Bertahan Sakit Berpisah Sulit

Bertahan Sakit Berpisah Sulit
Bab 045: Hidangan Penutup


__ADS_3

Selagi Tiarnan mandi Likta menyiapkan nasi dan bumbu khas rumahan, diberi tambahan sayur. Tidak terlupa telur ceplok yang menambah cita rasa spesial.


Awang melirik sinis ke arah Likta, berkata ketus, “Sekali angkat kaki dari rumah ini jangan harap bisa kembali!”


Likta menjengit sesaat mendengar ancaman suami Farida, dia sudah pasrah menerima konsekuensinya setelah mengambil keputusan.


“Makan dulu, Om.”


Awang melewati Likta tanpa mengatakan apa-apa, pria itu sudah siap keluar dari ruang tengah, mengenakan jaket berbahan kain tebal dan kuat biasa digunakan sebagai bahan pembuatan celana.


“Om mau ke rumah sakit, kan?”


Sekali lagi Likta tidak diacuhkan, akhirnya wanita hamil itu mengikuti Awang sampai ke depan. Dia merasa bersalah sudah menyebabkan kekacauan. Kalau saja Tiarnan tidak datang—benarkah dia bisa tenang—atau sebenarnya mengharapkan kehadiran ayah dari si bayi.


“Om Awang.”


“Urus aja suami sombongmu itu! Aku dan Farida gak butuh balas budi darimu,” bentak Awang hingga Wiwik tetangga sebelah yang kebetulan lewat menoleh.


Sebagai tetangga dekat wanita itu tidak tahu kabar pernikahan Likta, bisa-bisa dia menjadikan ini bahan pergunjingan warga setempat.


“Apa? Malu mengakui kebobrokan sendiri?” sindir Awang telak di hati Likta, pria itu tersenyum puas melihat mata keponakannya berair. “Dari dulu bisanya cuma nangis!”


“Demi apa pun, ibumu pasti menangis di dalam kubur sebab punya anak lo*te macam kamu!” cerca Awang. “Mempermalukan nama baik keluarga, benar kata Ayon kalau kamu itu pembawa sial!”


“Cukup, Om!” teriak Likta dengan suara parau, secara asal mengusap derai air mata di kedua pipi. “Mulai sekarang Om gak perlu khawatir, aku gak akan jadi beban keluarga ini lagi. Terima kasih sudah bersedia mengurus Likta sedari kecil. Maaf kalau Likta enggak pernah bisa membanggakan kalian.”


Dengan langkah gontai Likta masuk ke rumah, membasuh muka banyak-banyak agar air tak lagi jatuh. Bahu ringkihnya berjingkat saat berusaha menahan tangis, menyisakan sesenggukan. Membesut ingus yang mendesak keluar dari hidung, dia tidak boleh terlihat menangis di depan Tiarnan. Pria itu tidak boleh melihat sisi terapuh dalam dirinya.


Nasi goreng telah terhidang begitu Tiarnan selesai mandi, Likta sibuk menyiapkan piring, sendok dan gelas.

__ADS_1


“Aku kira beli di luar,” kata Tiarnan begitu keluar dari kamar mandi, “Kamu biasa masak?”


Likta berusaha menghindar dari pengamatan pria itu. “Gak selalu, kalau Tante lagi capek aja, tapi ini layak konsumsi, kok.” Dia menyakinkan.


“Mata kamu merah, habis nangis?”


Likta menengadahkan tangan, mengambil alih handuk dari Tiarnan. Akan tetapi, telapak besar suami mencengkeram pergelangan. “Karena bawang,” elaknya, pegangan pun perlahan dilepaskan, lantas melangkah ke tempat sempit untuk menjemur pakaian persis di sampai kamar mandi, yang dibedakan dengan pintu kaca transparan.


Usai menyampirkan handuk Likta kembali ke dalam, menggeser pintu hingga rapat agar nyamuk-nyamuk tidak ikut masuk.


“Apa pria itu menyakitimu?” desak Tiarnan masih tidak yakin dengan pengakuan istri.


“Om Awang? Enggak, tadi buru-buru pergi jadi gak sempat ngobrol.” Senyum ceria tersemat di bibir Likta.


Tiarnan sudah duduk di salah satu kursi meja makan, menatap Likta sambil menopang dagu. Rambut lembabnya sedikit menutup kening, wajah yang sudah cakep dari lahir jadi bertambah keren.


