
Violacea cemberut, tetapi binar matanya menyorotkan kebahagiaan. Bagaimana tidak, menurut informasi yang didapat dari salah satu pengurus rumah Frits, Likta sudah tiga hari menghilang dan Tiarnan berhenti mencarinya.
Violacea melihat Tiarnan melalui sudut mata, tidak peduli perasaan pria itu sekarang seperti apa, yang penting tindakannya sudah berada satu langkah di depan.
Akan tetapi, lama-kelamaan geram juga. Dengan mendayu-dayu Violacea merajuk, “Astaga, Tiarnan. Apa bersamaku begitu membosankan?”
“Apa aku harus pura-pura senang bersamamu?” Tiarnan tidak menutupi rasa enggannya berada di dekat wanita pilihan Frits. Dia memutar bola mata jengah.
Jemari lentik Violacea menutup mulut dengan anggun saat tertawa menanggapi keterusterangan Tiarnan, begitu berhasil menguasai diri dia mengulurkan tangan—telunjuknya menelusuri rahang pria itu singkat. Kemudian, meletakkan tautan kedua telapak tangan ke atas paha berbalut gaun pesta berwarna silver.
“Apa seperti ini caramu memperlakukan wanita?” tanya Violacea, dia menatap lekat pria idaman hatinya itu.
Dada berkemeja biru laut Tiarnan mengembang dan mengempis perlahan. “Ya, khususnya wanita sepertimu.”
“Auh, sakitnya,” sahut Violacea memasang wajah masam yang dibuat-buat, “Ternyata rumor yang beredar selama ini benar.”
Tiarnan menaikan sebelah alis, mengusapkan punggung telunjuk ke tepi bibir lalu berdecak. Dia meraih gelas kaca berleher panjang, sedikit menggoyahkan cair berwarna merah di dalamnya. Lantas menandaskan minuman itu dengan sekali teguk.
Karena kail tidak juga disambar, Violacea menambahkan. “Sedikit sekali wanita yang berhasil menjadi teman dekatmu, padahal hanya dengan menjentikan jari aja pada baris tunggu giliran. Yah, itu juga yang menjadi alasan terbesarku. Sudah gak sabar melanjutkan rencana pernikahan kita yang tertunda gara-gara wanita si—”
“Sudah ngocehnya?” Tiarnan beranjak dari duduk, meletakkan gelas kosong hingga membentur meja cukup keras sampai dua orang di belakang menoleh. Dia menjauh tanpa menunggu jawab Violacea.
“Tiarnan!” seru Violacea, dia mendengkus keras-keras karena kesal.
Pria itu sudah jalan bersama Gangsar, bercakap-cakap mengenai perkembangan bisnis di Swedia.
Sementara, acara puncak sebentar lagi akan dimulai, para tamu undangan berbondong-bondong mendekati pintu kaca raksasa. Pinta merah besar dihubungkan dari tiang gedung sebelah kiri dan kanan.
Fritz memberi sambutan singkat, lalu Tiarnan memotong tumpeng dan diberikan kepada sang ayah. Violacea yang berada di sisi pengusaha muda itu tersenyum cerah, seakan-akan sudah menjadi bagian keluarga.
Para kru dari beberapa stasiun televisi maupun majalah membidikan kamera, mengabdikan momen peresmian kantor cabang pengusaha sukses termuda se-Asia itu. Dan, sebentar lagi merambah ke kancah dunia. Karena dia tidak hanya merajai industri abrasif, tetapi juga berbagai furnitur, perhotelan, dan pengolahan real estate.
__ADS_1
Usai gunting pita, Violacea mencari kesempatan untuk mendaratkan pipi kanan-kirinya ke pipi pria itu. “Selamat, ya, Tiarnan.”
“Apa yang kamu lakukan?” hardik Tiarnan dengan suara rendah, cepat-cepat menjauh, seolah-olah Violacea membawa penyakit menular. Namun, demi menjaga kesopanan, dia tetap mempersembahkan senyuman ke arah kamera.
Gemuruh tepuk tangan undangan membahana di seantero negeri melalui putaran siaran langsung. Tak ayal kemeriahan itu disaksikan seorang wanita jauh di luar kota, tentunya dalam mode bisu.
Dinding-dinding putih yang melingkupi koridor itu terkesan dingin, ditambah lagi dengan suasana yang begitu sunyi. Hanya sekali waktu terdengar langkah kaki dan roda menggelinding di atas lantai keramik.
