
Kamar tidur Violacea tampak berantakan, bungkus aneka makanan ringan berserakan di mana-mana. Kebiasaan kalau sedang marah nafsu makan bertambah, dia tidak lagi memedulikan takaran kalori yang masuk ke tubuh.
Viona—bunda Violacea tampak cemas memikirkan anak semata wayangnya enggan keluar dari kamar. “Makan dulu, yuk! Kamu harus memakan makanan yang sehat.”
“Enggak mau, Ma!”
Ibu satu anak itu pun keluar dari kamar, dia hendak menemui sang suami. Mungkin ada solusi untuk masalah ini, sejak dulu Viona berusaha mengabulkan permintaan Violacea. Sambil berjalan menuju ruang kerja suaminya, Viona menemukan cara, dia memutuskan untuk menemui Frits.
Di ujung anak tangga Viona berpapasan dengan Arysha. “Ar, udah dari tadi sampainya?”
“Barusan, kok, Te. Eem—Violacea masih suka uring-uringan, ya?”
“Iya, Ar. Ini mending dia sudah tidak mengurung diri di kamar. Cuma pola makannya itu, loh, tidak dikontrol sama sekali. Tolong bantuin tante, ya. Biasanya omongan kamu sedikit banyak didengar sama Cea,” ungkap Viona.
“Saya usahakan, ya, Te.”
Viona menoleh ketika seorang pengurus rumah lewat. “Bi, tolong antar makanan ke kamar Violacea, ya.”
“Iya, Nyonya.” Lekas-lekas pengurus rumah itu menuju dapur, mengambil makanan dan segelas air mineral. Menit berikutnya, dia bersicepat menjalankan perintah nyonya rumah.
Pengurus rumah itu mengetuk pintu perlahan, karena tidak kunjung dapat sahutan, dia memberanikan diri masuk ke kamar.
“Non, ini saya bawa salmon saus teriyaki, Nyo—”
“Bawa kembali makanan itu, Bi! Aku hanya ingin donat dan hamburger!” bentak Violacea, dia tengkurap di atas kasur, menenggelamkan wajah di antara bantal-bantal empuk dan halus. “Pergi atau mau aku pecat!”
“Ta-tapi, Non, Nyonya meminta saya untuk—”
Terdengar langkah kaki mendekat, pengurus rumah menoleh, netranya menatap melas Arysha sahabat sekaligus menejer sang nona muda. Wanita itu meletakkan telunjuk ke bibir sebagai bentuk isyarat agar diam.
__ADS_1
“Dengar, ya, kamu itu cuma babu di rumah ini. Jangan berani-berani mendebatku, paham!” Violacea bangun dari tidurnya, lantas menunjuk pintu kamar. “Pergi! Aku enggak mau makan makanan itu!”
Violacea memandang Arysha singkat lantas melempar tatapan tajam ke arah pengurus rumah tersebut.
“Apa yang harus saya katakan sama Nyonya, Non?” Suara pengurus rumah itu bergetar, serba salah menghadapi kedua majikannya. Mereka sama-sama mengancam akan memecatnya kalau tidak melaksanakan tugas dengan benar.
“Sabodo amat! Bukan urusanku,” dengkus Violacea, lalu mencampakkan nampan itu ke lantai. Membuat Arysha mundur secara spontan, menghindari lemparan.
Hal itu mengakibatkan kegaduhan di setiap penjuru kamar, pengurus rumah pun berjongkok untuk membersihkan pecahan kaca dan makanan yang tumpah. Nahas, karena gugup tanpa sengaja bumbunya mengenai kaki Violacea.
“Aaahhkk, bodoh! Dasar enggak becus!” bentak Violacea, dia menendang pengurus itu hingga terjengkang. “Pergi sana!”
Violacea yang sedang kesal hendak mencuci kakinya ke kamar mandi, tetapi saat turun dari tempat tidur malah terkena pecahan kaca. “Aaakkhh! Bibi!”
“Ma-maaf, Non.”
“Kamu, aku pecat! Enyah dari hadapanku sekarang!” Violacea berjalan pincang menuju kamar mandi. “Ya, ampun, Mama, kok, bisa mempekerjakan babu bodoh kayak kamu, sih!” gerutunya.
“Violacea, kamu mau mengubah bentuk tubuh? Ini bisa bikin gemuk. Lagian jangan jahat-jahatlah, kasian itu sampai ketakutan,” tegur Arysha.
