Bertahan Sakit Berpisah Sulit

Bertahan Sakit Berpisah Sulit
Bab 041: Kehilangan Dirimu Terlalu Cepat


__ADS_3

Selama empat hari Tiarnan telah menyemai emosi kemurkaan, memikirkan prospek spektakuler untuk menggertak wanita itu agar berpikir seribu kali sebelum menyusun rencana meninggalkannya.


Tiarnan berusaha konsentrasi dengan tujuan datang, memberi perhitungan yang tak sanggup terlupakan. Tiga detik mencari, sorot mata tajam bak elang mendarat persis di bagian punggung wanita, dari tempatnya berdiri pun tahu bahwa itu Likta. Istrinya tampak belia dengan rambut terikat longgar dan tersampir di bahu kiri. Tidak banyak perubahan pada bentuk tubuhnya, wanita itu tampak begitu rapuh.


Ketika menatap punggung sempit Likta, segenap bentuk amarah yang berpusat di hati Tiarnan musnah. Jejak ketidakpedulian di awal seolah-olah terhempas angin kerinduan, segala macam niat buruk lenyap dari benak.


Fakta ini sudah ada sejak perjumpaan pertama, ketidakmampuan Tiarnan mengelak daya tarik Likta. Satu-satunya kelemahan yang tidak mungkin dia izinkan berkembang dalam jangka panjang, karena berpotensi kuat merusak seluruh jaringan hati.


Tidak, Tiarnan melarang jatuh ke lubang yang sama. Cukup sudah bersikap lembut terhadap Likta, dia harus membentuk pertahanan baru guna menghalangi pengaruh wanita itu terhadapnya.


Seperti ada benang merah yang tidak kasatmata, Likta menoleh ke arahnya, tertegun hingga Tiarnan duduk di kursi depan. Selera makannya pun hilang, melihat itu, perasaan protektif naik drastis. Tak mau bila bayi di dalam perutnya kurang asupan makanan.


Bentuk tubuh Likta sudah bisa dijadikan tolok ukur perkembangan ibu dan si bayi. Umumnya seiring berjalannya waktu berat badan wanita hamil makin bertambah, dan ini seperti tidak berlaku terhadap istrinya.


Puji syukur, ternyata hanya dengan berkata tegas Likta mau menghabiskan nasi beserta lauknya dalam waktu singkat.


Tiarnan sengaja mengunci tatapan pada Likta seorang. Meski menyadari beberapa pasang mata mengawasi, dia acuh tak acuh. Bahkan ketika sang istri memperkenalkannya dengan seseorang, siapa peduli.


Yang Tiarnan mau hanya membawa Likta ke suatu tempat bersamanya, menjauhkan wanita itu dari pria lain yang mungkin—merupakan kekasihnya—Arfid.


Brengs*k, Tiarnan mengumpat dalam hati, kenapa Likta? Kalau saja yang dimaksud Tanya bukan wanita ini pasti jauh lebih mudah, atau paling tidak berhubungan dengan si Arfid saja.


Kepercayaan Tiarnan terhadap janin di dalam perut Likta kian menipis, tetapi niat untuk mempertahankan keduanya makin besar. Perset*n dengan motif di baliknya.


“Sudah,” tanya Tiarnan kemudian mengulurkan tangan.


Likta mendongak, melempar tatapan bingung, bibir serupa pita itu mengerut sebentar sebelum menciptakan garis tipis, seakan-akan menahan napas, dia mengembuskan udara dari hidung keras-keras.


“Apa—”

__ADS_1


“Berdiri.” Tiarnan memotong ucapan Likta dengan bisikan, “Beraninya pergi selagi aku tidak di rumah!” Dia mencondongkan tubuh hingga bibirnya menyentuh cuping telinga Likta.


Tiarnan tidak menyadari perilakunya membuat pipi Likta merona, seperti tersengat hawa panas dari puncak kepala, sehingga ujung kaki di balik sepatu menekuk. Detik itu juga si wanita merasakan tenggorokan kering, dia mengedut saliva dengan gugup.


“Ayo!” Tiarnan menggeram tak sabar.


Dengan intens Tiarnan tidak melepaskan pandangan dari mata belok Likta, hingga tak sadar jemari lentik terselip di antara genggaman tangan, sang istri patuh ketika dituntun keluar dari warung tenda.


Layak Tiarnan acungi jempol ketangkasan Likta dalam mengikuti langkah lebarnya sejauh ini. Sebab pengalaman lampau tidak bisa dikatakan lebih ramah, menembus hutan belantara dengan alasan kaki lebih kecil dan mengimbangi kecepatan seorang petualang.