Kesenyapan terkadang dipecah raungan sirine mobil ambulans yang membawa pasien gawat darurat. Sebagian besar menggantungkan hidup kepada tangan-tangan terlatih sebagai perantara Sang Maha Pencipta.
“Gimana, sudah bisa menghubungi suamimu?” pertanyaan bernada lembut Brielle menyentak ketertegunan Likta. Wanita bermata sipit itu meneguk teh botol sambil melihat ke mana arah pandang sang teman.
“Belum,” jawab Likta, lesu, dia menyeruput susu kotak sebelum mengalihkan mata dari layar televisi dan menoleh ke sumber suara. “Susah, aku sudah tinggalkan nomor telepon kepada salah satu stafnya. Mungkin dikira aku nipu makanya gak disampaikan.”
“Atau mending kamu balik aja ke Jakarta,” usul Brielle.
“Trus Tante Farida gimana?”
“Suruh jaga anaknya aja.”
Dokter menyarankan agar Likta terus mengajak Farida yang terbujur koma berkomunikasi, sebagai bentuk rangsangan terhadap kinerja otak. Sebab itulah, dua hari ini setiap pulang kerja dia menyempatkan diri menjenguk Farida.
“Ini, kan, bukan tanggung jawabmu,” geram Brielle lebih kepada kerabat Likta. “Tante Farida punya suami, punya anak. Kok, sampai hati membebankan semuanya ke kamu.”
“Aku enggak merasa kalau ini beban, yang aku tau, Tante Farida sudah seperti ayah sekaligus ibuku.” Kenang Likta, menurut cerita tetangga, dia dirawat mulai bayi merah sampai bisa menjaga diri sendiri oleh adik mendiang ibunya. “Lagian aku enggak bisa terus-terusan bolos kerja.”
“Kapan, sih, kamu berhenti mikirin orang lain?”
“Pertanyaan macam apa itu?” Likta mengulum senyum mendengar tutur kata Brielle, seraya menghabiskan sisa susunya lantas berujar, “Jelas enggak bisa, Bri. Kita ini makhluk sosial, gak bisa hidup sendiri. Semut aja berkoloni.”
“Mending kalau orang yang kita pikirkan bersikap sama,” gerutu Brielle.
__ADS_1
Likta terkekeh lembut. “Ya cuma satu kuncinya, ikhlas. Udah sesimpel itu.”
“Ta?”
“Heemm.”
“Gimana pernikahanmu?” tanya Brielle.
“Gimana apanya?”
“Ya itu, kamu pergi tanpa kabar gitu, kok, suami diam aja,” dumel Brielle, seraya menambahi, “Arfid yang bukan apa-apa aja terus-terusan nyari kamu.”
Sekilas raut wajah Likta tampak mendung. “Mas Tiarnan, kan, orang sibuk. Ah, sudahlah jangan bahas itu. Kamu gimana sama Calvin?” Mengalihkan topik.
Brielle tersipu, pipi tembamnya jadi semerah tomat. “Seminggu lalu dia lamar aku.”
“Selamat ya, Briii.” Kontan Likta memeluk teman baiknya.
“Datang ya, pas acara resminya.”
“Pasti.” Suasana kembali senyap, Likta teringat acara peresmian kantor Tiarnan, hatinya bergetar tak nyaman. Dari layar kaca paras suaminya tampak bahagia, senyum tersungging di bibir yang biasanya selalu murung.
Namun, bukan itu sebab hati Likta tak enak. Dia mendesah, rasa cemburu meretih hingga ke sanubari. Betapa serasi Violacea bersanding dengan Tiarnan. Makin membuatnya merasa tidak pantas menuntut lebih, lantaran tahu pasti akan berakhir seperti apa perasaannya nanti.
Keduanya memang berada di dalam satu kapal dan berhenti di dermaga yang sama, tetapi setelah berlabuh ada dua tempat yang di tuju. Tiarnan mempunyai juntrungan, mengarungi bahtera rumah tangga bersama orang terkasih, sedangkan Likta kembali hidup sebatang kara.
“Hai,” tegur Brielle, mengelus pundak Likta. “Kamu gak apa-apa, kan, aku tinggal?”
“He'eh, trims ya udah mau antar ke sini,” ucap Likta.
“Sama-sama, santai aja,” sanggah Brielle, lantas mengeluarkan ponsel. “Aku harus pulang, kalau ada apa-apa telepon, ya.”
__ADS_1
“He'eh, hati-hati.”
Likta segera masuk ke ruang rawat Farida, duduk perlahan di samping kanan sembari mengusap lembut punggung tangan.