Bertahan Sakit Berpisah Sulit

Bertahan Sakit Berpisah Sulit
Bab 025: Ibu Pengganti


__ADS_3

Sepulang dari periksa kandungan, Tiarnan langsung mengantarkan Likta ke rumah. Seperti biasa, pria itu tidak mengatakan akan pulang jam berapa. Bahkan kali ini tidak repot-repot turun dari mobil untuk mengantarkan.


Likta masuk ke rumah megah itu seorang diri, melangkah pendek-pendek sambil merenungkan pertemuan Tiarnan dengan wanita di taman rumah sakit. Perubahan raut wajah sang suami memang tidak seberapa terlihat, tetapi matanya tampak lebih murung dari biasanya.


“Mbak Likta sudah pulang,” sapa Murti yang kebetulan lewat.


“He'eh. Oiya Bi—di mana Justice?”


“Mungkin berkeliaran di belakang, lagi ngecengin cewek sebelah,” terang Murti, disertai kikikan geli.


“Bi Mur ada-ada aja,” balas Likta, hendak menghambur ke lantai atas.


“Kalau bosan, Mbak Likta bisa baca-baca di ruang perpustakaan,” ujar Murti yang sepertinya memahami perasaan Likta. “Atau Mbak Likta mau makan siang dulu?”


“Boleh.”


“Gimana dengan hasil pemeriksaannya? Cewek atau cowok?” Pengurus rumah itu meraih lengan Likta, membimbing istri anak majikannya menuju tempat yang dimaksud.


“Dia ngumpet, Bi, selebihnya baik.”


“Alhamdulillah, tadi Mas Tiarnan telepon.”


“Oh, ya?”


“Mbak Likta enggak tau? Kirain bibi, tadi pas telepon Mas Tiarnan sama Mbak Likta lagi sama-sama.”


Likta menggeleng sebagai sanggahan.


“Mas Tiarnan bilang Mbak Likta enggak boleh banyak pikiran,” papar Murti.


Senyum tersungging, sedikit tersanjung atas perhatian Tiarnan, meski sadar itu bentuk kepedulian yang diberikan karena dia mengandung garis keturunannya. Memang apa yang bisa Likta harapkan? Lebih dari itu, hanya mimpi di siang bolong. Ibarat kata ingin mengambil bulan tangan tak sampai.


“Mbak Likta!”


“Ya?“


“Tunggu di ruang makan aja, biar bibi ambilkan.”


“Aku makan di dapur aja, Bi.”


Murti tersenyum simpul, lalu menarik kursi untuk Likta. “Apa Mbak Likta menginginkan sesuatu buat makan siang?”


“Boleh makan mi instan?”


Keinginan Likta membuat wanita setengah baya itu menggaruk kepala. “Waduh, bibi kurang tau. Kalau bisa ya jangan.”


“Gitu ya, Bi?” Likta melihat Murti mengangguk.


“Atau mau mi buatan bibi aja?”


“Iya, mau.” Raut wajah Likta kembali berbinar.

__ADS_1


Dengan gerakan terlatih Murti mempersiapkan segalanya, dia selalu menyediakan mi basah untuk bahan dasar mi ayam khas mang-mang gerobak dorong. Akan tetapi, soal rasa dan kehigineisan tidak perlu diragukan lagi, kelas bintang lima.


Setelah menunggu sedikit lama, akhirnya mi buatan Murti jadi juga. Aroma rempah yang menguar begitu menggoda lidah.


“Heeemm, sedap,” seru Likta dengan mata terpejam sebentar.


“Silakan dicoba.” Murti bergaya selayak peserta masak-masak di salah satu stasiun televisi, seolah-olah gugup menanti penilaian dewan juri.


Jemari lentik Likta dengan anggun mengerahkan sendok ke bibir, lalu menyeruput kaldu berempah-rempah kekuningan. Sekali lagi mata beloknya menutup, begitu menikmati makanan yang tersaji cantik. “Oh, ya ampun mantul tiada banding,” ungkapnya bersamaan dengan membuka mata. Rasa puas akan hasil racikan pengurus rumah itu terpancar.


“Syukurlah sesuai dengan selera Mbak Likta.”


“Tentu saja, seenak ini. Enggak mungkin ada yang menyangkalnya,” aku Likta sambil memasukkan sesuap penuh mi ayam.


“Mbak—aduh, hampir salah sebut. Ah, sudahlah enggak ada orangnya ini.” Sambil tertawa Murti berkata, “Mbak Violacea pernah memuntahkan mi-nya. Dia bilang murahan.”


Bibir mungil Likta cemberut singkat. “Benarkah? Mungkin dia lagi enggak enak badan waktu itu, jadi rasa enaknya tersamarkan dengan pahit.”


“Mungkin, ha-ha-ha, tapi aku enggak peduli juga, karena yang terpenting bapak sekeluarga suka,” timpal Murti sembari berangan.


Dalam sekejap semangkuk mi ayam pindah ke perut wanita hamil itu, sambil menutup mulut Likta berserdawa lirih. “Alhamdulillah. Terima kasih, Bi.”


“Sama-sama,” balas Murti, “Loh, Mbak Likta udah taruh saja biar bibi yang cuci.”


“Enggak apa-apa, Bi. Habis masak seribet ini pasti Bi Mur lelah.”


“Nanti bibi diomelin Mas Tiarnan,” ucap Murti, padahal jarang sekali para majikannya marah.


Sambil berbincang banyak hal, kedua wanita itu sudah sampai di ruangan berdaun pintu ganda. Rupanya perpustakaan ada di sebelah ruang kerja ayah mertuanya.


