Bertahan Sakit Berpisah Sulit

Bertahan Sakit Berpisah Sulit
Bab 018: Tidak Boleh Dibiarkan


__ADS_3

Likta berjalan menuju jendela setinggi plafon dan menyibak gorden tebal berwarna hitam. Dia menggeser daun jendela kamar lebar-lebar, partikel-partikel kecil tampak menari-nari di udara saat cahaya matahari menerobos masuk. Lalu, dia kembali mendekati tempat tidur, membetulkan seprai dan selimut seperti semula.


Telepon genggam di atas nakas berdering, Likta pun meraihnya lalu menyapukan jempol ke layar. “Selamat pagi Pak Andrei?” dia mengucap salam, kemudian duduk di pinggiran tempat tidur. Sambil mendengarkan kata-kata orang di seberang sana, menyambar bantal dan diletakkan ke pangkuan. Jari telunjuk kirinya membuat pola melingkar dengan perlahan. “Ya, saya baik-baik saja, Pak.”


Alis tipis Likta mengerut, merasa tidak enak hati karena terlalu lama mengambil cuti kerja. “Tolong beri waktu saya beberapa hari lagi, Pak.”


Likta menghela napas lega ketika mendapat persetujuan dari pemilik klinik tempatnya bekerja. “Terima kasih, Pak, maaf saya sering merepotkan. Segera, begitu urusan selesai, saya akan masuk kerja. Sekali lagi terima kasih, Pak Andrei.”


Panggilan pun terputus, dengan hati-hati Likta menempatkan bantal di kepala tempat tidur, lantas meletakkan telepon genggam kembali ke nakas. Dia bermonolog lirih, “Masalahnya sekarang, Mas Tiarnan mengizinkan atau enggak aku kerja?”


Terdengar pintu diketuk dan seruan seseorang. “Mbak Likta.”


“Ya, sebentar,” sahut Likta, bergegas membukakan pintu. “Bu Mur?” ucapnya mengetahui pengurus rumah paruh baya yang datang.


“Maaf, ganggu, ini saya bawa baju ganti buat Mbak Likta.”


“Oh, iya terima kasih.” Likta mengulas senyum hingga mata beloknya menyipit.


“Permisi,” pamit Murti


Likta menanggapi dengan anggukan sebelum menutup pintu. Dia kemudian meletakkan baju, rok, dan dua macam handuk ke atas tempat tidur. Selain itu, ternyata pengurus rumah juga memberikan pakaian dalam, warnanya senada pula.


Dari balik bilik di sudut kamar sudah tidak lagi terdengar air mengalir. Menit berikutnya pintu kamar mandi pun terbuka, melalui pantulan cermin Likta dapat melihat rambut lembap Tiarnan. Suaminya memakai bokser sebatas lutut yang memperlihatkan kaki kokoh dan jenjang, pemandangan maskulin itu membuat jantung Likta nyaris meledak.


Oh, astaga, apa bahu dan dada Tiarnan memang sedatar serta selebar itu sebelumnya? Secara impulsif Likta menggigit ujung bibir bawah, teringat jari jemari saat membuat pola abstrak di sana. Seketika, dia merasakan pipi memanas, bahkan sulit bernapas dalam waktu singkat.

__ADS_1


Entah mengapa, Likta tidak dapat mengalihkan perhatian. Dia mengamati biseps di lengan Tiarnan, tidak terlalu berotot seperti para atlet angkat beban, tetapi tetap menonjolkan otot-otot kencang di bawah kulit kuning langsatnya. Serasa baru kemarin, kedua lengan itu memeluk dirinya erat sampai terlelap.


Likta mengembuskan napas begitu tersadar dari lamunan yang bukan-bukan, sekarang terlampau jauh untuk menggapai pria itu. Seperti ada benteng pertahanan diri supaya tetap terkendali, atau ada sesuatu yang mengendalikan Tiarnan.


Dalam satu kali waktu, Likta pernah melihat kekaguman di mata Tiarnan, tetapi kali berikutnya berganti dengan kebencian saat beradu pandang. Sampai Kini, dia berusaha memahami pola pikir pria itu. Mengapa bisa berubah keras dan lembut pada durasi yang hampir bersamaan.


Likta dapat melihat duka di kedua mata suaminya, kehilangan, ya, Tiarnan pernah mengatakan itu. Dia dapat membayangkan betapa rasa pilu mencengkam saat menyaksikan adiknya dikuburkan—sehingga urutan kematian tidak lagi sesuai usia pada umumnya.


