
Tik tok tik tok, detak jam dinding menemani suami-istri yang sedang duduk nyaman di ruang tamu rumah megah orang tua sang bocah miliuner—sebutan yang tidak lagi cocok, sebab Tiarnan sudah berusia 26 tahun ini—tetapi demikian pun sebagaian orang masih mengecapnya begitu, terutama Frits.
Mereka selalu menganggap anak tetaplah anak-anak biarpun usia selalu bertambah setiap tahunnya.
Sambil menunggu tuan rumah, Viona membolak-balik album foto-foto lawas yang terselip di antara beberapa buku tebal dalam bufet berukuran raksasa.
Ketika mendengar langkah kaki memasuki ruang tamu, Virgo beserta istri berdiri.
“Maaf membuat kalian nunggu lama,” sesal Frits sembari memberi isyarat agar kedua tamunya kembali duduk di salah satu sofa ruang tamu. “Aku paham masalah anak-anak kita, ini saat-saat tersulit bagi Violacea, mengingat dia seorang publik figur. Aku pun baru mengetahui kabar pernikahan Tiarnan dengan wanita itu hari ini.”
Benar, tadi siang Frits begitu murka, bagaimana bisa Tiarnan menikah tanpa meminta persetujuan dirinya. Bahkan menurut pengakuan sang putra, bahwa pernikahan sudah berjalan satu minggu.
Perlahan Tiarnan menjelaskan kronologi kejadian dari awal sampai akhir, meski sangsi, dia mencoba percaya atas pengakuan putranya itu.
“Lalu, apa kamu akan diam saja, Frits?” tanya Virgo, membuyarkan lamunan Frits.
Frits menghela napas. “Tentu tidak, Go, tapi—aku tidak bisa membiarkan ibu dari cucuku susah.”
“Sulit dipercaya,” keluh Virgo, “Dan, kamu percaya begitu saja? Bukannya kamu sendiri yang bilang bahwa Tiarnan selalu menutup diri dari wanita. Untuk itulah ide perjodohan anak kita terjadi.”
“Sebab itu pula aku percaya, mana mungkin Tiarnan menikahi wanita itu kalau tidak yakin?” bela Frits, mulanya dia pun tidak memercayai orang asing yang tiba-tiba datang dan menyatakan dirinya hamil akibat perbuatan Tiarnan. Akan tetapi, pengakuan putranya tadi siang tampak meyakinkan. Frits yang mengharapkan seorang cucu, tentu mempercayainya. Dan, Tiarnan pasti telah memikirkan semua itu matang-matang.
“Sekarang nasip Violacea gimana? Mudah sekali kamu mengabaikan kami,” sergah Virgo, matanya terlihat merah, dada mengembang dan mengempis cepet, emosi berkecamuk di dalam hati.
Frits terperanjat. “Loh, bukan gitu Go.”
Pengurus rumah terlihat masuk ke ruang tamu, meletakkan tiga gelas minuman dan stoples berisi biskuit. Dengan rasa hormat, pengurus rumah meninggalkan tempat.
“Terima kasih,” ucap Viona, mendapat anggukan sopan.
Seperginya pengurus rumah, Virgo kembali berbicara, “Ya sudah sekarang cari solusi agar perjodohan tetap berlangsung, aku tidak mau terjadi sesuatu dengan Violacea.”
__ADS_1
Frits memang belum menemukan solusi apa pun, selama ini Tiarnan tak berniat berumahtangga, kalau pun pernikahan dengan Violacea terjadi, itu atas bujukannya setelah kematian Tanya. Sebagai upaya untuk meneruskan garis keturunan.
Virgo menatap istrinya singkat sebelum mengusulkan pendapat. Dia menarik napas dalam-dalam, lalu berujar, “Hanya ada satu cara, Tiarnan bercerai begitu bayi itu lahir.”
“Gimana bisa gitu? Ini—”
“Atau persahabatan kita sampai di sini, pilihan ada di tanganmu Frits. Dan, aku kira kamu bukan tipe, kacang lupa kulitnya.”
Frits membetulkan posisi duduknya, berdeham beberapa kali. Selama terpuruk, keluarga Virgo-lah yang membantu dirinya bangkit kembali. “Mana mungkin aku melupakan semua kebaikanmu selama ini, Go.”
“Bagus, ini saatnya kamu membantuku. Bukankah putriku, putrimu juga,” desak Virgo, raut wajahnya keras. Keinginan untuk membahagiakan sang putri selalu menjadi yang utama, karena itulah bersikap tegas kepada Frits.
