tidak pada tempatnya. Kendatipun, Likta hanya istri sementara.
“Pak~” Suara Nihan lembut, merayu.
“Tidak ada, cepat panggil Gangsar!” tegas Tiarnan.
Mendengar perintah beraksen bentakan Nihan hampir lari tunggang-langgang. Tidak menduga bahwa bos mudanya memiliki tekanan darah tinggi.
Tiarnan menggeleng-gelengkan kepala melihat wanita itu keluar dari ruangan dengan ketakutan. Dan, belum sampai lima menit Gangsar masuk.
“Ya, ada apa Tiarnan?”
“Duduklah,” pinta Tiarnan yang kini sedang duduk di sofa. “Karyawan wanita di sini tidak punya seragam?”
“Seragam?”
“Ya, aku mau karyawan wanita memakai seragam lebih sopan, ini kan kantor, bukan klub malam.”
Mata lebar Gangsar memicing, baru tahu maksud dari pemerintah atasannya. “Kukira di Swedia lebih banyak wanita berpakaian seperti Nihan.”
“Come on, Ga. Ini Indonesia you know. Sakit mataku melihatnya.”
“Halah, matamu yang sakit atau takut tertarik?”
Tiarnan mengulas senyum sambil mengusapkan punggung jari telunjuk ke garis bibir. “Istriku mau dikemanakan?”
“Aku enggak nyangka kamu gagal menikah sama model itu, wanita seperti apa yang bisa menaklukkan hati sang pertapa?” kelakar Gangsar.
Angan Tiarnan melambung tinggi, menjemput sang bidadari pujaan—tetapi, buru-buru pengusaha muda itu menghapus bayangan wanita cantik berparas belia yang selalu hadir tanpa diminta.
Di tengah-tengah lamunan ponsel Tiarnan mengejutkan. Dia pun membaca pesan yang masuk, lalu menatap tegas Gangsar. “Ikut aku sekarang!”
“Ke mana?”
“Orang kepercayaan mu,” sahut Tiarnan.
“Kamu menemukannya?” Gangsar terperanjat takjub, cepat sekali Tiarnan melacak keberadaan orang itu, sedangkan dirinya menemukan jalan buntu. “Apa yang akan kita lakukan padanya?”
“Lihat aja nanti.”
Dari Jakarta sampai Jepara Tiarnan nyaris tak mengistirahatkan badan, rasa capek pun seolah-olah segan menghinggapi.
Namun, selama perjalanan kurang lebih dua jam kali ini Tiarnan habiskan untuk tidur, dia butuh menghemat energi untuk kembali ke Jakarta dengan segera. Tentu setelah masalah di sini selesai, suami Likta paling tidak bisa menganggap remeh persolaan yang terjadi di dalam lingkaran bisnisnya.
__ADS_1