“Nah, Mbak Likta bisa pilih beberapa buku, Bi Mur siapin camilan.”


“Terima kasih.”


Sepanjang sisa hari Likta habiskan dengan membaca di perpustakaan, semangkuk buah dan segelas air mineral sebagai cemilan.


Likta memilih buku berisi pengetahuan tentang kesehatan ibu hamil.


Di saat sedang asyik menusuk sebuah apel, pintu di belakang Likta terbuka. “Mbak Likta, dipanggil Pak Frits.”


“Hemm?” Antara percaya dan tidak, Likta berusaha mencerna ucapan Murti. Meletakkan garpu ke mangkuk sebelum sempat membawa buah ke mulut.


“Beliau menunggu di ruang kerja,” jelas Murti tanpa diminta.


“Ya, aku segera ke sana, terima kasih.”


Dalam hitungan tiga detik Likta berhasil berdiri dari duduknya dengan tenang, melangkah tanpa tergesa-gesa menuju ruang kerja sang mertua. Hela napas terdengar berat, demi kesopanan, dia mengetuk pintu terlebih dahulu.


“Masuklah!” Suara perintah terdengar serak khas pria paruh baya.


Dengan gugup Likta menggenggam pegangan pintu, kemudian mendorong secara pelan hingga terbuka sebagian. Dia dapat melihat ayah Tiarnan menekuri sebuah dokumen. “Bapak memanggilku?”

__ADS_1


“Ya, duduklah!”


Meski berintonasi rendah, bagi Likta kata-kata perintah itu membuatnya bergidik. Entahlah, sekarang dia begitu mengharapkan kehadiran Tiarnan. Dia benar-benar membutuhkan dukungan ekstra.


“Tadi pagi Violacea kemari, apa kamu tau?”


“Ya, kami bertemu dan mengobrol lama.”


“Seberapa kenal kalian sampai kamu menghabiskan waktu mengobrol dengannya? Kuharap tidak ada hal yang terjadi saat itu selain mengobrol.”


Tulang punggung Likta menegang, dia menjali jari-jari dengan cemas, keringat dingin mulai melembabkan telapak tangan di saat seperti ini. Ke mana pastinya arah pembicara ayah Tiarnan.


“Hal yang terjadi?” Dengan linglung Likta membeo, memang ada sedikit insiden kecil. Namun, dia tidak berniat membukanya.


“Ada?” tegur Frits, kini pria paruh baya itu berhenti dari aktifitasnya dan melihat Likta berdiri mematung. “Jangan diam saja di situ, aku tidak ingin membuatmu lelah.”


Likta baru menyadari telah mengabaikan perintah pertama ayah suaminya. Dengan langkah berat dia duduk di salah satu kursi depan meja kerja.


“Gimana menurutmu, bukankah Violacea gadis yang manis? Dia tentu bersikap baik terhadapmu meski belum begitu saling mengenal.”


“Oh, ya, Violacea gadis yang sangat baik.”


“Kamu tau, Likta—dia begitu murah hati hingga mengusulkan agar diadakan acara tiga bulanan untukmu.”


Kelopak mata Likta mengerjap, makin merasa bersalah telah menghancurkan kebahagiaan model terkenal itu. Bahkan hal-hal mengenai apa-apa yang harus dilakukan saat hamil tidak terpikirkan olehnya.


Mungkin karena menyadari renungan Likta, Frits berkata, “Jangan terlalu memikirkan prosesinya gimana, semua sudah diatur Violacea. Buatlah dirimu nyaman, itu yang coba dia katakan kepadaku.”


“Ya—ya,” jawab Likta gugup.


“Aku pribadi mengagumi kebaikan hati calon menantuku itu—” Frits membisu tiga detik sambil menyadarkan punggung ke kursi kerja. “Ya, tak jarang perlakuan baik berbalas sebaliknya.”


Firasat Likta mengatakan ada sesuatu yang tidak beres dengan ucapan mertuanya. Akan tetapi, dia sulit memahami apa persisnya dan bingung harus menanggapi permainan kata ini bagaimana.


“Aku harap setelah ini kamu bisa bersikap baik kepada Violacea.”


Mata belok Likta berkedip cepat, kata-kata mertuanya kini terdengar seperti peringatan tegas alih-alih permintaan berkonotasi mendidik.


“Tentu saja,” jawab Likta, seraya menunduk dalam.


“Dan, Likta, setelah cucuku lahir, Violacea bersedia menjadi ibu penggantinya.”


Mata belok Likta sedikit bertambah lebih lebar, dan dalam waktu bersamaan jemarinya beranjak ke perut. Ibu pengganti? Apakah Tiarnan menceritakan status pernikahannya kepada papanya? Enggak heran, Tiarnan jelas mengharapkan surat perjanjian itu menjadi nyata, tetapi lain soal untuk urusan anak. Dia dan papanya enggak bisa segampang itu menggantikan hakku sebagai ibu kepada orang lain, batinnya teriris.


“Nah, sekarang kamu boleh keluar,” ucap Frits, menunjuk pintu dengan merentangkan tangan kanan.


Likta mengepalkan tangan, sebisa mungkin menahan amarah yang hampir meledak. “Ya, permisi, Bapak,” pamitnya.


“Tutup kembali pintunya.”


Likta melihat dari balik bahu sekilas, lantas mengangguk tegas dan menyambar gagang pintu. Sedapat mungkin dia menutup tanpa menimbulkan suara.

__ADS_1


“Hufft.” Likta menghela napas secara dramatis, dadanya masih terasa nyeri akibat ucapan ayah mertua.


__ADS_2