Likta menatap sekeliling, menurut perkiraan Tiarnan, sedang mencari keberadaan mobil. Namun, wanita itu memilih bungkam alih-alih bertanya.


Sebagai penyalur apa yang ada di pikiran istrinya, Tiarnan menjelaskan. “Aku pakai motor, besok ada orang yang akan menjemput ki—”


Perumpamaan ‘kita’ yang memiliki makna lebih intim, sebagai satu kesatuan yang saling terhubung, secara tidak langsung Tiarnan rasa sudah tidak lagi cocok. Padanan dua orang berbeda, dalam versi sederhana tetapi berpengaruh besar dalam konteks khusus itu lebih mengena bila dua orang saling mencintai. Dan, sayang hubungannya dengan sang istri tidak begitu, bahkan jauh dari keakraban.


Likta mendongak, memandang Tiarnan sebelum mengajukan sesuatu. “Tunggu—”


Dalam sekali lirikan Tiarnan dapat mengintimidasi lawan bicara, dan rupanya berpengaruh juga kepada Likta, hingga merasakan jemari lentik itu mengeratkan pegangan, istrinya tertunduk ketika turun dari bahu jalan.


“Apa hukuman yang pantas bagi istri meninggal suami?” tanya Tiarnan sembari menurunkan pijakan motor agar Likta bisa naik dengan mudah. “Apa kamu sudah mendapat pencerahan mengenai ayah asli bayi itu?”


Kernyit muncul di antara alis tipisnya, Likta mundur selangkah dan menjalin lengan di depan perut. “Ayah asli? Kamu masih—” Dia hempaskan tangan lantas mengusap wajah kasar. “Kalau sudah tau kenapa ke sini?”


“Kenapa aku ke sini?” Tiarnan menendang pelan penopang samping motor dengan ujung kaki. Dia pura-pura berpikir keras, kemudian berkata lirih sambil melirik sinis, “Sejujurnya ingin sekali aku menerima fakta bahwa bayi itu bukan anakku, tetapi setelah dipikir ulang, menjadi duri dalam dagingmu lebih menyenangkan.”


“Ternyata orang seperti mu memiliki sisi pemikiran yang dangkal!” sarkas Likta, dia berpaling, jalan meninggalkan Tiarnan.


Bergegas menghidupkan mesin motor, Tiarnan menjalankan kendaraan roda dua itu dengan perlahan. “Berhenti dan naik sekarang!”

__ADS_1


“Pulanglah, kalau gak ada keperluan di sini.”


“Naik. Sekarang!”


Berbalik badan dengan cepat, Likta menelengkan kepala. Berada satu tingkat lebih tinggi membuat tatapan keduanya sejajar, dia sadar bahwa pria di hadapannya ini akan selalu menjadi orang asing. Bukan tipe pria atau seseorang yang diharapkan mengisi ruang kosong di hati.


“Jangan uji kesabaranku, Likta!” Rahang Tiarnan mengeras ketika mengatakan itu.


Senyum hambar tersemat, Likta melempar tatapan ke kejauhan, mengamati laju kendaraan pengguna jalan lain. Harus dia akui bahwa Tiarnan salah satu orang paling tidak berperasaan yang telah masuk di akal. Atau pria paling sulit ditebak jalan pikirannya.


“Ayolah, kamu tidak mau mengucapkan salam perpisahan kepada Tante Farida sebelum pergi?”


Riak di wajah Likta seketika berubah, perdebatan tak berfaedah ini terlalu menyita waktu dan merusak jadwal yang telah disusun rapi.


“Tunggu apa lagi?” desak Tiarnan.


Likta sengaja menelan keheranan untuk bertanya nanti, kemunculan Tiarnan yang tiba-tiba terlalu misterius dan tidak terduga. Pria ini bisa berada di mana-mana dalam waktu singkat, baru kemarin melihatnya tampil di acara peresmian yang berlangsung di Jepara. Dan, sekarang sudah berada di Surabaya untuk menindasnya. Tak salah kalau pria itu disamakan dengan jin.


Dengan enggan Likta naik di belakang Tiarnan, menempatkan diri paling ujung jok motor.


“Agak maju.”


“Moh!”


“Maju atau tidak bergerak sama sekali?” hardik Tiarnan.


“Ribet banget, sih!”


“Semua ini kulakukan karena aku tidak mau kehilangan dirimu terlalu ce—pat.” Ucapan Tiarnan memelan di bagian akhir.

__ADS_1


__ADS_2