
Dari arah atas, suara pintu dibanting terdengar cukup kerasa hingga Likta berjingkat, bahkan Justice yang sedari tadi tidur terbangun. Si kucing menggeliat, telinganya terus bergerak tanda gelisah.
“Apa menurutmu ini pertanda buruk, Justice?” Likta berujar sembari mengusap kepala makhluk berbulu itu, sebelum ia melompat turun dari gendongan.
Ketukan alas kaki di lantai terdengar cepat, detak jantung Likta pun seirama dengan gerakan itu. Terus naik anak tangga meski lambat, hingga matanya bertemu dengan wanita cantik setinggi tiang bendera, dia terlalu melebihkan karena tinggi badan sendiri hanya mencapai pundak sang model. Menurut perkiraannya tubuh semampai itu kisaran seratus tujuh puluh lebih.
Keduanya bertemu muka di lantai dua, tatapan Violacea bagai sebilah pisau panjang menikam belikat sampai ke jantung.
Likta tidak bergerak sejengkal pun, telapak tangannya terasa dingin, dia mengepal kuat-kuat. Tarikan napas tersekat saat memperhatikan mata Violacea yang merah dan berkaca-kaca. Model terkenal itu habis menangis, mungkin terjadi pertengkaran hebat dengan Tiarnan. Dan, semua karenanya, Likta merasa sangat bersalah.
“Pembantu baru di sini?” Setelah bertanya demikian mata Violacea menyipit, menilai penampilan Likta. Takdapat dipungkiri, wanita mungil di hadapannya tidak terlihat seperti pengurus rumah. Memang tampak polos tanpa riasan, tetapi ada satu hal yang bersinar dari dalam diri istri Tiarnan.
Likta meremas jari-jemari sendiri, bingung harus menjawab apa. “Aku—”
Violacea mendongak singkat. “Tunggu, tunggu, jangan bilang kamu wanita itu, orang yang telah merebut tunanganku! Tega betul kamu berbuat begitu itu, hah?”
Mata sembab Likta mulai merah lagi, tenggorokannya terasa sakit menelan kepahitan tuduhan Violacea. Air bening sudah terbendung di sudut netra, bibirnya bergetar saat berkata, “Maafkan aku—sungguh aku enggak bermaksud begitu, apalagi sampai membuat hubungan kalian menjadi seperti ini.”
“Aku enggak butuh permintaan maafmu, sekarang coba kamu yang ada di posisiku? Acara pertunangan sedang berlangsung dan pada saat bersamaan seseorang datang serta mengaku hamil, apa yang akan kamu lakukan, hah? Secara enggak langsung kamu telah mempermalukan aku juga!”
Air mata Likta luruh ketika menunduk, pipi dan hidungnya terlihat merah. Semua yang dikatakan Violacea barusan benar, tidak ada seorang pun yang mau hari bahagianya berantakan. Dia seharusnya tidak egois dan—apa? Membiarkan anaknya kelak tumbuh tanpa ayah? Seperti dirimu! Suara di dasar hatinya memekik.
“Katakan! Jangan diam saja! Kok, ada gitu wanita sejahat dirimu?” cemooh Violacea, “Kalau dilihat-lihat, kamu enggak keliatan hamil. Apa kamu berbohong?”
__ADS_1
Cercaan Violacea membuat Likta mendongak, “Aku telah memeriksakan kandungan tiga bulan lalu, dan hasilnya positif.”
Dengan gaya angkuhnya, Violacea mengitari Likta berusaha mengintimidasi, menyudutkan wanita hamil itu sampai pembatas lantai dua. Dia mendengkus sembari berujar, “Oke, tapi, apa kamu bisa jamin itu anak Tiarnan? Kalau kamu dengan begitu gampang naik ranjang calon suamiku, besar kemungkinan setelahnya merangkak ke ranjang pria lain bukan? Dan, jujur aja kamu butuh pria kaya untuk bergantung! Atau sengaja mencari ketenaran?”
Begitu banyak hujatan terlontar hingga yang ditangkap oleh indra pendengar Likta hanya kalimat akhirnya, mana mungkin dia mencari popularitas dengan cara tercela seperti sekarang. Andaikan waktu bisa diputar ulang, dia tidak melangkah terlalu jauh dan sembrono. “Ketenaran?”
