Bertahan Sakit Berpisah Sulit

Bertahan Sakit Berpisah Sulit
Bab 016: Rivalnya


__ADS_3

Persis! Untuk apa Likta mengetahui jadwal kegiatan Tiarnan? Namun, demikian hatinya serasa diremas-remas dan terasa begitu menyakitkan sampai yang dilihat hanya kegelapan mendengar pernyataan pria itu. Lalu, apa arti perhatian suaminya tadi, dia menarik napas gemetar, menahan kemarahan karena dianggap tidak penting. Seolah-olah, Tiarnan mengibarkan bendera perang pada setiap kesempatan. Untuk menutupi perasaan, Likta mempersembahkan senyum kikuk. “Memang enggak penting juga aku tahu, karena aku harus tetap tinggal, kan? Lagian di sana nanti aku malah merepotkan.”


Mata belok Likta mulai mengabur karena air mata, sebelum luruh, dia pamit undur diri lebih dahulu. “Aku—aku permisi, Bapak, Ma-mas Tiarnan.”


Mestinya, Likta tidak terlalu larut dalam perasaan, perhatian di mobil dan dapur sesaat lalu hanya formalitas. Bentuk simpati karena kerapuhan yang tanpa sengaja dirinya tunjukkan, itu menarik Tiarnan secara kemanusiaan, bukan dorong dari hati karena rasa suka.


Fakta bahwa Likta tidak bisa menggantikan posisi Violence sudah sangat jelas, mungkin Tiarnan merencanakan keberangkatan ke Jepara dengan model papan atas itu. Ya, itu pasti, pun seminggu ini tidak pulang ke apartemen sudah barang tentu sedang bersama mantan calon tunangannya.


Membayangkan kedekatan Tiarnan dengan Violence membuat jantung Likta berdenyut nyeri. Apalagi setelah melahirkan nanti, dia akan merana tanpa anak serta suami. Dia tidak lagi punya tempat bernaung, sebab pantang baginya menerima harta dari Tiarnan setelah perceraian.


...***...


Namun, di balik prasangka itu, Likta tidak tahu bahwa Violence pun tidak bisa menjamah hati Tiarnan, sehingga merencanakan sesuatu untuk mengambil apa yang nyaris dia miliki. Berbagai cara dicoba oleh model terkenal itu, termasuk mencari tahu asal-usul Likta. Berharap bisa dijadikan alat untuk menekan Likta yang dia anggap sebagai rivalnya.


Violacea terbang dari bandara menuju alamat yang didapat dari orang suruhannya. Kini, pesawat sedang membelah khatulistiwa menuju bandar udara Juanda. Dari sana dia menggunakan jasa transportasi melalui salah satu aplikasi hijau.


“Enggak ada tempat lain gitu?” tanya Arysha polos, pasalnya asal ikut saja diajak Violence.


Violacea acuh tak acuh sambil tancap ulang riasan di wajah, meski tidak tampil di depan kamera penampilan harus yang diutamakan.


“Ceaaa!!!” seru Arysha seraya mengguncang bahu model papan atas itu. “Tujuan wisatanya ke mana? Kita enggak ada jadwal pemotretan di Surabaya, loh.”


“Lagian siapa pula yang bilang tamasya atau ada kerjaan, kita ke sini itu mau menemui orang,” ucap Violacea enteng, mengabaikan keterkejutan di paras menejernya. “Aku sudah enggak sabar ingin tau seperti apa, sih, wanita yang Tiarnan nikahi.”


“Kamu serius, Cea? Ya ampun, terus kalau udah ketemu mau ngapain?”


“Ya minimal kasih pelajaran ke dia supaya menjauhi Tiarnan.”


“Wah, sakit kamu ya?”


“Apa, sih, Ar? Karena aku sehat bisa sampai sini.” Violacea menoleh sekitar, dia ada janji dengan orang suruhannya di sekitar lokasi tidak jauh dari tempat tinggal Likta. “Masih jauh ya, Pak?”

__ADS_1


“Sepuluh menit lagi, kok, Mbak.”


“Nih, aku kasih tau! Secara logika, Tiarnan enggak mungkin bersama istrinya tinggal di sini,” tutur Arysha seraya menghempaskan punggung ke kursi.


“Memang, tapi di sini tempat dia tinggal, Ar. Pasti kita bisa menemukan cara supaya wanita perebutan laki orang itu pulang.” Violacea begitu yakin kalau Likta bakalan kembali ke tempat asal.


“Dengan cara apa?”