“Bersiaplah, seperempat jam lagi kita ada janji temu dengan dokter kandungan,” perintah Tiarnan tanpa menoleh, dia menuju lemari baju, memilih kemeja biru laut bergaris-garis kecil dan celana panjang gelap. “Hai, ayo, waktu adalah uang.”


Peringatan Tiarnan mengejutkan Likta, dia pun melihat pria itu mencari-cari sesuatu. “Kamu lagi cari apa?”


“Handuk.”


“Kamu jadi memberikan handuknya atau tidak?” tanya Tiarnan sembari berkacak pinggang sebentar, kemudian mengacaukan tatanan rambut yang sudah berantakan itu, hingga memercik. Bulir-bulir air mengalir dari rambutnya yang basah ke bahu.


“Eem, boleh aku yang keringkan?”


Paras ayu Likta bersemu, Tiarnan melipat lengan di depan dada. Ombak besar bergulung-gulung di sekitar perut Tiarnan, tatkala melihat mata wanita itu bersinar bagai kucing yang mengindam-idamkan sentuhan. Dan, sial sekali, dia pun ingin menyentuh tiap inci tubuh berbalut baju terusan istrinya.


Ekspresi Likta pada akhirnya menimbulkan pemikiran di kepala Tiarnan, bahwa pengalaman tiga bulan lalu hanyalah tipu muslihat saja, baru sekarang wanita itu menunjukkan jati dirinya yang suka menggoda kamu pria.


“Aku bisa sendiri. Lebih baik kamu mandi, jadi bisa mempersingkat waktu, supaya tidak saling menunggu,” tutur Tiarnan.


“Aku kalau mandi singkat, kok, boleh ya, aku keringkan rambutmu?” Likta berkeras mengerikan rambut Tiarnan. Memangkas jarak di antara mereka, dia menengadah untuk menatap lekat-lekat wajah rupawan suaminya.

__ADS_1


Dahi Tiarnan berkerut dalam, apa Likta selalu bersikap seperti ini sebelumnya? Seingatnya saat bertualang dulu, tidak begini. Atau perubahan yang terjadi karena bawaan bayi? Ah, itu di luar logika, jelas akal-akalan Likta saja.


“Tidak boleh ya?” Nada kecewa terdengar saat Likta mundur selangkah, raut wajahnya tampak kusut seperti handuk yang menggantung di sebelah badan.


“Oke, karena aku sedang bermurah hati, kamu boleh lakukan itu.” Tiarnan pun menyerah, duduk santai di depan meja rias, seraya berujar, “Nah, kemarilah, keringkan.”


Wajah Likta kembali bersinar, iris matanya tampak berbinar ketika senyum mengembang. “Terima kasih.”


“Untuk apa?” tanya Tiarnan, dia merasakan kenyamanan mutlak saat jari-jari lentik Likta mengusap sekaligus memijat ringan kepalanya.


“Mengabulkan permintaanku.” Kegembiraan mengalun merdu bersama dengan pengakuan Likta.


“Ini terdengar aneh,” ungkap Tiarnan sembari mengawasi Likta lewat pantulan cermin, Tiarnan melihat senyum simpul tersungging di bibir mungil merah jambu alami itu.


Matanya menangkap basah, Likta sesekali menutup mata, seperti menikmati sesuatu yang tidak Tiarnan ketahuan. Embusan napas teratur dan hangat istrinya menyapa bagai sapuan lembut tanda mengundang.


Tiarnan berangan-angan mengguncang tubuh kecil wanita itu. Sebab tindakan Likta membangunkan keinginan mendasar maskulinitas yang telah dikekang selama ini. Dia sadar betul bahwa hanya istrinya-lah yang bisa membuatnya gelisah sekaligus terpesona.


Tanpa aba-aba, Tiarnan berbalik dan meraih pinggul istrinya, membawa wanita itu ke atas pangkuan. Secara spontan kedua telapak tangan lembut dan ramping Likta menyentuh pundak.


Kulit lengan atas bagian dalam Tiarnan bersentuhan dengan lengan bawah Likta, saraf-sarafnya yang peka dapat merasakan bulu roma istrinya bereaksi. Dia juga merasakan seluruh indra merespons cepat, serasa dikerubungi sekumpulan semut.


Ini tidak bisa dibiarkan, demi ketenangan Tanya, selain emosi penuh kemurkaan dilarang bertumbuh di hatinya. Dengan nada kasar Tiarnan berujar, “Jangan meminta hal ini lagi! Apa ini caramu menggoda seorang pria?”


Mata belok Likta mengerjap cepat, kesedihan terlihat di sorot sendu yang mulai membendung air pada kelopaknya.

__ADS_1


__ADS_2