
Kegelitaan lama kelamaan terlihat abu-abu bersemu keungu-unguan, bias cahaya di ujung timur mengintip dari balik deretan atap-atap bangunan. Likta tertegun sebelum berjalan menghampiri tukang ojek online, dia mengawasi awan kelabu yang berarak-arak tertiup angin.
Semilir angin mendesau lirih menyentuh dedaunan barisan pohon pinggir jalan, patera yang tampak cokelat kekuningan tampak rapuh dan jatuh terbawa aliran udara.
Di sisi lain bersama beragama bunga, Likta melihat rumput-rumput tumbuh tinggi, ingin sekali dia menjelma randa tapak yang bebas lepas mengikuti embusan angin, tanpa memedulikan ke mana akhirnya kelak. Cukup rentan dan mudah hancur, tetapi mampu bertahan di berbagai kondisi.
Dalam rangkulan hawa sejuk pagi hari Likta mengeratkan lengan, bertumpu pada perut yang kian hari makin buncit. Dia bermaksud pulang ke rumah sebelum berangkat kerja.
Sesungguhnya badan terasa tidak karuan, tetapi berusaha Likta abaikan, seakan-akan tidak memiliki kesempatan untuk mengasihani diri. Dia terlalu takut kehilangan orang-orang penting dalam hidupnya, segala bentuk upaya berani dipertaruhkan agar Farida dapat segera pulih. Dirinya rela menguras tenaga dan materi.
Dengan langkah berat Likta turun dari motor, menyelesaikan pembayaran lantas masuk ke halaman. Membuka pintu utama yang tidak terkunci, bibir kecil penuhnya mengerucut singkat. Menyadari kecerobohan suami Farida, dia terus melangkah menuju ruang tengah.
Sambil melewati ruangan itu Likta menyambar beberapa baju yang tergeletak asal, meletakkan ke dalam mesin cuci. Waktu baginya kini adalah emas, sehingga cepat-cepat membereskan kekacauan selama dia dan Farida tidak di rumah.
Dari belakang terdengar pintu di buka bersama suara serak khas bangun tidur. “Sudah pulang?”
“Ya,” jawab Likta singkat. “Om enggak ke rumah sakit tengok Tante?”
“Tunggu pas hari libur.”
Bahu Likta merosot, alisnya mengerut sedih. Meski pernyataan Awang membikin kesal, dia tidak mau repot-repot mengajukan protes. Tinggal lama bersama pria itu membuatnya paham karakter sang paman luar dan dalam.
“Gak bawa sarapan?”
“Tadi pakai ojek online jadi enggak bisa mampir.”
“Halah alasan, turun di gang depan 'kan bisa sekalian beli.”
Likta menarik napas dalam-dalam, dari gang depan yang dimaksud Awang sampai ke rumah lumayan jauh.
“Tinggal aja dulu piring kotornya, belikan sarapan,” perintah Awang tanpa menyodorkan uang. “Nasi pecel Mbak Min kayaknya enak.”
Sontak berbalik badan dengan melongo, kelopak mata belok Likta mengerjap lambat dua kali. “Om—”
“Ini masih jam enam, keburulah kalau beli sarapan dulu.”
“Pecel yang deket-dekat sini ajalah, Om,” tolak Likta, siapa yang hamil siapa pula yang ngidam.
“Enggak ada yang seenak pecel Mbak Min.” Usai mengatakan itu Awang masuk ke kamar.
__ADS_1
Mau protes lagi pun percuma, Likta membersihkan busa di tangan lalu mengeringkan dengan serbet. Ke luar rumah dan tidak melihat motor Awang di halaman. Akhirnya berjalan kaki, dua puluh menit kemudian dia sudah kembali, di sana terlihat Brielle duduk gelisah di atas motor.
“Gak bawa HP?”
“He'eh,” sahut Likta, “Sudah lama, Bri?”
“Lima belas menit, dari mana?”
“Beli pecel.” Likta mendorong terbuka gerbang lebar-lebar. “Sudah sarapan?”
“Nih, rencananya mau makan bareng.” Menjawab sambil menuntun motor ke halaman, Brielle mengikuti langkah Likta ke dalam rumah. “Lagi ngidam pecel?”
Likta mengangkat tinggi bungkus plastik bening. “Buat Om Awang. Duduk dulu, Bri,” pintanya sebelum menghilang ke ruang tengah.
Di ruang tamu Brielle menyapukan pandangan, mata sipitnya memicing. Ragu-ragu jemari lentik meraih kertas kecil di kolong meja, dia bergumam “Loh, katanya ....”