“Udah, deh, Ar. Ikut aja, nanti juga tau gimana.” Mobil berhenti di salah satu rumah makan, Violacea segera mengenakan kacamata hitam dan masker.


Setelah melakukan pembayaran, keduanya turun. Udara di Surabaya dan Jakarta memang tidak terlalu berbeda, sama-sama berpolusi dan panas setengah mati. Sambil kipas-kipas dengan jari, di balik kacamata, Violacea mencari keberadaan seseorang. Senyum tersungging di bibir saat melihat pria duduk di salah satu sudut rumah makan itu.


“Nah, itu dia.”


“Siapa?”


“Orang, udah, ah, jangan bawel ikut aja.” Kaki jenjang Violacea beranyun menuju ke tempat orang itu.


“Hai!”


“Hai, sorry, aku enggak bisa lama-lama,” pungkas Violacea.


“Oke.” Pria itu mematikan putung rokok ke asbak, kemudian melangkah lebih dulu, diikuti kedua wanita asal Jakarta itu.


Sebuah mobil tidak terlalu mewah menunggu di parkir, sedikit menaikan status pria itu di hadapan Violacea. Udara panas tertinggal di luar begitu masuk ke kendaraan roda empat itu.


“Untuk sampai ke rumah wanita itu berapa jam?”


“Paling lima belas menit kalau enggak macet. Dan, aku sudah bilang kalau selama mengawasi, wanita itu enggak pernah kelihatan,” papar pria tersebut, sembari mengoperasikan kemudi.


“Iya, enggak masalah, kita akan tau setelah sampai sana.”

__ADS_1


Mobil melaju lambat selama kurang lebih tujuh belas menit, selisih dua menit dari perhitungan pria tadi.


Mereka tiba di depan pelataran rumah sederhana berpagar hijau tua. Violacea sudah menduga bahwa wanita yang mengaku-ngaku hamil anak Tiarnan tak berpunya.


“Ini rumahnya?”


“Yah, seperti yang kubilang, dia tinggal bersama om dan tantenya. Mau masuk sekarang?”


“Lebih cepat lebih baik.”


Ketiganya turun dari mobil, kemudian si pria mengetuk pintu pagar besi. Jendela ruang tamu itu tersingkap sedikit sebelum seorang pria keluar dari daun pintu yang terbuka.


“Pak Awang, ya?” celetuk si pria.


"Ya, kalian siapa?” tanya Awang, merasa tidak mengenal tamu-tamunya.


“Boleh kita masuk, Pak?”


Sembari memicing, Awang membuka pintu gerbang, mengawasi satu per satu sang tamu dari atas sampai bawah. “Temannya Likta?”


Meski berat hati, Awang mempersilakan para tamu duduk. Lalu, menyuguhkan segelas air mineral dalam kemasan. “Ada perlu apa ke sini?”


Dari arah gorden pembatasan ruangan yang tersingkap, Farida ke luar, dia melihat tamu-tamu dengan alis berkerut. Sejak awal firasatnya sudah tidak enak. Dengan bahasa isyarat, dia bertanya kepada Awang, tetapi tidak mendapat jawaban, sehingga memilih duduk di salah satu kursi yang tersisa.


Tanpa ba-bi-bu lagi, Violacea angkat bicara, menanyakan keberadaan Likta. Akan tetapi, yang dicari-cari tidak pulang ke rumah sudah lebih dari sepuluh hari. Dengan geram, dia pun memprovokasi Awang agar memaksa Likta pulang. Sebagai imbalan, dia memberikan sejumlah uang dan diterima dengan senang hati, beda dengan Farida yang menolak mentah-mentah sebab bersyukur keponakannya menikah dengan orang terpandang.


“Dik, kamu masuk dulu sana, biar aku yang urus ini!” perintah Awang, sebab Farida bersikukuh tidak setuju.


“Mas,” desah Farida, tetapi segera meciut begitu mendapat pelototan dari sang suami.


Pembicaraan mengenai Likta pun berlanjut, karena tidak mengetahui keberadaan Likta di mana, Violacea menyuruh Awang mencari tahu sendiri, sebab sejak kejadian itu pun Violacea belum pernah bertemu lagi dengan Tiarnan, dia berasumsi pria itu punya tempat tinggal sendiri tanpa sepengetahuan Frits.

__ADS_1


“Baiklah, Pak Awang, itu tadi baru DP. Begitu kamu sudah menemukan dia, aku akan berikan lima kali lipat.”


__ADS_2