Bertahan Sakit Berpisah Sulit

Bertahan Sakit Berpisah Sulit
Bab 009: Sama Datarnya


__ADS_3

Tengah malam di kamar hotel kelas bintang tiga kala itu, Likta hilir-mudik dari jendela ke dekat tempat tidur, suhu tubuh Tiarnan tidak juga menurun. Dia kembali duduk di dekat meja dan mengambil handuk kecil, meletakkan ke kening pria itu dengan hati-hati.


Likta menggigit bibir bawah, alis tipisnya melengkung seperti payung, kecemasan terlihat pada raut wajah yang sama lelah. “Aduh, panasnya, kok, belum turun, ya.”


Masa minum obat pertama sudah lewat empat jam, Likta bermaksud memberikan satu tablet lagi, siapa tahu yang kedua manjur. Detik demi detik berlalu, dia tak sadar mulai memejamkan mata. Sampai menit selanjutnya merasakan pergerakan.


Syukurlah, Tiarnan saat itu sudah mulai sadar, tidak lagi merintih dalam igauan. Sambil menguap Likta bertanya dan betapa terkejut atas sambutan tiba-tiba yang terdengar menggelikan. Tiarnan mengaku membutuhkannya alih-alih obat.


Entah sadar atau tidak, jemari Tiarnan menarik Likta hingga jatuh ke atas tubuh hangatnya. Kepanikan menerjang, Likta benar-benar takut atas apa yang terjadi berikutnya.


Selama beberapa saat Likta meronta dalam cengkeraman Tiarnan, matanya berkilat penuh amarah, dadanya naik-turun seirama dengan napas yang tersengal sebab rasa panik menerjang.


Ingin sekali menjerit, tetapi suaranya lenyap terendam mulut hangat Tiarnan. Likta mencengkeram bahu pria itu, lalu mencoba memalingkan wajah, hingga melemah tanpa daya. Penerimaan yang belum pernah dia rasakan sebelumnya, dengan perlahan Tiarnan mengubah posisi. Kini, tubuh berat dan hangat menghimpitnya.


Sentuhan keras bibir Tiarnan menenggelamkan Likta jauh ke ceruk keingintahuan. Sensasi luar biasa asing melumpuhkan pertahanan diri, membombardir dengan ledakan yang tak pernah terbayangkan sebelum.


Setiap gerakan lembut jari-jemari Tiarnan penuh tuntutan, menuntun Likta pada mahligai keindahan surga dunia. Kelembutan indra perasaan yang mendesak bibir, sebanding dengan rayuan pulau kelapa. Untuk pertama kalinya tak bisa mengontrol diri, tersesat dalam setiap gerakan Tiarnan.


Seolah-olah terhipnotis, Likta pun menyerah juga. Ini hal tergila, dia memberikan kesuciannya dengan suka rela, bahkan kebutuhan primitif mengalir deras hingga darah di urat nadi mendidih, tubuhnya menginginkan lebih.


Likta mengucapkan permohonan sambil terisak. Dalam gerakan teratur, tetapi canggung, Likta dan Tiarnan menuju titik paling mengejutkan. Dan, saling mengeratkan pelukan. Tidak sampai sekali, mereka mengulang lagi.


Hal terbodoh yang paling Likta ingat adalah ketika mengatakan kepada Tiarnan bahwa dia akan baik-baik saja. Apa yang terjadi bukan hanya kesalahan salah seorang, tanpa arus timbal-balik pergumulan itu tidak mungkin terlaksana.


Selama ini, Likta tidak pernah merasa aman dan nyaman bersama pria, tetapi dengan Tiarnan rasanya sungguh berbeda. Seperti sudah ditulis sejak 50.000 tahun lalu, bahwa keduanya ditakdirkan bersama, terikat di dunia sampai akhirat.

__ADS_1


Keesokan paginya, Likta membuka mata, dengan pandangan kabur menelisik setiap sudut kamar. Tiada orang di sisinya, mungkinkah Tiarnan betul-betul menganggap semua merupakan hubungan sepintas lalu?


Dengan rasa sakit yang begitu asing di antara pangkal paha, Likta menurunkan kaki dari tempat tidur, rambut serta bajunya tampak kacau meski jelas-jelas lengkap.


Terdengar ketukan pintu, sedikit terhuyung Likta mengarahkan kaki ke sana. Mengintip melalui lubang, petugas layanan kamar berdiri sambil memegang troli.


“Permisi,” katanya.


Dengan suara serak Likta menyahuti, “Ya, tunggu sebentar.”