Brielle menoleh ke pembatasan ruangan, menyelipkan secara asal kertas itu ke kantong jaket. “Likta, sini, deh!”
“Sebentar.”
Sahutan dari dalam membuat Brielle mengernyit, pasalnya suara Likta mirip orang pilek. Jelas ada yang tidak beres, dia cemas saat menerobos gorden. Hal pertama begitu badan masuk sepenuhnya, melihat Awang duduk sarapan dengan satu kaki terangkat dan Likta buru-buru menghadap tempat cuci piring.
“Terima kasih, Om.”
“Likta tinggal aja, itu sudah ditunggu Brielle,” perintah Awang, tanpa mengalihkan perhatian dari makanan.
Tidak sampai disuruh dua kali, Likta langsung masuk ke kamar, lalu keluar lagi dan berjalan menuju kamar mandi.
“Duduk, Bri. Maaf pecelnya cuma sebungkus.”
“Enggak apa-apa, Om. Sudah bawa, kok,” balas Brielle, “Saya tunggu Likta di depan, permisi.”
Sekian menit berlalu dengan amat lambat, Brielle mengecek jam di ponsel beberapa kali. Sekarang sudah pukul setengah delapan, tetapi Likta tidak juga ke luar. Kesabarannya mulai menipis, dia pun beranjak dengan gusar dan bertepatan wanita hamil itu menyembul dari balik pembatas ruangan.
“Yuk!” ajak Likta.
Brielle lantas menyambar tas di atas meja, sudut bibir sedikit tertarik ke bawah saat meneliti paras ayu Likta, “Kamu kelihatan kayak mayat hidup.”
Likta mengulas senyum simpul, lantas mematut wajah pada kaca spion motor. Dia menemukan lingkar hitam persis di area bawah mata. “Tidak separah itu,” elaknya, padahal sudah memakai bedak lebih tebal dari biasanya.
__ADS_1
“Gak sarapan dulu?” tanya Brielle sambil mendorong motor melewati gerbang. Mengenakan helm dan segera tancap gas.
“Nanti aja.”
“Aku mau ngomong sesuatu.” Dalam perjalanan Brielle berkata, sangat penasaran bagaimana Awang memperlakukan Likta tadi. Sebab bukan saja terlihat pucat, mata sahabatnya itu tampak sembab.
“Soal?”
“Om Awang.”
“Kamu dengar pas aku ngobrol sama Om Awang?” Pertanyaan Likta hampir tak terdengar karena terbawa angin.
“Enggak persis gitu, cuma suara kamu tadi kayak orang nangis.” Tidak jadi menanyakan perihal kertas dari kolong meja, mumpung Likta bahas masalah di dapur Brielle sabet aja. Siapa tahu sahabatnya itu mendapatkan kekerasan fisik. “Kamu diapakan?”
“Om Awang butuh uang buat tebus motor,” ucap Likta lirih.
“Tebus motor?” Saking kagetnya Brielle sampai menghentikan laju kendaraan tiba-tiba. Beruntung di belakangnya tidak ada penggunaan jalan lain. “Kamu serius?”
“He'eh.” Likta menutup wajah dengan kedua telapak tangan, dia teringat perkataan Awang, masa duit segitu aja enggak punya, bodoh banget mau ditiduri tanpa bayaran.
Tangis Likta pecah, pundak ringkih berguncang samar. Pening seketika menyerang, dada sesak bukan kepalang.
Brielle masih berdiri sambil menahan keseimbangan kendaraan roda duanya seraya berujar, “Likta yuk turun dulu, nanti setelah lebih baik kita berangkat.”
Likta mengangguk, perlahan membuka telapak tangan, derai air mata menganak sungai di kedua pipi. “Maaf, ya, Bri.”
Usai Likta turun Brielle menarik penopang motor dengan kaki, lantas mendekat ke kursi pinggir jalan dekat sang teman. “Minum dulu, kamu juga belum sarapan, kasihan debay-nya.”
“Trims, aku bingung, Bri,” aku Likta, “Tabungan udah nipis.”
“Om Awang, kan, uangnya banyak, kenapa repotin kamu?”
“Banyak?” Likta bingung, hari itu, Awang mengaku tidak bisa membiayai operasi Farida.
“Iya, aku enggak sengaja nemu ini.”
Likta mengambil kerta lusuh dari tangan Brielle, membalik-balikkan sekali sebelum membaca tulisannya. Di sana tertera nama Awang beserta besar saldo terakhir. Kelopak mata Likta mengerjap cepat, kalau segini banyak kenapa pula meminta uang kepadanya?
Akan tetapi, bukan itu yang membuat Likta terkejut, jumlah segitu dapat dari mana?
__ADS_1