“Kalau Kamu ke sini cuma mau ceramahin aku, mending pulang aja” sergah Violacea.
Arysha hanya menggelengkan kepala. “Enggak takut karma kamu?” Dia bergegas menuju kotak P3K, mengeluarkan segala keperluan; kapas, pembersih luka, dan plester. Pelan-pelan dia bersihkan luka Violacea. “Kamu itu cantik, Violacea, banyak laki-laki yang antre di luaran sana.”
“Ini bukan perkara banyak yang mau atau enggak, Ar, ini mengenai harga diri, secara enggak langsung Tiarnan nolak aku. Dia lebih memilih wanita itu!” geram Violacea.
“Loh, mestinya kamu terima kasih, dong, sama wanita itu. Dia udah tunjukin sifat asli Tiarnan.”
“Hah, no! Enggak ada dalam kamusku kata terima kasih. Mereka udah mempermalukan aku, Ar.” Violacea kembali meraih bungkus keripik kentang. “Mereka enggak boleh bahagia di atas penderitanku, di saat aku menanggung malu.”
__ADS_1
Seusai luka ditangani, Violacea mengusir Arysha. “Kamu boleh pergi. Dengar, ya, Ar. Aku enggak mau diganggu, pastikan enggak ada yang masuk kamarku.”
“Stop makan makanan yang enggak sehat!” Tampaknya, Arysha tidak mengacuhkan peringatan Violacea. Dia memungut bungkus kosong, lalu memasukkan ke tempat sampah kering. “Banyak yang menyimpulkan bahwa kamu mengalami depresi, karena kamu membatalkan semua sesi pemotretan, Violacea.”
“Bagus, dong, publik jadi berpihak ke aku.”
“Sekarang, sini! Duduk!” perintah Arysha, dia membimbing Violacea ke depan meja rias. Memegang kedua bahu ramping wanita itu. “Gagal bertunang enggak boleh meruntuhkan akal sehatmu, ada banyak sekali cara untuk melupakan semua masalah. Lihat kamu sekarang, terlihat enggak terawat, kalau kayak gini gimana bisa mengambil alih keadaan?”
“Kamu benar, aku harus menggunakan cara lain.” Violacea pun mengambil ponsel yang tidak jauh dari sana. Jemari lentiknya menyentuh beberapa nomor, kemudian meletakkan gawai ke telinga. Dia menghubungi seseorang untuk mencari tahu wanita mana yang mengaku hamil anak Tiarnan. “Halo, ini aku. Tolong cari tau tentang seseorang—iya—untuk uang muka 20 juta!”
Arysha segera merebut ponsel dari genggaman Violacea, menyentuh layar dan mematikan panggilan. “Maksud kamu apa, sih, Cea?”
“Apaan, sih?”
“Bayar buat cari orang? Siapa? Untuk apa? Jangan aneh-aneh, Cea!” tegas Arysha di akhir pertanyaan beruntun.
“Orang yang udah rebut Tiarnan dari aku, itu aja!”
“Jangan gila!” Arysha mengguncang bahu sahabat baiknya. “Buka matamu, toh, sejak awal kalian enggak dekat, malahan enggak saling kenal.”
“Aku udah jatuh hati sama dia sejak Om Frits tunjukin fotonya ke aku. Salah kalau aku ingin mengambil apa yang mestinya jadi milikku?” balas Violacea.
“Salah!”
“Kasihan banget, sih, kamu Ar. Makanya jatuh cinta, dong, jangan sembunyi terus di dalam tempurung,” sindir Violacea, dia tahu bagaimana kehidupan percintaan Arysha, menejer yang selalu berpenampilan biasa-biasa saja. Dia sengaja memilih partner yang jauh di bawahnya, sehingga dirinya terlihat lebih bersinar.
“Kok, jadi bahas aku, sih! Ini sama sekali enggak ada hubungannya.” Meski sedih, Arysha berusaha tampil senetral mungkin, sebab benar apa yang dikatakan Violacea. Selama ini, dia tidak pernah menyukai atau disukai seorang pria. “Aku hanya mengingatkan kamu aja, Cea!”
“Enggak perlu, aku tau apa yang baik untukku, kamu juga tau dari dulu apa yang aku mau selalu bisa kudapatkan.”
__ADS_1
Arysha memutar bola matanya jengah, dia pun tidak menampik bahwa Violacea bisa mendapatkan segalanya tanpa bersusah-payah. Selain terlahir dalam keluarga yang berada, dia cenderung dipuja-puja publik.