Bertahan Sakit Berpisah Sulit

Bertahan Sakit Berpisah Sulit
Bab 036: Sudah Tidak Sayang 'kah, Mama Arima?


__ADS_3

Dinginnya angin malam kian meresap sampai ke tulang, satu per satu pengunjung meninggalkan taman kota.


Tepat di bawah lampu hias taman berpendar kekuningan duduklah seorang pria dan dua anak remaja, salah satunya tampak bersandar sambil terkantuk-kantuk. Satu lainnya sesekali terlihat menyapukan padangan, seakan-akan menantikan kehadiran seseorang.


Suhu rendah tidak menggoyahkan kaki panjangnya yang ramping dalam balutan celana pendek, tetapi dari caranya menaikan resleting jaket bertudung dan menurunkan lengan panjang menunjukan bahwa mencari kehangatan. Namun demikian, remaja itu masih terlihat energik.


“Tiarnan!”


Remaja yang sedari tadi berjalan ke sana-kemari itu pun berhenti. “Ya, Pa.”


“Sudah berapa kali kamu berkeliling taman?”


Ditanya begitu Tiarnan membuka penutup kepalanya, menatap mata Frits sekilas. Lalu, melihat kaki sendiri yang sedang berantukan dengan lantai beton terus-menerus dalam kekuatan ringan. Pipi tirusnya menggembung dan mengempis berkala.


“Mau sampai kapan kamu meminta Tanya dan papa menunggu?” Frits menoleh sebentar ke arah putrinya, arus udara menerbangkan sulur anak rambut yang dibiarkan tergerai. Dia meraih ujung topi jaket si putri tidur guna mencegah angin agar tidak menyentuh kulit.


“Sabar dikit lagi, lah, Pa,” pinta Tiarnan optimistis.


“Ini sudah larut malam, kamu mau Tanya sakit?”


Tiarnan menggeleng, sembari menghembuskan udara perlahan dari pipi yang menggembung, lantas berujar, “Gini aja, Papa sama Tanya pulang dulu, biar Tiarnan yang tunggu.” Dan, begitu mendapat menggeleng tanda tak setuju dia berjongkok, memberi tatapan paling mengibakan supaya memperoleh simpati. “Please, Pa.”


“Keras kepala,” dengkus Frits. “Waktu itu bisa saja hanya imajinasimu, kamu belum bisa menerima kebenaran.”


“Sesuatu yang bersifat imajinatif tidak mungkin bisa menyentuh, Pa. Tiarnan hafal sekali kelembutan tangan Mama, wanginya Mama. Semua begitu nyata, memang ada. Saat itu Mama mengajak dua anak kecil kira-kira berumur tiga tahunan.”


Mata Frits melebar, ekspresinya berubah datar cenderung garang. Menggertakkan gigi geraham hingga urat nadi di sekitar rahang menonjol. “Orang yang sudah mati tidak mungkin hidup kembali, Tiarnan! Siap atau tidak kamu harus bisa menerima!”


“Kapan, sih, Papa percaya sama Tiarnan?” Remaja itu kontan berdiri menantang di depan ayahnya, pupil mata tampak lebar dan mengeras. “Karena belum bisa menerima kebenaran, bukan berarti sulit membedakan nyata dan ilusi.”


Beberapa orang sekitar yang kebetulan melintas menoleh sekilas akibat keributan kecil itu, Frits mengembuskan napas kasar. Membuang muka ke kejauhan, dia sudah lelah seharian bekerja, sekarang masih dituntut sabar menghadapi sikap cekang Tiarnan.

__ADS_1


Daripada waktu dan bibit masalah berlarut-larut Frits pun mengambil keputusan. Mengalah untuk menang tidaklah susah. Dia berharap bisa menggiring sang putra ke arah yang lebih positif.


“Oke, kalau kamu berkeras,” ucap Frits, “Papa beri waktu kamu untuk membuktikan, hanya sampai lulus sekolah, kalau gagal—kamu harus menuruti semua perkataan Papa—melanjutkan jenjang SMA ke Swedia.”


“Oke, deal!”


“Satu lagi,” kata Frits.


“Banyak banget,” gerutu Tiarnan, menghempaskan diri dengan keras ke atas gundukan tanah berumput, menilik ekspresi sang ayah jelas terlihat mempersiapkan persyaratan sulit.


Remaja itu terlalu hafal karakteristik Frits yang seperti air, emosinya begitu tenang, tetapi berkekuatan besar, mampu mengguncang pondasi lawan sekalipun terpancang dalam ceruk samudra.


“Terima atau tidak sama sekali?”