Petugas hotel itu masuk begitu dipersilahkan. “Ada surat untuk Anda.”


“Dari siapa? Apa pria yang datang bersamaku?” tanya Likta waswas.


“Bukan, seorang wanita yang mengirimnya.”


“Tidak, dia hanya memintaku untuk memberikan kepada Anda,” terang petugas hotel.


“Apa kamu melihat pria bersamaku semalam keluar? Kamu tau di mana, ke mana?”


“Maaf, saya tidak tahu.”


“Eemm, gimana dengan sisa biaya reservasinya? Total semuanya berapa?” Likta berusaha tetap tenang meski hatinya terguncang.


“Wanita itu yang melunasi semua, apakah Anda membutuhkan sesuatu? Ada yang ingin Anda tanyakan lagi?”

__ADS_1


“Enggak, enggak ada, terima kasih,” cicit Likta, lalu menutup pintu begitu petugas hotel keluar. Gemetaran saat membuka amplop berisi uang dan tiket kereta jurusan Surabaya. Pria asing itu membayarnya untuk kencang satu malam, tetapi bukannya dia orang tak punya.


Apa yang kamu harapkan Likta? Bahwa pria itu juga tertarik kepadamu? Bodoh! Dia hanya ingin menidurimu, lihat sekarang, kamu ditinggalkan, cemooh suara hati Likta.


“Diam!!!” teriak Likta.


Likta bergegas ke kamar mandi, menyiram air ke kepala dengan baju masih melekat di badan. Berasumsi sisa-sisa noda tidak kasatmata luruh seketika, dia menggosok keras bagian-bagian tubuh yang disentuh tangan Tiarnan. Walau menghabiskan tenaga membersihkan diri, mustahil peristiwa semalam hilang dari ingatan.


Dua jam lamanya Likta menghabiskan waktu di kamar mandi. Ambil napas panjang melalui hidung, tahan, embuskan perlahan lewat mulut. Lakukan lagi, tarik napas, tahan, embuskan. Ayo, coba sekali lagi, Likta membutuhkan lebih dari ini untuk menenangkan diri. Meditasi, dia butuh itu.


Saat keluar dari kamar mandi, Likta mengerahkan seluruh energi kedua kaki untuk menopang tubuhnya yang menggigil. Berusaha mencapai pinggiran tempat tidur, kemudian duduk tertegun di sana. Mencoba untuk menguasai kewarasan, meski ruangan serasa berputar.


“Semua akan baik-baik saja, tidak apa-apa, berpikir logis. Bertahanlah!” monolog Likta. Meski belum pernah kehilangan kesadaran, dia tidak membutuhkan dokter untuk mengetahui kondisi jiwanya sekarang. Dengan masih gemetar, dia berganti baju kering.


Ketenangan lambat-laun Likta rasakan. Dia mengambil segelas air mineral dan meneguk habis isinya. Untuk ke sekian kali, dia mengambil napas dalam lalu mengeluarkan perlahan. Mengambil posisi untuk merenungkan kesalahan yang telah diperbuat.


Ketika bermeditasi tubuh menjadi lebih rileks dan hanya berkonsentrasi pada latihan, pelan-pelan dapat menyingkirkan masalah yang amat rumit. Dengan latihan mengolah pikiran, dia menjadi lebih terbuka dan lapang dada menerima kenyataan saat ini, juga dengan segala kondisi yang mungkin berubah dalam hidupnya kelak.


Bersamaan dengan tarik dan embusan napas, Likta menghempaskan rasa tak tenang dan harap-harap cemas. Apa pun yang telah dan akan terjadi nanti, dia tidak ingin mengalami depresi.


Sekitar lima belas menit, perasaan kacau Likta mulai membaik, suasana hatinya pun menjadi lebih tenang dibandingkan sebelumnya.


Kilas balik peristiwa itu menghantam Likta bagai martil besar, menyedot seluruh kekuatan pada dirinya. Tiba-tiba dia merasakan nyeri punggung dan kram perut. Secara defensif, meraih balik lengan Tiarnan.


“Maaf, aku enggak bermaksud—” Melihat wajah Tiarnan berselimut mendung, Likta menelan kembali kalimat yang hendak terlontar. Dia melepaskan genggaman lantas duduk di kursi dekat meja bundar. Semoga dengan begini kram di perutnya mereda, sehingga bayi mereka baik-baik saja.

__ADS_1


“Kamu oke?”


“He'eh,” balas Likta sama datarnya.


__ADS_2