“Ya, Violacea juga putriku. Baiklah, aku akan bicarakan ini dengan Tiarnan. Oke, sebaiknya kita makan malam sama-sama.” Frits bangkit dari duduknya, merentangkan sebelah tangan, mempersilakan kedua tamu ke ruang makan.
“Aku ke sini cuma mau menyampaikan itu, tidak bisa meninggalkan Violacea lama-lama,” tolak Virgo, melirik Viona sebagai isyarat agar ikut berdiri. “Yuk, Ma.” ajakannya dijawab istrinya dengan senyum dan anggukan anggun.
Frits mengulas senyum, meletakkan kedua tangan di belakang badan. Lalu, mengantar kedua tamunya sampai ke depan rumah. “Sampaikan salam sayangku ke Violacea.”
Mobil hitam metalik itu melaju lamban menuju teras rumah, seorang supir turun, membuka pintu bagi Tiarnan juga Likta.
Likta menatap bangun di hadapannya dengan takjub, melangkah perlahan sambil terus memperhatikan sayap kanan sampai sayap kiri rumah bergaya eropa itu. Setiap orang baru yang datang selalu mengikuti irama santai seakan-akan takut melewatkan detail terkecil kediaman megah itu, menikmati garis tajam dan mencolok struktur tanpa cela yang menggambarkan pemiliknya dengan jelas.
“Hati-hati, Mbak Likta,” ujar supir, takut wanita muda itu tergelincir saat menapaki undakan teras.
“Ya, terima kasih, Pak,” balas Likta, dia baru sadar kalau Tiarnan sudah masuk lebih dahulu ke rumah.
“Mbak Likta!”
“Ya, Pak.” Likta berbalik badan, kaki kanan yang berada satu tingkat lebih tinggi diturunkan kembali, mengarah ke dekat mobil lagi.
Tangan kanan supir membawa bungkusan milik Likta. “Seblaknya ketinggalan.”
__ADS_1
“Oh, ya ampun. Sampai lupa aku, terima kasih, sudah mengingatkan.” Likta menerima bungkus itu dengan senyum menghiasi wajah ayunya. “Bapak tidak ikut masuk?”
“Saya biasa lewat pintu samping, Mbak,” jawab supir pribadi Frits.
“Oh,” sahut Likta, tanpa beranjak dari tempatnya, “Eem, aku ikut Bapak aja, deh,” celetuk Likta, dia menoleh kebelakang sebentar, kemudian kembali menghadap ke depan.
“Loh, ya, jangan Mbak.” Bingung tercetak jelas di wajah pria paruh baya itu.
“Kenapa? Aku takut nyasar kalau masuk sendiri, Tiarnan udah duluan, kan.” Likta menoleh ke pintu utama yang ditaksir berukuran lebih dari empat meter, bibir mungilnya mengerucut singkat. Tidak pernah terbayangkan bisa mengenal orang sesukses Tiarnan.
“Ee—ya sudah, mari,” ajak pria paruh baya itu, dia membimbing langkah Likta beberapa meter dari terasa menuju ke samping rumah.
Begitu sampai di ambang pintu berukuran sedang, Likta di sambut makhluk berbulu putih seberat lima kilogram.
“Justice, sudah makan, kok, ke—dapur lagi?” pertanyaan seorang wanita paruh baya menggantung kala mendapati supir pribadi Frits bersama Likta berada di sana.
Likta berjongkok sambil mengusap sayang rahang berbulu halus kucing gemuk itu, saking senangnya si kucing mendengkur nikmat.
“Anak gadis siapa yang kamu bawa, Muh?” tanya wanita paruh baya.
“Istri Mas Tiarnan, Mur,” ungkap supir pribadi tuan rumah.
“Kenalkan, saya, Likta.” Segera Likta bangkit sembari mengulurkan tangan.
“Murti,” sambut wanita paruh baya itu, lantas menoleh ke arah si pria. “Kamu itu gimana, sih, Muhin? Kenapa diantar lewat sini?” geramnya, lantas meraih lengan Likta lembut, kucing gemuk itu pun mengikuti ke mana langkah kaki Likta. “Yuk, Mbak Likta, saya antar ke ruang keluarga.”
“Nanti, sebentar, anu, Bu—”
Kening wanita paruh baya itu mengernyit. “Saya bisa kena omel kalau membiarkan Mbak Likta di dapur.”
“Kenapa? Aku mau pinjam mangkuk boleh?” Pipi Likta merona ketika mengatakan itu, bukan menolak ajakan Bu Murti, hanya saja. Dia ingin segera menikmati seblaknya.
__ADS_1