“Oke, deh.” Tiarnan menegakkan punggung, menopang kedua lengan di atas lutut. Dia terlahir dari benih sang ayah bukan? Jadi, sedikit banyak mewarisi kekuatan itu juga.


“Kehilangan nilai nol koma saja, papa anggap gagal.”


“Ya, ampun, Pa, militan banget. Nol koma aja dihitung.”


Darah seakan-akan lenyap dari paras Tiarnan, merasakan ketidakadilan. Seperti halnya bumi mengelilingi matahari, roda selalu berputar, begitupun seseorang. Tidak selamanya berada di atas awan, pada lain kesempatan pastilah mencicipi kerasnya tanah.


“Gimana kalau nilai Tiarnan tetep, tapi teman-teman yang tambah pintar?” ungkap Tiarnan tanpa berniat menunjukkan kegusaran.


“Ya, tingkatkan belajarmu.”


Frits tidak pernah meragukan kecerdasan Tiarnan. Lebih membanggakan lagi, para guru menyarankan sang putra mengambil kelas akselerasi. Entah bagaimana anak itu selalu mendapat juara satu paralel sejak menginjak bangku sekolah.


Tiarnan mengdengkus, beranjak dari duduk. Lagaknya seperti orang dewasa sungguhan, mondar-mandir sampai kepala ayahnya pusing.


“Aduh, lamanya,” gerutu Frits pura-pura bosan.

__ADS_1


Mendengar ucapan sang ayah, langkah kaki Tiarnan berhenti. Dia menggembungkan pipi sambil memutar bola mata. “Ya, ya, Papa menang,” ucapnya seraya menjabat tangan.


“Anak laki-laki papa nyerah?”


“Tiarnan terima tantangan, Papa.”


“Nah, gitu, dong. Masa belum perang sudah melakukan gencatan senjata.”


Bibir merah muda alami Tiarnan mengerucut, sudut matanya menciut, terang-terangan memperlihatkan rasa curiga.


Namun, Frits mengabaikannya. Paling tidak bisa menolak kesempatan emas, dia yakin sekali bakal memperoleh kemenangan dalam artian lebih luas, memiliki anak yang berkualitas.


“Deal, laki-laki tidak boleh ingkar janji.” Frits mengulurkan tangan, menarik Tiarnan, lantas menepuk punggung yang kini sedang berada di pelukan. “Ayo, besok kamu boleh ke sini lagi.”


Tanya yang tidur di sandaran kursi taman menggeliat, kelopak matanya mengerjap-ngerjap. Karena masih mengantuk berat jadi menguap. Dia menyapukan pandangan ke sekitar. “Mama mana?”


“Tidak datang,” jawab Tiarnan.


“Kakak bohong, ya?”


“Tentu aja tidak, hanya—mungkin Mama ada halangan, jadi tidak ke sini.”


Frits cukup melirik tanpa berminat menimpali, sudut bibirnya menurun singkat saat menemukan kesedihan di mata Tanya. Dia tidak tau harus bagaimana menyakinkan putra-putrinya tanpa menyakiti hati mereka.


Ketiganya pun memutuskan pulang, sebab besok anak-anak harus sekolah, sedangkan Frits sendiri perlu bekerja keras demi menstabilkan keuangan.


Tiarnan tenggelam dalam pikiran, dia teramat merindukan dan membutuhkan ibu. Apa yang dikatakan ayah tidak sepenuhnya salah. Dirinya memang belum bisa menerima kenyataan yang ada. Seiring bergulirnya waktu, justru semakin memperdalam rasa rindu yang hadir sampai-sampai kewalahan menghadapinya.


Terkadang ketidakmampuan menahan harapan ingin bertemu hati Tiarnan bagaikan tersayat sembilu. Terlebih-lebih setelah satu kali bertemu ibunya, selalu mempertanyakan kenapa wanita yang telah melahirkannya segitu gampang mencampakkan dia dan adiknya.


Sudah tidak sayang 'kah, Mama Arima? Batin Tiarnan di balik sedu sedan tertahan, dia bersikap selayaknya laki-laki tangguh, mengingat pesan ibu, sesakit apa pun tidak boleh mengeluarkan air mata.

__ADS_1


Katanya, bagaiman bisa menjaga Tanya kalau Tiarnan sendiri terlihat lemah. Dan, dia selalu memegang perkataan sang ibu. Akan tetapi, ibu tetap pergi dan tidak kembali. Apakah kesalahannya? Kenapa tidak diingatkan dengan cubitan saja?


Tiarnan remaja berusaha teguh, meski kepercayaan diri kian lama kian runtuh.


__ADS_2