Melihat Tiarnan dalam mode santai begini berisiko memicu serangan jantung, Likta berusaha tampak biasa-biasa saja, padahal ingin kabur supaya perasaan tetap stabil. Tersebab masalah dengan Awang tadi cukup mengganggu pikiran, dia takut kalut dan mengharapkan belas kasih seseorang.


“Cukup.”


“Gimana kabar Pak Frits?”


“Papa baik,” jelas Tiarnan, jeda ketika menyantap nasi goreng. Mengunyah beberapa kali dan menelannya sebelum berkata, “Justru Justice yang sedikit—”


“Si gembul sakit?” potong Likta, sorot mata beloknya menampilkan kesedihan. “Gak doyan makan? Kurang enerjik?”


Tiarnan menggeleng dengan bibir mencebik. “Kurasa kucing itu merindukanmu, kata Bi Mur, setiap hari mondar-mandir di depan kamar.”


“Eemm, jadi enggak sabar pingin ketemu,” ucap Likta bernada sendu.

__ADS_1


Mata Tiarnan menyipit, dia meletakkan sendok ke atas piring lalu bertanya, “Berarti kamu setuju ikut dengan ku?”


“Ya, aku sudah memikirkannya tadi, mestinya aku enggak boleh egois, ini juga demi kebaikan si kecil.” Renung Likta, sembari menuang air mineral ke dalam dua gelas kaca ukuran sedang, kemudian minum seteguk. “Bolehkah aku bertanya?”


“Ya, katakan.”


“Maaf banget, aku tadi sengaja mendengarkan pembicaraan kalian.” Likta terlihat menarik napas, kemudian melontarkan pertanyaan yang sedari tadi terpikir. “Gimana bisa Mas Tiarnan tau sumber keuangan Om Awang, dan siapa wanita yang Mas Tiarnan maksud?”


“Menurutmu penting?”


“Sangat, karena sebelumnya Om Awang bilang gak ada uang, karenanya aku harus menjual motor.” Likta menggeser kursi untuk diduduki. “Dan enggak mudah mencari pembelian dalam waktu singkat, sehingga Tante terlambat mendapat pertolongan. Aku merasa gak berguna.”


“Kenapa gitu? Lagian itu bukan kewajibanmu,” ucap Tiarnan, “Aku akan mengungkapkan sedikit kebenaran, tetapi setelah menyelesaikan makan malam.” Tiarnan menyuapkan sesendok penuh nasi goreng ke mulut.


Dalam kesenjangan yang canggung Tiarnan mengamati cara makan Likta yang begitu lahap, anehnya terasa menggiurkan dan sangat intim. Sebelumnya makan malam berdua dengan seorang wanita tidak meninggalkan kesan, tetapi amat berbeda apabila berlangsung bersama istri.


Memesona, pipi ranum Likta yang menggembung di satu sisi terlihat menggemaskan. Bergerak dalam alur lambat pada setiap kunyahan, mata belok berbulu lentiknya berayun penuh daya tarik.


Telapak tangan Tiarnan tiba-tiba terulur, mengusap pelan pipi putih Likta yang selembut sutra dengan ujung jari. “Maaf, ada ....”


“Blepotan?” Dengan kiku Likta mengusap bibir menggunakan punggung tangan, berusaha membersihkan serpihan makanan. “Sudah hilang?”


“Masih, di sana.” Tunjuk Tiarnan, lalu berujar, “Bukan, bukan, sedikit ke kanan.”


Wajah bingung Likta yang menampilkan keluguan menggelitik hati, supaya lebih mudah Tiarnan memangkas jarak. Dia ingin menghilangkan serpihan fiktif dengan bibir, memang sejak tadi hanya tipuan. Tidak ada yang salah dengan cara makan Likta. Namun, karena saking terpesonanya sampai susah mengendalikan diri.


Berkeinginan menjalin persentuhan mesrah, demikian dekat hingga Tiarnan dapat melihat iris mata kecokelatan Likta. Pelupuk yang terbuka lebar seakan-akan menyedot diri semakin dalam, tenggelam bersama angan-angan percintaan.


Berhenti atau ini akan berlanjut di atas meja berukuran mini, menjadikan Likta hidangan penutup malam ini.

__ADS_1


Manis, mustahil! Lebih dari itu, meleleh di dalam mulut, cocok untuk mengatasi peradangan. Gelora menyulut bara di jiwa, rahang Tiarnan mengeras, mengulum tekstur selembut yupi.


__ADS_2