“Enggak usah berlagak pilon, deh! Jelas-jelas kamu tau bahwa Tiarnan dan aku bukan orang biasa, pasti media meliput semua kegiatan kita. Setelah mengambil apa yang aku punya, hidupmu lebih baik bukan? Jadi enggak perlu capek-capek kerja. Bukankah ini tujuanmu sejak awal mendekati calon suamiku?”
“Sedikit pun aku enggak ada niat seperti yang kamu tuduhkan.” Likta terhenyak, hingga berpegang pada susuran pembatasan lantai dua. Perutnya kembali merasakan nyeri, dengan tangan gemetaran dia mengusap lembut. Seolah-olah berusaha menenangkan sosok mungil yang mendiami rahim. “Aku dan dia hanya—”
“Likta!” seru Tiarnan, raut wajahnya tidak kalah tegang. Pria itu menatap jemari pucat Likta menyapu ringan perut yang mulai terlihat sedikit buncit. “Masuk dan segera bersiap.”
“Ta—”
Violacea menoleh sebentar sebelum berlalu dengan menyimpan kemarahan, alas kaki bertungkai tingginya membentur lantai dengan cepat dan tegas.
Selagi model papan atas itu pergi, Likta berjalan ke arah Tiarnan. Meski sulit, dia mengutarakan pendapat. “Kurasa kita bisa memperbaiki ini, karena aku enggak mau menjadi penghalang cinta kalian.”
“Berhenti mengoceh tidak jelas, kita sudah terlambat untuk janji temu dengan dokter kandungan, aku tunggu di lantai bawah,” pungkas Tiarnan kemudian melangkah menuju anak tangga. Diam-diam dia memikirkan ucapan Likta mengenai cinta, sejauh ini dirinya menikah atau menerima pertunangan dengan Violacea tanpa didasari perasaan saling mencintai.
Memang konsep awalnya hanya demi mendapatkan keturunan dan sayangnya diperoleh dari wanita yang paling ingin dia hancurkan. Namun, kini semua rasanya menyakitkan bagi Tiarnan, ada yang lebih penting daripada sekadar membalaskan dendam Tanya.
Ketika menyusuri anak tangga, Murti menghampiri. “Mas Tiarnan, dipanggil Bapak. Beliau ada di ruang kerja.”
__ADS_1
“Ya,” sahut Tiarnan, kemudian bertanya, “Apa Violacea bersama Papa?”
“Iya.”
Rahang Tiarnan kontan mengeras, tidak habis pikir dengan kegigihan Violacea. Ternyata wanita itu benar-benar mengabaikan perkataannya, nekat mengadukan masalah kepada sang ayah.
Sebelum masuk, Tiarnan mengetuk pintu. “Papa memanggilku?”
“Hemmm, masuklah.”
Kepala Tiarnan menyembul dari balik pintu, dia bisa melihat Violacea duduk di depan meja kerja ayahnya. Kekesalan seketika menghinggapi dan dia mengembuskan napas kasar.
“Kenapa kamu bersikap kasar terhadap Cea?” tanya Frits tanpa basa-basi.
“Kasar gimana?” Tiarnan memilih duduk di sofa dekat lemari buku.
“Apa perlu papa ulang kata-katamu yang menjurus ke tindak kriminal? Dan, satu lagi, gimana bisa Likta kamu biarkan menyakiti Cea?” Frits sedikit menaikan intonasi.
“Dia keterlaluan, Pa,” balas Tiarnan tanpa emosi, dia memandang wanita cantik yang sedang duduk menyilangkan kaki dengan acuh tak acuh, seakan-akan tidak terjadi apa-apa. “Apa yang Papa maksud dengan Likta menyakiti Violacea?”
“Kamu lihat sendiri lengan kiri Cea,” perintah Frits muram.
Gimana bisa Cea mendapatkan luka itu, batin Tiarnan, alis tebalnya hampir bertemu ketika menelisik baret sepanjang lima sentimeter. “Ini pasti salah paham, Pa. Mana mungkin Likta bertindak sekasar itu.”
__ADS_1
“Dia, kan, istrimu. mestinya kamu bisa mendidik Likta agar bersikap baik terhadap Cea.” Perkataan Frits lebih seperti perintah mutlak.